
Kehamilan Amertha menjadi berita besar. Wanita yang sudah menginjak usia lima puluh tahun lebih itu tengah mengandung dengan usia lima minggu. Masih rentan dan sangat muda.
'Jangan terlalu lelah sayang," peringat Ramaputra penuh perhatian.
"Mom, ini berbagai vitamin dan juga obat penguat janin,"
Manya meletakan satu kantung vitamin dan juga penguat janin. Wanita yang juga tengah menanti kelahiran bayinya itu juga menulis menu makanan yang harus dimakan oleh ibunya itu.
"Sayang ... kenapa banyak sekali?" keluh Amertha.
"Mommy, aku ingin adik laki-laki, mudah-mudahan obat ini membantu meningkatkan asam folat hingga janin yang terbentuk adalah laki-laki!" ujar Manya menjelaskan.
"Nggak mau sayang, aku tak masalah mau laki-laki atau perempuan,' tolak Amertha.
"Mommy," rengek Manya lagi.
"Sayang," Amertha memberi pengertian pada putrinya.
Sedang seven A tengah sibuk dengan buku bergambar yang diberikan sang kakek.
"Wah ... imi dambal wewan ... yan imi pa'a Popa?' tanya Laina.
'Ini namanya gajah,"
"Dajah peusal," ujar Laina.
"Punyina badhaipana Popa?" tanya Lika antusias.
"Oh, ini suaranya,"
Ramaputra mengambil ponselnya lalu meminta aplikasi membunyikan suara gajah. Semua anak bertepuk tangan meriah.
"Popa suala wewan bainna!" pinta Abraham.
"Mau suara apa?"
"Binopaulus!'
"Maaf suara yang anda minta tak ada di memory kami!"
"Wah ... bonsel Popa pisa nomon!" pekik Syah bertepuk tangan dan takjub.
"Bana mulutna Popa!?" tanya Bhizar mencari mulut di ponsel.
"Tidak ada Baby, ini memakai sistem jadi bisa menjawab pertanyaan apa saja," jawab Ramaputra terkekeh.
"Pati padhi eundat pisa pawab suala binopaulus?!' sahut Syah lagi.
"Karena ponsel Popa tidak mengerti bahasa kalian," jawab Ramaputra.
"Oh ... peulalti peulum candih bonsel Popa!' sahut Agil mengangguk.
'Peunal-peunal!" sahut semua ikut mengangguk.
Ramaputra mencebik kesal pada semua cucunya. Memang kecerdasan seven A tidak bisa ditakar oleh akal pikiran manusia dewasa.
"Moma ... teunapa pidul laja teulus?' tanya Abraham.
Bayi itu hendak naik ke kasur, namun dilarang oleh ibunya.
"Baby ... jangan sayang, Moma sedang hamil, nggak boleh banyak gerak,"
"Moma bamil?" tanya Abraham tak percaya.
"Iya Baby?"
"Bi peyutna Moma lada baby?" tanya Abraham dengan mata bulat tak percaya.
"Iya baby!" sahut Manya dengan senyum lebar.
"Blo ... Sis!" panggilnya pada semua saudaranya.
Kini mereka duduk di pinggir ranjang dan mengusap perut nenek mereka.
"Talo lahin ... pita pandhil pa'a mih?" tanya Abi bingung.
"Pom Payi?' lanjutnya.
"Dedet Pom!' sahut Lika tercerahkan.
"Eundat badhus ... eundat padhus!" geleng Bhizar.
"Pa'a don?" sahut lainnya kesal.
"Pita pandhil Pom teusil!'
"Pide yan badhus!' sahut Abraham setuju.
"Bagaimana jika baby-nya perempuan?" tanya Amertha.
"Halus lati-lati Moma!" sahut Abi.
"Beulempuan judha eundat pa'a-pa'a!" sahut Agil ingin berkompromi.
"Wah!"
"Ah ... jangan!' pekik Amertha takut.
"Woh ... teunapa Moma ... pial Pom lan Pantina banat!" sahut Agil.
"Nggak kuat bawanya!"
"Moma ... eundat poleh beunolat leujeti!" nasihat Abraham bijak.
Amertha merengut, Jovan yang dari tadi merekam semua percakapan bayi-bayinya nyaris tertawa jika tak dipelototi ibu mertuanya.
Sedang di mansion Abraham, Maira masih setia termenung. Wanita itu menatap perutnya yang rata. Ia masih mendapat siklusnya walau hanya dua bulan sekali. Menurut dokter, masa suburnya sudah lewat. Rahim masing-masing wanita itu berbeda-beda, ada yang masih bagus indung telurnya makanya ketika dibuahi akan berhasil dan terjadilah kehamilan.
