
Sesampainya di rumah, Rendy tak henti-hentinya memikirkan perkataan Vika. Perkataan yang membuatnya tidak bisa berhenti hingga menimbulkan pertanyaan yang sama sekali tidak ia dapatkan jawabannya.
Dia mendudukkan bokongnya pada sebuah sofa. Menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam serta alis yang mengkerut dalam.
Seketika ingatan masa lalu itu muncul kembali ketika Vika, dengan sengaja mendatangi rumahnya untuk mengatakan sesuatu namun ditolaknya mentah-mentah dan justru mengusirnya dengan kasar.
*flashback on
"Mau apa lagi kamu ke sini? Bukannya udah nggak ada apa-apa lagi diantara kita?"
Rendy berucap dingin saat dirinya telah membuka pintu rumahnya. Dilihatnya Vika berdiri dihadapannya dengan wajah penuh permohonan.
Vika berniat untuk menjelaskan segalanya pada Rendy. Juga sebagai berakhirnya hubungan mereka karena dia harus beranjak pergi ke Singapura untuk melakukan pertunangan sekaligus menjalankan operasi jantung papanya.
"Rendy, secepat itu sikap kamu berubah?" Vika beucap lirih. "Aku cuma mau menjelaskan semuanya tentang....."
"Nggak ada lagi yang perlu dijelasin, Vika!" Rendy menyela ucapan Vika dengan cepat. "Dengan nggak datangnya kamu kemarin, dan dengan menghindarnya kamu dari aku selama beberapa hari ini, udah menjelaskan semuanya tentang kejelasan hubungan kita."
Pernyataan Rendy seketika membuat Vika tersentak sejenak kehilangan kata-katanya. Memang benar, dirinyalah yang bersalah disini. Dia tidak menampakkan diri dihadapan pria itu disaat Rendy mencarinya untuk mendapatkan penjelasannya. Dia lebih memilih menghindarinya disamping harus merawat papanya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Dan sekarang, melihat kondisi papanya yang mulai membaik, dia menyempatkan diri mengambil waktu untuk menjelaskan semuanya pada Rendy sekaligus membicarakan kejelasan hubungan mereka.
Tapi, yang tadinya dia pikir akan semudah seperti yang dibayangkannya, sekarang justru berbanding terbalik dengan dinginnya sikap Rendy yang tanpa sudi menatapnya dengan penuh cinta. Melainkan tatapan dingin penuh amarah yang meluap menjadi rasa kecewa yang terpancar di bola matanya.
"Tapi, Rendy... aku bisa jelasin tentang beberapa hari ini dan alasan kenapa aku nggak datang saat itu. Aku..." Vika menundukkan kepalanya sambil menghela napas dalam sebelum kemudian menyambung kembali. "...aku mau kamu mendengarkan aku, aku mau kamu mengerti posisi aku, Rendy." Sambung penuh permohonan.
"Apa lagi yang harus aku mengerti dari kamu? Udah aku bilang, kan? Hubungan kita udah selesai. Bersamaan dengan menghindarnya kamu dari aku tanpa alasan yang jelas. Dan sekarang," Rendy tampak tersenyum ironi memperhatikan Vika dengan mata menyalang, "udah terlambat buat kamu menjelaskan semuanya. Karena aku juga udah nggak mengharapkan apapun lagi dari kamu mengenai hubungan kita. Jadi lebih baik, daripada kamu buang-buang waktu di sini, lebih baik kamu pergi dan melanjutkan hidup kamu dengan baik. Aku harap, ini adalah keputusan terbaik untuk kita berdua."
Pernyataan Rendy yang ketus itu membuat hati Vika semakin kacau ditambah dengan rasa bersalah yang amat, hingga berhasil membuat hatinya terluka. Dan tanpa sadar, telah membuat air matanya menumpuk dan akan tumpah hanya dengan sekali kedipan mata saja.
