THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KESIBUKAN BARU



Seven A sudah mau masuk sekolah dasar. Manya mendaftarkan mereka di sekolah negeri yang jaraknya tak jauh dari rumah Anton. Manya benar-benar membiasakan semua anak-anak bergaul dengan orang biasa. Wanita itu ingin anaknya tak jadi sombong dan angkuh karena memiliki orang tua yang ada uang. Manya tak pernah mengatakan jika dirinya dan Jovan adalah orang kaya.


"Suatu saat Tuhan bisa mencabut semua harta kita, ini hanya titipan Mom," jelasnya ketika Amertha keberatan sekolah cucunya hanya di tempat biasa.


"Tetapi jika bisa ditempatkan yang fasilitasnya juga tenaga guru yang baik. Kan tidak salah," sahut Amertha.


"Memang, tapi kurikulum semua sekolah kan sama. Toh di SD negeri juga sudah komplit fasilitasnya," sahut Manya.


"Jadi kita daftarkan di sekolah dasar negeri dekat rumah Anton sayang?" Manya mengangguk.


"Sekolah itu bagus Mom. Banyak anak didiknya ikut kejuaraan keilmuan, math dan banyak lagi. Rata-rata mereka juara loh!' ujar pria itu ketika melihat prestasi sekolah yang akan jadi tempat didik tujuh anak kembarnya.


"Sebenarnya sekolah itu sekolah swasta tetapi sudah diakreditasi A setara sekolah negeri milik pemerintah. Iuran sekolahnya juga tidak memberatkan. Terlebih para guru akan memanggil para orang tua jika anak mereka tidak begitu pandai di pelajaran sekolah, mereka akan mengarahkan di mana anak-anak berminat," jelas Manya panjang lebar.


Amertha dan Maira akhirnya menyerahkan semua keputusan pada Manya. Mereka tentu ingin yang terbaik untuk semua cucunya. Tetapi Manya tentu memiliki impian sendiri dalam mendidik anak.


"Anton!" si empunya nama menoleh.


"Denta!" pekik Anton dengan senyum lebar.


Mereka berjabatan, seven A senang jika salah satu teman di taman kanak-kanaknya juga bersekolah di sini. Mereka mengobrol begitu seru hingga membuat Reece memperhatikan mereka.


"Talian ladhi noblolin pa'a?" tanyanya ingin tau.


"Ih ... Om kecil kepo deh!" goda Denta.


"Oh ... talian pawu lahasiaan ya?!" sahut Reece galak.


"Oteh talo dithu!" sahutnya lalu melipat tangannya di dada.


"Babies!"


Triple A tentu mengikuti om kecil mereka. Liam tidak ada di sana.


"Pa'a Pom?" sahut ketiganya kompak.


"Pita suetin meuleta!" ajak Reece.


"Jangan Baby!" pinta Bhizar memohon.


"Oteh ... oteh. Kita kasih tau deh tadi kita ngobrolin apa," ujar Denta mengalah.


"Nah ... bedhitu don!" sungut Reece kesal.


"Kita ngobrolin mau ngapain aja nanti di sekolah," ujar Anton memberitahu.


Reece menggeleng tak percaya dengan perkataan teman dari keponakannya itu.


"Janan podohin nanat teusil ya!" peringatnya.


"Pemua nanat Yan setolah ipu yan bipisalain ipu ya tentan pelazanan!" sahutnya begitu sok tau. "Pasa talian eundat pahu!"


"Buntin meuleta pinin yan walin sewalin pelajan!" sahut Aqila sok tau.


"Pa'a memana?" tanya Reece.


"Bawu dandutin pemen pelajan?" jawab Aqila.


"Pasa setolah mawu dandutin lolan syih!" protes Reece.


"Oh ... muntin meleta bawu pelantem!" sahut Aidan dengan mata membola.


"Pidat peunel, ipu pidat pisa bipialtan!" sahut Reece menggeleng.


"Kita nggak mau berantem Baby!' sahut Lika gemas.


"Padhi nomonin pa'a Ata'?" tanya Aqila begitu penasaran.


"Janan halap pita atan beulsaya zawaban talian," sahut Aidan memperingati kakaknya.


"Kita berencana mau duduk paling depan semua jadi sederetan meja depan itu tempat duduk kita!" jelas Lika lagi.


"Nah ... pa'a syusahna zelasin payat dithu!" ketus Reece.


Usai daftar sekolah mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Reece yang lelah tertidur di gendongan Ramaputra. Pria itu akan membawa putranya pulang.


"Nanti dia marah loh Dad," peringat Manya.


"Tidak jika ia dalam pelukanku!" sahut Ramaputra.


