A Fan With A Man

A Fan With A Man
Incaran Lelaki



Tatapan Beno yang tampak sinis dan membunuh membuat dirinya dikepung oleh amarah. Jika bisa direalisasikan, mungkin saat ini tubuhnya sudah mengeluarkan api-api amarah yang berkobar. Tangannya yang mengepal menimbulkan urat-urat tangannya muncul hingga membiru. Membuatnya langsung meninju sebuah pilar yang permukaannya tidak rata hingga menimbulkan kemerahan dan luka.


"Kurang ajar! Kalian mulai berani menantang gue. Gue gak akan tinggal diam. Lo udah berani bikin gue marah, Sisil. Gue pastikan lo gak bisa lepas dari gue. Gak akan!"


Beno mengucap kalimat penuh tekad dan langsung pergi begitu saja. Dia memilih meninggalkan tempat itu untuk memikirkan rencana selanjutnya yang akan dia gunakan untuk mengancam Sisil.


Satu jam yang lalu, Beno dengan sengaja mengikuti mobil James yang baru saja keluar dari rumah Dimas. Dengan menggunakan alat penyadap nomor telepon Sisil yang dia simpan, Beno langsung menemukan keberadaan Sisil yang sedang berada di kediaman Dimas. Tempat dimana Beno pernah menerobos masuk ke dalam sana demi menculik Meila yang sedang seorang diri dengan penjagaan yang lemah. Tetapi sekarang, penjagaan di rumah itu begitu ketat. Sangat berbeda tiga kali lipat ketika dia berhasil mengelabui para penjaga dengan memberikan obat bius dengan mudah.


Seolah tidak ingin menceburkan dirinya kembali ke dalam sarang penjagaan Dimas, Beno memilih berdiri menjauh di balik pohon besar di seberang jalan. Cukup lama Beno menunggu hingga dirinya mulai merasa bosan dan gusar. Sampai-sampai dia berpikir untuk segera pergi dari sana takut para penjaga itu menyadari keberadaannya yang mencurigakan. Tetapi, niat yang baru saja terbersit itu seketika diurungkannya ketika melihat sebuah pintu utama yang terbuka disusul dengan empat orang yang keluar dari dalam rumah yang diantaranya adalah James dan Sisil. Bibirnya langsung menyeringai lebar yang dipenuhi dengan rencana-rencana licik yang seolah sedang tersusun rapi.


Melihat mobil James yang keluar dari pekarangan rumah Dimas, membuat Beno segera mengambil langkah cepat untuk mengikuti mereka ke tempat dimana dia telah menyaksikan pemandangan yang memancing amarahnya seperti tadi. Dan itu semakin membuatnya ingin menekan Sisil agar tunduk di bawah kakinya. Dan Beno sadar, jika menekan Sisil bukanlah satu-satunya cara saja yang harus dia lakukan. Melainkan sebuah ancaman mematikan yang akan dia gunakan untuk membuat Sisil bertekuk lutut padanya.


●●●


Masih dalam dekapan James yang menenangkan, isakan Sisil yang tadinya kencang perlahan tidak lagi terdengar. Kesunyian di gedung itu semakin menjelaskan jika memang tidak ada siapapun yang bermukim di sekitar sana. Suasana sepi yang mendominasi ditambah desisan halus yang keluar dari bibir James seolah mengantarkan Sisil pada sebuah ketenangan jiwa yang belum dia rasakan.


Tubuhnya yang lemas seolah tidak mampu menopang dirinya sendiri. Bahkan untuk sekedar berdiri pun, Sisil merasa tidak sanggup. Dia terlalu lelah sampai  hanya bisa merebahkan kepalanya saja di pundak James sambil mendengarkan desisan halus yang membuatnya tenang. Ditambah lagi dengan usapan lembut tangan James di kepalanya. Juga rengkuhan lengan-lengannya yang kokoh nan hangat. Membuat Sisil semakin terbuai hingga tidak mau melepaskan rangkulannya pada pria itu.


Sisil sudah tidak peduli lagi apa yang akan atau sedang James pikirkan tentangnya. Karena untuk saat ini, Sisil hanya tau dua hal. Ketenangan dan kenyamanan yang dirasakannya secara bersamaan. Dan itu dia rasakan ketika hanya bersama dengan James. Pria yang dulu sangat membuatnya kesal hingga Sisil membencinya tanpa alasan. Namun, setelah menyadari perasaannya sendiri sejak beberapa hari terakhir bersamanya, Sisil mulai merasakan ketulusannya. Dan dia sedikit demi sedikit mulai mengakui dan berdamai dengan perasaannya sendiri. Biarlah perasaannya itu akan membawanya ke tempat yang semestinya. Seperti yang sekarang sedang dirasakannya.


Gerakan James yang tiba-tiba menjauhkan Sisil darinya membuat Sisil tersadar dari lamunannya sendiri. Perlahan, tatapan meneduhkan James menatapnya dengan lekat. Seolah ikut merasakan apa yang dirasakannya.


Memandangi wajah Sisil yang sedikit menyisakan basah karena deraian air mata, membuat James langsung menyeka pipi serta menangkupnya lembut sebelum kemudian memberikan senyuman hangat untuknya.


"Sudah merasa lebih baik, sekarang?" James bertanya sambil setengah membungkuk.


