
Seven A sudah pulang, rencana mereka untuk memulai bisnis sudah siap diluncurkan. Abraham yang begitu peduli dengan teman-teman yang kurang beruntung dalam uang, ia merekrut mereka untuk membantunya membungkus jualannya.
"Kamu bikin apa sih Abe?" tanya Santi anak kelas satu B.
"Ini paket mandi anak kos dari harga murah sampai yang sedang. Jadi satu pouch ukuran kecil, itu untuk keperluan traveling, paket sedang untuk ukuran seminggu atau dua minggu, ukuran besar untuk paket satu bulan, semua tergantung pemakaian," jawab Abraham.
"Ini paket traveling berapaan Abe?" tanya Anton yang ikut memilih beberapa pasta dan sikat gigi ukuran sedang bersama satu sabun mandi batang dan shampo ukuran 70ml.
"Eh ... kenapa nggak dikasih handuk mini juga?" usul Nita.
"Wah boleh juga, aku belum beli handuk ukuran kecil itu juga sih!" sahut Abraham tercerahkan.
"Semua paket pake handuk tentu beda ukuran. Khusus travel kita pake yang ukuran handuk good morning itu, sedang untuk yang sendiri sebesar 30x84cm. dan yang satu bulan kita bisa pakai ukuran standar 40x120cm," jelas Nita lagi.
"Kita bagi aja, sebagian pake handuk sebagian jangan pake handuk. Tapi, kita kasih selisih harga yang gak jauh beda gitu," sela Wati salah satu murid kelas satu C.
"Aku tau tempat kulakan handuk murah!" sahut Sandi. "Bapakku kerja di sana. Banyak barang rijek juga, kita bisa bikin keset dari handuk-handuk rijek itu!'
"Wah ... kalau begitu boleh kasih tau ya, berapa jika kita beli perlusin, perkodi atau perlembar?"
"Bisanya sih per lembar," jawab Sandi.
Abraham mengangguk tanda mengerti, kini puluhan paket sudah dipacking, bahkan sudah dibagi tiga untuk memudahkan.
"Jualnya di mana?" tanya Nita?"
"Untuk sementara, kita buat toko online dulu di internet, karena kita belum delapan belas tahun. Gimana kalau kita minta tolong sama kakak atau saudara yang sudah besar untuk membuatnya," jawab Abraham.
"Aku jual aja deh di pasar, gimana?" usul Rina menawarkan diri.
"Kebetulan ayah dan ibuku itu selalu menyuruhku berjualan di pasar untuk menambah penghasilan," lanjutnya.
"Boleh, nanti kita bantu ya, setelah pulang sekolah!" ujar Abraham.
Semua mengangguk setuju, walau Manya keberatan dengan ide putranya, tapi lagi-lagi sang kakek membela cucunya, ia suka dengan ide bisnis yang dipikirkan oleh ketujuh cucu kembarnya itu.
Sementara di perusahaan Ramaputra, Sintya kembali mencoba peruntungan untuk mendekati pria tua tapi masih tampan dan gagah itu. Ia sangat yakin jika pria itu tentu tak bisa dipuaskan oleh istrinya.
"Mau apa Nona!' tegur Rudi ketika melihat gadis itu hendak membuka pintu ruangan atasannya. Sintya menoleh, gadis itu lalu mendekati pria yang juga tampan.
"Tuan Hardiansyah, saya ingin bicara masalah kesepakatan kemarin," ujarnya lalu tangannya membelai kemeja sang pria.
"Ada jadwal meeting jam tiga sore nanti!" tukas Rudi lalu menepis tangan Sintya kasar.
"Ck ... jangan munafik Rud!" sergah Sintya sinis.
"Kau menikahi Leticia untuk mengangkatmu agar naik pamor di kalangan bisnis kan?" tuduh gadis itu tanpa alasan.
"Apa maksudmu Nona?" tanya Rudi mengernyit tak mengerti.
"Kau tau, aku kasih perawan Tuan Hardiansyah, apa yang ada padaku tentu tidak kau dapatkan pada istrimu dulu kan?" ujar Sintya licik.
"Jika kau perawan kau tentu tak merendahkan diri anda untuk menggoda suami orang Nona!" sahut Rudi tegas.
"Dan tentang istriku, siapa bilang dia tak memberikan kesuciannya padaku?" lanjutnya tentu berbohong.