"Terima kasih selama satu tahun ini udah menemani hari-hari aku. Udah mewarnai hidup aku menjadi lebih berwarna dengan cinta. Tapi, sepertinya kamu nggak pernah merasakan cinta yang aku berikan untuk kamu, kan? Dan aku harap, kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku, Vika. Selamat, karena kamu udah berhasil membuat semuanya kacau dengan menghancurkan seluruh impian aku untuk hidup bersama kamu. Semuanya udah lebih dari cukup jika aku harus melepaskan segalanya dan mulai melupakan kamu. Kita jalani hidup kita masing-masing tanpa harus memikirkan satu sama lain. Semoga kamu bahagia."
Tutup Rendy final seolah sedang memutuskan akhir dari hubungan mereka. Melihat Vika hanya membeku tanpa kata di depannya, dengan tega Rendy menutup pintu rumahnya dan membiarkan gadis itu menitikan air matanya dengan isakan menyesakkan.
Menumpahkan perasaan menyesakkan yang tidak bisa di gambarkan hanya dengan kata-kata saja.
Vika ingin Rendy mengerti posisinya. Tapi dia juga tidak bisa memaksanya untuk memahami situasi keadaannya yang mendesak sehingga memaksanya untuk menerima keputusannya begitu saja dengan sukarela. Dia sangat mencintai Rendy, sampai kapanpun hanya Rendy lah yang mampu membuatnya bahagia. Hanya Rendy lah yang akan selalu berada di hatinya sampai kapanpun meski dia harus dipaksa untuk mencintai orang lain yang tidak dicintainya.
Sementara Vika meratapi kondisinya yang sangat menyedihkan, Rendy justru merasakan rasa sakit luar biasa yang ia rasakan dalam hatinya. Jiwanya, bahkan logikanya tidak bisa berpikir apakah keputusannya itu sudahlah benar ataukah salah. Tapi yang jelas, rasa kecewa Rendy lebih besar jika dibandingkan dengan rasa cintanya saat ini. Meski Rendy masih sangat mencintai Vika, dan itu adalah hal mutlak yang tak pernah bisa diganggu gugat dan dihilangkan sampai kapanpun meski ada orang lain yang berusaha menghancurkannya.
*flashback off
"Apa yang saat itu mau kamu jelasin, Vika?"
Ucapnya frustasi saat dirinya kembali bangkit dari ingatan yang menyakitkan. Ingatan dimana, Rendy terlahir dengan sikap dingin tanpa ada kata cinta untuknya. Cinta antara sepasang kekasih yang mengikat janji setia akan selalu mencintai selamanya.
●●●
Berbeda dengan Rendy, begitu Vika memasuki rumahnya, dia langsung menuju kamar dan membaringkan tubuhnya yang terasa lemas di sana. Hawa panas dari pangkal tenggorokan yang meluap menjadi tumpukan air mata dia tumpahkan begitu saja tanpa kendali setelah tadi, dia tahan setengah mati dihadapan Rendy.
Sekuat tenaga dia berusaha kuat didepan pria itu agar tidak menumpahkan air matanya. Sebab, Vika tidak mau Rendy menganggapnya lemah tanpa kehadirannya selama ini. Vika meringkuk dengan posisi berbaring miring, menatap dinding polos kamarnya sambil terisak dan berderai air mata.
"Aku minta maaf, Rendy..." ucapnya sendu di tengah isakannya. "Aku tau, nggak semudah itu kamu bisa memaafkan aku. Saat itu... aku benar-benar putus asa, Rendy." Sambungnya lirih ditengah keputusasaannya.
*flashback on
Dan hari pertunangan pun tiba. Semua orang telah berkumpul dan menantikan kedatangan Vika. Vika memoles riasan di wajahnya, mengenakan lipstick berwarna nude senada dengan gaun kebaya yang dipakainya.
