A Fan With A Man

A Fan With A Man
Jejak



Berbeda dengan semalam dengan cahaya lampu yang redup, pagi ini tampak begitu cerah. Sinar mentari mulai masuk melalui celah-celah tirai yang setengah terbuka dan melambai. Seolah mengisyaratkan manusia-manusia yang masih setia terlelap, untuk segera bangun dan memulai aktifitasnya kembali.


Tidak ada yang lebih menyenangkan disaat kamu terlelap dalam keadaan memeluk seseorang yang kamu cintai. Hal itupun sama seperti Rendy. Pria itu tampak memeluk Vika yang terlelap di pelukannya dengan posisi gadis itu yang membelakanginya.


Keduanya nyaris tanpa busana. Rendy yang masih mengenakan boxer, sementara Vika yang tidak menanggalkan seluruh pakaiannya, masih mengenakan pakaian dalam serupa tank-top yang membalut tubuh mulusnya. Tidak! Mereka tidak melakukan apapun. Mereka sama sekali tidak melakukan sesuatu diluar norma yang melanggar batas.


Mereka hanya saling menyentuh, mencumbu, membelai, serta memeluk untuk merasakan kehadiran masing-masing karena sudah lama tidak saling mencurahkan kerinduan yang begitu dalam.


Rendy mulai mengerjapkan matanya perlahan, menyadari kehadiran gadis yang sangat dicintainya masih belum membuka matanya.


Dihirupnya aroma gadis itu dengan penuh perasaan, dikecupnya tengkuk Vika yang ter-ekspose, lalu turun ke pundaknya untuk diberikan kecupan mesra dan sedikit menggodanya.


Merasakan sentuhan Rendy, Vika menggeliat tidak nyaman dan refleks membalikkan tubuhnya menghadap Rendy. Dengan sedikit demi sedikit membuka matanya yang langsung menampilkan pantulan wajah Rendy dengan jarak sangat dekat yang begitu tampan dengan rambut acak-acakan.


Vikapun tersenyum hangat, sementara Rendy tidak tahan untuk mengecup bibir merah Vika yang masih sedikit bengkak karena dia tidak berhenti untuk mencumbunya sejak semalam.


"Selamat pagi........ Sayang!" Lebih dulu menyapa, Rendy sengaja menyisipkan jeda sebelum kata 'sayang' itu disematkan untuk Vika.


Mendengar kata 'sayang' yang keluar dari mulut Rendy untuk pertama kalinya sejak mereka kembali bersama, telah berhasil membuat kedua mata indah Vika membuka sempurna. Dirinya selalu merindukan kata itu terdengar lagi. Hatinya menghangat karena merasa dicintai lagi oleh pria yang sangat amat dicintainya.


"Aku boleh kan, memanggilmu dengan sebutan itu lagi?" Ucap Rendy untuk memastikan. Yang pria itu telah ketahui bahwa, tanpa bertanya pun, Vika pasti menerimanya dengan senang hati.


"Andai kamu tau, setiap malam aku selalu meminta saat-saat seperti ini segera terjadi lagi di kehidupan aku. Aku selalu berdoa, agar aku bisa terlelap dalam pelukanmu, dan terbangun dari tidurku dengan kamu berada disisiku. Meski hanya sebatas mimpi." Ucap Vika dengan jujur dan pandangan yang lurus. "Dan hari ini permintaanku terwujud, Rendy. Kamu bersama aku. Itu udah cukup buat aku. Aku selalu merindukan pelukan hangatmu yang menenangkan, sentuhanmu yang membuatku nyaman, dan kecupanmu yang selalu melekat dan membekas di permukaan kulitku meski aku menghilangkan jejaknya dari sana."


Pengakuan jujur Vika seharusnya tidak perlu dibuktikan lagi dengan kata-kata saat tubuh sudah lebih dulu menjelaskannya. Saat bahasa tubuh sudah dengan sukarela menerima, maka perkataan pun tidak perlu dibuktikan lagi.