"Jika Nyonya mau program hamil, kita bisa pakai sistem bayi tabung," tawar Dokter itu.
Abraham menolak ketika Maira meminta program hamil dengan cara bayi tabung.
"Sayang, cucu kita sudah banyak ... ingat sepuluh ... ada sepuluh!" sahut pria itu gusar.
Abraham masuk kamar mendapatkan istrinya tengah memandang kosong jendela kamar yang menampakkan taman.
"Sayang!" panggilnya dengan suara pasrah.
Maira bergeming. Sang suami mendekati istrinya, lalu menyentuh bahu. Barulah Maira terkejut dan menoleh.
Netra hitam itu tampak berkaca-kaca. Abraham menghela napas panjang. Ia membelai rambut sang istri lalu mengecup keningnya lama.
"Sayang, mungkin Tuhan hanya menitipkan Jovan saja sebagai putra kita satu-satunya," ujar Abraham menenangkan sang istri.
Maira menunduk dan kembali memandang taman melalui kaca kamarnya.
"Sayang!" panggil Abraham gusar.
"Iya aku mengerti, tenang lah," sahut Maira.
Abraham lalu menggendong istrinya ke ranjang. Maira terpekik takut. Wanita itu memeluk erat leher suaminya. Pria itu merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang mereka.
Dua netra saling menatap. Sungguh Maira masih sangat cantik di usianya yang menjelang enam puluh tahun itu. Abraham membenamkan bibirnya di bibir sang istri.
Pria itu menggerakkan salah satu organ tubuhnya. Maira pun membalas pagutan sang suami. Hingga makin lama, pagutan itu makin dalam dan menuntut. Abraham bangkit dari ranjang. Maira berdecak kecewa.
"Sayang!"
"Tunggu, kunci pintu dulu!" ujar Abraham.
Setelah itu, kegiatan panas terjadi di dalam kamar. Aldebaran yang mendengar pintu terkunci hanya menggeleng.
"Sepertinya lucu jika aku menikah lagi?" gumamnya pelan.
Sedang di tempat lain, Bernhard tampak menatap sosok wanita yang kemarin ia tolak. Lana begitu sangat luar biasa melakukan presentasi bisnisnya. Benar kata Abraham, jika Lana berkembang begitu pesat.
"Kau hebat," pujinya.
Lana sempat menoleh, lalu ia mengangguk dan kemudian abai pada pria itu. Bernhard kesal luar biasa. Tak ada satu wanita yang bisa berpaling darinya, dan Lana baru saja melakukannya.
Lektor mendekati wanita itu dan melakukan perkenalan. Pria itu tersenyum pada sahabatnya dengan seringai jahilnya.
"Halo Lana, kenalkan aku Lektor," ujarnya menjulurkan tangan.
"Lana Ariana," sahut gadis itu.
"Nama yang cantik secantik orangnya," puji Lektor menggombal.
Sayang, tak ada rona merah di pipi sang gadis. Ia hanya tersenyum datar menanggapi gombalan Lektor.
Lana memilih pergi meninggalkan dua pria tampan itu. Lektor sangat penasaran dengan gadis yang jual mahal seperti Lana itu.
"Lana dan Lektor. Sepertinya bagus di kartu undangan pernikahan," kekeh pria itu.
Bernhard benar-benar kesal. Pria itu ingin sekali menghajar sahabatnya. tetapi ia ingat jika dia lah yang menolak Lana kemarin.
"Kau kan nggak suka karena dia tidak gadis lagi. Jadi biar Lana buat aku, kau cari perawan saja, mungkin Neni tak mempermasalahkan dirimu yang pernah memiliki dua pacar dan sudah hidup bersama," sindir sang sahabat.
"Berengsek kau!" umpat Bernhard kesal.
"Kita sama-sama berengsek Ben! Ingat itu!" tekan Lektor.
Pria itu meninggalkan sahabatnya. Bernhard menatap proposal kerjasama yang diajukan oleh Lana barusan.
"Hanya butuh bulan ia membuktikan jika tanpa menikah denganku, ia bisa berhasil bangkit dengan usahanya sendiri," gumamnya.
Lalu, pria itupun tersenyum penuh rencana. Ia mendapat sela untuk mendapatkan Lana.
"Dia kemarin datang kepadaku. Kupastikan dia akan datang kembali padaku!" tekad Bernhard.
bersambung.
terus maju Ben!
next?