
Di sebuah klub malam, Sisil tampak mengambil posisi di depan meja bar yang bisa langsung berhadapan dengan barista ahli pembuat minuman. Menunjukkan aksinya dengan menghibur pelanggan dengan cara mempertontonkan atraksi hebat mereka.
Sisil sepertinya baru pertama kali mendatangi bar tersebut. Hal itu terlihat ada banyak para pria hidung belang yang menatapnya dengan tatapan nakal penuh minat. Namun meski begitu, Sisil tidak menghiraukannya. Dia sama sekali tidak risih akan tatapan mereka kepadanya.
Setelah menempatkan posisi duduknya dengan yang paling dekat oleh barista, Sisil langsung memesan minuman 'ocean blue cocktail' dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.
Suara getar dari ponselnya membuat Sisil sedikit terganggu. Dia tau, sedari tadi papa dan mamanya berulang kali menghubunginya dan dia enggan untuk menjawabnya. Sebenarnya, Sisil sangat merasa bersalah karena telah menghiraukan orang tuanya. Tetapi, tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini kecuali menyendiri.
Dan tidak mungkin juga dia memberi tahu orang tuanya tentang Beno, bukan?
Karena sangat mengganggu, akhirnya Sisil dengan sangat terpaksa melihat siapa penelepon yang menghubunginya tanpa henti kali ini. Dan seketika, ujung bibirnya terangkat miris saat melihat nama James dengan sebutan 'Tukang obat' terpampang di layar ponsel.
Sisil mengangkat panggilan itu dan langsung menyapanya dengan sebuah pertanyaan tanpa basa basi.
"Apa anda mau menawarkan obat lagi seperti kemarin malam, tuan? Obat macam apa yang mau kamu tawarkan saat ini?"
Sisil menyapa James dengan ejekan.
"Kamu dimana? Om Adrian mencarimu. Dimana alamat rumah temanmu itu? Aku akan kesana menjemputmu." James langsung pada intinya tanpa basa-basi. Karena dia tau, berbicara berbelit-belit dengan Sisil hanya akan mengulur waktu dengan percuma.
Sisil mendesis. "Kamu mau apa kalau tau aku dimana? Apa kamu mau memarahi aku juga? Menyudutkan aku seperti lelaki brengsek itu?"
Lelaki brengsek? Sebenarnya siapa yang sedang perempuan ini bicarakan?
Saat James terdiam mencerna perkataan Sisil, tiba-tiba suara seorang lelaki di seberang telepon yang tanpa sengaja terdengar sedang menyuguhkan minuman. Dan itu membuat dahinya mengernyit.
Apa perempuan ini benar sedang berada di tempat itu?
"Apa kamu lagi di sebuah klub malam?" Seru James tepat.
Sisil tertawa dengan nada mengejek. "Kamu mengharapkan aku agar menjawabmu?"
Sepertinya Sisil sedang sengaja menguji kesabaran James. Tanpa mnunggu James menjawabnya, Sisil sudah lebih dulu memutuskan panggilan telepon. Sementara James berteriak menyerukan nama perempuan itu dengan kesal.
"Sial!" James memukul setir kemudi dengan kasar.
Tidak ada pilihan lain, James akhirnya mengubungi seseorang untuk menyelidiki keberadaan Sisil melalui nomor ponselnya. Tidak lupa juga James mengultimatum orang suruhannya itu hanya dalam waktu 10 menit saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
●●●
Meila tampak terbangun di tengah malam setelah merasa ingin ke toilet. Dia mengerjapkan kedua matanya sebelum kemudian membuka mata itu dengan sempurna. Dia melirikkan matanya ke arah jam yang baru menunjukkan pukul 00.30 dini hari.
Meila akhirnya mengibaskan selimut yang menutupi tubuhnya dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Dimas yang sedang terlelap di sampingnya. Rupanya Dimas telah kembali dari ruang kerjanya setelah semalam mengatakan akan menginformasikan tentang hasil rapat pada Henry setelah mereka makan malam. Dan dengan sikap lembut, memerintahkan Meila untuk tidur lebih dulu dan tidak menunggunya.
Meila menyeret kakinya ke toilet dan masuk ke dalam. Setelah beberapa menit, dia akhirnya selesai dan beralih untuk mencuci tangannya ke wastafel. Meila lalu memperhatikan wajahnya di cermin dan tanpa sengaja menatap dirinya dan terpaku pada satu titik merah gelap yang tertinggal di pangkal lehernya. Meila lalu mengusap tanda itu dengan dahi yang mengernyit.
Meila lalu mengingat kejadian semalam dengan apa yang Dimas lakukan. Dan sontak, wajahnya langsung merah padam. Dia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa malu.
Ah, apa jangan-jangan tanda ini....
Meila perlahan sadar akan tindakan Dimas semalam. Pria itu sebelumnya memang tidak pernah seperti ini. Bahkan saat mereka berciuman pun, Dimas masih bisa mengontrol dirinya agar tidak lepas kendali apalagi sampai harus menyakiti. Tetapi, melihat tindakannya semalam sepertinya Dimas sedang merasa terprovokasi oleh sesuatu.
Lalu, tiba-tiba Meila mengingat Vika yang pernah memiliki tanda seperti yang ada pada dirinya saat ini. Dan refleks, Meila langsung menutupi mulutnya dengan ekspresi terkejut bercampur malu. Malu dengan dirinya sendiri karena saat itu, dengan polosnya dia percaya pada ucapan Vika tentang dirinya yang sudah digigit serangga hingga meninggalkan tanda yang sama sepertinya.
"Ah, jadi... maksud dari digigit serangga waktu itu... adalah ini?"