Rendy terdiam, hanya matanya saja yang memandangi Vika dengan lekat, sosok indah yang sedang dihadapannya. Dengan beberapa tanda yang ditinggalkannya ke tubuh Vika, sangat kontras dengan warna putih kulitnya yang mulus dan tanpa noda.


Kedua tangan Rendy beralih menangkup sisi wajah Vika agar gadis itu tidak memalingkan wajah darinya.


"Dan aku mempercayainya," perlahan, sebuah senyum nakal muncul begitu saja di bibir Rendy. "Tanpa kamu mengatakan apapun, semuanya udah dijelaskan saat kamu menerima, dan membiarkan jejak tanda-tanda yang aku tinggalkan ini melekat di tubuhmu, Sayang."


Perkataan Rendy yang diikuti dengan seringaian mencurigakan langsung mengingatkan Vika akan semua tindakan Rendy semalam tanpa adanya penolakan darinya. Dan jelas saja, matanya membelalak sempurna saat melihat sebagian tubuhnya menampilkan tanda cinta yang ditinggalkan Rendy padanya.


"Gimana? Sangat indah, bukan?" Suara Rendy tiba-tiba.


"Rendy!" Dengan sedikit mencebik, Vika seolah sedang memperingatkan Rendy akan tindakannya yang membuatnya harus memutar otak untuk memakai pakaian yang harus dikenakannya ke kampus hari ini. Guna menutupi jejak-jejak itu.


Rendy pun akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Membiarkan Vika memelototinya dengan penuh peringatan melalui kedua mata indahnya itu.


"Apa, Vikaku, sayang?" Dengan tanpa dosa, Rendy malah terlihat santai dan malah semakin terpancing untuk menggodanya.


"Rendy, aku harus pakai baju apa ke kampus? Aku nggak mau jadi pusat perhatian, nanti. Aku..... aku malu." Dengan setengah merajuk dan memohon, Vika berusaha membuat Rendy berhenti menertawainya. Nada suaranya juga memelan di akhir kalimatnya.


Sehingga berhasil membuat Rendy tersadar dan berhenti menertawainya.


Perlahan, Rendy menarik napas dan menghembuskannya. Menatap gadisnya sesaat dengan penuh sayang.


"Vika, mana mungkin aku membiarkan kamu menanggung malu karena perbuatan aku. Aku akan menyiapkan pakaian yang pas untuk menutupi kissmark itu. Kamu tenang aja, Sayang. Hm?" Ucapnya dengan nada meyakinkan sambil menggerakkan jemarinya mengelus pipi Vika dengan penuh kelembutan.


"Benar begitu?" Tanya Vika dengan mata penuh selidik dan juga sayu.


Rendy pun mengangguk. Dan Vikapun langsung menyetujuinya dengan pasrah.


"Sekarang, kamu mandi. Aku akan menyiapkan pakaian ganti buat kamu."


Kemudian, memberikan kalimat perintahnya untuk Vika sebelum kemudian menghadiahkan sekali lagi kecupan hangat ke bibir dan kening gadis itu. Dan, langsung menegakkan tubuhnya beranjak dari tempat tidur, membiarkan Vika mandi dan menyiapkan diri dengan nyaman.


●●●


"Diminum susunya,"


Perintah Dimas saat dilihatnya Meila telah menyelesaikan sarapannya. Dan beralih mendorong segelas susu hangat untuk segera Meila habiskan sebelum menjadi dingin.


Meilapun meneguknya perlahan. Dan menandaskannya sampai tak bersisa. Terdengar sebuah kekehan Dimas yang dibarengi dengan suara gelas yang diletakkan di atas meja. Rupanya pria itu sedang menertawakan Meila. Noda bekas susu di kedua sudut bibir gadis itu begitu jelas melengkungkan bentuk bibir gelas layaknya sebuah senyuman.


Dengan cepat tangan Dimas bergerak maju, menyeka noda bekas susu di kedua sisi bibir Meila dengan usapan lembut tak terkira.


