THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERNIKAHAN



Hari memang begitu cepat berlalu. Rupanya tanggal dan bulan di majukan. Aldebaran mendapat kabar dari kantor KUA jika ada tanggal yang kosong untuk menggelar acara pernikahannya. Pria itu berpikir untuk menikahi Demira langsung baru menggelar resepsi sesuai tanggal di kartu undangan.


"Bagaimana sayang?" tanya Aldebaran menelepon calon istrinya.


"Aku menurut saja Mas," jawab wanita itu di seberang telepon.


Demira sangat tidak menyangka jika ia tak perlu menunggu selama lima bulan. Hanya tinggal hitungan hari saja ia akan menjadi seorang istri dari Aldebaran Rougher Dinata. Pebisnis kaya raya, walau usia mereka tidak muda lagi. Tetapi cinta membuat semuanya jadi tak masalah.


"Apa, jadi Daddy mau menikah dengan Mommy lima hari lagi?" teriak Praja dan Abraham tak percaya.


"Petugas KUA mengatakan ada hari baik dan kosong untuk melangsungkan pernikahan. Jadi kenapa tidak?" sahut Aldebaran santai.


Praja menggaruk kepalanya. Lima hari lagi adalah hari yang sangat cepat. Mereka tidak mungkin mengubah jadwal yang ada.


"Daddy hanya ingin menikah saja, setelah menikah kita bisa pergi ke panti asuhan merayakan bersama anak-anak yatim bukan?" lanjutnya.


Abraham menatap adik angkatnya. Praja ikut mengurut keningnya. Akhirnya mereka memberikan semua keputusan pada Aldebaran. Semua tentu terkejut mendengar jika pernikahan akan berlangsung lima hari lagi.


"Lalu tanggal di undangan?" tanya Ramaputra.


"Buat itu sebagai resepsi," jawab Abraham.


"Ya sudah, terserah saja. Bukankah kebaikan itu memang harus disegerakan?" ujar Ramaputra.


Maira juga tak kalah terkejutnya mendengar hal itu, sedang Jovan biasa saja.


"Apa-apaan sih Grandpa mu itu!" sahut wanita itu sengit.


"Kenapa sih Mi?" tanya Jovan bingung. "Kan bagus kalo Grandpa nikah cepat!"


Maira hanya mendengkus kesal. Wanita itu akan sangat sibuk nanti dibuat ayah mertuanya itu. Ia sangat mengenal Aldebaran.


Kring! Bunyi ponsel Maira berbunyi. Wanita itu sudah bisa menerka ketika melihat nama yang meneleponnya.


"Halo Dad?"


".....!"


"Wa'alaikumusalam!" sahut wanita itu lalu terbit senyum di bibirnya.


".......!"


"Iya Daddy, akan Aku usahakan ya," sahut wanita itu.


" ......!"


"Wa'alaikumusalam!" Maira menutup ponselnya.


Wanita itu setengah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Aldebaran hanya menyuruhnya mencari panti asuhan dengan seratus anak yatim dan membawa mereka ke restoran milik keluarga mereka.


"Daddy berubah," gumamnya pelan dengan senyum indah.


Abraham dan Praja sibuk mengurus semuanya. Beberapa kolega penting diundang dadakan termasuk keluarga pebisnis terkenal, Dougher Young, Pratama, Triatmodjo, Starlight, Sanz, Dewangga dan Budiman serta beberapa keluarga lainnya.


"Kakak lupa dengan suami dari Nyonya Maisya, Kaila dan Dewi juga Arraya," ujar Praja.


"Aku bukan lupa. Mereka banyak sekali. Jadi perwakilan saja. Maisya menikah dengan salah satu pengawal mereka juga, begitu juga Kaila dan Dewi. Hanya Nona Bariana yang menikah dengan salah satu putra Tuan Budiman Samudera," jawab Abraham.


"Kak, Tuan Benua juga menikah dengan salah satu anak dari pengawal dan anak angkat mendiang Tuan Bart, Tuan muda Sky juga akan menikah dengan anak dari Tuan Gio, Tuan Domesh dan Bomesh bertunangan dengan salah satu anak angkat mendiang Tuan Dougher Young," lanjutnya.


"Astaga, mereka berputar di situ-situ saja!" sahut Praja.


"Ya, karena telah saling mengenal dari mereka sama-sama bayi," jawab Abraham.


"Sepertinya, mereka hanya mempercayai seluruh keturunan dengan yang mereka kenal Kak," ujar Praja.


"Apa harapan kita menikahkan salah satu anak kita pada salah satu keturunan mereka bisa berhasil?" lanjutnya gamang.


