
Setelah tujuh hari ujian. Akhirnya semua anak bisa bernapas lega. Wati tengah menunggu putranya, perutnya sudah besar. Para suster mengelusnya.
"Wah, udah besar aja nih!" sahut Leni dan Siti bersamaan.
"Udah tau jenis kelaminnya belum?" tanya Diah.
"Biar aku tebak. Pasti cewek!" lanjutnya.
"Aku sih belum tau jenis kelaminnya apa. Mas Djaya nggak masalahin, apa lagi Dino," sahut Wati dengan senyum lebar.
Tak lama bel untuk anak kelas satu berbunyi. Semua anak bersorak, akhirnya ujian mereka lewati dengan tenang. Seven A dan lainnya masih mengerjakan soal yang tertinggal pas hari pertama ujian. Kelas satu A ingin mengerjakan soal yang tertinggal sekarang juga.
"Nggak besok saja Nak?" tawar Bu guru.
"Ada dua pelajaran loh. Nanti kalian cape. Besok saja ya," lanjutnya merayu anak-anak.
"Kami mau besok itu tidur Bu guru!" sahut salah satu murid.
"Besok saja ya. Ini sudah jam sebelas. Kalian mesti makan dan istirahat!" putus Bu guru.
Akhirnya mau tak mau, semua murid pun pulang, besok datang lagi untuk mengerjakan ujian susulan. Seven A, Anton dan Nita langsung menuju para suster yang menunggu mereka.
Mereka pun pulang bersama. Sidik sudah menunggu di mobil. Seperti biasa, Anton dan Nita lebih dulu diantar baru Sidik mengantar anak majikannya ke rumah.
"Kami pulang!" seru seven A melepas sepatu sembarangan dan langsung masuk ke dalam rumah. Maira dan Amertha tidak datang, ia menitipkan dua bayinya di rumah Manya bersama para suster. Dua wanita itu harus menghadiri sebuah acara gala lunch di sebuah hotel berbintang. Jarak yang jauh membuat mereka terpaksa meninggalkan bayi-bayi mereka.
"Aunty kecil," panggil Laina pada dua tantenya yang sudah merayap kemana-mana.
"Pecegahdbbshqnhsbdbushshebdhsnnsbsbhne!' oceh kedua bayi tak jelas.
"Babies, ayo ganti baju dulu!" pinta para suster.
Seven A pun berganti baju dan cuci tangan. Mereka bermain sebentar dengan semua anak kecil. Hingga usai makan siang, semua wajib tidur siang.
Sementara di sebuah ruangan mewah di ballroom hotel berbintang. Amertha dan Maira sedikit gelisah. Mereka kepikiran dengan bayi-bayi mereka.
"Kenapa acaranya sampai sore sih!" gerutu Amertha kesal.
Para suami tengah berbincang dengan kolega mereka. Beatrice dan sekretarisnya ada di sana. Sebagai pemegang tender tentu kehadiran mereka dinantikan oleh semua pebisnis.
Beatrice menatap Amertha, istri dari Ramaputra. Mini dress yang dikenakan wanita terkesan mewah dan mahal. Beatrice dapat menilai kisaran harga mini dress yang dikenakan oleh Amertha.
"Mini dress itu pasti mahal!" gumamnya.
Rina menatap apa yang menjadi pusat perhatian nona mudanya. Sosok yang sudah tidak muda tapi masih memancarkan kecantikan dan pesona luar biasa. Amertha memang sangat cantik. Rina pun menatap wanita disebelah Amertha. Maira juga tak kalah menawan dengan besannya.
"Mereka cantik, kaya dan pintar, Nona!" ujar Rina memuji dua wanita kaya raya.
"Ya, mereka memang cantik, kaya dan pintar," sahut Beatrice.
Sore pun menjelang, akhirnya acara selesai. Mereka pun pulang dengan menempuh perjalanan satu jam. Hari menjelang malam, mereka baru sampai. Semua bayi sudah tidur.
"Malam sekali baru sampai Mom?" tanya Jovan.
"Iya, tadi hujan lokal, jadi macet," jawab Abraham tampak kelelahan.
"Ayo makan dulu Mi, Mom, Dad, Pi," ajak Manya.
Keempat orang tua itu pun duduk. Aldebaran tengah pergi ke Bali. Pria itu ternyata hendak membeli satu komplek villa di sekitar Ubud, Bali.
