A Fan With A Man

A Fan With A Man
Terbiasa



Begitu tiba di rumah, Sisil langsung masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih diri. Mengganti pakaian pesta yang membuatnya sulit bergerak dengan leluasa, dengan pakaian tidur yang nyaman.


Dengan tubuh segar dan ringan, Sisil langsung naik ke atas tempat tidurnya. Menyandarkan dirinya ke kepala ranjang dengan bertutupkan selimut hingga batas pinggang lalu menghela napas panjang setelahnya.


Entah apa yang dia rasakan saat ini. Namun satu yang pasti, rasa sakit dan gatal di pangkal tenggorokannya hilang sejak dia meminum sirup obat batuk yang diberikan James padanya. Bahkan dengan keras kepala, pria itu telah memaksanya untuk membawa obatnya pulang. Dan meminumnya lagi jika rasa sakitnya muncul kembali.


Tetapi saat ini, sepertinya obat itu benar-benar bekerja dengan baik. Setelah diingat-ingat, dia lalu mencari obat itu di dalam tasnya. Mencari dan merogoh dengan serampangan sampai menumpahkan semua isi dari dalam tas tersebut. Dan benar saja, obat itu akhirnya jatuh ke atas kasur bersamaan dengan printilan alat make-up lainnya.


"Ah, ini dia." Sambil menarik ujung bibirnya ke atas. "Manjur juga obatnya. Yaaa.. boleh lah buat jaga-jaga." Kekehnya ringan. Namun  beberapa detik kemudian dia langsung tersadar akan dirinya yang baru saja tersenyum karena obat itu.


Bukan! Bukan karena obatnya. Namun tentang siapa yang memberinya.


Dengan tingkah canggung sendirian, dan juga sekaligus dengan sikap angkuhnya, Sisil melempar sirup obat batuk itu ke atas kasur. Kemudian menggedikkan bahunya dengan sikap kesal.


"Cih! Ngapain tiba-tiba gue mikirin orang itu? Pria sombong yang nggak tau sopan santun." Sungutnya seorang diri.


Terdiam beberapa detik, tanpa dia sadari tangannya tergerak mengambil kembali sirup obat batuk itu dan meletakkannya ke atas meja nakas.


"Haahh! Untung manjur. Coba kalo nggak. Gue udah lempar tuh mukanya yang ngeselin pake botol sirup ini! Dasar tukang obat amatiran." Pungkasnya lagi dengan wajah sinis yang kental.


●●●


Meila membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali sambil mengucek-ngucek matanya yang masih berkabut. Ditolehkan wajahnya ke arah samping yang tampak kosong dan masih rapi. Hanya dirinya saja yang tertutupkan selimut hingga batas dada. Karena seingatnya, selimut itu tidak serapih yang dia lihat sebelumnya.


Dan itu sudah tentu Dimas yang melakukannya.


Meila ingat, saat dia terlelap tadi, dia hanya menutupi sebagian tubuhnya dengan asal-asalan. Tetapi, saat dia lihat selimut tebal itu menutupinya hingga batas dada, sudah pasti Dimaslah yang merapikannya.


Sekali lagi, dikerutkan dahinya dengan ekspresi bingung saat dia lihat waktu yang sudah menunjukkan dini hari yang tampak sunyi.


Dimana pria itu?


Pertanyaan itu muncul di benaknya. Jika memang pria itu sempat tertidur, sudah pasti akan menyisakan kusut yang tertinggal ditempatnya. Tetapi, melihat kondisinya yang masih sangat rapi seperti belum tersentuh, sudah pasti pria itu belum tertidur di tempatnya.


Meila mengibaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan beranjak bangun. Memakai sandal berbulu lembut warna pink susu miliknya, lalu berjalan keluar kamar sambil menguap beberapa kali. Belum sampai sepuluh langkah Meila berjalan, matanya tertarik dengan sebuah ruangan yang ada di samping kiri tak jauh dari kamar Dimas yang dibiarkan setengah terbuka. Lampunya menyala dengan terang membuat Meila penasaran dan terpancing untuk berbelok arah.


Ternyata pria itu, Dimas, ada disana. Sedang duduk tegap di depan layar pipih yang menyala, dengan tampilan layar berbentuk skala bergelombang naik turun yang Meila tidak mengerti sama sekali, yang dia yakini jika Dimas sedang menyelesaikan pekerjaannya.


Apa kak Dimas nggak tidur? Apa dia nggak merasa lelah?


Pikiran itu yang muncul pertama kali di kepalanya. Perlahan namun pasti, Meila menyeret kakinya hingga batas pintu. Dibukanya perlahan, seraya memanggil nama Dimas dengan suara pelan bercampur keraguan.


"Kak Dimas,"


"Mei? Kamu bangun?"


Seketika Dimas langsung menghentikan gerakannya dan beranjak bangun dari kursi. Berjalan beberapa langkah sambil menyuruhnya masuk.


Sambil membawa langkahnya kepada Dimas dengan tubuh memaku, mata Meila yang masih sedikit berkabut tak lepas dari seluruh isi ruangan. Itu adalah ruangan kerja yang cukup luas dan sangat tenang. Di sudut ruangan terdapat rak buku besar dan juga tebal yang Meila ketahui itu semua menyangkut tentang pekerjaan Dimas. Di sisi lain ruangan dekat sofa besar, terdapat beberapa piala penghargaan berwarna emas dan perak yang memenuhi lemari kaca berhiaskan lampu kristal kecil yang menyala di dalamnya. Membuat mata siapapun akan terpancing untuk menatapnya dengan seksama.


