
Saat hati dan pikiran Meila sedang berkecamuk, pandangan Vika tanpa sengaja menangkap kehadiran Sisil bersama orang tuanya yang baru saja datang dan bergabung bersama Eliana dan Hans ke tengah acara.
"What are you looking for, ladies?"
Tiba-tiba James datang dengan mengagetkan. Membuat keduanya sedikit terperanjat dengan bersamaan.
"James!" Pekik Vika sembari memukulnya pelan. "Jangan ngagetin gitu, please!" Sambungnya kemudian dengan peringatan dan kedua mata membulat.
Tanpa menghiraukan kekesalan Vika, James malah terkikik sembari menarik kursi di sebelah gadis itu. "Lagi ngapain sih? Ngeliatin apa kalian sampe serius gitu?"
"Look at that!" Vika menyahuti sambil menoleh ke arah Sisil. "Kamu kenal dia?"
Sambil mengikuti arah yang Vika maksud, "...ya. She's Mr and Mrs Adrian's daughter. Anak dari teman kolega papa. Kenapa? Kamu kenal dia juga?"
"Not too much." Jawabnya acuh. "But, You have to be careful with that girl!" Sambungnya lagi dengan nada peringatan yang kental.
"Kak Vika... gak boleh gitu." Meila menyela dengan memberikan peringatan bernada pelan.
"Tapi dia pernah......" Vika berusaha menyela kembali dengan jawaban sebelum akhirnya terpotong dengan ucapan Meila.
"Kami satu kampus." Meila akhirnya bersuara. "Cuma beda jurusan aja." Dia menjawab dengan sikap canggung.
"Oh kalian satu kampus? Bagus dong." James malah menyahut dengan nada santai ke arah Vika yang sedang berdecak sebal kepadanya. "Anyway... who's this sweet girl? Kamu gak mau ngenalin dia ke kakak gantengmu ini?"
"Oh, ya. Kalian belum saling kenal ya sebelumnya. Kenalin, ini adik kelas aku. Namanya Meila. Dan dia udah punya pacar. Jangan genit-genit!" Imbuhnya dengan nada peringatan yang kental di akhir kalimat. Sementara James yang mendengarnya langsung terkikik geli.
"Mei, dia James. Putra om Hans dan tante El. Tuan rumah acara ini." Lalu, giliran Vika yang memperkenalkan Meila pada James.
"Halo, manis!" Sambil mengulurkan tangannya pada Meila. "Berarti kamu adik kelas Vika di kampus?"
"Halo..." meski sedikit canggung, Meila tetap membalas jabatan tangan James dengan gaya khasnya. Mengangguk tipis. "...iya. Kami satu kampus. Aku adik kelas kak Vika dan kak Rendy." Imbuhnya yang dibalut senyuman.
James menghela napas kasar sebelum akhirnya menjawab Meila namun dengan kalimat ledekan yang dimaksudkan pada Vika.
"Sayang sekali. Padahal, aku baru aja mau deketin kamu. Tapi sepertinya sudah ada pria yang beruntung yang menjadi kekasihmu." Sambil melirikkan ekor matanya kepada Vika.
Rupanya Vika memang gadis peka karena langsung menyadari kalimat ledekan James.
"Poor you, James... You're not lucky! Meila ini adik gue yang manis dan polos." Sambil merangkul bahu Meila. "Jadi, jangan pakai jurus sok ganteng kamu itu buat menggodanya. Karena kekasihnya jauh lebih tampan dari kamu!" Ucap Vika dengan jawaban telak penuh canda.
"Kak Vika..." Meila berseru malu.
Kali ini Vika merasa senang karena berhasil membuat James kalah darinya. Namun, bukan James jika tidak bisa menjadi sosok kakak laki-laki untuk Vika. Dia hanya tertawa sembari menggeleng-geleng kepala.
"Ingat! Kamu itu adik aku, Vika. Jadi, jangan mancing-mancing aku untuk terus membuat kamu jengkel sepanjang acara nanti. Karena aku tau, mama papa pasti akan selalu berpihak sama kamu, putri kesayangannya. Jadi, menurutlah dengan bos sekaligus kakak tampan mu ini." James memberi peringatan dengan gayanya yang menjengkelkan.
