
Waktu berlalu dengan cepat. Manya marah besar pada Wanda karena membangunkan bayinya pagi buta.
"Tapi nyonya, mereka adalah calon pewaris, mereka harus terbiasa!" sahut Wanda keras.
Semua bayi menangis karena masih mengantuk. Para suster menenangkan bayi-bayi itu.
"Aku tak peduli jika karena ini mereka tak masuk ahli waris!" teriak Manya lagi.
Hal itu membuat Maira dan Abraham meminta Wanda untuk tak mencampuri kepengurusan cucu-cucu mereka.
"Tapi, tuan saya melakukan atas perintah tuan besar terdahulu, bahkan Tuan muda Jovan harus bangun pagi buta padahal ia baru saja lahir ke dunia ini!"
"Aku akan pergi dari rumah ini dan tak jadi menikah dengan tuanmu!" teriak Many kesal bukan main.
"Sayang jangan lakukan itu!" peringat Maira.
Wanita itu tak mau kehilangan cucunya. Ia menatap tajam pada Wanda yang mulai banyak bersuara sekarang.
"Jangan sampai nasibmu sama dengan Nana, Wanda!" peringatnya setengah mengancam. "Ingat, aku adalah majikanmu!"
Wanda membungkuk hormat. Ia hanya menjalankan tugasnya. Jovan sedang di kamar mandi jadi tidak tau apa yang terjadi.
"Mami, aku tak mau menyusahkan semua putra dan putriku mami. Ia harus tumbuh sesuai usia mereka," rengej Manya setengah merajuk.
"Iya nak ... iya, aku akan menyerahkan semua keputusan dan kepengurusan anak padamu, kau dokter pasti tau apa yang terbaik bagi cucu-cucuku!" ujar Maira menenangkan menantunya itu.
Abraham bersyukur, ayahnya memilih tinggal di luar negeri. Pria itu melepas tanggung jawabnya pada semua perusahaan ke tangan anak dan cucunya.
"Sayang, kau belum mengundang daddy datang ke acara pernikahan cucunya kan?" tanya Maira.
"Ck, aku malas," tolak pria itu.
Manya sudah masuk kamar anak-anak menyusui mereka dan membuat ketujuh kembar itu tertidur kembali.
Maira menarik suaminya dari sana. Mereka menjauh agar tak terdengar siapa pun.
"Kau tau, daddy bahkan tak bereaksi ketika kukatakan jika putra kita kecelakaan dulu," jawab Abraham ketika mereka sudah menjauh.
"Tapi, daddy punya feeling kuat jika Jovan masih hidup," terang Maira.
"Tapi, setidaknya ia juga khawatirkan cucunya," keluh Abraham.
"Apa yang kau lakukan jika tiba-tiba daddy datang?" Abraham menatap istrinya.
"Aku akan melindungi menantu juga semua cucuku!" tekan pria itu.
Semua sudah siap. Para bayi dibiarkan tidur di kamar mereka bersama para suster, Denna, Leni, Retta, Neni menjaga para bayi dan akan menyiapkan mereka ketika sudah bangun.
Manya duduk di sisi Jovan. Di sana Anton dan dua warga desa lembah bersaksi atas pernikahan Manya dan Jovan sebelumnya. Begitu juga surat nikah mereka yang bermaterai.
"Jadi nyonya, anda bernama Manya Aidila Binti Ramaputra Artha?" Manya mengangguk.
Jovan mengernyit, ia seperti mengenal nama itu. Dulu ketika awal akad tentu ia tak ingat apapun. Manya juga menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan.
"Maaf nyonya, kami menjalankan tugas jadi harus kembali bertanya perihal pribadi nyonya," ujar petugas pencatat nikah itu.
Setelah bertanya, akhirnya Jovan harus mengulang kembali ikrarnya.
"ini hanya biar kuat saja, karena waktu itu Tuan Dinata hilang ingatan, jadi sekarang ingat semua," ujar penghulu.
Jovan mengucap sumpahnya dan di sahkan oleh para saksi yang hadir. keduanya kini sah menjadi suami istri di mata agama dan juga negara.
Usai akad mereka berjalan kaki menuju paviliun. Di sana sebuah dekorasi awan serba putih dan ada nuansa biru yang menandakan langit. Ketujuh anak kembar Manya sudah ada di sana mengenakan baju kemarin.
"Mama ... mama!" teriak mereka.
