THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
SEKOLAH



Hari pertama sekolah Bhizar Abi, Abraham, Syah, Lika, Laina dan Agil memang tidak ada kendala karena Manya ada di sana. Tetapi, tiga hari setelahnya tujuh anak kembar identik itu sudah membuat keributan, walau bisa diatasi dengan baik.


Saskia masih menjadi perawat dari seven A. Walau kini ia sudah menjadi istri dari Praja. Wanita itu tetap ingin bekerja sebelum ada penggantinya.


"Ayo, apa sudah siap semua?" tanya Jovan.


Mereka sudah selesai sarapan. Semua tampak rapi dan lucu dengan seragam mereka. Maira gemas dengan penampilan tujuh cucunya. Ia pun menciumi mereka hingga protes. Bahkan Amertha sudah dimarahi Abraham.


"Moma ... kan bedat Ablaham ilan!"


Amertha terkikik geli, sedang Reece dibiarkan bermain dengan tiga keponakan kecilnya.


"Moma ... Om teusilna matal!" adu Adelard.


"Nakal apa Baby, Om Reece kan dari tadi hanya diam saja," ujar Wati.


"Baby ... jangan bohong ya!" peringat Manya.


"Mama ... Elad eundat pohon, bumpah!" sahut bayi itu sungguh-sungguh.


Ternyata benar. Reece menarik celana ponakan kecilnya. Bayi mau dua tahun itu memang sangat usil.


"Om kecil, celana baby jangan ditarik sayang," sahut Diah salah satu perawat.


"Eundat pa'a-pa'a," sahut Reece dengan senyum jahilnya.


Seven A pun berangkat sekolah dengan ayahnya bersama empat suster. Manya memang sudah tak lagi bekerja full di rumah sakit. Anak-anak butuh perhatian ekstra, terlebih jumlah mereka yang cukup banyak.


"Moma Paila ... teunapa eundat peulnah pawa tue ladhi?" tanya Adelard dengan mata bulatnya.


"Oh ... maaf Baby, Moma tadi lupa bawa. Nanti ya," janji Maira yang gemas namanya berubah di mulut cucunya. Ia pun mengambil ponsel dan memilih membeli via online saja. Tak butuh waktu lama kue yang diinginkan cucunya datang. Adelard, Aqila, Aidan dan juga Reece senang dengan kue yang dibeli oleh Maira.


"Matasih Moma syantit!" ujar keempatnya kompak.


"Sama-sama babies," Maira gemas dengan mereka lalu mencium kembali dan ia sekali lagi dapat protes kali ini dari adik menantunya.


"Moma ... banti pipi Lees pobleh!"


Sedang di sekolah, semua anak belajar dengan tertib. Sungguh Seven A memang paling dominan di antara semua anak. Selain mereka yang bule, mata hazel mereka sangat mencolok perhatian.


Tak lama bel istirahat berbunyi. Semua anak berhamburan keluar kelas, ada yang langsung ke ibu mereka, ada juga yang langsung pergi ke arena permainan dan ada juga yang jajan di tukang jajanan di luar sekolah.


Bhizar, Abi, Agil, Syah, Laina, Lika dan Abraham memilih memakan bekal mereka.


"Bhizal makan apa?" tanya salah satu siswa.


"Ini makan sandwich," jawab Bhizar.


"Kamu mau?" anak itu langsung mengangguk antusias.


Bhizar menyodorkan kotak bekalnya. Anak bernama Anton itu langsung mengambil roti isi dan memakannya dengan lahap.


Seven A memandang temannya itu. Sedang para suster begitu iba, sepertinya Anton belum sarapan.


"Ini minum dulu," ujar Lena menyerahkan air mineral kemasan gelas.


"Makasih Sustel," ujar Anton.


Ia mengusap perutnya, anak laki-laki itu bersyukur perutnya sedikit terisi.


"Sudah kenyang?" tanya Laina.


"Sudah ... makasih ya," ujar Anton malu.


"Nggak masalah," sahut Bhizar santai.


"Kamu nggak ditungguin sama mama kamu?" tanya Abraham pada Anton.


Anak laki-laki itu menggeleng lemah. Ada genangan di sudut matanya. Lika melihatnya.


"Kamu kenapa? Ibu kamu sehat kan?" tanyanya khawatir.


"Alhamdulillah sehat ... ibu sehat!" ujarnya tegas.


"Aku masuk duluan ya," lanjutnya lalu pergi dan masuk ke dalam kelas.


"Sepeltina ada sesuatu yan teuljadi pada Ibunya Anton deh," ujar Abi memperhatikan.


"Seupeltina beudithu eh begitu!" sahut Bhizar.


"Sustel, poleh kah kami menolong Anton?" tanya Laina kini.


"Tentu Baby, menolong orang lain itu adalah perbuatan terpuji," sahut Wati dengan senyum lebar.


"Oh ... peulpuatan teulpuji," sahut Lika terkontaminasi bahasa bayi.


"Sudah sepelti ladhu eh lagu buat gulu ya," sahut Syah.


