A Fan With A Man

A Fan With A Man
Tekad



"Tenang, Vika. Atur napas kamu perlahan. Pikirkan hal yang membuat kamu bahagia. Jangan ingat itu lagi. Okay?"


Diruangannya, James tampak berusaha menenangkan Vika yang masih sedikit terisak. Pria itu pun memberikan segelas air minum pada Vika yang dipegang pada sebelah tangannya. Sedangkan sebelah tangannya lagi mengusap bahu mungil Vika yang gemetar dengan usapan lembut.


Setelah Vika menjelaskan pada James tentang kondisinya akan rasa traumanya yang datang kembali, gadis itu tampak menangis hebat dengan perasaan putus asa. Tadi, saat James baru akan pergi menghadiri meeting di suatu tempat, tiba-tiba ponselnya berdering dengan nama Vika tertera di layarnya. James pun langsung mengangkat panggilan itu. Dirinya sangat terkejut saat mendengar suara Vika yang sedang menangis hebat dan mengatakan jika gadis itu sedang menuju ke kantor untuk menemuinya.


Sudah pasti James akan menunggunya, meluangkan waktunya untuk Vika, dan tanpa berpikir panjang langsung menghubungi sekretarisnya agar membatalkan acara meetingnya bersama klien dengan segara. Lalu, berjalan menuju lobby untuk menunggu Vika di sana. Jika bukan karena gadis itu, mana mungkin seorang CEO mau repot-repot untuk menunggu dan menjemput seorang gadis sampai membatalkan sebuah meeting penting yang sudah di jadwalkan dengan rapi. Sebab, James sudah berjanji dan akan menjaga Vika sebagai adik perempuannya dengan baik.


Perlahan tangisan itupun mereda. Menyisakan isakan pelan yang nampaknya sudah sedikit lebih tenang. Posisi James sangat dekat, pria itu mendudukkan sebelah bokongnya pada lengan sofa sambil merangkul Vika.


"Sudah merasa lebih baik?" Sebelah tangan James meraih dagu Vika dan mengarahkannya. Mengusap sisa air mata di pipinya dengan gerakan lembut. Vika terdiam dengan hidung memerah dan mata yang sama merahnya.


"Apa kita perlu membuat temu janji untuk konsultasi masalah trauma kamu ini?"


Vika menggeleng lemah, masih dengan mendongakkan wajahnya, gadis itu tampak berusaha mengatur isakannya.


"Nggak perlu, James." Dengan suara serak, Vika berusaha


menyahuti. "Mungkin... karena aku juga lagi kangen sama papa."


Tatapan James melembut, "are you sure?" Dan Vikapun langsung mengangguk penuh keyakinan.


"James," masih dengan mata yang sembab, Vika tampak menatap James dengan ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. "Sebenarnya... saat trauma aku datang, ada Rendy di sana. Dan dia tampak sangat kebingungan."


James pun tertegun, namun pembawaannya tetap tenang. "Benarkah? Lalu, apa dia mencurigai sesuatu?"


Vika tampak menghela napasnya pelan lalu tertunduk lemah,


"Sepertinya iya. Aku langsung menghindarinya begitu aku liat taksi. Aku cuma nggak mau terlihat lemah di hadapannya, James. Aku belum sanggup untuk menceritakan dan menjelaskan semuanya."


Matanya kembali berkaca-kaca, seolah menyebut nama Rendy itu bagai bubuk mesiu yang mudah terbakar hanya karena sedikit percikan.


Tatapan James kembali melembut, lalu diusapnya kepala Vika dengan lembut seraya berucap kata. "Ssshh... it's okay, Vika. Kamu nggak harus menjelaskannya sekarang kalo kamu belum siap. Biarkan mengalir begitu saja, ya? Aku yakin, seiring berjalannya waktu, kamu akan siap berbicara dengannya." James berujar menenangkan,


"Kamu ada jadwal pemotretan hari ini?"


"Sepertinya ada,"


"Cancel saja, ya? Atau buat jadwal ulang." Mendengar keputusan James, Vika tampak sedikit mengelak karena merasa tidak enak pada sebuah brand yang telah mengontraknya. Terlebih lagi, pembayaran sebesar 50% yang sudah diterimanya telah menandakan jika dia menyetujui kerja sama.


Sudah tentu James tidak akan membiarkan adiknya menjalani pemotretan dengan kondisinya yang sangat mengkhawatirkan.


"Tapi, James, kalo aku cancel atau membuat jadwal ulang, aku harus membayar ganti rugi dua kali lipat sesuai perjanjian awal."


"Aku tau, Vika. Aku yang akan mengurus itu. Kamu cukup beristirahat saja untuk sementara waktu." Sergah James menghalau bantahan yang akan gadis itu ucapkan.


"Baiklah." Sahutnya lemah. "Thank you, James. Kamu memang pria yang baik. Aku senang mempunyai kakak sepertimu." Vika akhirnya menurut, sambil berusaha tersenyum di wajah sendunya.