"James!" Lagi, Vika berdecak sebal. Sementara James masih terus tertawa puas melihat kekesalan adiknya.
"Kamu pasti bingung, kan?" Melihat Meila yang bingung, James mulai menjelaskan hubungannya dengan Vika. "Aku sama Vika bersaudara. Mungkin kamu juga udah mendengar semua ceritanya. Karena papa dan mama sangat menyayanginya, terpaksa aku harus menganggapnya adik meski sebenarnya aku tidak suka dengan sifatnya yang terkadang galak. Tapi... mau bagaimana lagi? Meski begitu... aku bersyukur karena dia yang menjadi adikku. Karena dari dia, aku jadi tau bagaimana menghadapi gadis galak..." Kikiknya. "...aku juga bisa belajar menghadapi berbagai macam sifat wanita yang belum pernah aku temui darinya." Kali ini, terdengar nada tulus dan jujur dari kalimat James sampai-sampai membuat Vika tersentuh dan ragu jika pria yang dihadapannya ini benar-benar James.
"Dan ada satu lagi yang paling penting. Dia itu model berbakat yang bisa diandalkan di perusahaan." Imbuh James dengan nada berbisik namun tetap dengan kalimat mengejeknya yang kental.
●●●
"Iya, iya. Gue baru sampe di tempat acara. Kita bicarain lagi nanti setelah acara selesai. Gue tutup dulu telponnya."
Dengan tergesa-gesa, Dion mulai melangkah menaiki anak tangga yang di sisi kanan dan kirinya telah berdiri dua orang petugas keamanan. Selaku tamu, dia disambut dengan hormat sebelum akhirnya memberikan sebuah kunci mobil kepada petugas parkir untuk memarkirkan mobilnya. Lalu, melangkah masuk ke dalam ballroom yang sudah dipenuhi para tamu.
Dion hampir melupakan jika telah memiliki satu undangan makan malam sebagai perwakilan perusahaannya. Sebab, itulah alasan dia datang ke Indonesia. Jika saja dia tidak memasang pengingat di ponselnya, dia nyaris menghabiskan satu botol minuman yang telah dia siapkan untuk menemaninya di malam minggu ini. Namun, begitu pengingat di ponselnya berbunyi, botol minuman yang telah disisakan setengahnya ia tinggalkan begitu saja. Lalu, mengambil satu batang rokok untuk dia hisap selama perjalanan tadi sembari mentralkan pengaruh alkohol yang mulai menyerap ke otaknya.
"Hey, Dion!"
Langkah Dion terhenti begitu ada seseorang yang memanggilnya.
"Samuel...?" Rupanya tidak sulit untuk Dion mengenali seseorang.
Dion pun langsung bergabung dengan para pengusaha muda sebayanya. Sebelum kemudian saling memberikan salam satu sama lain. Berjabatan tangan, hingga saling berangkulan.
"Kapan lo dateng?" Samuel bertanya.
"Beberapa hari lalu. Ada sedikit urusan juga yang harus dikelarin." Jawab Dion.
Samuel hanya ber-oh ria diikuti dengan gurauan ringan. "Mana cewek lo? Gak lo ajak?"
Dion tertawa dan menjawab. "Gak ada. Belom ada."
"Masa gak ada yang mau jadi pacar pengusaha muda kayak lo sih? Apa jangan-jangan lo lagi yang pilih-pilih?" Samuel berucap dengan candaan tidak percaya. Tetapi Dion tetap tidak menghiraukannya. Dia justru malah semakin tertawa sambil menyulangkan minumannya kepada Samuel.
"Denger-denger... ada gadis cantik yang dateng ke acara ini." Andrew ikut berucap. Kalo diliat dari gayanya sih kayaknya tipe-tipe lo banget!"
Seolah tidak menghiraukan, Dion hanya menanggapinya acuh sembari menyeringai. Karena baginya, tidak ada gadis yang mampu menyentuh hatinya kecuali gadis yang ia temui di toilet pada saat itu.
●●●
"James..."
Suara Eliana yang memanggil-manggil James dari kejauhan menarik perhatian James. Dia yang masih berbincang-bincang dengan Vika dan Meila, tiba-tiba harus menghentikannya sejenak untuk memenuhi panggilan dari ibunya.