Manya dan Jovan menciumi mereka. Anton sang kepala desa begitu takjub melihat tujuh bayi itu.
"Kamu punya anak kembar tujuh nak?" Manya tersenyum dan mengangguk.
"Astaga mereka mirip sekali ayahnya, kau tak diberi sedikitpun!" kelakarnya.
Semua terkekeh mendengarnya, Abraham meminta semua tamu untuk menikmati hidangan yang tersedia. Manya dan Jovan bermain bersama tujuh anak kembar mereka.
Tak lama satu persatu tamu datang. Mereka memberi selamat pada sepasang pengantin. Bahkan banyak kolega terkejut dengan keturunan Dinata yang sangat banyak.
Maira tengah bersama teman-teman sosialitanya.
"Wah, cucumu langsung banyak, sudah seperti kucing saja," sindir salah satu wanita dengan gaun mahalnya.
"Tidak apa, berarti rahim menantuku subur, tak kering dan hanya punya anak satu seperti aku!" sahutnya santai.
"Itu lebih baik dari pada tak memiliki keturunan sama sekali," ujar salah satu membela Maira.
Makin lama, tamu yang datang makin banyak. Anak-anak makin heboh dengan orang-orang yang datang.
"Mama lolana banat setali mama!" seru Agil.
Bando bayi cantik itu entah dicampakkan kemana. Begitu juga dua bayi perempuan lainnya.
"Oh ini cucu-cucu kalian?" tanya salah satu kolega Abraham.
"Ya, ini cucu-cucu kami!"
"Mama spasa lolan ipu? Tot tasan setali!" bisik Bhizar tak suka.
Jovan berdiri di hadapan pria itu. Ia menatap tajam siapapun yang ingin merendahkan istrinya.
"Dari kampung mana istrimu kau dapatkan?" tanya pria itu begitu berani.
"Saya dari kota M tuan," jawab Manya tanpa risih sama sekali.
Kota M, merupakan kota besar dan paling maju di antara semua kota.
"Apa kerjanya, ibu rumah tangga?" tanyanya lagi remeh.
"Dia seorang dokter umum di rumah sakit xx, tuan!" sahut Jovan dingin dengan seringai sadis.
Pria itu menelan saliva kasar. Jovan memanggil Praja.
"Saya Tuan!" sahut Praja.
"Kaji kembali perusahan Tuan Susno, jika tak sesuai batalkan!" titah Jovan.
Pria bernama Susno langsung pucat.
"Ah, saya hanya bertanya Tuan Dinata, kenapa kau serius sekali!"
"Aku paling tidak suka dengan orang yang tak tau malu seperti dirimu Tuan Susno!" tekan Jovan datar.
Susno merayu Abraham, ayah dari Jovan mengangkat tangan tak mau ikut campur.
Bahu Susno turun. Ia menyesal begitu dalam bertanya perihal wanita yang menjadi istri dari Jovan. Perusahaannya sangat tergantung dengan perusahaan pria yang istrinya baru saja ia rendahkan.
Pesta berlangsung khidmat tanpa musik dan tanpa hingar-bingar. Manya memang ingin ketujuh anaknya nyaman dengan suasana. Jadi perihal kemewahan ia tak peduli sama sekali. Kini ketujuh anaknya sudah bangun dari tidur siang. Mereka juga susah berganti baju yang nyaman. Manya juga telah mengganti kebaya putihnya menjadi gaun sederhana.
"Mama ... mawu tutu sobeli!" pinta Syah merengek.
Bayi itu sudah menarik-narik gaun Manya. Wanita itu menggendong bayinya menuju ruang khusus menyusui. Para suster mengangkat bayi-bayi satu persatu. Karena pasti merek juga ribut ingin menyusu.
"Mama yan lasa soslat mana?" teriak Abraham.
Dari balik tirai, semua anak menginginkan rasa susu yang berbeda. Jovan masuk ke dalam dan melihat dua bayinya menyusu ala sapi.
"Jangan dihabisi ya susunya, papa nanti malem mau jadi anak mama," kekeh pria itu.
Manya membola. Ia sangat kesal dengan ajaran salah sang suami pada ketujuh bayinya itu.
"Apa sih mas!"
"Eundat pa'a-pa'a mama ... beuntal tasih tutu yan lasa mendudu!" sahut Syah lalu kembali menyusu.
bersambung.
nah kan mau dikasih susu rasa mengkudu sama anaknya. ...ðŸ¤ðŸ¤
next?