
Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Diumumkannya penerus baru perusahaan PT Artha Group, membuat saham perusahaan naik dan banyak diburu investor.
"Keturunan masih menjadi pondasi bisnis. Lahirnya Bara Reece Artha, membuat kami yakin jika perusahaan ini baik-baik saja hingga keturunan berikutnya," jelas salah satu pebisnis.
"Tuan Dinata, apa anda tak kepikiran menambah keturunan?" tanya salah satu wartawan pada Abraham.
"Cucu saya ada sepuluh dan semuanya seorang Dinata. Jadi saya tak terlalu pusing," jawab pria itu.
"Seperti perkataan Tuan beberapa tahun lalu, jika anda tidak akan memaksakan keturunan anda menekuni bisnis," sahut wartawan.
"Benar, saya tidak akan menuntut seluruh cucu saya untuk berbisnis. Tetapi ketahuilah, pertunjukan mereka kemarin termasuk bisnis bukan?" wartawan mengangguk setuju.
"Tuan, sudah tiga keturunan Dougher Young datang ke kediaman anda. Apa ada proyek baru yang akan dilakukan?" tanya wartawan mengalihkan pembicaraan.
"Ada, Tuan Dougher Young ingin mendirikan anak perusahaan baja di sini," jawab Jovan.
"Tuan, apa akan ada pernikahan bisnis antara anda dan keluarga Dougher Young?"
"Kita lihat nanti. Semua cucu saya masih minum dalam botol. Masih jauh membicarakan pernikahan sekarang!" jawab Abraham.
Waktu berlalu. Kini Seven A akan bersekolah di Taman Kanak-kanak, mereka begitu lucu ketika mengenakan seragam.
"Aduh ... cucu Moma udah cakep-cakep," puji Maira.
"Matasih Moma!'
"Moma ... Aidan judha mawu setolah!'
"Uh ... cucu Moma emang pinter-pinter!"
Manya tak lagi bekerja sebagai dokter di rumah sakit. Leni, Neni dan Retta telah menikah dan kini bersama suami mereka. Tinggal Saskia yang sebentar lagi akan dinikahi oleh Praja.
"Ayo Sus!" titah Manya.
Enam suster bergerak. Mereka naik mobil sendiri bersama supir. Sedang Manya menyetir bersama ibu mertuanya.
"Sayang, apa nanti Reece akan menyusul ke sekolah?" tanya sang mertua.
"Iya Mami," jangan Manya. "Mommy dan Reece ingin menyaksikan seven A pertama kali sekolah," jawab Manya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sampai di sekolah. Manya menyekolahkan seluruh anak-anak di sekolah biasa, bukan sekolah elite.
"Kok sekolah di sini sih?" tanya Maira tak suka.
"Ini paling deket sama rumah, lagian semua sekolah sama aja kan?" sahut Manya.
"Mama ... kita nggak mau pisah kelas ya," pinta Agil memohon.
"Iya Baby. Kalian akan satu kelas kok. Tapi duduknya misah ya," ujar Manya.
"Loh, emang nggak bisa satu meja tujuh olang?" tanya Abi.
"Nggak sayang ... satu meja satu kursi," jawab Manya.
Tak lama Amertha datang bersama Ramaputra juga putra mereka. Sama halnya dengan Maira. Sepasang suami istri itu kurang suka dengan sekolah pilihan putri kandungnya itu.
"Sayang, apa tidak masalah mereka sekolah di sini?" tanya Amertha dengan mata yang seperti menjelajahi setiap sudut bangunan.
"Dulu sekolahku jauh lebih jelek dari ini Mommy," jawab Manya santai.
"Aku nggak mau sekolahin anak di kalangan elite. Aku mau semua anak harus tau jika hidup bermasyarakat itu banyak ragam yang harus dihormati!" lanjutnya menjelaskan.
"Ibu Seven A!" panggil kepala sekolah.
Seorang wanita berhijab dengan senyum ramah mendatangi Manya.
"Bu Sulis," sahut Manya juga tersenyum ramah.
"Seven A sudah siap belajar?" tanyanya.
"Sudah Bu,''
"Memanat peulajan Ata'!" seru triple A.
Seven A berbaris sebelum masuk ruang kelasnya. Manya melihat dari jendela bersama ibu-ibu yang lainnya.
'Duh, anak-anaknya ibu seven A cakep-cakep ya," puji salah satu wali murid.
