
Beberapa menit sebelumnya...
James memasuki klub malam sambil mencari-cari keberadaan Sisil. Saat pandangannya bergerak ke seluruh penjuru ruangan, dia melihat adanya keributan di meja bar yang disertai bunyi pecahan kaca.
"Perempuan kurang ajar!"
Suara bentakan dari seorang laki-laki membuat James menduga-duga penuh antisipasi. Perasaan tidak enak pun muncul seiring dengan banyaknya orang-orang yang mulai berkerumun.
Jangan-jangan...
James langsung berlari menghampiri titik kerumunan. Mencari keberadaan Sisil yang dia yakini ada disana. Kedua mata James membelalak saat kedua matanya mendapati sosok Sisil yang tampak ketakutan sedang melempar sebuah botol minuman ke lantai.
Kemudian, matanya beralih pada seorang laki-laki yang sedang bercucuran darah di daerah pelipisnya. Laki-laki itu tampak bangkit berlari menghampiri Sisil dan akan memukulnya. Dan seketika James ikut berlari untuk menghalaunya.
"Jangan ayunkan tangan kotormu pada perempuan!" Sergah James begitu tangannya berhasil menahan tangan lelaki itu dan mencegahnya untuk memukul. "Dia datang bersamaku." Lalu mendorong tangan lelaki itu dengan kasar.
James merasakan cengkeraman kuat di bagian ujung jasnya. Wajahnya seketika menoleh pada Sisil yang saat itu sedang menunduk ketakutan dengan ekspresi gelisah.
Sisil merasa ketakutan?
"Dia telah kurang ajar memukulku."
Pandangan James seketika teralihkan. Alisnya menaik saat dia melihat pelipis dari lelaki itu yang sobek karena luka goresan botol kaca tadi. Lalu, James menatap lelaki itu dengan ekspresi mencela.
"Itu mungkin kesalahanmu karena telah mengganggunya. Dia jelas-jelas tidak mau kau ganggu. Tapi, kamu tetap memaksanya untuk menemanimu? Bukankah kamu yang bersikap kurang ajar disini?"
Kedua mata lelaki itu membelalak. Tidak terima saat dirinya dihina oleh James hingga membuat amarahnya tersulut dan mengangkat tangannya untuk meninju wajah James.
Namun, saat pukulannya hampir mendarat, seorang manager bar datang melerai mereka. Berdiri di tengah-tengah antara James dan lelaki itu.
"Tolong jangan buat keributan disini. Mari selesaikan secara baik-baik." Manager itu mengucap dengan penuh memohon. Tetapi, lelaki arogan nan pemarah itu tetap tidak mau kalah, dia langsung membulatkan kepalan tangannya kuat-kuat dan berniat akan benar-benar meninju James.
Melihat James akan mendapatkan pukulan, membuat Sisil memekik seketika. Dan saat itulah James berhasil menghindar dan justru malah dia yang meninju wajah lelaki itu hingga tersungkur. Membuat para pengunjung semakin gaduh oleh pertikaian mereka.
"Stop! Hentikan!" Manager itu tampak kewalahan melerai James dan lelaki itupun juga tampaknya tak mau kalah. Dia terus saja berusaha menendang James namun selalu gagal karena lagi-lagi James lebih dulu memberinya pukulan demi pukulan.
"Kamu, tolong hubungi pihak kepolisian." Manager itu memerintahkan salah satu pegawainya untuk menghubungi polisi yang dengan cepat langsung dilaksanakannya.
Keributan itu terus berlanjut. Tendangan, pukulan, serta cekikan dari mereka tampaknya belum juga terlerai. Para pengunjung yang berada dan menyaksikan pun tidak ada yang berani melerai mereka. Hanya terdengar surakan serta teriakan seperti sedang mendukung jagoannya masing-masing.
"James, hentikan." Dengan suara bergetar, kali ini Sisil berusaha menyadarkan James. Namun, hasilnya tetap sama. James tidak juga mendengarkannya.
Dan selang beberapa menit, polisi pun datang dengan membunyikan sebuah tembakan ke udara yang otomatis langsung membuat pertikaian itu terhenti.
Sisil terperangah melihat kedatangan beberapa polisi. Salah satu dari mereka datang menghampiri dan memberikan perintah yang tidak bisa dibantah.
"Ikut kami ke kantor polisi! Kalian bisa memberikan keterangan disana."
Habis sudah! Hancur semuanya. Bagaimana Sisil akan mengatakan pada orang tuanya nanti? Mungkinkah Adrian akan mengertahui masalah yang dialaminya sekarang juga?
James tampak tenang dan santai. Berbanding terbalik dengan lelaki arogan itu yang tampak pucat ketakutan.
