
Hari pengumuman telah tiba. Semua pebisnis datang ke sebuah hunian bertingkat empat. Tadinya Ramaputra ingin pestanya di sebuah hotel berbintang miliknya. Tetapi Manya menolaknya. Gadis itu tak suka dengan hotel atau sejenisnya. Begitu juga gedung.
"Dad, di rumah saja ya," pinta wanita itu.
"Lebih mudah masuk kamar dan menyusui anak," jelasnya.
"Kamu harus mulai menyapih mereka sayang," peringat Amertha.
Manya mengangguk. Ia telah berencana menyapih tujuh anak kembarnya.
Manya mengenakan gaun dengan aksen brokat warna biru terang. Gaun sederhana tapi dari kain sutra terbaik. Bahkan gaun itu dijahit menggunakan tangan sang designer.
Taburan berlian swarovski menumpuk di bagian dada, kedua pinggang dan menyebar ke bawah. Manya memakai riasan tipis dan begitu natural, rambutan ia gelung ke atas dan membiarkan anak rambut jatuh dan memberi kesan seksi.
Sedang Jovan juga tak kalah tampannya. Pria itu mengenakan tuxedo warna senada dengan gaun istrinya. Bahan dari sutra dan dijahit oleh tangan sang designer. Begitu berkelas dan mewah. Maira dan Amertha memakai gaun warna lebih berani yakni jingga. Pesona dan keanggunan keduanya tak bisa dinilai atau dibanding-bandingkan antar keduanya. Baik Maira dan Amertha sama-sama memiliki nilai tersendiri.
Ramaputra dan Abraham juga menjadi sorotan. Kedua pria yang masih tampan di usia mereka yang main matang tak memudarkan pesona mereka. Mereka juga menggunakan tuksedo warna hitam dengan aksen jingga pada kerah mereka.
Aldebaran juga menjadi sorotan. Pria yang dijuluki dewa bisnis baru saja menciptakan berita baru. Yakni perceraiannya dengan sang istri setelah sekian lama membina rumah tangga.
"Tuan Dinata. Kenapa anda memilih bercerai sekarang?" tanya salah satu wartawan tak sabaran.
"Kami sudah tak saling mencintai, maka perpisahan adalah satu-satunya jalan terbaik dibanding saling menyakiti jika hidup bersama,"
Jawaban pria itu membuat Abraham berdecih dan memasang muka sebal pada ayahnya.
"Tuan Abraham Dinata sepertinya perceraian ini tidak membuat anda sedih, Nyonya Leonita adalah wanita yang menemani suka duka ayah anda?" ujar para wartawan kini mewawancarai Abraham.
"Saya tak begitu ikut campur dengan urusan pribadi ayah saya . Sepenuhnya itu adalah keputusan ayah saya!" jawab pria itu.
"Maaf semua rekan wartawan. Silahkan anda menyimpan kembali pertanyaan, acara mau dimulai!" ujar Praja sebagai juru bicara dua keluarga.
Rudi di sana juga berdiri di sisi putra angkat Aldebaran. Ia juga akan memberikan pernyataan nanti.
Sedang di sebuah gedung mewah di kota M. Irham dan istrinya juga mengadakan jumpa pers. Mereka memperkenalkan Leticia putri mereka yang tenyata masih hidup setelah nyaris tiga puluh tahun disangka sudah meninggal dunia.
"Di tangan kalian adalah kopian hasil test DNA kami!" ujar pengacara Irham.
Leticia hadir dengan gaun warna abu-abu yang sangat mewah. Gadis itu bak putri raja yang memukau semua mata. Ia sudah bisa berjalan walau hanya sebentar saja. Irham mengatakan penyebab kecelakaan akibat putrinya yang setengah mengantuk hingga tak melihat lampu merah. Itu lah yang dikatakan Leticia pada mereka. Amertha sang ibu susu mengikuti kebohongan putrinya. Irham tak mempermasalahkan foto mesum Leticia. Pria itu membakar foto-foto itu begitu juga Ramaputra. Kedua pria itu sepakat menutup aib sang putri yang mereka cintai.
"Putri anda cantik sekali Tuan Wijaya," puji salah satu wartawan.
Leticia tersenyum manis. Gadis itu mengangkat roknya sedikit ala bangsawan dan menekuk kaki sebagai ucapan terima kasih pada wartawan yang memujinya.
Sikapnya yang manis menjadi sorotan. Kini nama gadis itu bertambah menjadi Leticia Artha Wijaya.
Sedang di mansion Ramaputra langsung heboh ketika pria itu menyatakan jika putri kandungnya adalah Manya. Praja dan Rudi membagikan hasil tes DNA dan menyatakan jika dirinya memang putri kandung yang tertukar itu.
