
Manya terbangun di malam buta, perutnya mendadak kram dan seperti berputar kuat. Ia melenguh kesakitan, wanita itu menoleh pada suaminya. Jovan terlelap di sisinya.
"Mas ...," panggilnya lirih tak terdengar.
Perutnya makin melilit, Manya mencengkram sprei kuat-kuat, tubuhnya membungkuk menahan sakit luar biasa. Sudut matanya basah menahan rasa sakit yang menusuk perutnya.
"Mas ... hiks ... tolong," pintanya tanpa suara.
"Mas ...."
Manya mengerang kesakitan luar biasa. Perutnya seakan ditikam dengan pisau besar. Wanita itu menjerit tapi suaranya tak terdengar keluar.
"Aarrggh!"
Manya mencoba bangkit dari ranjangnya. Perut melilit membuatnya merasa ingin buang air besar. Wanita itu pun berjalan tertatih ke kamar mandi.
Sampai di atas closed duduk, ia berusaha mengejan. Tak ada yang keluar malahan perutnya makin sakit luar biasa.
"Ahaaaa ... huuuu ... uuu ... Mas ... tolong!" pintanya lirih.
Karena tidak ada yang keluar dari duburnya, ia pun mencoba berdiri dengan kepayahan yang ada tiba-tiba darah merembes dan mengalir ke betis.
"Anakku!" teriaknya.
"Sayang ... kau tidak apa-apa?" tanya Jovan membangunkan istrinya.
Manya terkejut bukan main, ia merasa kram di perutnya. Wanita itu menangis pilu.
"Anakku ... huuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"
"Sayang ... tenangkanlah ... jangan membuatku takut," pinta Jovan memeluk istrinya.
"Sayang ... sakit!" keluh Manya mengelus perutnya yang kram.
"Sayang ... tenanglah," pinta pria itu.
"Beristighfar sayang. Pasrahkan pada pemilik hidup," lanjutnya lagi bijak.
Manya menggeleng, ia menginginkan dua janin yang bersemayam di perutnya.
"Sayang ... kita ke rumah sakit ya," ujar Jovan.
Manya pucat, mukanya menegang karena menahan sakit yang tiba-tiba menyerang perutnya. Wanita itu terus mengelus perutnya yang sudah membuncit besar. Kandungannya sudah delapan belas minggu.
"Aarrggh!" erang Manya tertahan.
Jovan tak mau ambil resiko. Ia memilih istrinya dibanding apapun di dunia ini. Ia menggendong Manya dan membawanya ke mobil di kasur tercetak sebercak darah. Pria itu melesatkan mobilnya menuju rumah sakit miliknya. Sampai sana ia berteriak.
"Tolong istri saya!"
Beberapa petugas berlarian membawa brankar. Manya diletakkan di sana. Jovan menghubungi ayah dan ibunya.
"Halo Pi!" ujarnya.
"Jovan ini jam berapa!" teriak ayahnya di seberang telepon.
"Manya di rumah sakit Pi, pendarahan," ujarnya dengan bibir bergetar.
"Innalilahi!" teriak pria itu.
"Papi bisa ke rumah sekarang. Anak-anak sendirian bersama suster," pinta pria itu dengan wajah setengah khawatir.
"Iya sayang ... jangan khawatir. Papi akan ke sana bersama Mami. Kamu tenang aja ya, pasrah," ujar pria di seberang telepon menenangkan putranya.
Jovan mengucap terima kasih lalu menutup sambungan telepon setelah mengucap salam. Pria itu duduk terpekur di kursi stainless steel yang dingin. Mengusap wajahnya dan berdoa penuh harap agar istri dan janin yang dikandungnya tidak kenapa-kenapa.
Tiga jam menunggu istrinya, Jovan belum melihat tanda dokter keluar dari ruangannya. Satu tetes bening mengalir dari sudut matanya.
"Yaa Allah ... selamatkan istriku ya Allah. Sungguh aku tak bisa hidup tanpa Manya istriku!' pintanya lirih.
Jovan mengingat ketika dulu ia mencari keberadaan Manya. Setelah ia mengingat semuanya dan meninggalkan wanita itu sendirian. Jovan nyaris depresi ketika melihat kampung di mana istrinya berada mengatakan tidak mengetahui di mana Manya waktu itu.
"Aku tak mau berpisah sayang ... bawa aku serta jika kau pergi ... aku tak bisa hidup tanpamu ... hiks!" ujarnya tergugu.
Jovan mengingat sepuluh anaknya. Pria itu menggeleng, ia juga tak akan sanggup mengurus semuanya.
"Sayang ... maafkan Papa sayang ... maafkan Papa," Jovan menangis pilu. "Tapi Papa benar-benar tak bisa hidup tanpa Mama kalian!"