"....J-James...." Sisil berusaha memanggil James dengan suara pelan. Dan untung saja James langsung menyadarinya.
James langsung menghampiri Sisil dan menanyakan keadaannya dengan ekspresi cemas.
"Are you okay? Apa ada yang terluka?"
Sisil menggeleng cepat-cepat. Namun, raut ketakutan dan kecemasan masih terlihat di wajahnya.
"Semuanya, segera tinggalkan tempat ini. Jangan ada lagi keributan. Cepat!" Polisi itu pun menginstruksikan kepada seluruh pengunjung untuk segera meninggalkan klub malam.
"Dan kalian, ikut kami sekarang." Sambil menunjuk ke arah James dan lelaki arogan itu untuk segera mengikutinya ke kantor polisi.
"Ayo, kita selesaikan masalah ini." Dengan lembut, James menarik tangan Sisil dan langsung menggandengnya erat.
Sesekali juga James merangkul bahu Sisil agar tidak bertabrakan dengan pengunjung lain terutama para lelaki. Hingga James akhirnya memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri dengan diikuti oleh pihak kepolisian yang mengikutinya dari belakang.
●●●
Suara ketukan pintu membuat Dimas tersadar dari lamunannya. Dia langsung terkesiap saat suara Meila terdengar di luar ruangan sedang meminta izin untuk memasuki ruangan kerja miliknya.
"Kak Dimas, boleh aku masuk?"
"Ya, masuk aja," Dimas menyahuti.
Meila membuka pintu perlahan dan matanya langsung mencari-cari sesuatu. Tangannya telah membawa sepiring kue yang tadinya ingin dia berikan pada Henry agar mencicipinya. Namun, begitu dia masuk, Meila tidak mendapatkan keberadaan laki-laki itu disana.
"Kakak, Henry udah pulang?"
Dimas tersenyum sambil membuka satu lengannya yang mengisyaratkan agar Meila mendekat padanya.
"Dia baru aja pulang. Dia kesini cuma untuk suatu pekerjaan."
Mendengar jawaban Dimas, Meila memberengutkan bibirnya sambil memasang ekspresi lesu yang dibuat-buat ketika berdiri tepat di samping Dimas yang langsung merangkul pinggangnya dengan posesif.
"Yah, padahal aku udah bawain ini buat dia."
Dimas tersenyum simpul. "Tadi kan Henry udah bilang kalau dia nggak mau kue itu. Kenapa kamu masih membawanya?" Tanya Dimas ingin tau.
"Ih, kakak! Menjamu tamu itu wajib, loh! Mau dimakan atau nggak, yang penting kita udah menyuguhkan dan menjamunya dengan baik. Ah,! gimana kalo kakak aja yang coba mencicipinya?" Ekspresi wajah lesu yang tadi dia tunjukkan seketika berubah berbinar penuh harap. "....ya?"
Dimas tidak menjawab namun dia hanya menatap Meila lekat-lekat. Menyusuri seluruh wajah gadis itu dengan ekspresi tidak terbaca. Lalu, seberkas ingatan akan Dion mulai menggayuti pikirannya kembali. Membuatnya terdiam ke dalam lamunannya lagi dalam kesunyian.
"Kak, ayo, satu suap aja. Ya?" Meila masih belum menyerah, suara lembutnya yang menunggu jawaban dan memohon itu membuatnya tidak tega untuk ditolak.
Perlahan, Dimas menarik Meila yang otomatis membuat Meila jatuh terduduk ke atas pangkuannya. Seketika itupun Meila terkejut namun tak urung dia tetap menyodorkan sendok berisi kue yang telah dipotongnya ke depan mulut Dimas.
Dimas lantas memberikan senyuman lembut dan juga tatapan sayangnya untuk Meila.
"Ayo, aku juga mau mencicipinya."
Dengan ekspresi senang, Meila langsung menyuapi kue itu ke dalam mulut Dimas.
"Gimana? Enak?" Tanya Meila dengan mata berbinar kesenangan.
Dimas hanya mengangguk sambil mengunyah kue yang ada di dalam mulutnya hingga kue itu pun berhasil melewati tenggorokannya.
"Lagi," Meila lalu mengambil lagi satu sendok kue yang akan disuapkan lagi ke dalam mulut Dimas. Namun, Dimas malah mengambil sendok itu dan menyuapkannya untuk Meila yang secara otomatis langsung membuka mulutnya.
Dimas terkekeh. Lalu mengusap sisi wajah Meila dengan lembut sambil berujar mengingatkan.
"Jangan lupa sikat gigi, ya, setelah ini."
Meila mengangguk sambil melebarkan senyumannya. Dan setelahnya, Dimas terus menyuapi Meila sampai tidak terasa kue itu sudah hampir habis dan tandas.