
Dengan sabar, Dimas menunggu kalimat Meila sambil mengalihkan tangannya ke bahu Meila yang mungil. Namun, bukannya jawaban yang didengar, melainkan sebuah ringisan yang keluar dari mulut gadis itu. Ringisan seperti menahan rasa sakit. Dimas pun langsung mengernyitkan alisnya.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit, atau luka?" Dengan sedikit terkejut sekaligus bingung, Dimas tampak bertanya dengan rasa cemas yang tidak bisa ditutupi.
Meila menggeleng lemah, dirinya bisa merasakan rasa sakit yang menusuk karena benturan tadi yang begitu kencang. Padahal, tadi rasa sakitnya tidak semenyakitkan sekarang. Tapi kenapa saat
Dimas memegang bahunya tanpa menekan dan dengan sentuhan lembut saja, rasa sakit itu muncul seolah sedang memberi jawaban akan sikapnya pada Dimas.
Melihat wajah Meila yang berubah merah bercampur gugup, membuat Dimas mengambil tindakan untuk melihat bahu Meila dengan sedikit menurunkan kerah kaos panjangnya yang berkerah longgar itu.
"Biar aku lihat bahu kamu," Dimas meminta izin sebelum bertindak dan tampak sikap yang mulai menegas.
Namun, dengan cepat tangan Meila menahan tangan Dimas untuk menghentikannya dengan wajah yang tak kalah gelisah. "J-ja-jangan, kak. Aku nggak apa-apa."
"Mei," dengan sedikit menggeram, Dimas tampak memperingati. Dan hal itu berhasil membuat Meila mendesah kalah dan dengan spontan terdiam pasrah saat Dimas menurunkan sedikit kerah bajunya untuk melihat bahunya.
Dan benar! Dengan mata membelalak sempurna, Dimas terkejut saat melihat tanda merah kebiruan yang nyaris menghitam tepat pada tulang bahu Meila yang menonjol.
"Ini kenapa? Bahu kamu kenapa? Kenapa bisa ada luka lebam di sini?"
Tanya Dimas dengan serentetan pertanyaan dengan raut wajah panik, cemas sekaligus marah di saat yang bersamaan.
"I-itu... aku membentur tembok t-tadi. I-iya." Dengan terbata, Meila menjawab asal sambil berusaha menahan rasa gugupnya.
Tatapan Dimas bukannya melembut tapi malah tampak serius.
Matanya menyipit penuh selidik dan menusuk. Membuat Meila bergidik ngeri sambil menelan ludahnya kasar.
"Mei," Dimas tampak melembutkan suaranya begitu dilihatnya Meila
bergidik takut karena melihat wajah marahnya. "Kamu itu bukan anak kecil yang baru bisa menapakkan kakinya hingga akhirnya hilang keseimbangan, dan jatuh atau membentur tembok karena langkah kamu yang belum tegap. Ini luka benturan keras dan tidak akan mungkin jika hanya sekedar terbentur biasa. Ini seperti terkena dorongan kuat hingga meninggalkan bentuk luka lebam yang membekas."
Meila tampak diam. Menundukkan kepalanya dengan jari-jari tangan yang saling bertautan.
Terdengar helaan napas Dimas sebelum kemudian pria itu mengecup sekilas pucuk kepala Meila seraya bertanya.
"Pasti belum dikasih obat kan, lukanya?" Tanya Dimas seketika, disambut dengan anggukan kepala Meila dengan kepala yang masih tertunduk dalam penuh rasa bersalah.
Dengan sekali gerakan, Dimas langsung menarik tangan Meila untuk mengikutinya, mendudukkannya ke kaki ranjang. Sementara Dimas berjalan menuju lemari nakas. Kemudian, mengambil sesuatu dari sana.
Dimas mengambil sebuah salep pereda memar. Lalu kembali menghampiri Meila dan duduk di sampingnya. "Tahan sedikit, ya," ucapnya pelan, dan Meila masih bisa mendengar ada kelembutan di tiap kata-katanya.
Meila tampak memejamkan mata dengan alis yang berkerut menahan sensasi dingin sekaligus ngilu dari memar di bahunya.
