
"Good morning, baby."
Sapaan lembut dari Dimas seketika mengetuk gendang telinga Meila yang masih belum mau beranjak dari balutan selimut yang menutupi tubuhnya. Dimas bangun 30 menit lebih awal dari Meila dan langsung bergegas mandi. Setelah mandi, dilihatnya Meila yang masih belum merubah posisinya. Meringkuk dibalik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya yang mungil.
Tanpa membangunkannya, Dimas segera memakai pakaian kantor yang akan dia pakai untuk meeting pagi ini. Kemeja putih bersih serta setelan celana jas berwarna hitam gelap bercorak samar yang masih menggantung di walk in closet.
Sambil menggeliat manja, tubuh Meila berbalik menghadap Dimas yang baru akan duduk di pinggir ranjang.
"Good morning, kak." Meila menjawab sapaan Dimas dengan suara serak yang dibubuhi ulasan senyum tipis. "Jam berapa sekarang?"
"Baru jam setengah tujuh." Dimas menjawab lembut sambil menyentuh kepala Meila dengan sayang. "Masih ada kurang lebih satu jam lagi untuk kamu bersiap-siap. Mau sarapan apa pagi ini?" Tanya Dimas kemudian dengan penuh perhatian.
"Apa aja. Apapun yang kakak buat, aku suka." Meila menjawab jujur sambil mengucek kedua matanya yang masih lengket.
Dimas terkekeh mendengar pengakuan polos kekasihnya itu. Kemudian dia menghadiahkan kecupan ke pipi Meila dengan penuh perasaan.
"Itu adalah hadiah karena udah memberikan pujian." Dimas berujar dengan wajah yang sangat dekat. Membungkuk pada Meila yang menengadahkan wajah padanya.
Meila otomatis tersenyum dibawah tatapan Dimas. Menatap Dimas sambil berbaring seperti itu cukup mendebarkan baginya. Pasalnya, pemandangan yang tidak biasa ditangkap oleh matanya, yaitu melihat Dimas yang sudah mengenakan kemeja kerja tanpa dasi dengan kerah yang belum terkancing sempurna.
Sudah tentu situasi itu membuat Meila salah tingkah. Akhirnya untuk mengalihkannya, Meila pun mulai akan beranjak bangun dari tempat tidur dan berniat untuk bergegas mandi.
"Aku.... mau pergi mandi dulu," ucapnya dengan suara pelan.
"Kenapa buru-buru? Ini masih setengah tujuh pagi." Dimas sengaja menggodanya.
"Mulai hari ini sampai empat hari kedepan aku ada kuis. Kakak lupa?"
Dimas terkekeh sambil membantu Meila bangun dari tempat tidur dengan menarik tangannya dengan pelan.
"Tentu aku ingat. Mana mungkin aku melupakan sedikit aja jadwal kamu?" Tangan Dimas lalu bergerak tidak bisa diam ke atas kepala Meila. Mengusapnya sesaat sampai kemudian berhenti di wajahnya dan menangkup pipinya. Memberikan tatapan dalam dengan ekspresi tidak terbaca.
"Apa kamu tau? Kamu itu perempuan pertama yang aku lihat sebelum dan saat bangun tidur." Ujar Dimas seketika yang langsung membuat Meila terperangah. "Seterusnya, akan tetap seperti itu." Imbuhnya lagi sambil memainkan rambut Meila yang lurus bergelombang di ujungnya.
Seterusnya? Apa maksudnya itu adalah........
Menyimpulkan pikirannya sendiri membuat pipinya memanas dan bukannya mereda, debaran jantungnya malah semakin kencang. Meila takut Dimas akan mendengarnya. Karena kalau Dimas sampai mendengar, pria ini pasti akan dengan sengaja menggodanya lagi.
"Kamu bohong, kan?" Meila berujar dengan ekspresi mencemooh yang dibuat-buat. "Kalau aku perempuan pertama, aku merasa nggak sopan sama mama kamu."
Dimas langsung terkikik geli dengan kalimat yang Meila lontarkan. Dimas bahkan sampai menggelengkan kepalanya karena merasa gemas dan tidak habis pikir pada celotehan lucu khas anak kecil dari kekasihnya itu.
"Itu dua hal yang berbeda, sayang." Dimas berujar lembut.
Meila mau tak mau ikut tertawa melihat Dimas yang tertawa. Dan ditengah-tengah perbincangan dan tawa singkat mereka, Meila teringat sesuatu yang sebenarnya akan dia tanyakan pada Dimas semalam. Tetapi, karena membahas tentang hal lain dan juga dirinya yang mulai mengantuk, akhirnya dia lupa untuk mengatakannya.