James pun tersenyum sambil menangkup sisi wajah Vika. "So am I, Vika. Sudah menjadi tugasku untuk memperhatikanmu sebagai adikku, bukan?"


"Kamu tunggu di sini, aku akan mengurus perihal jadwal kamu sebentar. Jangan kemana-mana, dan istirahatkan diri kamu. Aku akan mengantarmu pulang setelah mengurus semuanya. Okay?"


James memberikan ultimatumnya pada Vika, yang langsung disambut anggukan tanda mengerti dari gadis itu. Kemudian, James langsung menegakkan tubuh seraya menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut Vika sebelum kemudian meninggalkan gadis itu sendiri di dalam ruangannya.


●●●


Di tempat lain, Rendy tampak berkutat pada laptopnya dengan sangat serius. Perhatiannya terfokus pada sebuah artikel yang menjelaskan data terperinci sebuah production house yang sedang dicarinya. Ya! Rendy sedang mencari informasi mengenai agency yang menaungi Vika beserta CEO, sang pemilik perusahaan Andertainment Production Houses and Agency yang tampaknya memiliki hubungan dekat dengan Vika.


James Anderson. Pria berwajah tampan setengah bule itu rupanya sedikit mencuri perhatian Rendy. Bagaimana tidak, James dengan biodata pribadi lengkap beserta sejumlah aset dan perusahaannya yang tertera di mesin pencarian langsung terpampang sempurna.


Rendy akui, James memang pria rupawan yang kharismatik dan mumpuni. Pantas saja jika Vika bernaung di bawah kuasanya sebagai aktris sekaligus model yang sangat diistimewakan.


"James Anderson." Gumam Rendy seketika, sambil tersenyum ironi seraya melanjutkan kalimatnya. "Jadi karena pria ini kamu menghindari aku, Vika?"


Sejenak hening, Rendy tampak mengawasi beberapa model yang bernaung di bawah agency James. Lalu, seketika matanya terpaku melihat sosok perempuan memakai gaun brukat sutra berwarna peach yang menjuntai menyentuh lantai. Dengan riasan natural dan rambut yang tergerai indah sedang berpose. Perempuan itu tampak menyendiri. Bukan karena tidak memiliki teman atau dikucilkan, melainkan seperti sosok ratu model yang diistimewakan di sana.


Sementara para model lainnya tampak berbaris dengan warna gaun berbeda yang serempak.


Seketika senyumnya berkembang, tanpa sadar telah memaku pandangannya pada Vika tanpa bisa berpaling sedikitpun darinya.


"Vika, Vika. Kamu tampak sangat berbeda saat mengenakan gaun ini."


Bohong jika Rendy tidak terpesona melihat Vika berpose cantik dan sangat elegan di sana. Tapi, yang membuat Rendy tidak habis adalah, apa hubungan Vika dengan James? Apa benar jika Vika memiliki hubungan yang sangat dekat seperti praduganya?


"Cepat atau lambat, aku akan buat kamu bicara, Vika. Entah itu masalah kita, atau masalah lainnya."


●●●


Mobil James berhenti tepat di depan rumah Vika yang asri. Seperti


janjinya tadi, pria itu mengantarkan Vika pulang setelah menyelesaikan perihal schedulenya sekaligus mengatur jadwal ulang sampai satu minggu ke depan.


"Thank you, James. Mungkin usulanmu agar aku beristirahat sementara dari jadwal pemotretan adalah hal yang baik."


Sambil membuka sabuk pengamannya, Vika berucap sambil melihat James beralih menarik rem tangan.


James pun tersenyum, "gunakan waktu istirahatmu dengan baik, Vika. Cukup kuliah dan pulang tepat waktu. Kabari aku jika butuh sesuatu. Okay?"


"Okay,"


Setelahnya mereka sama-sama terdiam, namun berbeda dengan James yang tampak memperhatikan Vika dengan seksama sambil memasang wajah ragu sebelum akhirnya berbicara.


"Mmm, Vika, apa aku perlu untuk bicara pada Rendy tentang semuanya?"


Suaranya terdengar penuh kehati-hatian saat berucap, menandakan jika pria itu sangatlah berhati-hati untuk menjaga perasaan Vika.


"Nggak perlu, James. Aku nggak mau melibatkan kamu dalam hubungan aku dengannya. Biar aku aja yang menjelaskan semuanya. Kamu udah sangat baik sama aku. Aku yakin bisa menyelesaikan masalahku. Aku cuma butuh waktu untuk mengumpulkan keberanian aku dan menghilangkan sikap pengecut ini."


Vika berucap dengan nada getir serta tatapan nanar. Dia berusaha menampilkan senyumnya meski James tau jika pikiran dan hatinya sangatlah bertolak belakang.


"Okay, jika itu yang kamu mau. Tapi, aku janji jika pada akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dan membicarakan semuanya pada Rendy. Karena aku juga nggak bisa membiarkan kesalahpahaman ini semakin berlarut-larut sementara perasaan kamu sama dia masih tetap sama dan tidak pernah berubah." James berhenti sejenak sambil menilai perubahan di wajah Vika. Kemudian tangannya beralih untuk menangkup kedua telapak tangan Vika sambil meremasnya lembut. "Jangan halangi aku, Vika. Biarkan aku membantu kamu dengan caraku. Biarkan kakakmu ini mengembalikan kebahagian adiknya yang hilang."