"Lagu?' empat suster bingung.


"Iya ... Teulpujilah wahai entau ... ibu bapak gulu!" Syah menyanyikan lagunya.


Seven A tampak melihat teman mereka, Anton berjalan kaki menuju rumahnya. Bhizar menatap susternya.


"Sus, boleh nggak kita tawalin Anton nait mobil kita antelin ke lumahnya?"


"Tentu Baby," sahut suster.


Bhizar segera memanggil temannya itu. Bocah itu menarik tangan Anton.


"Jangan ... lumahku jauh!" tolaknya.


"Kalau jauh, kamu nggak mungkin beuljalan kaki!" sanggah Lika.


"Ayo naik nak. Biar bapak anter," ujar supir.


Suster sudah memberitahu Manya jika anak-anak ingin mengantar salah satu temannya. Manya pun mengijinkan.


Mobil bergerak memang sedikit jauh dan masuk ke jalan sedikit sempit. Kawasan rumah Anton begitu sederhana, hingga tiba menuju rumah anak itu. Banyak orang hilir mudik. Bendera kuning terpasang..


"Ibu ... Pak belhenti di sini Pak!" pinta anak itu dengan nada cemas.


Mobil berhenti. Anton langsung keluar mobil dan berteriak memanggil ibunya. Abraham sangat penasaran dengan apa yang terjadi, ia juga ikut turun walau dilarang oleh salah satu susternya.


"Sus ... Ablaham mau lihat!"


Akhirnya supir turun dan mengikuti anak majikannya itu. Di dalam Anton menangis histeris di atas tubuh kaku seorang wanita. Abraham langsung menggenggam erat tangan supirnya.


"Den!"


"Om supil ... ini ada pa'a?"


"Nak, ibu temen kamu meninggal dunia," jawab supir dengan suara tercekat.


"Anton!" panggil Abraham pada temannya.


Bocah malang itu menatap teman satu kelasnya. Ia sesenggukan.


"Ibu ... huuuu ... uuu ... kenapa tinggalin Anton ... Anton sama siapa Bu ... hiks ... hiks!"


Supir bertanya perihal ayah dari anak itu. Ternyata ayah Anton juga sudah meninggal dunia.


"Ya ... Allah, jadi Anton sudah yatim piatu?" tetangga mengangguk sedih.


"Ini adalah rumahnya kan bukan ngontrak?" tanya supir.


"Sayangnya, rumahnya ngontrak pak," jawab tetangga.


"Den ... ayo kita pulang," ajak supir.


'Yang sabal ya Nton!" ujar Abraham sedih.


Supir membawa semua anak majikannya pulang. Pria itu sudah menikah selama dua puluh tahun dan tidak memiliki anak. Di kepalanya terbesit keinginan untuk mengadopsi Anton.


Setelah mengantar semua anak pulang, ia kembali menuju rumah teman anak majikannya.


Jenazah sudah dikebumikan, Anton menangis sendirian. Bocah berusia lima tahun itu duduk termenung meratapi tanah basah.


"Bu ... Anton sama siapa Bu ... hiks ... hiks!"


"Anton ... mau nggak sama Bapak?" tawar sang supir.


Gerakan hatinya, ingin mengambil sang bocah malang, karena ia yakin setelah ini pasti Anton akan diusir dari rumahnya. Tak memiliki kerabat, membuat pria bernama Sidik itu akan mudah membawa Anton dan mengadopsinya sebagai anak.


"Anton ikut bapak?" tanya balita itu dengan masih terisak.


"Iya, Nak. Kamu ikut Bapak ya. Mau kan?"


Anton mengangguk, ia memang tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Benar saja belum satu jam jenazah dikebumikan Anton disuruh pergi dari rumah oleh pemilik kontrakan. Tak ada kata iba.


"Sebenarnya ibu dia kemarin nggak bayar kontrakan. Saya udah baik kok nggak nagih!" sahut pemilik rumah.


Sidik akhirnya membawa semua barang milik anak malang itu. Pria itu sudah yakin dengan keputusannya, sang istri juga setuju.


Dengan menggunakan mobil bak terbuka yang disewa Sidik. Pria itu membawa semua perabotan milik Anton. Walau ada keributan kecil karena pemilik rumah menginginkan lemari pendingin dan televisi ditinggal. Tetapi, banyak tetangga mengatakan jika semua barang adalah milik mendiang ibunya Anton.


Sampai rumah sederhana seorang perempuan paru baya menunggu dengan penuh binar bahagia. Dua puluh tahun menunggu kehadiran seorang anak.


"Assalamualaikum Bu, ini anak kita Anton Sidik!" ujar sang suami ketika turun dari motornya.


"Anakku!' sambut sang wanita merentangkan tangannya.


Anton sedikit ragu, tetapi ketika berada di pelukan wanita itu, ia merasa ibunya hidup kembali.


"Ibu ... hiks ... ibu!"


bersambung.


Makasih ya Pak Sidik! 😭.