Abraham tak menjawab, ia sendiri tidak tau bagaimana cara mendekatkan diri dengan keluarga yang sangat kaya raya itu.


"Jodoh ada di tangan Tuhan Praj ... semoga kita bisa bersatu dengan keluarga itu," ujarnya penuh harap.


"Apa?"


"Kekeluargaan. Mereka begitu dekat dengan para pengawal dan semua pegawainya. Itu yang kita lewatkan," jawab Praja.


Abraham mengangguk, sebuah tindakan yang mungkin tidak pernah terjadi yakni menganggap keluarga orang lain. Pria itu sudah terbentuk sedemikian rupa, mengkotakkan dirinya. Ia hanya tau hidup bersama istri, anak dan kini melebar bersama menantu, cucu, besan. Bahkan mantan pembunuh putranya sudah menjadi bagian keluarganya.


"Kita bisa menerima Leticia menjadi bagian keluarga. Kenapa dengan karyawan sendiri kita malah mengasingkan diri?" sahut Praja seakan membaca pikiran kakak angkatnya.


"Bukan mengasingkan diri, Praj. Aku hanya takut mereka terlalu menyepelekan kita sebagai atasan mereka," sahut Abraham. "Kau tau kadang beberapa orang memanfaatkan kebaikan kita."


Kali ini Praja yang bungkam. Pria itu membenarkan perkataan kakaknya itu. Mereka mestinya harus banyak belajar dari keluarga yang solid itu.


Ting! Satu notifikasi masuk di ponsel Abraham. Ternyata Darren menyanggupi datang bersama istri dan salah satu anaknya. Tentu saja hal itu membuat Abraham senang bukan main.


"Tuan Hugrid Dougher Young akan hadir bersama salah satu putra atau putrinya!"


"Yang mana?" tanya Praja.


Abraham kembali diam. Pria itu tidak tau anak mana yang akan dibawa pria tampan itu.


"Anaknya banyak ... semua adalah anaknya, walau itu lahir dari pengawal sekalipun Tuan Darren pasti bilang itu adalah anaknya," sahut Praja.


"Rupanya itu juga akan sulit kita lakukan sayang," ujar Abraham mengeluh.


Sore hari mereka pulang. Tak ada kegiatan berarti karena Aldebaran sudah mengurus semuanya. Pria itu benar-benar akan menikah lima hari mendatang.


"Jadi uyut nikah lima hari lagi?" seru Liam tak percaya.


"Iya sayang," jawab Manya.


"Yah ... terus nyanyi-nyanyinya gimana?" tanya Liam lagi kecewa. "Kita udah latihan loh!"


Bayangan tidak tampil muncul di semua benak anak-anak, seven A ikutan murung. Mereka sudah berencana akan menggoyang panggung pernikahan uyut mereka.


"Sayang, resepsinya tetap dilakukan kok, kalian jangan khawatir," sahut Maira menenangkan anak-anak.


"Nah, lima hari lagi, kita akan kasih hadiah buat teman-teman kalian yang tidak beruntung ya," ujar Maira lagi.


"Seperti Anton dan Nita?" tanya Abraham kecil.


Maira tercerahkan. Ia telah mendapat panti yang akan menjadi tamu kemeriahan pesta setelah akad ayah mertuanya itu.


"Dad, alamat panti tempat Nita kemarin di mana?" tanya wanita itu.


"Pak Sidik yang hapal, aku lupa," jawab Aldebaran.


"Kenapa?" lanjutnya bertanya.


"Kita ambil seratus anak yatim dari sana, kalau perlu Daddy angkat jadi anak Daddy!" jawab Maira.


Aldebaran terdiam, ia menatap menantunya. Manya memeluk ibu mertuanya yang memberi ide luar biasa itu.


"Mami hebat!" pujinya lalu mencium Maira.


"Ide yang bagus itu Dad!" seru Ramaputra.


"Aku juga akan mengangkat sisanya anak-anak itu!" lanjutnya. "Dan kau harus bersiap punya adik baru Manya, Reece!"


"Aku mau Daddy ... aku mau!" pekik Manya senang.


"Okeh!" sahut Reece santai.


Aldebaran memeluk menantunya erat. Memang Maira itu sedikit aneh, jika sifat orang kayanya muncul. Maka Maira sangat angkuh dan tak ada yang bisa menyaingi wanita itu. Tetapi jika sifat sosialnya muncul. Maira akan begitu baik hati.


Bersambung.


Aha ... Mami Maira ... ba bowu 😍😍😍


next?