
Abhizar dan Abraham kini berada di depan ayahnya. Sedang saudaranya yang lain memeluk dua saudaranya yang menangis.
"Hei ... mereka masih bayi. Bahkan kita dulu sering berkelahi ketika kecil dulu," peringat Gerard.
Jovan hanya menghela napas panjang. Memang jika bersaudara pasti akan ribut. Ia juga ingat jika dulu suka adu debat tak jelas dengan Gerard bahkan hingga sekarang.
"Mama nggak suka kalau sesama saudara saling berantem kayak tadi," ujar Manya tegas.
"Hiks ... hiks ... mamap mama ... hiks ... hiks!"
Manya tak tega, namun ia ingin semua anak-anak saling sayang menyayangi satu dengan lainnya.
"Sayang, dengar mama,"
Wanita itu duduk dan menyamakan tingginya. Ia menatap tujuh anak kembarnya yang sebenarnya saling menyayangi itu.
"Jika Bhizar tidak ada maka Abraham juga tidak ada," jelasnya.
"Sini mama peluk,"
Semua bayi memeluk ibu mereka. Gerard menatap kagum Manya. Ia salut sepupu misannya itu mendapat wanita baik sebagai istri pria itu.
"Kau beruntung, Jov!" pujinya.
Jovan tersenyum. Sedang Lektor, Bima, Hasan dan Bernhard hanya jadi penonton setia. Mereka juga akan mencari sosok wanita seperti Manya.
Acara barbeque masih berlanjut. Kini anak-anak makan steak yang telah dipotong kecil-kecil oleh Bima. Lalu anak-anak mau tidur di tenda.
"Papa yayah ... pita bawu pidul bi penda ya!" angguk Syah langsung masuk.
Di dalam tenda banyak tersusun bantal-bantal. dan alas yang tebal.
"Baby di kamar aja," celetuk Bima.
"Biar Om yang di tenda!" lanjutnya.
"Pana pisa beudithu!" sahut Syah tak terima.
"Biya, beustina lolan pewasa meunalah syama nanat teucil," sahut Agil dengan mengangkat dagunya.
"Tapi di sini nanti ada setan loh!" sahut Hasan kini menakut-nakuti.
"Hasan!' peringat Bernhard.
"Petan?"
"Tetan?"
Baik Bernhard, Lektor dan Bima juga Gerard menahan tertawa mendengar sebutan makhluk hantu itu.
"Jadi nggak serem kan kalo udah sama mereka mah," sahut Bima terkekeh.
Hasan memutar otak agar anak-anak tidak mau di tenda. Para pria dewasa itu hendak menonton dan baca majalah porno yang sengaja mereka bawa. Inilah kegilaan lima bersahabat ini.
"Kalian tau di sini juga banyak hewan buas, ada harimau, beruang dan serigala," lanjutnya tetap berbohong.
"Aauuuu!" Gerard menirukan suara serigala.
Ketujuh A ini saling pandang satu sama lain. Bayi-bayi cerdas itu tak mudah dibodohi terlebih Manya dan para suster mengajari mereka.
"Pinatan-pinatan ipu tan beumpatna bi wutan!" sahut Lika dengan pandangan memicing ke arah semua orang dewasa.
Manya melipat tangan dan melihat sejauh mana para pria itu membodohi putra dan putri kembarnya itu.
"Biya, sejat tapan bumah imi lada pinatan puasna?!" sahut Abraham kini.
"Wah ... atuh pahu!" sela Abi sambil menepuk tangannya sekali.
"Pa'a?" tanya Agil dan Bhizar bersamaan.
"Pom Pasan basti peulpohon, beunel tan?!" terkanya langsung.
Jovan menutup mulutnya, sedang yang lain memilih menoleh arah mana saja agar tak tertawa melihat betapa bodohnya Hasan di mata para seven A.
Hasan menggerutu tak jelas. Ia tetap ingin anak-anak tidak tidur dalam tenda.
"Om yang mau tidur di tenda ini!' ujarnya kemudian .
"Tenapa? Butan Pom Pasan woh yan banun penda pati papa yayah!" sahut Laina kini.
"Bemanan papa yayah eundat padhi nanat mama ladhi?" tanya Lika dengan mata bulat dan polos.
"Masih baby!' sahut Jovan tak mau jika Manya melarangnya 'menyusu' lagi.
"Tot Mama bipindal peundilian?" tanya Laina sambil melipat tangan di dada.
"Babies ... ayo ... Mama ngantuk!"