James Anderson, adalah calon tunangan yang dipilihkan papanya sekaligus pewaris tunggal dari kolega bisnis yang dijalankannya bersama. Dengan berat hati, Vika berusaha mengukir senyum dihadapan semua orang saat dirinya mulai melangkah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
Mereka sudah berada di Singapura. Hari ini adalah hari dimana akan dilangsungkannya pertunangan sehari sebelum papanya melakukan tindakan operasi. Dengan perlahan, Vika menuju ruang keluarga yang bisa dibilang seperti aula yang luas dengan hiasan dan dekorasi cantik penunjang suasana.
Tetapi, suasana cantik itu berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Suasana hatinya sangatlah muram, namun Vika berusaha bahagia demi papanya yang saat ini sedang terseyum bahagia kepadanya di atas kursi roda yang menopang tubuhnya. Ditemani dengan beberapa bodyguard yang mengawal di sisi kanan dan kiri papanya berada.
Vika akui, James dan keluarganya sangatlah baik. Orangtua James dan papanya sudah lama telah mengadakan pembicaraan mengenai perjodohannya. Tetapi, keluarga James tidaklah memaksa. Jika memang berjodoh, dia akan memperlakukan Vika layaknya seorang putri sekaligus menantu yang mereka idamkan.
Pertunangan itupun berjalan dengan lancar. Dengan raut wajah masing-masing keluarga yang terlihat bahagia. Tapi tidak bagi Vika.
Sepanjang acara, pikirannya terus saja dihantui rasa oleh bersalah terhadap Rendy. Jika boleh memilih, Vika tidak akan menerima pertunangan ini jika bukan demi papanya yang harus menjalankan operasi untuk keselamatan dan kesehatannya kembali.
Dan disinilah dia, memisahkan diri dari para tamu dan memilih untuk
menatap langit malam dengan segelas minuman tanpa alkohol yang telah dipilihnya. Sebab, dia tidak terbiasa dengan minuman beralkohol yang dipersiapkan dan dihidangkan sebagai jamuan makan malam.
"Aku mencarimu, ternyata kamu disini."
Itu suara James. Suara datar namun juga hangat dengan sedikit senyum yang baru saja membuyarkan lamunan Vika.
Vika pun menoleh, berusaha tersenyum pada James yang sedang berjalan menghampirinya dan berhenti disampingnya.
"Aku hanya ingin menatap langit malam Singapura." Jawab Vika sekenanya, tak lupa menyelipkan senyuman kepada James. "Dan... ternyata rasanya nggak jauh berbeda dengan Indonesia." Kekehnya ringan.
Pernyataan Vika ikut membuat James terkekeh. Dilihatnya gadis itu dengan seksama, hening sejenak menguasai diri James sebelum kemudian sebuah kalimat terlontar dari bibir pria setengah bule bermata indah itu dengan setitik rasa bersalah di wajah tampannya.
"Aku tau ini sangat berat untuk kamu. Kamu nggak perlu menutupinya dari aku."
Vika menolehkan wajahnya ke arah James, dibentuknya sebuah senyuman getir di bibirnya.
"Aku hanya ingin melihat papa bahagia, James. Aku nggak mau papa terlihat sedih di hari pertunangan putri yang dicintainya. Aku akan berusaha bahagia untuknya." Ucap Vika lirih disertai suara parau.
"Kamu memiliki kekasih?"
Pertanyaan tiba-tiba dari James sontak membuat Vika tertegun.
Tubuhnya membeku sejenak namun tak beberapa lama dia berusaha tersenyum di balik ingatan tentang Rendy. Kebersamaannya bersama pria itu yang tidak pernah dilupakannya sampai kapanpun.
"Hubungan kami udah berakhir sejak aku menghindarinya. Dia yang memutuskan itu dan aku pun dengan terpaksa menerimanya." Sahut Vika sendu dengan wajah mendongak menatap langit malam.
"Kamu sungguh mencintainya, bukan?" Tanya James lagi.
Vika menghela napas, lalu bibirnya tersenyum ironi. "Nggak ada seorangpun yang tau betapa aku sangat mencintainya, James. Tapi, dengan keadaan yang seperti ini... aku jadi mempertanyakan rasa cinta itu pada diriku sendiri. Apa benar aku sangat mencintainya?"