"Nah... kalo begini kan, cantik!" Pungkasnya. Tak lupa juga dia mengusap bibir tipis itu dengan usapan paling lembut, lalu sedikit menggodanya dengan mencubitnya gemas.


"Kamu curi kesempatan ya, kak?" Tanya Meila dengan mata menyipit.


Dimas terbahak, "kok curi kesempatan sih?" kemudian memajukan wajahnya agar lebih dekat. "Ada noda bekas susu di bibir kamu. Aku mencoba membantu membersihkannya. Dan kalaupun aku mencuri kesempatan, yang namanya mencuri itu nggak ada kata izin kan, Sayang?" Sergahnya dengan nada menggoda yang kental disertai cubitan gemas ke dagunya.


Ekspresi Meila berubah malu, ada sedikit semburat merah di tulang pipinya yang sedikit menonjol.


Kemudian, keduanya beranjak dari kursi masing-masing dan bergegas.


Dengan Dimas yang langsung mengulurkan tangannya kepada Meila yang langsung disambut hangat oleh gadis itu disertai senyuman penuh sumringah.


Di tempat lain, sudah satu jam Vika berada di toilet untuk mandi. Dan sekarang dirinya telah selesai dan memakai baju mandi milik Rendy yang sangat kebesaran ditubuhnya. Vika keluar dari toilet dan langsung berjalan menuju cermin besar dekat lemari baju. Memperhatikan dirinya di sana dengan tatapan mata yang tidak lepas dari jejak-jejak Rendy yang ditinggalkannya.


Pipinya memerah padam ketika dia teringat kejadian semalam yang sama-sama berusaha membentengi diri dari melakukan tindakan diluar norma. Hanya sebatas mencumbu, memeluk dan membelai saja untuk saling merasakan kehadiran masing-masing. Namun sudah sangat berpengaruh dalam jiwa dan raganya. Jantungnya bergemuruh kencang. Perasaan yang sudah lama tidak Vika rasakan lagi setelah hubungan mereka merenggang, akhirnya muncul kembali.


Mencoba menghempaskan perasaan yang ada, dengan cepat Vika berjalan ke ujung ranjang tempat dimana Rendy meletakkan pakaian ganti untuk dia kenakan hari ini.


Dan matanya pun membelalak seketika, saat dilihatnya satu setel pakaian hangat turtle-neck berwarna abu susu terpampang di sana.


Diambilnya pakaian itu sambil dilambaikan ke udara.


Yang benar aja! Pakaian ini sungguh berbanding terbalik dengan cuaca hari ini!


Vika meletakkan kembali pakaian itu dan langsung berlari ke luar untuk mencari Rendy. Dan, tidak sulit baginya menemukan pria itu karena Rendy sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Rendy, kamu nggak salah kasih aku pakaian itu? Kamu nggak liat, cuaca diluar sangat panas?" Teriak Vika dari depan pintu kamar Rendy yang jarakmya hanya berkisar sepuluh langkah dari ruang utama.


Hanya tersenyum ironi, Rendy menjawab tanpa menoleh pada Vika.


"Pakai aja, Sayang. Itu akan menutupi leher kamu dari jejak-jejak itu.


Lagipula... pakaian apapun yang kamu kenakan, akan selalu pas di tubuh seorang model kayak kamu!" Sergahnya santai tanpa mempedulikan reaksi Vika yang sedang memberengutkan wajahnya kesal.


Merasakan tidak ada jawaban dari mulut Vika, Rendy akhirnya menoleh dan melembutkan pandangannya dan berucap seraya tersenyum menenangkan.


"Vika," suaranya melembut, terdengar helaan napas sesaat dari sana. 


"Aku tau, cuaca diluar sana emang sangat panas. Tapi, akan lebih panas lagi saat aku ngeliat pria-pria hidung belang yang menatap kamu dengan tatapan penuh hasrat dengan kulit berselimut tanda di area leher kamu yang jenjang itu. Membuat aku jengkel dan terdorong untuk meremukkan tulang-tulang mereka sampai nggak bersisa." Ucap Rendy dengan nada lembut namun tidak meninggalkan kesan membunuh dalam suaranya.