Salep yang diberikan Dimas memang bukan untuk menghilangkan warna lebam, melainkan untuk meredakan rasa ngilu akibat benturan secara perlahan. Sebab, warna lebam karena efek benturan adalah proses alami yang akan menghilang dengan sendirinya.
Dengan telaten dan sabar, Dimas mengoleskan salep itu secara merata di area memar. Terlihat jelas jika Meila sangatlah kesakitan, dan itu menandakan jika benturannya sangatlah kuat karena sebuah dorongan seperti dugaannya.
Tapi, siapa yang dengan sengaja telah mendorongnya?
Pertanyaan itu terlintas begitu saja di benak Dimas. Sampai sesekali diliriknya Meila dengan mata yang masih terpejam dan tangan yang refleks mengepal kuat. Menandakan jika gadis itu sedang menahan rasa nyeri yang begitu menusuk.
●●●
Sementara di tempat lain, ayah Sisil baru saja keluar dari ruang kerjanya. Ruang kerja itu letaknya tidak jauh dari kamar Sisil berada, sehingga pada saat berjalan akan melewatinya. Dan secara tidak sengaja, pintu kamar putrinya sedang terbuka lebar, menampilkan Sisil yang sedang merapikan buku serta berkas-berkas perihal perizinannya untuk kembali berkuliah.
Ayah Sisil menghentikan langkahnya dengan segera dan berbelok memasuki kamar Sisil tanpa aba-aba dan langsung bertanya kala putrinya sedang membelakanginya tanpa menyadari kedatangannya.
"Kamu sudah menyelesaikan perizinan kuliah kamu?"
Menderngar suara dari arah pintu kamarnya, membuat Sisil terhenti sejenak dari aktivitasnya namun bergerak kembali sambil menyahuti.
"Udah. Tadi aku udah menyelesaikannya dan langsung di approve." Sahutnya singkat dan jelas.
"Kapan kamu memulai perkuliahanmu?" Tanya ayah Sisil lagi sambil bersedekap menyenderkan bahunya ke dinding pintu.
"Besok, atau mungkin... lusa." Sisil menyahuti lagi dengan singkat.
Terdengar helaan napas dari ayah Sisil. "Mau kapanpun kamu mulai kuliah, permintaan kami tetap sama, jangan berbuat ulah lagi dan mengulangi perbuatan buruk kamu lagi, Sisil. Jangan berbuat sesuatu yang akan membuat kamu menyesal nantinya. Terutama, buang jauh-jauh sikap benci, iri dan dengki kamu itu,"
Mendengar pengakuan dan permintaan ayahnya, Sisil sempat menghentikan aksinya dan terdiam dua detik. Namun, sesaat kemudian dia tampak acuh dan hanya terdengar gumaman malas dari bibirnya yang nyaris tak terdengar.
Meskipun hanya sekedar gumaman, namun mampu membuat perasaan ayahnya tenang. Dan itu menandakan jika putrinya mendengar apa yang diucapkannya. Tidak berniat untuk meninggalkan putrinya seorang diri di kamar, perlahan ayah Sisil berjalan memasuki kamar putrinya sambil mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan.
Kamar itu tampak rapi. Dengan penataan barang-barang yang tersusun dengan semestinya. Menandakan jika putrinya sudah mulai merubah diri dan hal itu berhasil mencetak sebuah senyuman dari bibir seorang ayah.
"Kalian mengharapkannya, bukan?" Sisil menyahuti tanpa mengalihkan matanya dari aktifitasnya.
Ayah Sisil tampak terdiam, namun mengangguk mengiyakan ucapan Sisil sampai gadis itu menyadari jika jawabannya telah diakui oleh ayahnya.
Terdengar hembusan napas ayah Sisil dari samping tepat dirinya berada. Hembusan napas bangga yang ditujukan untuk putrinya yang mulai mau merubah diri.
"Baiklah kalo gitu, lanjutkan aktifitas kamu. Jangan tidur terlalu malam." Ucapnya mengingatkan.
