THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MASIH LIBURAN 2



Karena masih liburan, Ten A dan Reece ingin berkemah. Seven A ingat ketika dulu ayah dan semua sahabatnya berkemah di taman belakang rumah.


"Papa Yayah, kita mau kemah kaya papa sama om-om dulu berkemah di belakang!" pinta Abi pada ayahnya.


"Boleh, apa mau juga api unggun?" tawar pria itu.


"Mau Pa ... pokoknya waktu Papa dulu kemahan. Ada bakar marshmellow sama barbeque, tapi Abi mau bakar udang besar itu Pa!"


"Oteh, Papa siapkan!" ujar pria itu menyanggupi keinginan salah satu putranya itu.


"Horeee ... makasih Papa!" seru Abi kegirangan.


Semua ikut melompat kegirangan, Jovan tersenyum. Lalu ia memanggil beberapa pekerja pria untuk membantunya mendirikan tenda.


Butuh waktu dua jam untuk mendirikan benda tersebut. Jovan juga membuat perapian mini yang jauh dari tenda. Setelah itu, Jovan pun meminta beberapa maid membeli apa yang dibutuhkan untuk berkemah.


Laina mendekati Manya, ibunya. Gadis kecil itu meminta sang ibu mengundang semua kakek nenek dan saudaranya.


"Iya, Ma ... biar kemahnya seru!" pinta Laina memohon.


"Oke sayang," sahut Manya menurut.


Wanita itu menelepon ibunya, lalu menelepon mertuanya. Tak lupa menelpon Gerard. Ia juga menelepon keluarga Wijaya, karena jarak yang terlalu jauh mereka menolak ikut, terlebih Senin besok, mereka harus kembali bekerja.


"Daddy di sini sudah bekerja Manya, lihat berkasnya sudah setinggi gunung Himalaya!" ujar Renita hiperbola.


Manya terkekeh, ia pun menutup sambungan teleponnya setelah obrolan berakhir.


"Sebentar lagi Nenek dan lainnya akan ke sini, sayang," ujar Manya.


Laina pun senang, mereka sudah menyiapkan apa saja yang akan dilakukan ketika berkemah nanti.


"Ata' Blaham ... Ata' Blaham!" panggil Adelard.


"Iya Baby!" sahut Abraham.


"Papa Yayah ipu ladhi napain?" tanya Adelard melihat ayahnya mendirikan tenda.


"Oh lagi diriin tenda, Baby," jawab Abraham.


"Penda ... memanna padhi pendana pidul pampai bipanunin?" tanya Adelard bingung.


"Bukan tidur sayang. Tapi untuk membuat tenda kita sebutnya mendirikan tenda, sama dengan bangunan," jawab Abraham.


"Ah ... Elald eundat neulti!" sahut batita itu.


Reece berkecak pinggang melihat tenda yang sudah berdiri menjulang, ia mengangguk puas dengan tenda yang sudah jadi dan kini para maid menggelar karpet dan busa tebal untuk alas tidur tak lupa banyak bantal.


"Mama ... Papa Yayah ... Iam datan!" pekik Liam masuk rumah.


"Baby sepatunya dilepas dulu!" pekik Denna.


"Mamamamamama!" pekik Aislin ketika melihat Manya.


Bayi cantik itu sudah mau melompat pada Manya. Wanita berprofesi dokter itu langsung mengangkat bayi itu tinggi-tinggi hingga Aislin terpekik senang.


'Baby ... kau makin cantik saja!" pujinya lalu menciumi dengan gemas.


"Mama, Iam eundat disyium!' protes Liam lalu melipat tangan di dada.


"Oh Baby!" Manya memberikan Aislin pada Gerard.


Liam ia gendong dengan sedikit menggunakan tenaga. Liam sudah sama besar dengan Reece yang gembul dan tukang makan itu. Tapi tubuh keduanya tidak gemuk tapi montok.


Sore menjelang, anak-anak sudah ribut ingin bakar api unggun. Jovan sampai kualahan terlebih Reece yang begitu bossy hingga Jovan dan Gerard begitu gemas dengan bocah satu itu.


"Peulum pisa Papa?" tanyanya tak sabaran.


"Api unggun dinyalakan ketika malam Baby,' sahut Gerard.


"Talo palam palu pisasan Lees pudah pidul Papa!' sahut Reece kesal.


"Baby ... bisa sabar kan?" ujar Jovan mulai memperingati bayi itu.


Reece sangat mengerti jika dia sudah mulai membuat dua pria dewasa itu marah. Reece langsung meninggalkan Jovan dan Gerard, ia langsung menaiki Aldebaran.