James tersenyum teduh, dia menggeser tubuhnya dan mendekat.
"Dari cara kamu berbicara, siapapun akan tau kalo kamu sangat mencintainya, Vika." James menghentikan kalimatnya sejenak, lalu menghela napasnya. "Aku juga nggak bermaksud untuk memisahkan kamu dengan kekasihmu. Aku nggak bermaksud merusak hubungan kalian. Aku akan....."
"Nggak perlu merasa bersalah dan merasa nggak enak gitu, James. Lagipula... aku juga yang menerima pertunangan ini. Aku cuma ingin melihat papa bahagia." Vika menyela perkataan James dengan cepat. Menghentikan rasa tidak enak yang akan pria itu ucapkan.
Entah apa yang James rasakan. Ada setitik rasa iba dalam hatinya, jiwanya tersentuh akan ketulusan dan pengorbanan yang Vika berikan. Jika masih diperbolehkan, dia akan berusaha membicarakan semuanya baik-baik tentang perjodohan ini kepada orangtuanya.
James baru akan mengatakan sesuatu jika saja seseorang tidak datang dengan napas tersengal dan raut wajah cemas.
"Nona, Tuan, nona. Tuan pingsan dan kejang-kejang. Beliau sesak napas."
Itu adalah salah satu bodyguard yang bekerja pada keluarga Vika. Dia memberitahukan tentang kondisi papanya yang tiba-tiba memburuk.
"Papa?" Ucap Vika dengan cemas, ada getaran menyesakkan yang terdengar saat berbicara. "Dimana papa?"
"Beliau sedang menuju rumah sakit. Kami telah membawanya, Nona."
"...p-papa..." ucap Vika sendu sambil berlari diikuti James yang mengikuti dibelakangnya.
Air matanya mengalir tiada henti. Dia berusaha untuk berlari secepat mungkin agar lebih cepat juga menuju kendaraannya.
"Vika, masuk ke mobilku. Aku akan mengantarmu!" Perintah James tiba-tiba yang langsung dituruti oleh Vika. Bukan saatnya untuk berdebat atau menolak ajakan James, yang terpenting saat ini adalah, kesehatan papanya yang harus ia utamakan.
Sesampainya di rumah sakit, tepatnya di depan ruang UGD, semua orang termasuk orangtua James telah berkumpul dengan raut wajah cemas. Terutama ayah James, William Anderson yang saat itu langsung menghampiri Vika dan menenangkannya.
"Vika, tenang, Vika. Papa kamu akan baik-baik aja. Dokter sedang memberikan pertolongan di dalam sana."
"Bagaimana... bagaimana bisa papa... papa akan baik-baik aja kan, om? Iya, kan? Semua akan baik-baik aja, kan?" Vika tidak bisa menahan kesedihannya. Dia sedikit menggoyangkan lengan William dengan putus asa.
"Nak, papa kamu akan baik-baik aja." Kali ini adalah suara ibu James, Eliana Anderson. Suara lemah lembut dari wanita paruh baya yang masih tampak cantik. "Kamu harus tenang, nak." Tangan ibu James terangkat membelai kepala Vika dengan lembut, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Vika menangis di sana. Menangis tersedu-sedu sambil memeluk ibu James dengan erat. Sementara Vika menumpahkan kesedihannya, James justru tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam memperhatikan Vika. Jika bisa, dia sangat ingin memeluk gadis itu dan memberikan ketenangan dalam bentuk sebuah pelukan hangat.
Tapi, dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak bisa mengambil kesempatan di saat situasi yang sedang genting seperti ini.
Vika langsung melepaskan pelukannya dan mendatangi dokter itu
dengan memberondong beberapa pertanyaan. Bentuk dari rasa cemas kepada papanya.
"Dokter, gimana? Gimana keadaan papa? Apa dia baik-baik aja? Apa operasinya bisa segera dilakukan tanpa harus menunggu besok?"
Melihat kondisi Vika yang menyedihkan membuat James tidak tega dan menghampirinya. Merangkulnya perlahan dan mencengkram bahunya pelan seolah sedang menguatkan.