James pun berjalan menghampiri ibunya, tempat dimana ada tuan dan nyonya Adrian sekaligus juga Sisil disana.
"Halo, om, tante, dan juga......"
"...Sisil, James." Adrian menyela begitu dilihatnya James kesulitan untuk mengingat nama putrinya.
"Ah, ya. Sisil." Ucapnya dengan menjeda. "Selamat datang di acara perjamuan ini. Terima kasih sudah mau menerima undanganku sebagai perwakilan dari mama dan papa." Lagi-lagi James bersikap sopan pada Adrian. Sementara Sisil hanya menatapnya malas bercampur geli yang bersamaan.
Adrian tertawa, "mau itu undangan dari kamu atau dari orangtuamu langsung, itu sama saja, James." Lalu menepuk-nepuk bahu James dengan pelan.
"Riana, putrimu cantik seperti kamu masih muda dulu, ya?" Eliana menyela. Membuat Sisil mendadak kikuk dibuatnya. Namun begitu, dia tetap mengucapkan salam sekaligus rasa terima kasih meski sedikit canggung.
"Mbak bisa aja. Kalau dibanding mba dulu, aku gak ada apa-apanya." Riana merendah. "Kamu tau James, mamamu ini cewek terpopuler di kampus. Kamu lihat, wajah Indonesianya itu. Gak heran kalau papamu sangat terpesona."
Ya! Eliana adalah gadis berkebangsaan Belgia yang lahir dan besar di Indonesia. Wajah Indonesianya menurun dari ibunya yang memiliki darah Minang. Sedangkan kulit putih dan bersihnya menurun dari ayahnya. Maka tak heran jika Eliana masih tetap terlihat awet muda meski di usianya yang tak muda lagi.
Eliana dan Riana adalah senior dan junior di kampus yang sama saat mereka sama-sama menimba ilmu di Bandung. Eliana adalah senior satu tingkat di atas Riana.
Membiarkan keluarga Anderson dan Adrian berbincang, di sudut acara tampak Dimas dan Rendy yang telah memisahkan diri ke sisi keramaian sambil memegang gelas minuman.
"Jadi lo tetep bawa bodyguard?" Rendy berucap.
Mendengar ucapan Rendy, membuat Dimas mengulas senyum dengan jawaban santai. "Lo sadar rupanya."
"Yaiyalah. Gue perhatiin lo yang dari tadi komunikasi jarak jauh pake earpod sambil main mata ke arah sudut pesta yang tersebar." Kekehnya pelan sambil menjawab ringan.
"Gue cuma perlu memantau kondisi Meila. Biar bagaimanapun dia baru pertama kali ke acara kayak gini di tengah keramaian. Meskipun itu gue yang ajak dan dia keliatan baik-baik aja. Sementara gue gak bisa sepenuhnya bersama dia terus karena pasti akan ada kolega yang nantinya akan membuatnya semakin gak nyaman. Gue cuma perlu tahu kondisinya dari jarak jauh."
"Ya... itu bagus juga sih. Asalkan dia nyaman, itu gak masalah. Tapi kayaknya ada satu hal yang harus lo siapin nanti."
Sambil mengerutkan dahinya, "siapin? Siapin apa maksud lo?" Tanya Dimas.
Rendy mendengus kecil sebelum kemudian menyeringai lebar.
"Siapin jawaban buat pertanyaan yang bakal diajuin adek gue nanti setelah dia tau identitas lo."
Bukannya terkejut, Dimas malah terkekeh. "Gue udah siap dengan itu." Lalu menjeda kalimatnya sebelum kemudian melemparkan seringaian kepada Rendy. "Justru kayaknya lo yang bakal diintrogasi Vika karena tadi dia yang lebih terkejut. Lo gak liat ekspresinya pas denger nama belakang gue?" Gelaknya meledek.
Lagi, merasa tidak khawatir akan ucapan Dimas, Rendy malah menjawab disertai ulasan lebar penuh teka-teki.
"Kalo itu, gue udah tau gimana cara menjinakkannya." Jawab Rendy dengan teka-teki disertai senyuman nakal.