Pipi Meila merona kembali mengingat itu semua. Dengan perlakuan Dimas yang sangat gentle, dan dirinya yang tidak menolak perlakuan pria itu padanya. Membuat Meila merasakan perasaan malu yang sejadi-jadinya dan sempat berpikir bagaimana caranya dia bisa menghadapi pria itu nanti.
"Oh, God! Kayaknya aku nggak sanggup buat menatapnya besok," ujarnya lesu dengan ekspresi lemas.
●●●
Suasana klub itu sangat berisik. Terdengar keras hingar bingar suara di seluruh penjuru ruangan dengan lampu kerlap kerlip yang menyala bergantian. James tampak memasuki klub itu tanpa menghiraukan perempuan-perempuan yang sengaja menghampirinya dengan menempelkan tubuhnya dengan penuh minat padanya.
Kedua sudut matanya memutari isi ruangan yang dihiasi dengan pencahayaan minim tanpa luput sedikitpun. James mencari-cari keberadaan Sisil yang langsung dia tuju pada sebuah bar yang cukup ramai dimana hanya ada seorang perempuan yang dikelilingi para lelaki hidung belang yang siap menggodanya.
"Ah, itu dia!" Seru James ketika menemukan keberadaan Sisil.
Sisil tampaknya mulai merasa mabuk. Hal itu dia tunjukkan saat seorang pria dengan terang-terangan memintanya untuk menemaninya minum dan reaksinya tampak tersenyum seolah mengiyakan.
Tiba-tiba, salah satu dari barisan pria di bar itu akan menggerakkan tangannya untuk menyentuh Sisil. Tetapi, James dengan cepat menangkap tangan pria itu sambil berkata dengan kalimat cegahan yang kental.
"Maaf, jauhkan tanganmu dari perempuan ini. Dia datang bersamaku.!"
James langsung memusatkan pandangannya pada Sisil yang hampir mabuk sepenuhnya. Tanpa menghiraukan pandangan pria-pria hidung belang yang menatap dengan tatapan benci sekaligus juga kesal karena telah mengganggu kesenangan mereka.
"Sisil, ayo pergi dari sini. Kamu harus pulang." James berusaha menyadarkan Sisil.
Sisil yqng sedang mabuk hanya menanggapinya acuh sambil terkekeh geli. Dan dengan gaya dan tingkah mabuknya yang khas.
"Aku nggak mau pulang. Aku mau disini." Jari telunjuk Sisil yang lentik itu tanpa sadar bergerak menyentuh dada bidang James dan menunjuk-nunjuknya dengan kalimat ejekan.
"Lagian kamu siapa sampai harus suruh aku pulang? Hah?" sambung Sisil lagi.
James berdecak tidak sabar. Tanpa mempedulikan ocehan Sisil yang mulai ngawur, James menarik lengan Sisil untuk sedikit memaksanya bangun dari kursi. Meski sempat mendapat penolakan, namun tak urung Sisil mulai mengikuti perintah James yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
James lalu mengeluarkan beberapa lembar uang cash dan memberikannya pada salah satu pelayan bar yang ada disana. Lalu membawa Sisil dengan memapahnya keluar dari bar itu dengan mulut yang masih mengoceh tidak jelas.
"Aku nggak mungkin membawanya pulang dengan keadaan mabuk seperti ini." Ucap James sambil merangkul pinggang ramping Sisil yang tampak lunglai. Yang jika rangkulannya dilepaskan saja, sudah pasti perempuan itu akan jatuh tersungkur ke aspal.
"Kamu mau membawa aku kemana? Haaa.. apa jangan-jangan kamu mau mengambil kesempatan, kan? Iya, kan?" Tuduh Sisil tanpa ragu dengan gaya mabuk khasnya.
James menyeringai. "Aku nggak mungkin melakukan itu asal kamu tau. Memanfaatkan seorang wanita saat kondisinya sedang tidak sadar. Aku nggak se brengsek itu, nona." Pungkasnya kemudian.
Sisil terkekeh mendengar jawaban James yang menurutnya sangat tidak cocok dengan keperibadiannya yang kaku.
"Kamu tau, kamu itu nggak cocok dengan kepribadianmu yang kaku itu." Jari telunjuknya menyentuh pipi James dengan gerakan jahilnya. Memainkannya seperti anak kecil yang tanpa sadar membuat James menatapnya dengan lekat hingga terpesona.
Sisil tampak cantik dimatanya. Dan James menyadari itu. Dia lalu tersenyum simpul.
"Aku akan katakan sesuatu sekarang. Karena besok pagi, kamu pasti nggak akan mengingatnya lagi." James berucap seketika.
James menatap Sisil dengan seksama. Dia menatap pada kedua mata Sisil yang tampak sayu dan memerah.
"Kamu itu terlihat cantik kalau tersenyum. Sangat berbanding terbalik dengan sikap kamu yang biasanya selalu ketus dan jutek." Pungkasnya dengan wajah yang sangat dekat. Sangat dekat. Sampai James bisa mencium aroma alkohol yang sangat pekat dari mulut Sisil yang hanya berjarak beberapa senti saja.
Kemudian, karena tidak tahan untuk tidak melakukan tindakan yang tidak diinginkannya, James akhirnya melabuhkan sebuah ciuman ke bibir Sisil yang setengah terbuka. Menciumnya lembut dengan cecapan kecil hingga menimbulkan suara erangan dari mulut Sisil tanpa disadarinya.
Dan ciuman itu terus berlanjut. Melibatkan dua sejoli yang tampak saling memberi dan menerima satu sama lainnya di bawah lampu jalan yang seolah hanya menerangi mereka saja.