Sisil menatap James dengan mata sembab dan sedikit bengkak. Kemudian menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban dari pertanyaan James.


James tersenyum kembali sebelum kemudian memberikan kecupan singkat di kening Sisil disusul dengan kalimat ajakan yang tak kalah lembutnya.


"Kalau gitu... bisa kita pulang sekarang?"


"......iya." sahut Sisil dengan suara serak dan nyaris tertelan.


"Tapi sebelum itu, aku tidak bisa langsung mengantarmu pulang. Om dan tante akan curiga kalau melihat wajahmu yang sembab karena habis menangis ini. Kita kembali ke apartemenku dulu, ya. Kamu tidak apa-apa?"


Sisil lagi-lagi mengangguk tanpa mengekspresikan ketidaksetujuannya sedikitpun di wajahnya. Dia tampak menurut dan setuju dengan apa yang James katakan.


".....iya," jawabnya. "Te-terserah kamu." Sambungnya kemudian dengan nada malu-malu.


Tatapan James pun berubah sayang. Disusul dengan elusan sayang ke kepala Sisil. Dan setelahnya, James langsung menggandeng kembali tangan Sisil. Memperhatikan langkahnya agar tidak terselip atau tergelincir ketika menuruni anak tangga tanpa penjaga di sisi kanan juga kirinya.


"Hati-hati," ujar James sambil sesekali mengimbangi langkahnya pada Sisil.


Selang beberapa saat, mereka sampai di tempat James memarkirkan mobilnya. James lebih dulu membantu Sisil ketika akan memasuki mobil, memasangkan seat belt untuknya, baru setelahnya dia masuk dan duduk di balik kemudi. Kemudian langsung menancapkan mobilnya melewati jalanan setapak yang langsung menghubungkannya ke jalan raya yang cukup ramai dan padat karena telah dipenuhi oleh kendaraan orang-orang yang akan menikmati waktu akhir pekan mereka.


●●●


Karena bingung harus melakukan apa, akhirnya Meila berpikir untuk sedikit mengasah otaknya sembari berlatih untuk menghadapi kuis besok.


"Kamu sedang apa?" Dimas baru saja masuk ke dalam kamar dan langsung menghampiri Meila yang tampak serius dengan bukunya.


Meila sontak menoleh kepada Dimas yang sedang berjalan mendekatinya. Lalu tersenyum tipis kepadanya.


"Menurut kamu kalau seseorang memegang buku dan alat tulis, mereka sedang apa?" Meila sengaja bertanya balik untuk melihat reaksi Dimas.


Sambil mengernyitkan alis, pandangan Dimas menyipit. "Belajar?"


Meila terkekeh sembari memberikan ibu jarinya untuk Dimas. "Good Boy!"


"Jadi ceritanya kamu lagi jadi anak baik sekarang, hm?"


"Memangnya kapan aku pernah nggak jadi anak baik di depan kamu?"


Dimas terkekeh kembali sambil membungkuk di depan gadisnya. "Aku lupa kalau pacar kecilku ini udah bisa ngejawab sekarang." Ujarnya sambil mencubit gemas pipi Meila yang terasa lembut dan kenyal seperti marshmallow itu.


"Kamu tau kan, kalau besok aku ada kuis, jadi aku harus mengasah sedikit kemanpuanku buat soal-soal yang kemungkinan akan keluar nanti."


"That's my girl!" Dimas memberikan sedikit pujian untuk Meila. "Apa ada yang perlu aku bantu?"


Sambil tersenyum, Meila menggeleng disertai jawaban yang bijak. "Nggak perlu, kak. Aku bisa, kok. Mungkin nanti kalau ada yang benar-benar nggak aku mengerti, aku akan tanya ke kamu. Untuk sekarang, aku cukup mengerti dengan pembahasannya."


"Oh, iya, benar. Aku hampir lupa kalau pacar aku ini salah satu mahasiswi teladan di kelasnya. Dan juga..... paling menjadi incaran laki-laki, kan?"


Meila terperangah heran. "Ah, apaan sih, kak! Nggak, lah... itu kan cuma mereka aja yang bilang kayak gitu." Sanggahnya dengan merendah.


Senyuman Dimas tampak melebar. Dia tau jika kekasihnya itu termasuk siswi berprestasi di kampus dan juga menjadi incaran para lelaki. Itu diketahuinya ketika di awal-awal Dimas mengenalnya, banyak diantara mereka yang menaruh perhatian lebih pada Meila. Dan disitulah Dimas langsung menyadarinya.


"Baiklah kalau begitu, kamu lanjutkan belajarnya, ya. Aku mau keluar sebentar."


Wajah Meila berubah bingung. "Kamu mau keluar? Kemana?"


Dimas melebarkan bibirnya membentuk senyum. "Hanya ke ruang penjaga untuk mengecek sesuatu."


"Oke." Jawab Meila singkat tanpa banyak bertanya lagi. Diselipi dengan senyumannya yang manis.


Dimas pun perlahan membalikkan badannya sebelum kemudian lebih dulu menghadiahi kecupan ke puncak kepala Meila sekilas lalu membiarkan gadisnya itu melanjutkan aktivitas belajarnya. Dia langsung menuju ke ruang pengawasan untuk mengecek langsung rekaman video tadi malam secara langsung serta akan memberikan instruksi lebih kepada tim keamanannya.