"Dasar otak mesum." Sambar Dimas yang langsung disambut gelakan tawa renyah oleh Rendy.
●●●
Hampir jam 12 malam, acara semakin meriah dan para tamu undangan yang datang pun semakin bertambah. Setelah pasangan Anderson membuka acara dengan memberikan sambutan, sekarang semuanya telah sibuk berbincang masing-masing sambil menikmati acara.
Seperti Sisil, setelah berbasa-basi dengan tuan rumah dan memilih menjauhkan diri ke tempat yang tidak terlalu banyak orang, yaitu di sudut ballroom dekat meja minibar. Jujur saja, dirinya tidak suka datang ke acara perjamuan makan malam yang melibatkan perusahaan. Karena untuknya, acara akan menjadi bosan karena semua yang datang hanya membicarakan bisnis dan kerjasama perusahaan masing-masing.
Tetapi, karena dia sudah terlanjur berjanji dan tidak mau membuat papanya kecewa, dia pun menyetujuinya. Dengan kondisi tubuh yang kurang fit dan tenggorokan yang lagi-lagi terasa sakit dan kering. Seolah dia sedang mengalami dehidrasi parah di daerah padang pasir yang tandus.
Tidak bisa dipungkiri, batuk-batuk yang tadi sempat hilang setelah minum air perasan lemon yang dicampur dengan jahe hangat, tiba-tiba muncul lagi dengan rasa gatal dan perih yang tidak bisa digambarkan.
"Ini...." tiba-tiba James muncul dengan membawa segelas air putih hangat dan sirup obat batuk. "....minum air putih hangat ini, dan juga sirup obat batuknya."
Sambil melihat ke arah James dengan perubahan wajah yang tiba-tiba ketus, Sisil tidak menghiraukan ucapannya.
Merasa tidak dihiraukan, James malah berdiri di samping meja bar dengan tubuh bersandar.
"Kamu batuk-batuk terus dari tadi. Pasti tenggorokan kamu sakit. Kalo dibiarin, akan semakin parah." James berusaha menasehati Sisil dengan sedikit membujuk.
"Bukan urusan kamu!" Jawab Sisil singkat dengan nada ketus.
James pun menghela napas tipis. "Ya... Memang bukan urusan aku, tapi akan menjadi urusan aku kalo batuk-batuk itu gak hilang."
Kali ini, perkataan James berhasil membuat Sisil menoleh. Dengan kedua mata memicing lalu memutarkan bola matanya dengan ekspresi malas dia pun akhirnya menyahuti.
"Oh, jelas! Kalau kamu nolak permintaan papa buat gak anter aku ke kampus, aku gak akan batuk-batuk kayak gini!"
James menarik sudut bibirnya ke atas dan membentuk senyuman.
"Itukan salah kamu sendiri membiarkan polusi dari asap kendaraan masuk ke dalam kabin mobil. Membuka kaca jendelanya lebar-lebar. Padahal aku udah ngingetin kamu, loh!" Lalu memajukan wajahnya sedikit dan melanjutkan kalimatnya dengan nada kalimat mengingatkan. "Jangan bilang kamu pura-pura lupa?"
"Ish! Menyebalkan!" Sisil menyahutinya dengan wajah kesal. Namun, meski begitu tak urung dia menerima, dan mengambil air putih hangat itu dengan kasar dan meneguknya. Lalu, meminum sirup obat batuk yang James berikan sambil menahan amarah yang menggebu-gebu.
Sedangkan James, hanya terkikik geli melihat kemarahan Sisil sambil menggelengkan kepala. Lalu menggodanya lagi hingga berhasil membuat Sisil benar-benar kesal dibuatnya.
"Pelan-pelan. Sirupnya sedikit pahit!"
Terlanjur mendarat ke lidahnya, Sisil nyaris memuntahkannya kalau-kalau dia tidak menahan dan menutup mulutnya dengan tangan dan menelannya dengan cepat. "Kenapa gak bilang, sih?" Marahnya bersungut.
Reaksi James hanya mengangkat kedua bahunya. Lalu melirik ke Sisil yang masih merasakan pahit di lidah sambil menghilangkannya dengan beberapa kali tegukan air putih hangat di tangannya.