Tidak mau melihat sikap Rendy yang lebih menyeramkan lagi, akhirnya Vika menyerah kalah, menerimanya dengan lapang dada. Lagipula, cuaca terik dengan memakai pakaian seperti itu justru bagus, bukan?


Pakaian itu akan melindunginya dari sinar ultraviolet yang akan merusak lapisan kulitnya nanti.


Hanya terdengar helaan napas Vika sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah dan mampu menyejukkan hati.


"Baiklah... aku akan memakainya." Sahutnya singkat penuh penerimaan. Kemudian menghadiahkan senyuman manisnya seraya berkata. "Kamu tau, rasanya aku masih nggak percaya bisa mendengar omelan berbalut perhatian kamu lagi ke aku. Aku nggak peduli mau seberapa sering kamu memarahi aku, Rendy. Aku akan menerimanya dengan senang hati dan menikmatinya." Sambungnya kemudian yang mampu membuat hati Rendy menghangat seketika.


Rendy menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berjalan mendekati Vika yang masih berdiri di depan pintu kamar berbalut jubah mandinya.


"Aku nggak bermaksud memarahi kamu, Vika. Aku hanya....."


"Aku ngerti, Rendy. Nggak perlu kamu jelasin lagi. Aku sangat memahaminya." Sanggah Vika cepat dengan penuh keyakinan.


Sementara Rendy tampak menatapnya lekat penuh kekaguman.


"Sekarang, pakai baju kamu, lalu kita sarapan." Perintahnya dengan penuh perhatian. Dan tiba-tiba satu pikiran jahil muncul begitu saja untuk menggoda Vika. "Atau...... mau aku bantu memakai bajunya?" Sambungnya dengan tatapan nakal menggoda.


Vika membelalak seraya membentengi bagian atas tubuhnya dengan menyilangkan kedua lengannya ke depan dada dengan spontan.


"Nggak, nggak! Aku... aku bisa sendiri!" Tolaknya dengan cepat dan langsung berjalan mundur mengambil langkah seribu, mendorong pintu kamar dan menutupnya dengan kencang. Meninggalkan Rendy yang masih tersenyum nakal nan menggoda karena puas menggodanya.


●●●


Dari kejauhan tampak Sisil sedang berjalan menuruni anak tangga. Berpakaian rapi dan siap berangkat ke kampus untuk memulai kuliahnya. Sedangkan sang ibu, sedang menyiapkan sarapan dengan dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga. Melihat putrinya akan kembali berkuliah, naluri keibuannya muncul alami untuk menyuruhnya sarapan lebih dulu.


"Sisil, sarapan dulu, nak." Ucapnya dengan nada lembut seorang ibu.


Rupanya sikap Sisil masih sangatlah dingin dan cuek. Namun, tidak lebih dingin dari sikap sebelumnya sejak mereka mulai berkomunikasi kembali.


"Aku udah telat. Aku harus kasih surat perizinan kuliah aku kembali ke kepala dekan." Sahutnya datar dengan raut wajah malas.


"Sarapan satu helai roti dan segelas susu hangat nggak akan membuat kamu telat, Sisil. Itu akan membantumu menyerap energi sampai ke otak. Dan kamu akan menyerap materi dengan baik." Jawab sang ibu menerangkan.


"Mama kamu benar, Sisil. Sarapanlah dulu. Papa yang akan antar kamu hari ini. Sekalian papa akan ke kantor untuk memantau beberapa kantor pusat yang papa tinggali selama di jakarta."


Sisil hanya diam sambil melihat waktu pada jam tangan miliknya. Lalu, tanpa menjawab apapun, langsung berjalan mendekati meja makan. Sementara orang tuanya saling bertukar pandang penuh kelegaan karena putrinya tidak lagi membantahnya.


Setelahnya, mereka menyantap sarapan bersama-sama. Dengan Sisil yang ikut menyantap sarapan dengan patuh tanpa bersuara.