Manya sudah menguap tertahan. Tujuh anak menurut. Mereka mengikuti ibu mereka sedang para suster sudah tidur dari tadi.
Akhirnya Hasan merebahkan diri di dalam tenda, begitu juga yang lainnya. Mereka berlima satu tenda. Satu buah laptop di letakkan di atas pintu tenda bagian dalam. Semua melepas celana jeans mereka dan hanya menyisakan bokser.
"Apa tantangannya sekarang?" tanya Bernhard kini.
"Siapa yang tak berdiri, dia yang menang!" sahut Bima usil.
"**** ... kau kira aku impoten!" sergah Bernhard kesal.
"Oh ... mungkin dia sudah," sela Jovan mencela.
"Atau jangan-jangan kau sudah belok?" tanya Gerard makin membuat Bima kesal.
"Kalian berengsek. Aku masih normal bodoh!" makinya.
Semua terkekeh. Video diputar. Semua telinga mendengar degup kencang jantung mereka. Kali ini Jovan paling beruntung karena akan langsung bisa mencari istri untuk melepaskan diri.
Adegan demi adegan berjalan. Film dengan durasi hanya sekitar dua puluh menit. Belum ada yang turn on karena pemain film khusus dewasa ini langsung masuk tanpa pemanasan. Hingga ketika tayangan kedua jauh lebih membuat kelimanya tak berhasrat karena bercinta dengan kekerasan dan alat-alat penyiksa.
"Kenapa seperti nonton film boneka chucky?" protes Bernhard kesal.
Hingga film berakhir. Tak ada satu pun yang membuat kelima pria berdiri. Hal itu menjadi perdebatan di antara mereka.
"Siapa yang mengambil film ini sih?" tanya Bernhard lagi kesal.
Pria itu memakai lagi celananya. Hasan dan lainnya saling tatap.
"Aku hanya asal mengambilnya di laci perusahaan," jawab Jovan.
"Astaga kau gila menyimpan video itu di kantormu!" pekik Gerard tertahan.
"Makanya aku ambil dibanding ayahku yang ambil!" sahut Jovan tak kalah sengit.
"Biasanya kau banyak film San, kenapa sekarang kau tak bawa?" tanya Bima kini ikut memakai celananya.
"Ketauan nyokap dan dibakar habis sekaligus buku-bukunya," gerutu Hasan menjawab pertanyaan Bima.
Semua tertawa meledek pria itu. Hasan berdecak mendapati dirinya diledek sedemikian rupa.
"Mestinya kau Bernhard, kau juga pengoleksi kan?" sahut Hasan menatap pria yang masih memakai boksernya.
"Ada," jawabnya tenang.
"Sialan kau, kenapa tak bilang dari tadi!" sergah Bima dan Bernhard melepas lagi celana jeans mereka.
Bernhard bangkit dan mengambil flashdisk dalam saku celananya. Hal paling aman menyimpan semua file rahasia demi melestarikan kegilaan mereka semua.
"Pokoknya kita harus seperti ini sampai semuanya menikah baru berhenti!" sahut Hasan semangat.
Mereka kembali tiduran dan degup jantung semuanya lagi-lagi terdengar keras.
Film berputar. Adegan demi adegan kembali berjalan, kali ini semua langsung turn on karena pemainnya begitu ahli dalam memberi adegan bercinta yang baik dan benar. Film dengan durasi tayang satu jam tiga puluh menit itu full dari awal perkenalan sepasang manusia hingga mereka berkencan dan melakukan foreplay selama berpacaran. Hingga mereka menikah dan adegan malam pertama membuat kelima pria dewasa itu dibanjiri peluh dan napas menderu. Jovan tak tahan, pria itu langsung bangkit dan meninggalkan semua sahabatnya. Ia sangat percaya tak akan terjadi di luar kendali mereka. Jovan selalu bersama mereka melihat adegan itu selama persahabatan lima tahun mereka.
Jovan mengangkut istrinya ke kamar mereka dan langsung menancapkan dirinya yang sudah tegak berdiri.
"Kita harus ke kamar mandi dan menuntaskannya dengan sabun!" ujar Bernhard juga sudah tak tahan.
Video berhenti. Laptop disimpan rapi. Bima, Gerard, Hasan dan Bernhard masuk kamar tamu yang ada kamar mandinya. Mereka akan melepas semua benih yang sia-sia terbuang di closed.
"Ah ... bye-bye junior-junior ku!" sahut Gerard ketika melepas semuanya.
bersambung
gila mereka!
next?