
"Loh, Sisil, kamu udah pulang, nak?"
Ibu Sisil sedang berada di ruang santai dan langsung menutup sebuah majalah yang sedang dibacanya saat putrinya memasuki rumah. Ibunya sempat terkejut melihat Sisil yang sudah pulang lebih awal dari jadwal biasanya.
Dengan langkah ringan Sisil berjalan mendekati ibunya, berdiri di depannya sambil meletakkan kotak kue titipan ibunya yang harusnya ia berikan pada Meila ke atas meja.
Melihat kotak kue itu masih terbungkus rapi dan terlihat belum disentuh, tentu saja ibunya bingung.
"Loh, itu kan........" sesaat, ibunya menunduk ke arah kotak kue itu. Lalu mendongak menatap putrinya.
"Ada kejadian nggak terduga di kampus. Jadi aku pulang lebih awal." Sergahnya cepat memotong ucapan ibunya.
Melihat raut wajah bingung yang ditunjukkan ibunya, membuat Sisil menghela napasnya ringan sebelum akhirnya berucap kembali. Meluruskan kalimatnya sebelum ibunya salah menangkap akan ucapannya.
"Aku belum sempat memberikan kue ini padanya. Mmm... bukan! Bukan belum sempat. Tapi hampir aku berikan kalo kejadian rak roboh itu nggak terjadi dan menimpanya."
"Apa?" Ibunya segera bangkit dari duduknya. "Maksud kamu menimpanya apa, nak?"
Ada decakan pelan dari mulut Sisil sebelum akhirnya menyahuti.
"Sebenarnya nggak sampai menimpanya. Tapi, dia keliatan kesakitan banget sampe harus di bawa ke rumah sakit. Dan sekilas aku liat, ada noda darah juga di bagian perutnya." Sisil memberikan penjelasannya.
"Meila...?" Ucap ibunya tidak percaya. Sisil pun menjawab dengan anggukan malas. "Lalu... gimana keadaannya sekarang? Apa dia mengalami luka serius?"
Sisil mendesah pelan. "Aku nggak tau. Cuma... yang aku dengar dia harus melakukan operasi kecil di bagian perutnya itu. Selebihnya... aku belum tau kabarnya lagi."
Sesaat, ibu Sisil tampak ber-empati mendengar pengakuan Sisil. Rasa cemas pun tidak bisa ditutupi dari wajahnya. Sementara pikiran ibunya berkelana, kedua mata Sisil tidak luput mengawasi kecemasan yang ibunya rasakan.
"Sebelumnya, aku pikir rak itu nggak akan jatuh secepat ini. Tapi... ternyata diluar dugaan kejadian juga. Padahal aku udah memperingatinya buat menjauhi rak yang udah mulai keropos itu.
Emang dasar anak itu aja yang ceroboh." Sulut Sisil kesal. "Kalo dia dengerin omongan aku pasti nggak akan...."
"Apa kamu bilang? Kamu... sempat mengingatkannya?" Mendengar pengakuan Sisil, ibunya hampir tidak percaya. Lalu, untuk memastikannya kedua tangannya bergerak memegang tangan Sisil dengan hangat. "Kapan itu, Sisil?"
Sejenak, Sisil sempat terpaku beberapa detik. Namun, sesaat kemudian dia berhasil menarik dirinya.
"Kemarin." Sahut Sisil singkat. "Kemarin.... kemarin saat aku akan balikin buku ke perpustakaan, nggak sengaja ketemu dia di sana, dan dengan cerobohnya dia hampir meletakkan buku di rak yang udah rusak dan keropos itu. Untungnya aku datang tepat waktu dan berhasil mencegahnya. Kalo nggak, mungkin tubuh kecilnya itu udah tertimpa rak besar beserta timbunan buku-bukunya juga." Ujarnya ketus. Namun ada sebersit nada perhatian disana.
Mendengar penjelasan Sisil, sang ibu hanya memperhatikan dengan seksama. Ada seberkas perasaan lega luar biasa yang ditunjukkan dari perkembangan sikap putrinya. Meski Sisil masih belum mau menyebutkan nama Meila dalam setiap penjelasannya, tetapi itu sudah membuktikan jika Sisil sudah mau membuka diri untuk mulai berhubungan baik dengan Meila.
Perlahan, tangan ibunya bergerak naik untuk menangkup pipi Sisil. Diikuti dengan senyuman dan tatapan lembutnya.