Lagi, hanya terdengar gumaman dari bibir Sisil. Namun tak urung ayahnya berucap kembali, mengucapkan kata selamat malam untuk putrinya sambil melakukan hal yang berhasil membuat putrinya tertegun dan menghentikan gerakannya sesaat.
"Selamat malam. Ingat, jangan tidur terlalu malam." Ucapnya lagi sambil memperingatkan. Dengan membawa tangan kokohnya untuk membelai rambut kepala putrinya dengan belaian sayang khas seorang ayah. Belaian hangat seorang ayah kepada putrinya yang sangat dirindukannya.
Setelahnya, tanpa berkata lagi, pria baruh baya itu membalikkan tubuhnya meninggalkan Sisil yang masih tertegun akan perlakuannya baru saja. Namun, saat langkahnya akan benar-benar meninggalkan kamar dan hampir melewati pintu kamar Sisil, gadis itu memanggilnya seraya membalas ucapannya.
"P-pa..." panggil Sisil dengan ragu dan suara yang pelan.
"Ya?"
"Se-selamat malam." Sambungnya kemudian dengan perasaan canggung luar biasa.
Ayah Sisil hanya tersenyum seraya mengedipkan kedua matanya perlahan. Mengerti akan sikap canggung putrinya yang selama ini terputus komunikasi darinya. Sedangkan Sisil, dengan perasaan yang campur aduk tidak dapat menyembunyikan helaan napas lega saat melihat tatapan mata teduh dari seorang ayah yang tampak sangat menyayangi putrinya. Dan Sisil sangat menyadari itu.
●●●
"Siapa yang melakukannya?"
Dengan sedikit menggeram, suara tiba-tiba dari Dimas membuat Meila membuka matanya seketika. Gadis itu terlihat kesulitan untuk menelan ludahnya begitu dia akan menyahuti pertanyaan Dimas.
"D-dia.... dia nggak sengaja, kak. Lagian... aku juga nggak memperhatikan jalan aku tadi."
"Dia?" Dimas menyela dengan cepat. "Dia siapa?" Tanyanya kembali dengan mata menyipit penuh selidik.
"I-itu..." Meila tampak menarik napasnya dan menghembuskannya.
"S-sisil," sambungnya kemudian dengan suara gemetar penuh kehati-hatian.
Dimas terkejut dengan mata membelalak, "Sisil? Wanita ular itu?"
Tanpa sadar, suara Dimas meninggi hingga spontan membuat mata Meila mengedip takut.
"T-tapi... tapi Sisil nggak sengaja, kak." Sahut Meila dengan suara gemetar. "T-tadi... aku abis dari toilet. Saat aku keluar dari sana, aku juga nggak ngeliat ada seseorang yang lagi jalan terburu-buru sampai akhirnya dia menabrak aku hingga a...aku terdorong dan... dan kak Dimas udah tau kelanjutannya." Kepalanya kembali menunduk dengan suara memelan di akhir kalimatnya.
Dimas menghembuskan napasnya dengan kasar. "Tapi tetap aja ini udah keterlaluan, Mei. Dia nggak bisa memperlakukan kamu semaunya. Kamu itu manusia, bukan benda mati. Kamu punya perasaan yang patut untuk dihargai."
Pernyataan Dimas berhasil membuat Meila mengangkat wajahnya. Dan dari sana Dimas bisa melihat jelas jika gadis itu sudah sangat berkaca-kaca dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Bukan luka ini yang aku pikirin, kak. Tapi, tatapan mata sinis penuh kebencian dari Sisil yang keliatannya belum hilang dan tampak jelas saat memandang aku. Terkesan seperti benci bahkan jijik untuk sekedar melihat aku. Dan semuanya telah mengingatkan aku lagi pada peristiwa rasa bersalah di malam itu. Apalagi... saat aku membayangkan sebuah janin yang berubah menjadi bayi mungil tidak berdosa yang belum sempat lahir ke dunia." Dengan wajah memerah, Meila menitikan air matanya yang tadi sudah mengumpul di pelupuk matanya. Dia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis di depan Dimas.