Usai makan, Abraham tak berkata apapun. Pria itu langsung menuju kamarnya di atas begitu juga Ramaputra diikuti istri mereka. Manya pun menuju kamar para bayi menciumi mereka satu persatu.
"Sayang, kita pindah ke mansion yuk. Anak-anak sudah mulai besar. Mereka butuh kamar sendiri-sendiri," ujar Jovan.
"Apa rumah ini, tak bisa diperbesar?" tanya Manya.
"Kamar di atas hanya bisa sampai tiga kamar jika ingin pencahayaannya bagus. Sedang di bawah hanya lima," jawab Jovan.
"Baiklah sayang, aku ikut apa katamu," ujar Manya menurut.
Pagi menjelang, seven A kembali ke sekolah, semuanya masih memakai seragam seperti kemarin. Triple A, Reece dan Liam kembali ikut serta. Liam mengamuk pada kedua orang tuanya tak diantarkan ke rumah saudaranya.
"Mama, putantah Ata' sudah selselai bujian setolahna?" tanya Liam bingung.
"Masih ada dua ulangan susulan, baby," jawab Manya begitu gemas.
Reece sudah ada di tukang roti laba-laba bayi itu merengek meminta jajan. Leni menggendong bayi itu dan berbisik.
"Beunelan banti bipuatin?" tanya Reece pada Leni.
"Iya Baby," jawab suster itu.
"Yan banat meses walna-walni ya,"
"Iya Baby," sahut Leni.
Bukan suster itu tak membolehkan anak-anak jajan. Tapi ia meragukan kebersihan makanan yang dijual. Kesehatan anak tentu lebih penting dari pada menuruti anak-anak jajan.
"Kenapa suster?" tanya Manya.
"Itu Baby Reece, mau jajan itu. Saya. nggak kasih, ngeri liat warna mesesnya terlalu mencolok," jawab gadis itu.
"Saya janji akan membuatnya di rumah," lanjutnya.
Manya mengangguk setuju. Namun, wanita itu melihat jajanan kue pancong.
"Duh, mana ada jajanan kesukaanku lagi!" keluhnya mengguman.
"Nanti buat aja di rumah deh, sekalian belanja beli cetakannya!" lanjutnya.
Tak lama anak-anak keluar, Anton dan Nita langsung dijemput ibunya.
"Ikut kita aja Bu," ajak Manya.
"Nggak Nyonya, saya mau ajak anak-anak ke pasar. Melatih mereka untuk bersosialisasi," ujar Minah.
"Anton dan Nita masih terlalu kecil, Bu. Nanti takutnya mereka lepas dari pengawasan ibu karena melihat sesuatu yang menarik perhatian mereka," peringat Manya.
"Iya juga sih, tapi saya ingin bawa mereka beli baju. Saya kurang hapal keduanya, terlebih mereka sudah tambah tinggi," sahut Minah.
"Pak Sidik, mending Bapak ikut Ibu ke pasar. Biar kami jalan sendiri, kasihan Ibu jika harus mengawasi anak-anak," suruh Manya.
"Baik Nyonya," sahut Sidik menurut.
Akhirnya Manya menyetir sendiri mobilnya. Sidik pun bersama istri dan dua anaknya menuju pasar. Minah mengumpulkan uang hasil upahnya membantu para tetangga. Ia ingin membelikan baju baru untuk dua anaknya.
"Bu, jangan beliin kita baju," tolak Nita.
"Mending ibu beliin kita jajanan-jajanan gitu, nanti kita jual sama temen-temen di sekitar komplek," lanjut Nita.
"Jangan Nak, biar uang adalah urusan Bapak untuk mencarinya, kalian fokus untuk belajar!" tekan Sidik tentu menolak keinginan putri angkatnya itu.
Nita pun diam, ia hanya menurut. Pikirannya melayang pada celengan di kamarnya. Ia sudah mengumpulkan uang jajannya. Ia yakin uangnya sudah banyak.
"Itu saja buat modal. Jadi uangku bertambah!" pikirnya dalam hati.
Nita menuruti kata ayah nya kini. Gadis kecil itu sudah memiliki tekad untuk mengumpulkan uang jauh lebih banyak.
"Uang itu pasti berguna di kemudian hari!" ujar ya yakin.
Bersambung.
Kadang jiwa anak pebisnis itu muncul sendiri loh bunda. Dukung anak untuk mewujudkan mimpinya.
Next?