
Amertha dan Maira berencana ingin menyekolahkan tujuh cucu kembar mereka. Hal itu ditentang keras oleh Manya sang ibu.
"Nggak mi ... mom, aku nggak setuju!" tolaknya tegas.
"Tapi, itu baik untuk perkembangan anakmu," ujar Amertha yang diangguki oleh Maira.
"Nggak mom, aku akan menyekolahkan sesuai dengan usianya nanti, lima tahun!" putus wanita itu tegas.
Manya memang tak setuju dengan program belajar dini pada anak. Pikiran mereka seharusnya dibiarkan bebas tanpa ada yang mengatur. Manya memilih membebaskan putra putri kembarnya untuk memiliki imajinasi luas. Wanita itu hanya akan mengarahkan saja jika salah. Amertha dan Maira pun tak memaksa keinginan keduanya.
"Kita ajak saja diam-diam, jeng," bisik Maira.
Amertha menggeleng, ia takut akan kemarahan putrinya nanti. Walau baru saja menjadi ibu bagi Manya, putri yang baru saja ia dapatkan setelah tiga puluh tahun berpisah. Amertha yakin jika Manya akan keras dengan semua keputusannya.
"Tidak ah ... lebih baik kita saja yang mengajari anak-anak," ujar wanita itu menolak.
Maira akhirnya mengikuti apa kata besannya.
Jovan memilih membeli rumah sederhana yang dekat dengan kedua mansion orang tuanya begitu juga dengan kedua mertuanya. Sebuah rumah bertingkat dua dengan luas tanah 500m² dan bangunan seluas 280m². Ia juga memperkejakan lima maid untuk membantu Manya mengurus rumah itu. Wanita itu begitu antusias melihat hunian barunya. Sedang rumahnya terdahulu, Manya memilih di-over kredit saja pada orang lain.
"Bagaimana sayang? Apa kau suka?" tanya Jovan lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Manya mengangguk. Ia bahagia dengan pilihan rumah yang suaminya berikan. Sebelas kamar utama dengan delapan kamar mandi dan empat kamar maid dan satu gudang besar bagian belakang. Manya bisa berkreasi kebun di taman belakang dan depan rumah mereka.
"Ayo kita bercinta sayang," ajak Jovan dengan mata sudah diselimuti gairah.
Rumah itu sepi belum ada penghuninya. Bahkan tak ada ranjang maupun sofa. Jovan mengajak istrinya melakukan ritual mesra di lantai yang dingin dan keras. Napas keduanya memburu setelah pria itu menanamkan benihnya di dalam rahim sang istri.
Dinginnya lantai tak membuat keduanya tak berkeringat akibat aktifitas panas mereka satu jam lalu.
"Sayang," rengek Manya manja.
"Iya sayang," sahut Jovan memeluk tubuh istrinya yang hanya dialasi baju mereka yang berserakan di lantai.
Keduanya masih telanjang dengan peluh yang menempel di badan mereka. Jovan memeluk erat tubuh sintal istrinya itu.
"Kita pulang yuk ... aku kangen dengan seven A," ajak Manya dengan lirih.
"Ayo," sahut Jovan namun ia malah mengeratkan pelukannya.
Pria itu kembali memasuki istrinya dengan penuh kelembutan. Keduanya mendaki lembah kenikmatan untuk kedua kalinya di atas lantai beralas pakaian mereka. Hingga kedua kalinya Jovan menanam bibitnya berharap akan tumbuh banyak anak di sana.
"Sayang ... aku ajak pulang kok malah ...."
Rengekan Manya tak terdengar karena Jovan cepat membungkam mulut istrinya dengan mulutnya. Pria itu benar-benar memuja sang istri.
"Kau sangat nikmat sayang," sahutnya.
Lalu tak lama keduanya benar-benar pulang. Keduanya terkekeh mengingat apa yang mereka lakukan tadi.
Abraham dan Maira terkejut akan keputusan Jovan pindah dan mengajak istri dan tujuh anaknya tinggal di hunian yang baru saja ia beli.
"Kok gitu sih!" sergah Maira kesal dan pasti menolak keinginan putranya pindah.
"Mami ... please, kami tak terus-menerus tinggal di sini, kami harus mandiri sebagai suami istri," ujar Jovan memberi pengertian.
"Lagian kami lelah jika harus menginap mansion mami papi lalu ke mansion mertua!" keluh pria itu melanjutkan.
"Kalau punya rumah sendiri, setidaknya kalian yang datang ke rumah. Baru sesekali kami menginap di mansion kalian!"
Maira cemberut, ia sedikit ngambek. Abraham menenangkan istrinya. Aldebaran menyerahkan semua keputusan Jovan pada cucunya itu.
"Wah ... pita bindah lumah?" tanya Abhizar dengan mata bulatnya.