"Mama bangga sama kamu, Sisil." Sejenak, Sisil tertegun. "Kamu udah melakukan hal yang benar dengan mengingatkan Meila dengan cara kamu. Kejadian hari ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan kamu. Kita akan menjenguknya setelah papa kamu pulang dari kantor, ya?"
Sisil membatu. Entah kapan terakhir kali dia mendapatkan perkataan lembut dari ibunya seperti saat ini. Dia sudah lupa akan rasanya diperlakukan lembut penuh kasih dari seorang ibu. Dan sekarang, dia merasakannya lagi. Seolah semua kebahagiannya kembali lagi padanya dan beban di hatinya perlahan berkurang bahkan nyaris hilang. Tertutupi oleh rasa bahagia yang membuncah di hatinya.
Sisil kehabisan kata-kata dan menjadi kikuk. Bingung harus menjawab apa untuk membalas perkataan ibunya. Namun tak urung dia mengangguk pelan seraya menipiskan bibirnya penuh kecanggungan. Tetapi yang pasti, dia merasa lega dan bahagia karena telah membuat kesan bangga untuk orang tuanya. Terutama ibunya.
●●●
Tangis Meila pun akhirnya mereda. Hanya menyisakan isakan ringan yang memenuhi ruang perawatan tempatnya dirawat. Dimas masih setia menemaninya dengan duduk di pinggir ranjang, setengah berbaring sambil menggerakkan tangannya mengusap rambutnya.
Kondisinya yang masih lemah, ketika tadi Meila akan bangun dan mengubah ke posisi duduk, Dimas mencegahnya dengan tegas dengan alasan luka jahitan yang belum kering. Meila pun menurut. Sebagai gantinya, tangan mungilnya yang bebas dari selang infus bergerak menggenggam tangan Dimas yang hangat.
Sambil menatap Meila dengan senyuman, dikecupnya dahi gadis itu dengan lembut. Lalu diambilnya segelas air yang ada di atas meja untuk diberikan pada Meila.
"Diminum dulu, ya," ucapnya berbisik.
Dengan sangat hati-hati, Dimas membantu Meila meneguk air minum yang sudah ia letakkan sebuah sedotan yang akan memudahkannya,
"Udah?" Tanya Dimas kemudian saat Meila mendorong bibir gelas itu menjauh.
Meila mengangguk, dan Dimas membantu Meila lagi untuk berbaring kembali.
"Waktu makan malam masih satu jam lagi. Suster akan membawakannya nanti. Sekarang kamu istirahat lagi, ya? Aku akan membangunkan kamu saat makan malamnya udah datang." Sambil menggerakkan tangannya mengelus kepala Meila seirama,
Meila menggeleng lemah, lalu kepalanya mendongak sedikit ke arah Dimas.
"Kenapa? Kamu masih harus istirahat, Mei." Sahutnya lembut penuh perhatian.
"Kak, gimana... gimana kondisi kak Vika?" Ucapnya tiba-tiba penuh dengan kehati-hatian.
Tatapan Dimas melembut disertai senyuman. "Kamu memikirkan itu dari tadi, hm?" Tangan Dimas bergerak merapikan anak rambut Meila yang sedikit terurai, dan memainkannya lembut dengan jarinya.
"Kondisi Vika baik-baik aja. Rendy mengabari aku tadi. Kakinya hanya sedikit terkilir tapi selebihnya nggak ada luka dalam maupun luka luar yang perlu dikhawatirkan."
Mukanya berubah sendu disertai rasa bersalah yang muncul di benaknya.
"Kalo aku bisa menahan rasa sakitnya pasti kak Vika nggak akan tertimpa rak itu sampai kakinya terkilir, kak. Aku bahkan belum meminta maaf padanya." Isaknya akan keluar lagi namun Dimas segera menenangkannya dengan mendekapnya lembut dekat dengan lekukan lehernya yang hangat.
"Ssshh... itu musibah, Sayang. Nggak ada yang bisa memprediksinya. Lagi pula, Vika udah mendapatkan perawatan untuk lukanya tanpa harus dirawat di rumah sakit." Lalu, sedikit menjauhkannya sambil mengusap air matanya lagi. "Besok mereka akan datang menjenguk kamu ke sini. Jadi, jangan nangis lagi, okay? Mata kamu akan bengkak besok pagi kalo kamu nggak berhenti menangis." Sambungnya lagi penuh penghiburan.
Saat Dimas masih berusaha menghibur Meila, sebuah ketukan dari arah pintu membuatnya menoleh sambil perlahan turun dari ranjang sebelum kemudian memberikan kecupan singkat ke dahinya.