Entah sudah berapa kali Dimas menghela napasnya. Pria itu dengan sekuat tenaga menguasai dirinya agar tidak terlalu emosi dan lepas kendali sehingga akan membuat gadis itu semakin takut padanya.
Tatapan Dimas pun akhirnya melembut kala dirinya menatap bola mata Meila dengan lekat yang sudah memerah berurai air mata.
Ditangkupnya kedua pipi Meila yang basah, "Sayang, udah berapa kali aku bilang bahkan memohon sama kamu, itu semua bukan salah kamu. Itu murni kecelakaan. Apa kamu mendengar Sisil mengungkit peristiwa itu? Atau dia mengatakan sesuatu yang berhasil membuat hati kamu sakit? Apa dia berbicara menyindir yang menyatakan kalo kamulah penyebab dia keguguran? Enggak, kan? Itu semua udah berlalu, Mei. Jangan pikirkan itu lagi jika hanya akan membuat hati dan jiwa kamu nggak tenang. Lupakan itu. Hm? Aku percaya kamu bisa."
Dimas berusaha memberikan pengertian dengan kalimat paling lembutnya. Kemudian, mengusap air mata di pipi Meila menggunakan ibu jarinya dengan gerakan yang tak kalah lembut.
"Dan untuk sikap Sisil yang masih terlihat benci sama kamu, itu bukan urusan kamu lagi, Mei. Itu masalah Sisil jika dia sendiri yang menaruh rasa benci itu. Kamu udah berusaha memperbaiki semuanya sekalipun bukan kamu penyebabnya. Yang terpenting sekarang, kamu harus menjaga jarak darinya. Sebab, kamu nggak akan pernah tau rencana licik apa lagi yang akan dia buat. Biarkan
Sisil bersama rasa bencinya sendiri, dan kamu dengan apa adanya kamu. Jangan berpikir kamulah yang selalu menjadi penyebab dirinya menderita. Itu nggak benar, Sayang."
Meila hanya menatap Dimas sambil terisak. Namun tak urung gadis itu perlahan mengerti dengan apa yang Dimas ucapkan. Sambil berusaha meredakan isakannya, Meila akhirnya mengucap sesuatu yang mampu melembutkan hati Dimas karena sempat emosi karenanya.
"M-maaf..." dengan suara tersekat karena terisak, Meila berusaha merangkai kata. "Ma-maaf kalo aku nggak jujur sama kak Dimas. Harusnya aku bilang dari awal. Aku... aku nggak bermaksud untuk......"
"Ssshh..." belum sempat Meila menyelesaikan kalimatnya, Dimas sudah membawanya ke dalam pelukannya. Merengkuhnya dengan hati-hati agar tidak menekan bekas lebam dibahunya. Meredam suara isak tangis Meila ke dadanya. "Aku mengerti maksud kamu. Aku tau itu. Jangan diulangi lagi, ya? Aku juga minta maaf karena udah meninggikan suara aku hingga membuat kamu takut. Aku sayang sama kamu, Mei. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu." Pungkasnya sambil memberikan kecupan-kecupan kecil ke puncak kepala Meila tanpa henti.
Tanpa mengatakan sesuatu dan hanya isakan yang terdengar, Meila langsung mengeratkan pelukannya pada Dimas dengan cepat. Seolah sedang memberikan isyarat jika tanpa bicarapun, Dimas pasti sudah mengetahui jika Meilanya mengerti maksud dari ucapannya. Dan itu semua merupakan wujud dari rasa sayangnya pada Meila karena cemas memikirkan dirinya.
Dimas memejamkan matanya, meresapi keharuman rambut Meila yang memenuhi indra penciumannya, meletakkan dagunya di puncak kepalanya. Merasakan setiap napas kehadiran Meila jika saat ini gadisnya sedang berada dalam dekapannya. Meringkuk manja padanya meski masih terdengar isakan kecil dari sana.
Sudah jelas Dimas sangat mencemaskannya. Mencemaskan gadisnya jika sesuatu terjadi padanya tanpa sepengetahuannya, dan dia tidak ingin jika terlambat mengetahuinya.