"Benpa!' keluhnya.


"Apa sayang. Kenapa kau?" tanya pria gaek itu bingung kenapa Reece tiba-tiba naik ke pangkuannya.


"Soba Lees peusal, Lees eundat patalan pinta pantuan Papa Povan pama Papa Lelat!" jawabnya.


"Loh ... kenapa?"


"Loh kan api unggun memang dinyalakan malam baby, seperti di Bali," sahut Aldebaran terkekeh.


Ramaputra dan Abraham hanya menggeleng saja melihat kelakuan anak belum empat tahun itu.


"Benpa ... bi Pali watu ipu pabis madlib pudah delap! Imi madlib peubental ladhi ... lanit basih telan!" sungutnya kesal.


"Jam tujuh sudah gelap Baby," sahut Abraham.


"Popa ... taluhan pama Lees basti panti Mama suluh pita pidul, pilannya pudah balam!" sungutnya mendumal.


Aldebaran tertawa mendengarnya, pria itu memeluk gemas dan menggoyang-goyangkan tubuh montok bayi itu.


Benar terkaan Reece, Manya sudah ribut menyuruh bayinya untuk tidur. Aidan, Adelard, Liam terutama Reece langsung menangis kesal.


"Tuh tan! pa'a Lees pilan ... huuaaaa!"


"Manya!" keluh Aldebaran.


"Ini sudah terlalu malam Grandpa!" ujar Manya bersikeras.


"Ini baru jam tujuh. Kau suruh anakmu tidur padahal mereka menantikan hal ini seharian!" tegur pria tua itu mulai marah pada menantu putranya itu.


"Tapi ...."


"Manya!" sentak Aldebaran mulai terpancing emosi.


"Jangan membuat anak-anakmu jadi semakin membencimu karena melarangnya. Lagi pula ini hanya sekali ini saja!"


Manya diam, ia memang terlalu berlebihan jika menyangkut anak. Akhirnya triple A, Reece dan Liam bisa didiamkan setelah mereka di dudukkan dalam tenda bersama seven A.


"Baby ini ikannya," Manya menyodorkan ikan pada Aqila.


Batita cantik itu masih marah pada ibunya. Ia menjauhkan piringnya dan memilih sodoran ikan dari Denna.


"Mawu bunya Mama Penna saza!" tolaknya pada Manya.


"Baby," Manya sedih melihat semua anak menjauhinya.


Denna langsung memperingati Aqila tak boleh membuat ibunya sedih.


"Hapis padhi Mama puat Tila nayis ... hiks ... setalan dantian don ... hiks!" sahut Aqila dendam.


"Baby ... nggak boleh dendam sama Mama. Nanti Mama nggak sayang lagi sama Aqila, Aqila mau?" batita itu pastinya menggeleng.


Akhirnya batita cantik itu meminta maaf pada ibunya. Manya tentu memaafkan putrinya, lagi pula ia yang salah tadi.


"Maafin Mama juga ya Baby," Aqila mengangguk.


Kini mereka menikmati udang bakar besar. Reece meminta ayahnya membuang semua kepala binatang itu.


"Tatut Papa!' teriaknya marah pada Gerard yang menyodorkan kepala udang pada adik dari istri sepupunya.


"Hayo!"


Bukannya berhenti Gerard malah memainkan dan menyodorkan kepala binatang yang sudah mati itu pada Reece, batita itu tentu langsung menangis hingga membuat semuanya marah. Reece kini dalam pelukan Ramaputra. Tubuhnya gemetaran karena takut. Gerard merasa bersalah.


"Kau itu!" sentak Aldebaran kesal.


"Reece biar Grandpa pukuli pria ini!" ujarnya memukuli tangan pria itu sampai mengaduh.


Reece pun tenang, kini malah ia bermain dengan kepala udang itu. Manya memberikan therapist pada adiknya agar tak takut lagi pada kepala udang.


Malam pun tiba, mereka saling bercengkrama, semua anak sudah tidur lelap di tenda. Manya ikut masuk ke dalam. Sedangkan para pria mengobrol asik.


"Kau bilang jika Tuan Harun Black Dougher Young akan melangsungkan pernikahan keduanya setelah lima tahun kematian istrinya?" tanya Ramaputra pada Aldebaran.


"Iya, Tuan muda Black Dougher Young menikah kembali, istilahnya turun ranjang," jawab pria itu.


"Dengan adik iparnya?" Aldebaran mengangguk.


"Mereka benar-benar berputar di situ-situ saja ya," Aldebaran kembali mengangguk.


Bersambung.


wah ... baby Harun menikah dua kali setelah duda?


next??


bersambung