"Bumahna dedhe pa'a teucil?" tanya Syah.
"Nanti kalian tau kok, sudah saatnya kalian punya kamar sendiri masing-masing," ujar Jovan.
"Pati pita basih bobo ama mama tan?" harap Ailika dengan mimik sedih.
"Tentu baby, kalian masih bisa bobo Ama mama!" sahut Manya.
"Iya, kalau mau bobo sama mama, nggak boleh minta susu lagi ya, kan sudah besar,' ujar Jovan mengingatkan.
"Oteh ... basal papa eundat binum tutu judha!" sahut Abraham dengan mengangguk.
"Beunel ma, papa eundat binum tutu syama mama?" tanya Abi dengan mata berkaca-kaca.
Bayi itu yang masih susah disapih. Ia masih menangis jika Manya memberi kunyit pada kisaran areolanya. Tangisan Abi begitu sedih dan mengundang semua saudaranya ikut menangis. Hal itu membuat Manya jadi tak tega dan membersihkan areolanya dari kunyit.
Manya memilih sendiri semua barang-barang yang menjadi isi dari hunian baru mereka. Seminggu sudah rumah baru sudah terisi oleh barang-barang yang dipilih istri dari Jovan Dinata itu. Konsep warna terang dan lembut menjadi pilihan wanita itu. Kamar anak-anaknya juga telah diisi sesuai karakter masing-masing. Walau Manya masih menempatkan mereka di satu tempat dan berdekatan dengan kamarnya juga kamar suster.
Kini mereka sudah pindah rumah. Maira, Abraham dan Aldebaran mengantar mereka. Jarak rumah Jovan dengan mansion sekitar tiga kilometer sedang dengan jarak ke mansion sang mertua sekitar empat kilometer. Ramaputra dan Amertha akan datang berkunjung besok. Hari ini mereka ke kota M menjenguk putri mereka yang lain.
"Jadi mereka mengunjungi putri mereka?" tanya Aldebaran.
"Iya Grandpa," jawab Manya sambil meletakkan teh hangat di meja.
Anak-anak sudah berada di kamar mereka bersama para suster. Maid juga sudah bekerja dan kini tengah menyiapkan makan siang.
Aldebaran mengangguk tanda mengerti. Tentu Leticia tak bisa dihilangkan begitu saja, gadis itu sudah menjadi bagian hidup dari keluarga Artha sekian lamanya.
"Oh ya Manya, apa kau serius mengambil spesialisasi bedah?" tanya Manya setelah menyeruput tehnya.
"Iya mi, ahli bedah syaraf dan jaringan otot lebih tepatnya,' jawab wanita itu.
"Kau tidak tertarik berbisnis?' Manya menggeleng.
"Tidak mi," jawabnya sambil menggeleng.
"Sayang sekali, padahal perusahaan ayahmu sangat besar," sela Aldebaran.
Manya hanya tersenyum menanggapinya. Sedang di kota M. Ramaputra dan Amertha disambut hangat oleh Irham dan Renita. Leticia sampai berteriak senang melihat kedatangan orang tuanya itu.
Amertha menciumi wajah putrinya.
"Mommy kangen sayang," ucapnya jujur.
"Aku juga mommy," ujar Leticia.
Mereka bercengkrama dan paling banyak menceritakan perkembangan Leticia. Perubahan besar ditunjukkan pada gadis itu.
"Jadi sekarang dia mau membantumu bekerja?" tanya Ramaputra pada Irham.
"Ya, walau awalnya aku memaksanya," jawab pria itu sambil terkekeh.
"Dulu walau aku berteriak sampai hilang suaraku, jangankan mau melihat berkasnya, datang mengantar makan siang pun dia enggan," adu Ramaputra.
"Daddy," rengeknya manja.
Irham dan Ramaputra terkekeh. Keduanya senang melihat sifat manja yang masih melekat pada gadis itu.
"Oh ya mom dad, aku kemarin lihat berita ...."
Leticia menghentikan perkataannya. Gadis itu melihat kedua orang tuanya menunggu kelanjutan ucapannya.
"Kalian telah menemukan putri kalian?"
"Benar sayang, kami telah menemukannya, apa kau melihatnya di televisi?" Leticia mengangguk.
"Hanya sampai pada berita kalian menemukan putri kalian yang hilang," jawab gadis itu.
"Kalau boleh tau, namanya siapa?" lanjutnya bertanya.
"Ah, namanya adalah ... Manya Aidila Artha!" jawab Amertha penuh kebanggaan.
"Hah ... siapa?" tanya Leticia.
"Manya ... dokter Manya Aidila, dia sudah menikah dengan putra tunggal keluarga Dinata, sayang!"
Deg!
bersambung.
eng ... ing ... eng!
next?