
Malam ini di sebuah gala dinner, Ramaputra datang bersama Rudi. Mereka bertemu dengan ratusan pengusaha yang tergabung dalam satu aliansi pebisnis yang diketuai oleh Satrio Triatmodjo. Pria itu tampak tampan dengan balutan mewah dan berkelas, di sisinya tampak sosok cantik, anggun dan bersahaja. Wanita itu tengah mengandung.
"Tuan Triatmodjo!" sapa Ramaputra.
Keduanya saling berjabat tangan. Aldebaran ada di sana tengah bercengkrama dengan beberapa kolega. Sedang Abraham dan Maira tengah ada di sisi lainnya. Hanya Amertha yang tidak ikut serta.
"Tuan Artha!" sambut Satrio dengan senyum menawan.
"Kapan anda kembali dari Eropa?" tanya Ramaputra.
"Satu minggu yang lalu Tuan," jawab pria tampan itu.
"Nyonya Triatmodjo!" sapa Ramaputra pada istri dari Satrio.
"Tuan, apa kabar?"
"Baik, bagaimana dengan anda?"
"Alhamdulillah baik," jawab wanita itu sesekali mengelus perutnya yang membuncit.
Beatrice melihat sosok pria yang ia kenali. Lalu perlahan wanita itu berjalan mendekat. Sungguh, ia sedikit takut dengan tatapan tajam Satrio yang begitu menusuk.
"Tuan, selamat malam," sapanya lirih.
Mereka menoleh dan mengangguk. Satrio meminta ijin untuk membawa istrinya duduk. Ramaputra mempersilahkannya. Beatrice lalu baru mendekati pria itu, tentu Rudi langsung menghalanginya.
"Tuan, apa kita datangi Tuan Dinata yang ada di sana?" ajaknya.
"Baik," sahut Ramaputra langsung mengangguk.
Kedua pria itu hanya mengangguk permisi pada wanita cantik yang seperti orang linglung itu. Beatrice hanya mampu menganga melihat dirinya ditinggal oleh pria-pria tampan. Ia pun berdecak kesal.
Beatrice memakai gaun warna hitam dengan potongan dada rendah dan belahan paha yang tinggi. Mengenakan Stiletto warna perak di kakinya. Rambutnya yang kemerahan ia gelung secara asal hingga riapannya terkesan seksi. Sungguh Beatrice sangat cantik malam ini.
Wanita itu mengambil satu gelas wine dari baki pelayan yang hilir mudik di ruangan itu. Acara akan segera dimulai, Beatrice memilih duduk di salah satu single table dan meminum winenya di sana.
"Selamat malam para hadirin sekalian. Di sini kita kembali berkumpul dalam acara gala dinner yang diadakan khusus oleh keluarga pebisnis fenomenal yakni Keluarga Triatmodjo!" ujar pembawa acara mengenakan setelan taxedo warna hitam. "Beri tepuk tangan!"
Semua bertepuk tangan. Satrio mendulang gelas sampange yang berisi sirup. Tentu pria itu menolak semua minuman beralkohol. Minuman itu hanya untuk tamu-tamu.
"Bersulang!" sahutnya.
"Bersulang!" sahut semua orang dala. gedung.
Pembawa acara juga menyapa wanita yang ada di sisi pria yang menjadi topik di malam ini.
"Ini kehamilan anda yang keberapa Nyonya?"
"Yang ketiga," jawab wanita cantik itu dengan senyum lebar.
"Apakah kembar lagi?" wanita itu mengangguk.
"Masha Allah ... Tuan Triatmodjo kau langsung mendapat enam anak dalam empat tahun berturut-turut!" sahut pembawa acara takjub.
"Ralat, tujuh! Karena yang ini ada tiga janin!" sahut pria itu.
Semua orang terpekik takjub. Abraham bertepuk tangan, ia juga berkata jika memiliki cucu hanya dalam empat tahun.
"Benarkah?" tanya Satrio dengan binaran mata takjub.
"Iya, yang pertama kembar tujuh dan yang kedua kembar tiga!" jawab Abraham bangga.
"Masha Allah!" puji pria itu takjub.
"Kami memang keluarga dari keluarga besar Tuan. Jika memiliki anak hanya satu, bukan gaya kami," ujar Satrio terkekeh.
Pesta berjalan dengan meriah. Tamu utama kembali hadir, keluarga Dougher Young, Starlight, Sanz dan Dewantara. Mereka adalah pebisnis yang bersatu karena pernikahan anak-anak perempuan Dougher Young dan Triatmodjo.