Saat Dimas membuka pintu, yang terlihat di sana adalah kedua orang tua Sisil diikuti Sisil yang berdiri di belakangnya. Dengan raut wajah setengah terkejut, Dimas berusaha tenang sambil menyapa mereka.
"Om, tante,"
"Dimas, kami udah mendengar ceritanya dari Sisil tentang Meila. Apa kami... boleh menjenguknya?" Itu adalah suara ibunya Sisil yang memasang wajah tidak sabar ingin segera menerobos pintu masuk yang dihalangi oleh tubuh tegap Dimas.
"Tentu, tante. Silahkan masuk. Meila baru aja siuman." Sambil mempersilahkan mereka masuk, Dimas berusaha bersikap ramah meski di hatinya masih ada sedikit keraguan terhadap Sisil.
Namun, mengingat kembali ucapan Meila kemarin dengan yang dilakukan gadis itu padanya yang secara tidak langsung telah menolong dengan cara mengingatkan Meila, tidak ada salahnya jika untuk saat ini Dimas mengesampingkan sedikit kecuringaannya, bukan? Melihat kondisi Meila yang masih lemah dan sedang berada di rumah sakit, tidak pantas jika terjadi keributan, terlebih itu karena dugaan hal yang belum pasti.
●●●
"Sayang, belum tidur?"
Ketika Rendy memasuki kamar, dilihatnya Vika yang masih membuka matanya sambil merenungkan sesuatu. Gadis itu sedang bersandar di kepala ranjang dengan kaki berselonjor nyaman dengan sebuah bantal sebagai penyangga yang di tinggikan pada bagian kakinya yang terkilir.
"Aku nggak bisa tidur. Rasanya... kaki aku mati rasa karena gibs ini." sahutnya jujur disertai tolehan kepala.
Rendy sangat mengerti apa yang Vika alami. Namun dia tidak memperpanjang itu. Dia malah melontarkan sebuah banyolan konyol sebagai penghiburan.
"Atau jangan-jangan kamu nggak bisa tidur tanpa aku peluk? Iya?" Godanya.
Vika menoleh dengan muka datar. Dia tidak menimpali godaan Rendy, karena mungkin itu juga yang menjadi alasannya saat ini.
Rendy mendekat, merapat pada Vika dan langsung merangkulnya hangat. Mengecupi pelipisnya sembari berucap.
"Jangan memikirkan itu lagi, Sayang. Kamu juga perlu istirahat untuk memulihkan kondisi kamu. Hm?" Sambil memiringkan wajahnya dengan jarak yang sangat dekat.
"Aku cuma mikir, apa Meila malam ini bisa tidur karena luka operasi di perutnya? Membayangkan luka di kaki aku aja rasanya nggak nyaman. Apalagi dia?" Dengan mata beningnya, Vika mendongak manja. Mencari tahu reaksi Rendy akan perkataannya.
Rendy malah tersenyum seraya mencubit hidung Vika dengan gemas.
"Aku tau kekhawatiran kamu itu. Di sana ada Dimas yang akan menjaga dan menemaninya. Dan di sini, biarkan aku yang menjaga dan menemani kamu." Tangannya bergerak naik, menyelipkan anak rambut Vika ke belakang telinga. "Kita akan menjengukmya besok. Okay?"
Reaksi Vika sungguh diluar dugaan, tubuhnya bergerak spontan hingga tanpa sadar telah membuat kakinya terangkat dan bergeser dari bantal penyangga, mengakibatkan rasa ngilu yang menjalar di area pergelangan kakinya. Hingga secara otomatis bibirnya reflek mengeluarkan sebuah desisan.
"Aw! Shh..."
"Pelan-pelan, Vika." Rendy menyahuti dengan nada peringatan.
Tangannya pun bergerak dengan spontan memegang pergelangan kaki Vika dengan penuh kehati-hatian, membenarkan ke posisi nyaman seperti semula.
"Maaf, aku terlalu bersemangat..." Sahutnya manja yang diselipi rasa bersalah. "Aku senang begitu kita akan menjenguk Meila. Rasanya aku pengen meluk dia dan minta maaf."
"Aku tau. Tapi itu nggak akan terjadi kalo kamu nggak hati-hati lagi. Kamu juga harus ingat kondisi memar kamu ini." Jawabnya menakuti.
"Iya, maaf, Rendy. Aku akan lebih hati-hati lagi." Vika berucap penuh janji.
Sementara Rendy, hanya menggelengkan kepalanya disertai senyuman. Merangkulnya perlahan dan merapatkan ke sisinya dengan penuh kehangatan.