"Anak ibu juga," sahut Manya membalas pujian ibu tadi.
Hanya satu jam setengah mereka belajar dengan satu kali istirahat. Usai belajar mereka pun pulang bersama.
"Nah, besok kalian bisa kan ke sekolah hanya ditemani suster?" tanya Manya pada anak-anak.
'Pisa eh ... bisa Ma!" sahut seven A kompak.
"Baby, Mommy di rumah sendirian," rengek Amertha sedih.
"Reece kan laki-laki, jadi harus jagain Mommy ya," ujar Manya.
"Ata' ... Mommy eundat pisa bain," keluh bayi usia mau dua tahun itu.
"Kan di kamar Reece banyak mainan bisa main sama suster," jawab Amertha.
"Mommy nggak pernah main sama Reece?" Amertha menggeleng.
"Kalau begitu Reece ikut aku!' putus Manya.
"Sayang," rengek Amertha.
"Besan ... biar Reece main sama semua keponakannya!' sahut Maira.
"Mi," tegur Abraham.
"Loh ... kenapa? Lagian dia bilang sendirian di rumah tapi nggak mau main sama anak!" ketus Maira. "Apa bener bisa begitu?"
"Ssshh ... jangan ikut campur ah," bisik Abraham.
Ramaputra hanya diam. Ia juga tak memiliki waktu bermain bersama putra bungsunya itu. Manya mengambil Reece dari gendongan ibunya. Akhirnya Ramaputra mengajak istrinya pulang.
"Mami, mau di rumah Manya dulu?" tanya Abraham ketika sudah sampai depan rumah menantunya.
"Iya Pi, nanti jemput Mami ya pas pulang,"
"Iya Mi. Manya Papi titip Mami ya,"
"Ih ... Papi, emang Mami barang pake dititipin!" gerutu Maira protes.
Abraham terkekeh. Ia mencium istri, menantu dan semua cucunya.
"Papi ... atuh eundat pi sium?" protes Reece.
"Hehe ... maaf Dik," kekeh Abraham mencium bayi itu gemas.
Mereka masuk setelah mobil Abraham sudah pergi dari halaman rumah. Jovan sudah pergi dari tadi subuh. Pria itu keluar kota bersama Praja.
"Manya, Mami dengar Denna sedang hamil anak kedua?" tanya Maira.
"Iya Mi, Denna sedang hamil anak ke dua. Gerard ingin anak banyak, jadi melarang Denna program KB,"
"Ternyata Tuhan itu baik ya," ujar Maira.
Ten A dan pamannya sudah berganti pakaian. Mereka bermain bersama di lantai atas. Para suster yang menemani mereka.
"Iya, Mi, Denna juga ingin cepat punya banyak anak," sahut Manya.
Maira membantu menantunya masak siang. Para maid mengupas dan membersihkan dapur setelah selesai memasak.
"Suster ... bawa anak-anak turun!" teriak Manya.
Anak-anak turun berebutan. Maira sampai berteriak agar semua berhati-hati. Sedang Reece dalam gendongan salah satu suster.
"Hup! Hup! Hup!"
Bhizar melompati tangga. Maira yang kesal naik ke atas dan memegangi cucunya yang sok jagoan itu.
"Moma pialin ... eh bialin Bhizal lompat!" protes balita itu.
"Nggak ada lompat-lompat! Jatuh nanti semua sakit'!" dumal wanita itu.
Bhizar cemberut. Ia melihat tangga tinggal dua undakan lagi. Ia menahan lajunya. Tiba-tiba ia melompat hingga pegangan tangan neneknya terlepas.
Semua berteriak dan menutup mata. Manya dengan gerakan cepat menyambar tubuh mungil itu yang nyaris terjungkal di lantai karena mendarat di ujung anak tangga.
"Huuwwwaaa!" teriak Bhizar menangis.
Jantung Maira nyaris saja copot dari tempatnya. Anak-anak langsung diturunkan agar tak mengikuti kelakuan salah satu saudaranya itu.
"Baby ... tadi Moma bilang apa? Kan nggak boleh lompat?" ujar Manya menenangkan Bhizar.
Sepertinya bayi itu juga shock ketika dirinya tadi nyaris terjungkal dari anak tangga.
"Maaf Mama. Besot-besot Bhizal lompatnya yan benel pial eundat jatuh,"
bersambung.
Loh ... kok gitu Bhizar 🤦ðŸ˜
next?