Sementara itu di rumah. Abraham dan Maira tiba, Maizah berada di gendongan ayahnya tengah terlelap. Pria itu tentu tak mau meninggalkan putrinya di mansion sendirian. Kedua orang dewasa itu mendatangi semua kamar anak-anak.
"Mereka terlelap sayang. Jangan bangunkan," bisik Maira.
Abraham meletakkan Maizah dalam boks di kamar lain. Suster masuk dan menemani bayi cantik itu. Abraham mengajak istrinya menuju kamar mereka.
"Pi ... kita bilangin besan yuk," ujar Maira.
"Ini sudah malam Mi, besok pagi saja," ujar Abraham.
"Jangan Pi, nanti besan marah. Kita harus menghubunginya segera," ujar Maira tak mau kompromi.
"Nggak diangkat Mi,"
"Telepon sekali lagi!" pinta Maira.
Abraham hendak menekan nomor yang dituju, tapi nomor itu malah meneleponnya ulang.
"Ram ... Manya dilarikan ke rumah sakit!" ujar Abraham langsung.
Sebuah kegaduhan terdengar dari seberang telepon. Rupanya yang menelepon ulang adalah Amertha. Wanita itu langsung membangunkan suaminya sambil berteriak.
"Halo Assalamualaikum besan ... apa benar yang kau bilang itu?" tanya Ramaputra panik.
"Iya Besan. Jovan bilang Manya pendarahan," jawab Abraham dengan suara tercekat.
"Ya sudah, kami besok ke sana Besan. Kita berdoa saja agar semua baik-baik saja!" sahut Ramaputra di seberang telepon.
Abraham memutuskan sambungan telepon. Pria itu pun memilih shalat malam dan mendoakan menantunya baik-baik saja.
Pagi menjelang semua anak-anak ribut. Maira sebisa mungkin menenangkan semua cucunya.
"Mama ... Mama!" panggil Aqila.
"Sayang," Maira menyerah wanita itu menangis.
Seven A juga sibuk menanyakan kemana ibu mereka. Tak lama Ramaputra datang bersama istri dan dua anaknya. Seluruh anak angkatnya sudah pergi ke sekolah.
"Moma Mama mana?" tanya Reece mencari keberadaan kakak perempuannya.
"Sayang, doakan Mama kalian ya," pinta wanita itu menangis.
Seven A harus ke sekolah walau dengan hati berat. Tujuh anak kembar itu ke sekolah dengan mata basah. Triple A, Reece, Tita, Maiz dan Pram mulai rewel.
"Mama ... Qila mau Mama ... hiks!"
"Adelard juga mau Mama,"
"Mama .. Aidan mau Mama,"
menangis mencari ibunya. Reece yang memang disusui sesekali oleh Manya tentu sangat dekat dengan wanita itu begitu juga Tita. Semua ibu menenangkan bayi-bayi itu.
"Kita doakan Mama baik-baik saja ya," ujar Amertha sedih.
Wanita itu juga kepikiran dengan keadaan putrinya.
"Sayang, aku dan Abraham akan ke rumah sakit ya. Kalian di sini," ujar Ramaputra pada istrinya.
Amertha dan Maira mengangguk. Mereka tentu tak bisa membawa anak-anak ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, dua pria paru baya itu melihat Jovan duduk terpekur di kursi tunggu. Keduanya mendekati.
"Son!"
"Dad, Papi!" Jovan sudah bengkak matanya, kantung matanya menghitam tanda pria itu tidak tidur semalaman.
"Apa belum ada kabar?" Jovan menggeleng.
"Dari pukul dua dini hari sampai pukul enam pagi, belum ada satu dokter yang keluar dari sana," jelas Jovan lirih.
Praja datang bersama Aldebaran dan Demira. Wanita itu yang mencatat semua perkembangan janin dalam perut cucu menantunya itu.
Tak lama dokter keluar dari ruangan. Jovan langsung mendekati pria berjas sneli itu.
"Dok bagaimana istri saya?" tanyanya dengan kecemasan tinggi.
"Pasien baik-baik saja. Ia sadar dari komanya," semua terkejut mendengar penuturan barusan.
"Pasien sudah koma ketika di bawa kemari," jelas dokter itu. "Kami berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa keempatnya."
"Maksudnya empat?" tanya Jovan bingung.
"Ada tiga janin di dalam rahim istri anda. Janin itu yang menyelip dan membuat pendarahan palsu,"
"Pendarahan palsu?" semua bingung termasuk Demira.
"Ini baru di dunia kedokteran kandungan. Kamu memeriksa semuanya tak ada yang mengkhawatirkan. Koma dari pasien diakibatkan karena stress berlebihan," lanjutnya menjelaskan.
"Kini keempatnya baik-baik saja. Kandungannya juga kuat,"
Manya terbangun dari tidur panjangnya. Ia meraba terlebih dahulu perutnya yang masih buncit.
"Alhamdulillah," gumamnya lega.
Bersambung.
Alhamdulillah.
Next?