"Oh, iya, kak. Apa kamu tau? Sepertinya diantara kak James dan Sisil, mereka ada sesuatu, loh!?" ujar Meila penuh semangat.
"Kamu menyadarinya?"
Dimas mengangguk pelan namun belum sepenuhnya yakin akan jawabannya.
"Aku cuma menduganya. Tapi James juga nggak membantah sama sekali. Jadi mungkin, bisa dipastikan seperti itu. Kamu sendiri kenapa bisa tau sampai ngomong kayak gitu?"
"Hmmm... itu,..." Meila berubah gugup dan salah tingkah ketika akan menjelaskan pada Dimas. Dia bingung bagaimana cara mengatakannya dengan dirinya yang tanpa sengaja melihat tanda itu. Persis seperti yang dialaminya. Tetapi, bagaimana cara mengatakannya?
Kedua mata Dimas menyipit disertai alisnya yang menaik sebelah.
"Kenapa nggak dilanjutkan? Kamu mau bicara apa, hm?" Dimas bertanya dengan tangan yang masih memainkan ujung rambut Meila. Membelit-belitkan ke jarinya dengan gerakan memutar yang lembut hingga menghasilkan bentuk curly di ujung rambutnya.
"Itu... aku... aku melihat tan-tanda itu di lehernya." Meila berujar polos dan malu-malu. Wajahnya memanas kembali saat berucap.
Dimas langsung tercengang mendengar pengakuan Meila padanya. Pasalnya, tanda yang dimaksud adalah tanda yang pernah dia berikan pada Meila beberapa waktu lalu. Dan mendengar pengakuan yang keluar dari mulut kekasihnya, Dimas merasa ingin tertawa dan menggodanya lagi.
Bisakah gadis polos ini Dimas bawa ke kantor untuk menemaninya?
Memang, salah Meila sendiri yang telah membuka pembicaraan ini. Meila sedikit menyesal karena sudah mengatakan hal itu. Dan sekarang sudah kepalang tanggung, mau tidak mau dia harus menghadapi rasa malunya di depan Dimas.
"Jangan tertawa, kak!" Meila akhirnya berucap dengan nada merajuk.
"Eh, aku nggak tertawa, loh!?" Dimas berkilah dengan membela. "Aku cuma lagi berpikir aja, kenapa aku bisa sesayang ini sama kamu?"
Diberikan kalimat berupa gombalan seperti yang Dimas lontarkan, sudah pasti membuat Meila terpana. Wajahnya bersemu merah disusul dengan rasa panas ke tulang pipinya. Meila merasa wajahnya seperti terbakar sekarang. Belum lagi dengan penampilan Dimas yang begitu seksi dan keren mengenakan kemeja putih dengan kerah yang belum terkancing. Memperlihatkan tulang selangka pada lehernya yang tegas dan juga seksi terlihat dengan jelas.
"Lucu banget sih pacar kecil aku ini." Dimas berujar kemudian sambil mengusap pipi Meila yang memerah karena godaannya itu. "Menggemaskan!" Imbuhnya disusul dengan cubitan gemas ke pipi Meila yang menggembung seperti ikan buntal karena wajahnya yang memberenggut manja pada Dimas.
●●●
"Baiklah, om, tante, kami pergi dulu."
James berpamitan pada Adrian dan Riana yang akan mengantarkan Sisil ke kampusnya. Dengan berpakaian jas kantor yang rapi, seperti biasa James mendatangi rumah Sisil untuk mengantarnya kuliah. Bahkan dia turut menyantap sarapan yang telah disiapkan Riana dan dengan dipaksa Adrian tentunya.
Dan setelah mereka menyelesaikan sarapan, James dan Sisil bergegas lebih dulu pamit karena waktu tempuh mereka yang mungkin akan cukup lama di perjalanan. Menyangkut hari ini adalah hari senin yang otomatis akan mengalami kemacetan dimana-mana.
"Oh, ya, James. Kalian hati-hati, ya." Adrian menyahuti dengan sikap ramah.
"Tentu, om."
"Pa, aku pergi dulu, ya." Sisil bergantian berpamitan pada Adrian.
Adrian memberikan senyuman hangatnya pada Sisil sembari mengecup pipi kanan dan juga kirinya. Disusul dengan Riana yang juga memeluk Sisil sambil mengecup pipi kanan dan juga kirinya secara bergantian.
"Hati-hati, ya, nak." ucap Riana pada Sisil. "Nak, James terima kasih ya sudah mau mengantar Sisil."
"Sama-sama, tante."
James dan Sisil berjalan menuju halaman tempat dimana mobil James terparkir. Bersiap untuk mengantar Sisil kuliah dengan diantar oleh Adrian dan Riana hingga depan gerbang sambil melambaikan tangan mereka.