"Jadi selama ini putri anda sesungguhnya bukan Nona Leticia?" tanya para wartawan.
"Leticia tetap putri kami, aku menyusuinya selama dua tahun!" tekan Amertha tegas.
"Nona Manya, apa perasaan anda ketika mengetahui jika anda ternyata memiliki orang tua yang masih hidup?"
"Saya sangat senang sekali. Mimpi saya juga menyatakan jika kedua orang tua saya masih hidup, kini terjawab semuanya," jawab wanita itu.
"Tuan muda Dinata. Anda menikahi istri anda dalam keadaan amnesia, apa hukumnya sah?" tanya wartawan lagi.
"Tentu sah. Saya hanya mengingat nama panggilan saya. Tetapi istri saya mengingat siapa dirinya," jawab pria itu datar.
Ketujuh kembar dikeluarkan dari kamar mereka. Semua terkejut melihat kemiripan para bayi belum dua tahun itu. Jepretan kamera membuat ketujuhnya menutup mata.
"Mama pilau!" teriak Lika mulai rewel.
Abraham juga menutup wajahnya. Bayi tampan itu malah melempar empengnya pada salah satu wartawan yang membidiknya.
"Mama ... huuaaa!!!" tangis ke tujuh bayi itu bersamaan.
"Kami belum memotretnya!" teriak salah satu.
"Saya akan membagikan foto album mini yang menampilkan mereka!" seru Rudi dengan suara menggelegar.
Semua wartawan diam. Usai wawancara Manya langsung masuk ke kamarnya. Ia menenangkan tujuh bayinya yang merasa tak nyaman dengan lampu blitz tadi.
"Mama meuleta nanat spasa syih!" seru Syah begitu kesal.
"Bendadu syaja!" lanjutnya dengan mimik kesal.
"Biya ... poba pita eundat pi teleta dolon. Pita putun pemuana!" sahut Bhizar jumawa tapi sambil terisak.
"Itu tadi wartawan sayang," jawab Manya.
"Baltawan?" tanya Abi sampai miring kepalanya.
"Iya sayang. Mereka adalah wartawan,"
"Tot panyat ma ... hiks ... hiks?" tanya Laina masih setia dengan isaknya.
"Iya sayang ... karena mereka berasal dari banyak media," jawab Manya menghapus air mata putrinya.
"Plaham eundat syuta baltawan mama ... hiks ... hiks!" ujar Abraham kesal.
Manya hanya menanggapi keluhan dan protes seven A dengan senyuman.
Mereka semua tenang dan di dudukan di karpet tebal. Ditemani empat suster. Manya sesekali masuk kamar untuk melihat keadaan tujuh anak kembarnya.
"Solada Plaham ... teunapa landa palah-balah?!" tanya Abi laksana wartawan.
"Bentitan beultanyaanmu. Tau mempuat atuh busin!" jawab Abraham marah.
"Bona Laina. Tamu judha eundat syuta tehadilan pala letan baltawan?" kini Abi mengajukan pertanyaan pada Laina.
"Butan pudat syuta ... meuleta banat setali!" keluh bayi cantik itu.
"Atuh ... atuh!' unjuk Lika mengacungkan jarinya.
"Pemana tamu tenapa?" tanya Abi.
"Atuh ....," Lika menghentikan ucapannya.
"Ah ... atuh pupa!" ujarnya menggeleng.
"Bain tali talo bawu meunatatan besyuatu halus bipitil batan-matan oteh!" peringat Abi.
"Solada Api ... dali padhi tamu beultana telus. Tamu tandabanna pa'a denan bemua yan teuljadhi?" sahut Syah kini.
"Atuh?" tunjuk Abi pada dirinya sendiri.
Empat suster merekam aksi mereka yang seperti melakukan sesi wawancara atau talk show. Keempat gadis itu tersenyum melihat polah tingkah para bayi yang sangat cerdas luar biasa.
Sementara itu di gedung di mana Leticia berada dan tengah diperkenalkan ke publik sebagai pewaris tunggal kekayaan Wijaya menatap live streming di ponselnya.
"Jadi anak daddy dan mommy sudah ketemu," ujarnya lirih.
Ia mengulas senyum. Tak ada lagi iri hati. Kasih sayang Renita dan Irham juga sangat besar padanya, kedua orang tuanya juga tak kalah kaya dengan orang tua sebelumnya.
"Aku menerimanya ... aku menerima semua, walau sakit bukan main," gumamnya lalu mematikan layar ponselnya.
bersambung.
ah ... ternyata.
next?