Sebuah tekad yang penuh janji terucap dari bibir James. Vikapun terdiam, menatap James lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca dan pandangan tidak terbaca. Vika tidak menjawab. Gadis itu tidak menerima maupun menolak. Tapi, satu hal yang James dapat tangkap dari sikap diam gadis itu, bahwa dia tidak akan mencegah James untuk membantunya.


Tatapan James melembut, seiring dengan tangannya yang beralih mengelus rambut Vika dengan lembut seraya berucap memerintah dengan nada perhatiannya yang kental.


"Lebih baik, sekarang kamu masuk dan istirahat. Jangan pikirkan apapun lagi yang akan memberati pikiranmu, Vika. Hubungi aku jika butuh sesuatu. Hm?"


Vika mengangguk patuh seraya menipiskan bibirnya.


"Baiklah. Thank you, James. Kamu hati-hati, ya?" Sahut Vika lembut dengan suara pelan.


Kemudian, Vika keluar dari mobil itu setelah James mengangguk padanya. Sedangkan James, masih belum menjalankan mobilnya dari sana. Membiarkan dirinya memastikan sendiri jika gadis itu benar-benar masuk ke dalam rumahnya dengan aman.


●●●


Meila baru saja keluar dari toilet dan sedang merapikan diri di depan sebuah kaca wastafel. Dirinya memang belum beranjak pulang dari kampus. Dikarenakan masih ada sedikit tugas yang belum terselesaikan berhubungan dengan ketidakhadirannya selama satu bulan kemarin. Dimas sendiri masih ada kelas terakhir dan dia tadi sudah menawarkan Meila untuk pulang lebih dulu ke rumah. Tetapi gadis itu lebih memilih berada di ruangan senat dengan alasan mengejar tugasnya yang belum terselesaikan sambil menunggunya selesai jam perkuliahan berakhir.


Meila tidak sendiri, masih ada beberapa anggota senat lainnya juga yang masih berada di ruangannya dengan tugas masing-masing. Saat Meila berpikir jika 10 menit lagi jam perkuliahan Dimas akan selesai, dia memutuskan untuk ke toilet lebih dulu untuk merapikan diri dan mencuci wajahnya yang terasa sedikit mengantuk.


Ketika Meila keluar dari toilet, seseorang melintas dengan kasar tanpa memperhatikan jalan. Membuat Meila terdorong kuat hingga membentur tembok dan nyaris jatuh jika dia tidak menahan langkahnya dengan kuat.


Meila sedikit meringis, memegangi bahunya yang terasa nyeri akibat terbentur tembok.


"Gimana sih? Liat-liat dong kalo jalan. Berantakan kan penampilan gue,"


Suara familiar yang sangat dikenalinya itu seketika membuatnya tertegun. Tubuhnya menegang saat tiba-tiba wajahnya terangkat untuk melihat apa yang ditangkap oleh telinganya.


Matanya membelalak sempurna. Dengan napas yang tersekat Meila berusaha mengucap sebuah nama.


"S-sisil....?"


Meila tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Perempuan yang seketika telah membangkitkan rasa trauma sekaligus bersalahnya mendadak muncul di depannya. Tanpa bisa dihentikan, pandangan Meila langsung tertuju begitu saja ke arah perut Sisil yang seketika langsung mengingatkannya pada kejadian mengerikan di malam itu. Tubuhnya gemetar, namun dia berusaha tenang menghalau serangan panik yang akan muncul dan tak terkendalikan nantinya.


"Sial banget gue ketemu sama lo!" Ucapnya sinis dengan sikap jijik yang kental disertai bola mata yang berputar malas. "Nggak ada pemandangan lain apa selain nggak ketemu cewek pembawa sial kayak lo?"


"Maaf, Sisil aku nggak sengaja," Meila menyahuti dengan penuh maaf.


Padahal, sudah jelas-jelas Sisil-lah yang menabraknya dan membuatnya terdorong paksa hingga membentur tembok. Namun, karena sikap polos Meila, gadis itulah yang dengan sukarela lebih dulu meminta maaf padanya.


"Ah! Udahlah." Sembari mengibaskan tangannya, Sisil menggerutu dengan kesal. "Gue nggak punya waktu buat berurusan sama lo! Mendingan gue ngurus surat perizinan masuk kuliah lagi yang sempat tertunda."


Setelahnya, Sisil langsung pergi meninggalkan Meila dengan sikap angkuh dan sorot mata benci yang masih belum hilang dari tatapannya. Meila menghembuskan napas berkali-kali sambil memegang dadanya, dan mengatur napasnya yang tadi sempat tertahan.


"Bahkan Sisil masih terlihat benci sama aku." Gumamnya lirih. "Tenang, Mei, tenang. Kendalikan diri kamu." Ucapnya kemudian disertai helaan napas ringan.