"Dengan berat hati... Tuan Darusman tidak bisa diselamatkan!"
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Vika hampir saja ambruk jika saja James tidak memeganginya dan merengkuhnya erat. Dia sangat syok. Begitupun para kolega beserta orangtua James yang sama syoknya dengan Vika.
"Papa......!" Teriakan itu terdengar sungguh menyakitkan begitu keluar dari mulut Vika.
"Kami sudah melakukan pertolongan pertama untuk mencegah terjadinya komplikasi. Tapi, ternyata paru-paru beliau sudah terendam oleh cairan sehingga menyulitkannya untuk bernapas."
Dokter terus memberikan penjelasannya, sementara Vika sudah terduduk lemas di lantai dengan bersandar pada James dengan berlinangan air mata. Dia menangis sejadi-jadinya tanpa bisa dikendalikan, mengeluarkan isakan menyesakkan yang tidak bisa ditahan lagi.
James berusaha menenangkan Vika. Memberikan dadanya untuk gadis itu bersandar, membiarkan gadis itu menumpahkan air matanya hingga air mata itu menembus membasahi sebagian jasnya. Memberikan usapan lembut ke belakang punggung Vika yang gemetaran menahan kesedihan luar biasa.
Vika putus asa. Dia telah kehilangan sosok pahlawan di hidupnya yang sangat dicintainya dan dihormatinya. Tidak ada lagi sosok seorang ayah yang akan mengasihinya seperti yang papanya berikan untuknya.
*flashback off
"Papa... aku kangen..."
Vika menangis tersedu-sedu saat mengingat kenangan terakhir bersama papanya. Kenangan di hari pertunangannya, dimana kehidupannya berubah drastis tanpa ada semangat lagi dalam dirinya.
●●●
Melihat cuaca yang tidak bisa diprediksi, membuat Meila mengurungkan niatnya untuk bersantai di taman belakang di bawah ayunan kayu pada sebuah gazebo. Tadinya, setelah selesai makan siang dan meminum obatnya, dia akan bergegas menuju halaman belakang menikmati angin sejuk yang beberapa hari ini tidak dirasakannya.
Apalagi dengan suara petir yang saling bersahutan membuat dirinya bergidik ngeri jika harus membayangkan dirinya berada di bawah langit luas bersama petir yang saling berkejaran. Belum lagi jika tiba-tiba saja hujan turun tanpa dia bisa melarikan diri, dan itu akan membuat Dimas marah karena kondisi kesehatannya yang baru saja mulai membaik meski suaranya masih sedikit serak.
Dirinya masih berada di kamar Dimas. Dia sudah sangat merasa nyaman di kamar itu. Seketika dia berjalan menuju cermin, menatap dirinya dengan mata yang masih sayu. Dilihatnya dirinya yang sedang mengenakan pakaian hangat milik Dimas. Sama hangatnya seperti Dimas sedang memeluknya, hangat dan nyaman. Pakaian yang serba berukuran besar yang jauh dari ukuran tubuhnya yang mungil.
Seketika matanya terpaku pada luka cakaran di lehernya yang sudah mengering namun masih menyisakan bekas goresan yang hampir menutup. Dicarinya salep yang Dimas gunakan saat mengobatinya beberapa saat lalu, dia mulai membuka laci dan mencarinya, tapi belum juga menemukannya.
"Kamu lagi cari apa?"
Masuklah Dimas dengan membawa secangkir minuman hangat untuk Meila.
Meila langsung membalikkan tubuh. Melihat ke arah Dimas yang masih menutup pintu di belakangnya.
"Aku... aku lagi cari salep yang waktu itu kamu oleskan ke aku. Tapi aku nggak menemukannya." Meila menyahuti dengan pelan.
Tentu Dimas tahu salep yang Meila maksudkan itu. Perlahan, Dimas meletakkan secangkir minuman hangat itu ke atas meja nakas. Lalu tersenyum lembut pada Meila sambil membuka kotak lemari yang ada di ujung sebelah kiri atas nakas.