Melihat Meila yang masih berdiri terpaku karena baru pertama kali memasukinya, Dimas tersenyum ringan. Mengikuti arah pandangan Meila sambil mengeluarkan kalimat ajakannya sekali lagi.


"Ayo, masuk," titahnya dengan lembut. Dan kali ini Meila menurut. Perlahan tapi pasti, dia menyeret kakinya lagi yang hanya tinggal beberapa langkah saja mendekat pada Dimas.


"Aku belum kasih tau kamu tentang ruangan ini." Pandangan Meila mulai teralihkan. Bergantian menatap Dimas yang saat ini ada di depannya. "Ini adalah ruang kerjaku. Aku sengaja menyisipkan beberapa ruang agar aku bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan di rumah." Meila mengangguk mendengar penjelasan Dimas. Dirinya sedikit merasa tidak enak karena harusnya dia biarkan saja pria itu menyelesaikan pekerjaannya tadi.


Tapi... ini sudah waktu dini hari. Apa kak Dimas terbiasa terjaga sepanjang malam untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan?


Melihat Meila yang hanya mengangguk tipis tanpa berbicara, membuat Dimas mengulas senyum diikuti dengan gerakan tangannya yang bergerak ke pipi Meila, mengelusnya lembut sambil menarik dagunya perlahan, memaksa gadis itu untuk menatapnya.


"Aku udah sering memakan waktu sampai pagi hanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Itu semua dibutuhkan kalau memang ada pekerjaan mendesak. Dan ruangan ini sangat membantu." Ujar Dimas pelan sambil menatap gadisnya lekat-lekat. Lalu, memasang wajah ingin tahu sambil melemparkan pertanyaan. "Anyway... kamu kenapa bangun? Apa kamu butuh sesuatu? Oh, atau kamu baru aja mengalami mimpi buruk lagi?" Tanyanya dengan sangat perhatian.


Meila menggeleng kuat-kuat seraya menjawab dengan ragu. "Aku cuma sedikit kaget karena kakak gak ada di kamar. Karena penasaran makanya aku keluar mencari kak Dimas dan......"


"Sedikit kaget?" Dimas menyela saat Meila belum menyelesaikan kalimatnya. "Kalau begitu... berarti kamu gak bisa tidur nyenyak seperti biasa tanpa ada aku? Tanpa pelukanku?" Lalu Dimas mendorong kepala Meila ke dadanya dan dipeluknya erat dengan memberikan kecupan sayang ke pucuk kepalanya. "Seperti ini? Iya?" Imbuhnya kemudian dengan ekspresi tertahan.


Benar! Mungkin karena dirinya yang sudah terbiasa dengan kehadian Dimas disisinya. Dan bukannya mengelak, Meila malah berdiam kaku. Tidak mengiyakan, namun juga tidak menolak. Kedua tangannya meragu saat mencoba mengangkat dan membalas pelukan Dimas. Tetapi, dia juga seakan merasa nyaman berada dalam dekapan pria itu.


"Apa aku membuat kak Dimas terbebani?"


Seolah ingin memastikan langsung kalimat yang dikatakan Meila, Dimas mendorong gadis itu sedikit tetapi tidak juga melepaskannya. Hanya melonggarkan pegangannya saja di antara pinggang rampingnya.


"Dari mana kamu punya pikiran seperti itu?"


Meila menggeleng. "Aku merasa... semakin lama kayaknya aku semakin merepotkan kak Dimas. Tanpa terasa aku udah lama tinggal di rumah ini. Kakak selalu baik sama aku. Tapi aku malah nggak tau gimana cara membalasnya."


"Siapa yang menyuruh kamu untuk membalasnya? Aku nggak pernah meminta kamu melakukan itu, kan? Cukup kamu tetap jadikan aku sebagai pilar untuk kamu bersandar, menumpahkan keluh kesah, resah, gelisah, dan rasa takut kamu. Jadikan aku tempat berbagi rasa senang maupun sedih kamu. Selama aku mampu, aku akan melakukan apapun untuk kamu. Jadi jangan pernah berfikiran aneh dengan kepala mungilmu itu." Lalu dengan gerakan tak terduga, Dimas mengangkat tangannya dan mengusak rambut kepala Meila dengan sayang. Lalu merapikan lagi rambutnya yang sedikit berantakan karena ulahnya.


Dengan pipi bersemu merah yang samar, Meila berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan Dimas. Namun, sebelum itu terjadi Dimas lebih dulu menarik dagu Meila agar tidak lari dari tatapan matanya.


"Dari pada memikirkan hal yang lain, lebih baik sekarang kamu lanjutin tidur kamu lagi. Hm? Ayo! Aku akan temenin kamu sampai pulas."


Sambil merangkulkan lengannya ke bahu Meila untuk mengantar kembali gadis itu ke kamar, dan sebelum mereka melangkah, rupanya Meila sudah menengadah sambil menarik ujung baju Dimas dengan eskpresi setengah memohon.


"Kalau... disana?" Ucap Meila akhirnya sembari menunjuk ke sebuah sofa.