Kini mereka di mansion. Amertha mendorong kereta bayinya, lalu masuk kamar. Di sana ada para suster yang menjaga Baby Tita.


Ramaputra meletakan Reece di tengah-tengah kasur. Usai berganti pakaian. Ia merebahkan diri, menciumi putranya yang makin lama makin pintar itu.


"Sehat terus ya, Baby. Jangan cepat besar ... kau menggemaskan sekali!" ujar pria itu geregetan.


"Daddy," peringat sang istri.


Amertha hanya tersenyum, ia mengecup putra tampannya itu. Kelakuan bayi dua tahun itu memang makin hari makin diluar batas akal mereka.


"Aku ingin dia cepat besar dan menggantikanmu sayang. Kita beristirahat dengan tenang," ujarnya.


"Lalu Baby Tita?"


"Ada Manya. Biarkan Tita di bawah asuhannya. Aku percaya pada putriku!" jawab Amertha.


Ramaputra mengangguk setuju. Ketika sore tiba, Reece yang terbangun tampak terkejut ketika ia berada di pelukan sang ayah. Bayi itu hendak marah namun urung.


"I love you Baby," bisik Ramaputra pada bayinya.


Pria itu tau jika Reece sudah bangun. Sebelum bayi pintar itu mengoceh, Rama memeluk dan mencium serta mengatakan kalimat sakti itu.


"Ba bowu Daddy," sahut bayi itu.


"Mandi yuk," ajak sang ayah yang diangguki oleh Reece setuju.


Ramaputra senang bukan main. Pria itu pun memandikan putranya. Mereka bermain sabun. Gelak tawa tercipta di kamar mandi.


"Sayang ... sudah, ayo kita minum teh!" pekik sang ratu rumah.


Ramaputra menyelesaikan mandinya bersama Reece. Setelah berpakaian, mereka pun turun ke bawah menggunakan lift.


"Moma! Lees budah wani!" pekiknya.


Amertha mengangkat putranya dan menciumi wajah Reece hingga merengek.


"Moma!" protesnya.


"Kau menggemaskan Baby," sahut sang ibu.


Sedang di rumah Manya. Triple A kehilangan sosok om mereka. Ketiganya seperti orang bingung karena biasanya Reece yang menjadi komando mereka.


"Baby yuk belajar sama Kakak!" ajak Laina.


"Pales Ata'!" sahut Adelard.


"Pita piasana syama Pom teusil bain," lanjutnya.


"Ayo kita main sambil belajar," ajak Laina.


"Kita bikin kota dari Lego aja!" ajak Lika.


Mereka akhirnya bermain di lantai dua. Sebuah kamar khusus dibuat untuk mereka bermain dengan puas.


"Imi lumah syatit bitalo Pana?" tanya Adelard.


"Ini ada tulisannya Baby," jawab Syah.


Adelard meletakan lego-lego menyusunnya bersama saudara-saudaranya hingga membentuk rumah sakit.


"Hore kotanya udah jadi!" pekik Abi bertepuk tangan.


Semuanya ikut bertepuk tangan. Triple A sudah mengantuk mereka pun ingin tidur. Para suster membawa mereka semua turun.


"Makan dulu Baby," ajak Manya.


"Pita nantut Mama," keluh Adelard sudah sayu matanya.


"Kalau begitu meminum susu dulu ya," ujar Manya.


Setelah minum susu, semua anak masuk ke kamar dan langsung tidur begitu juga seven A. Manya dan suaminya masih berada di ruang tengah menonton acara televisi.


"Tuan Nyonya makanan sudah siap!"


Keduanya pun makan dengan tenang. Setelah makan mereka masuk ke kamar anak-anak.


"Kalian cepat besar ya," Manya mengecup semua kening anak-anak.


Kamar sudah diatur sedemikian rupa. Agil, Lika, Laina dan Aqila tidur di satu kamar khusus anak perempuan. Sedang Bhizar, Abi. Syah, Abraham, Adelard dan Aidan tidur di satu kamar khusus laki-laki. Manya telah mencium semua anak-anak begitu juga Jovan


"Sayang ... aku mencintaimu!" ujarnya.


"Aku juga mencintaimu," balas Manya.


Keduanya pun berciuman dan merebahkan diri di ranjang yang hangat sambil berpelukan.


Bersambung.


Sepertinya karya the president's seven Twins atau pewaris Kembar sang presiden akan berakhir. Akan ada sekuel kedua mereka yang berjudul sama dengan judul sesson duanya yakni "pewaris Kembar sang presiden direktur!" nantikan ya!


Nantikan kisah lainnya milik othor ya.


Next?