Diambilnya salep itu. Lalu, dioleskannya ke tempat adanya bekas luka yang sudah mengering dan hampir tertutup itu.
"Maaf, karena aku lupa untuk mengoleskan salep lagi ke luka kamu."
Dimas meminta maaf saat mulai mengoleskan salep ke leher Meila.
Meila sendiri tampak diam, tersenyum ke arah Dimas dengan kepala mendongak. Sebab Meila pun tahu, pria itu sudah sangat memberikan waktunya untuk merawatnya selama dia sakit. Dan itu sudah lebih dari cukup dengan segala perhatian yang pria itu berikan untuknya. Dimas mengusap luka itu dengan lembut. Dia selalu berusaha memperlakukan Meila dengan penuh kasih dan kelembutan.
"Masih terasa sakit?"
Meila menggelengkan kepala dengan cepat. Menampilkan wajah ceria yang mulai dia tampilkan lagi. Tidak memakan waktu lama, Dimas selesai mengoleskannya. Diletakkannya kembali salep itu ke tempat semula. Dikecupnya dahi Meila dengan penuh rasa sayang, dan diberikannya minuman hangat tadi pada gadisnya.
Sementara Meila menikmati minuman hangatnya, Dimas menggerakkan tangannya untuk merapikan rambut Meila yang sedikit berantakan. Membelainya perlahan sambil kemudian mengambil cangkir itu kembali dan meletakkannya ke atas meja.
"Ada sesuatu yang mau kamu lakukan hari ini?" Tangannya berhenti tepat di sisi wajah Meila, dan menangkupnya di sana.
Ditatapnya Dimas dengan kepala mendongak, "tadinya... aku mau keluar dan duduk di bawah ayunan itu, kak. Tapi.... karena cuacanya yang nggak memungkinkan, jadinya... nggak jadi deh." Sahutnya lesu disertai helaan napas.
Dimas menautkan kedua alisnya, memutar bola matanya seperti sedang berpikir mencari sebuah solusi.
"Kalo diganti dengan nonton film aja, gimana?"
Tanpa diduga, tawaran Dimas yang mengajaknya menonton film direspon baik oleh Meila. Gadis itu memancarkan binar mata yang menunjukkan jika dia setuju dengan usulan Dimas.
Meila menganggukkan kepala penuh semangat, yang langsung disambut kekehan renyah dari Dimas seraya menghadiahkan kecupan lembut ke pucuk kepala Meila.
"Jadi, sayangku... ayo kita nonton!"
Ajak Dimas tak kalah semangat. Kemudian, langsung menarik tangan Meila dan menggandengnya untuk mengikutinya di belakang. Menghelanya ke ruang utama dimana terdapat home-teatre yang Dimas pastikan, akan membuat gadisnya senang dan nyaman ketika menikmati film yang akan diputarnya nanti.
●●●
"Kamu bilang, mau masuk kuliah lagi? Kapan itu?"
Kalimat itu keluar bersamaan sesaat pria paruh baya itu baru saja menyesap secangkir teh hangat miliknya.
"Secepatnya," dengan nada datar, Sisil menjawab pertanyaan papanya dengan malas.
Percakapan itu dimulai saat Sisil mencoba berbicara kepada orangtuanya tentang keputusannya yang akan kembali kuliah.
Mungkin keputusannya ini akan jauh lebih baik dibanding harus berdiam diri di rumah dan melakukan hal-hal yang membosankan.
"Kamu tidak menjadikan ini sebagai alasan saja kan, Sisil?" Tanya papanya dengan masih sedikit ragu dan sedikit curiga.
Sisil terkesiap, matanya melebar sempurna saat pertanyaan papanya memang sedikit benar. Dan malah memang benar adanya.
"Aku serius untuk kuliah lagi. Lagipula... banyak tugas-tugas yang harus aku kejar selama beberapa pekan meliburkan diri."