Sintya diam, ia tak yakin jika jaman yang sudah maju seperti ini masih ada perempuan mampu mempertahankan kesuciannya.
"Jangan berbohong Tuan Hardiansyah!"
"Sekarang silahkan datang pada meeting jam tiga sore nanti untuk membahas proyek lain, anda bisa mendapat sedikit ilmu dari Nona Beatrice Laudya Pramana, nanti!" ujar Rudi setengah mengusir gadis itu.
Sintya menghentakkan kakinya. Ia pun berlalu dengan wajah kesal, Leticia ada di balik dinding dan mendengar semuanya. Satu titik air menetes di pipinya.
"Suamiku menutupi aibku,' cicitnya lirih.
Leticia hendak mengantar makan siang suaminya, ia tadi pergi ke sebuah perusahaan yang tak jauh dari perusahaan ayah yang dulu mengasuhnya. Perempuan itu berniatan untuk mampir sambil makan siang bersama.
Leticia sudah memberitahu Ramaputra jika ia akan datang bersama dua bayi dan dua susternya untuk makan siang bersama. Ia pun telah membeli banyak makanan untuk semuanya. Leticia juga tahu jika Amertha juga ada di sana.
Leticia dan Sintya berpapasan. Sintya menatap Leti hingga sampai menoleh kepalanya dan melihat bagaimana Rudi langsung tersenyum bahagia melihat kedatangan istri dan dua anak kembarnya.
"Sayang, kamu datang!"
Bahkan ciuman cepat di bibir keduanya dilihat jelas oleh Sintya. Tatapan cinta Rudi pada istrinya, membuat Sintya iri.
Rudi membawa istri, dua anak dan suster mereka masuk ruangan. Amertha langsung memeluk putrinya itu sedang Ramaputra menggendong dua bayi yang berusia sama dengan putrinya.
"Halo Raiden dan Raichia," sapa pria itu.
"Bababababa!" dua bayi sudah lincah kakinya terangkat keatas mereka minta gendong.
"Mau gendong .. mau gendong?" goda Ramaputra.
"Hah!" pekik kesal dua bayi pada kakeknya.
Ramaputra terkikik geli, ia akhirnya menggendong satu persatu bayi itu. Sementara itu Jovan tengah rapat internal pada divisi rumah sakit, pria itu memang sudah akan mengakhiri tugasnya sebagai kepala rumah sakit dan menyerahkannya pada Manya, sang istri.
"Jadi mari kita sambut kepala rumah sakit baru Dokter Manya Aidila Artha Sp.B. MARS!" sahut Praja memperkenalkan kepala rumah sakit yang adalah istri dari tuannya sendiri.
Semua bertepuk tangan, pemegang saham juga sangat setuju jika Manya yang menjadi kepala rumah sakit, wanita itu pun mengurangi jadwal operasinya. Dua adiknya ada di ruangan praktek bersama dua perawat yang menjaganya.
"Selamat Dok!" ujar salah satu rekan sejawat Manya.
"Terima kasih Pak, saya akan membangun rumah sakit ini agar lebih bisa menerima dan menampung seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan kesembuhan penyakitnya. Saya akan membuka kembali program asuransi kesehatan baik yang dibuat oleh pemerintah maupun swasta!" ujar wanita itu lagi.
"Enak ya kalau suami yang punya rumah sakit, istrinya yang jadi kepala rumah sakit," celetuk salah satu dokter cantik.
"Tentu saja. Saya berhak meminta istri saya mengepalai rumah sakit milik saya!" sahut Jovan pedas.
"Omongan anda itu tak mencerminkan orang berpendidikan Dokter Lusiana!" sindir Jovan lagi sarkas.
Lusi terdiam, ia adalah dokter baru yang bisa masuk rumah sakit besar dan memiliki fasilitas mewah ini. Selain bayaran besar dan tunjangan fantastis, ia melamar dan diterima.
"Kau dokter baru ya?" tanya Profesor Ridwan.
Lusi mengangguk, ia belum sadar jika ia baru saja menghina istri pemilik rumah sakit.
"Mestinya kamu tau batasa SOP antara karyawan dan pemangku staf khusus rumah sakit. Masih untung kau diundang sebagai bagian dari rumah sakit ini Dokter!" terang pria berusia empat puluh tahun lebih itu.
bersambung .
kadang pendidikan tinggi itu tak mencerminkan akhlak.
next?