"Apa benar cucu anda sepuluh?" tanya Naisya Putri Hovert Pratama takjub.
"Iya Nyonya Dewantara. Cucu saya sepuluh!" sahut Maira dengan bangga.
"Tentu Nyonya," sahut Maira senang luar biasa.
Mereka larut dalam pesta. Beatrice yang datang sendirian, hanya mengambil kesempatan bertemu dengan para pemuka bisnis. Wanita itu mendapat empat kerjasama dari empat perusahaan dengan tender sedang.
Beatrice melihat Ramaputra tengah sendirian, pria itu sedang berkutat dengan ponselnya. Sungguh pemandangan itu teramat mempesona Beatrice, wanita itu pun mendekat.
"Tuan," panggilnya dengan suara seksi.
"Nona," sahut Ramaputra dengan senyum indah.
Beatrice begitu dekat dengan tubuh pria itu. Dua netra saling tatap, jemari lentik sang wanita merayap di dada bidang pria yang selalu menjadi objek mimpi basahnya.
"Tuan, apa anda ingin berdansa?" ajaknya dengan suara mendayu-dayu.
"Tentu," sahut pria itu.
Tubuh keduanya saling rapat, tangan besar Ramaputra merengkuh pinggang ramping Beatrice, mereka berdansa hingga ke balkon disaksikan bulan penuh.
Dua lengan wanita itu kini berada di leher pria tinggi itu. Lidah Beatrice berusaha mengenai bibir sang pria. Semakin ia mendongakkan wajah, ia tetap tak berhasil meraup bibir yang ingin sekali ia kecup itu.
"Tuan," rajuknya.
Mata wanita itu telah ditutupi gairah, ia ingin pria itu meremas gundukan dadanya, di bawah ia sudah merasa basah. Wanita itu menarik kuat leher pria yang dipeluknya.
"Nona!"
Beatrice nyaris nyungsep jika saja, ia tak berpegangan di pagar balkon. Dua pelayan pria menatapnya dengan pandangan entah. Muka Beatrice memanas, ia malu luar biasa, ternyata memeluk dan berdansa dengan Ramaputra hanya khayalannya belaka.
"Anda butuh bantuan Nona?" tanya salah satu maid dengan seringai mesum.
Beatrice adalah seorang player. Libidonya sudah tinggi, dua pria itu mendekati dan mulai menghimpit tubuhnya. Salah satu tangan pelayan pria meremas kuat gundukan kenyal milik wanita itu.
"Aaahh!" erang Beatrice lalu menggigit bibir bawahnya.
Salah satu pelayan merogoh di bawah, membelai di sana yang sudah basah. Pria itu mengigit cuping telinga wanita cantik itu.
"Jangan di sinih!" pinta Beatrice.
"Di mana Nona?" tanya keduanya dengan napas menderu.
Salah satunya berhasil memberi tanda di leher sang wanita hingga membuat Beatrice melenguh. Tangannya juga tak tinggal diam, menggosok tonjolan yang ada di tengah bawah pria.
"Kita ke taman Nona. Di sana ada bangku panjang dan sepi. Kita bisa ke sana!" ajak salah satu pelayan dengan suara berat.
Akhirnya ketiga manusia yang telah dirasuki setan itu pun pergi ke taman. Ketiganya memulai aksi bejat yang sudah dipucuk ubun-ubun mereka.
Sedang di dalam pesta. Ramaputra tadi pergi mendatangi besannya ketika Beatrice hendak mendekatinya. Pria itu mengajak pulang sang besan.
"Kita pulang yuk!"
"Kenapa? Kau merindukan istri atau putramu yang menggemaskan itu?" tanya Aldebaran meledek.
"Dua-duanya," sahut Ramaputra.
Akhirnya mereka pun pamit undur diri. Tamu utama juga pamit. Pesta masih berlangsung hingga pukul 00.00.. Akhirnya, Ramaputra pulang bersama Rudi. sedang Abraham pulang bersama istri dan ayahnya.
Sementara di rumah Manya, Amertha menginap di sana. Putranya benar-benar tak mau diajak pulang.
"Pidat bawu Moma ... Lees bawu bobo pisimi!"
"Ih ... adikmu ini!" gerutunya sebal dan geregetan.
"Mommy," peringat Manya sambil tersenyum lebar.
bersambung.
Ih ... Beatrice... jikjik😱
next?