Jawaban Sisil memang masuk akal. Melihat kemauan putrinya yang ingin melanjutkan kuliahnya lagi, sudah pasti papanya akan mengizinkannya. Dan pastinya dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi olehnya.
"Baik, kalo itu keputusan kamu." Papanya merubah posisinya, menyamankan diri dengan bersandar pada sofa. "Tapi, ada syarat yang harus kamu patuhi. Dan itu harus kamu lakukan tanpa membantah."
Mendengar papanya memberi izin dengan dasar adanya persyaratan, sejenak Sisil menyipitkan matanya sebelum kemudian berujar kembali.
"Syarat? Syarat apa lagi sih?" Sahut Sisil yang mulai merasa kesal.
Yang benar aja sih pake ada syarat-syaratan segala?
"Tujuan kamu hanya mau kuliah, kan? Jadi cukup kuliah aja. Pulang tepat waktu dan harus disiplin. Jangan membuat ulah seperti yang kamu lakukan pada Meila, ataupun yang lainnya. Uang jajan kamu juga akan papa potong separuhnya. Dan itu udah final. Bersikap baiklah mulai sekarang, Sisil."
Papanya tampak tenang saat memberikan beberapa syarat yang harus dipatuhi dan dipenuhi jika dia memang benar-benar mau menjalani kesehariannya seperti dulu lagi.
"Tapi, itu sangat berlebihan! Aku cuma pengen kuliah lagi. Bukan keluar-keluar nggak jelas tanpa tujuan. Apa belum cukup, hukuman itu kemarin?"
Tapi berbeda dengan papanya yang terlihat santai, Sisil justru tampak kesal sambil menahan napasnya penuh amarah. Jika bukan karena bosan, dia tidak akan repot-repot mengajukan permohonan untuk memulai kuliahnya lagi demi mengisi hari-hari yang membosankan itu.
"Itu benar, Sisil." Datanglah ibu Sisil dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh beserta camilan berupa biskuit. Diletakkannya secangkir teh hangat itu di depan Sisil. Setelahnya, ibunya beralih menaruh satu cangkir teh lagi untuknya. Lalu, meletakkan nampan ke ujung meja dan duduk di samping suaminya sambil melanjutkan kembali ucapannya.
"Jika kamu mau kuliah lagi, kamu harus mengikuti persyaratan kami. Itu juga demi kebaikan kamu, nak."
Sejenak, Sisil tampak berpikir. Sementara kedua orangtuanya saling memandang memainkan alis mereka seperti sedang memberikan sebuah kode.
"Ya... itu semua terserah kamu. Kami hanya memberikan keputusan yang akan merubah kamu menjadi lebih baik. Orangtua tidak akan pernah mejerumuskan anaknya ke dalam lembah keburukan. Jika kamu mau... kamu bisa kuliah lagi mulai besok." Papanya berucap final.
"...I-iya..."
Sejenak, mendadak hening kala suara jawaban dari mulut Sisil terdengar sangat pelan dan nyaris tak terdengar.
Terdengar helaan napas dari papanya. Kedua orangtua Sisil saling memandang bergantian dan mengulas senyum lega.
"Baiklah. Karena semuanya sudah diputuskan, kamu bisa menyiapkan diri kamu untuk memulai kuliah lagi."
Setelah papanya memutuskan, Sisil tampak beranjak bangkit dari duduknya dan berbalik. Namun, sejenak dia menghentikan kakinya dan membalikkan tubuhnya kembali untuk mengulurkan tangannya, mengambil cangkir teh miliknya yang telah ibunya buatkan untuknya.
"T-terima kasih. A-aku... aku akan kembali lagi ke kamar."
Ucap Sisil dengan kepala menunduk sambil lalu. Membawa secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap panas ke dalam kamarnya dengan ekspresi canggung. Menyisakan sebuah senyuman yang terukir dari bibir kedua orangtuanya yang saling menatap satu sama lainnya. Senyuman bahagia yang terpancar dari raut wajah orangtua yang menaruh harapan lebih kepada putri kesayangannya.