THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERNIKAHAN PRAJA



Hari berganti. Seven A baru saja pulang dari sekolahnya. Tujuh balita kembar itu sudah berantakan. Rambut Bhizar acak-acakan, pita Lika, Agil dan Laina sudah hanya tinggal satu di rambutnya.


"Aduh ... anak-anak Mama kenapa kacau begini?" tanya Manya.


"Piasa eh biasa Ma ... pita eh kita main telalu selu padhi eh tadi," jawab Abraham yang kancing bajunya sudah lepas satu.


"Sus?" tanya Manya.


"Iya Dok. Mereka main sama teman-temannya, saling dorong dan saling tarik menarik," jawab Saskia.


"Kalian berkelahi?" tanya Manya tak suka.


"Meleka duluan Mama ... nalik pita Lika!" sahut Syah membela diri.


Manya melihat para susternya. Penampilan mereka pun sama berantakannya dengan balita yang mereka asuh.


"Kalian?"


"Ya berantem sama emak-emaknya," sahut Lela santai.


"Iya Dok. Kita nggak terima dong, anak-anak kita dijahilin terus malah seven A yang minta maaf!" sahut Dita sengit.


"Suster!" peringat Manya.


"Mama ... sustel nggak salah ... kita hanya membela dili!" sahut Agil.


Manya mengurut pelipisnya. Tujuh kembarnya termasuk anak-anak yang tak terima jika diganggu. Mereka akan melawan jika ada yang mengusiknya.


"Sayang ... orang sabar itu disayang Tuhan," nasihat wanita itu.


"Mama sayang, Mama itu salah mengaltikan kata sabal ... olang sabal halusnya setelah pita eh kita beldoa, belusaha palu eh balu kita belsabal," sahut Abi.


Manya menganga, putranya jauh lebih mengerti apa arti sabar sesungguhnya. Anak belum lima tahun itu memang sangat pintar. Manya cemberut dinasehati anak kecil.


"Ayo ganti baju semua, sudah itu makan siang!" titah Manya pada akhirnya.


Semua akhirnya ke kamar mengganti baju seven A lalu para suster membenahi diri mereka. Setelah itu mereka makan siang bersama.


"Ata' ... budah tuwa hali setolah papain jaja?" tanya Aidan.


"Banyak Dek. Banyak ngenal huluf, untung kita udah bisa," jawab Bhizar.


"Banya ipu?" tanya Aqila.


''Nulis, belhitung juga," jawab Laina.


"Bulis pa'a?"


"Nulis anta-anta ... taya eh kayak satu, dua, tiga," jawab Laina.


"Oh ... beudithu," sahut triple A.


"Sus, apa masalah anak-anak, saya besok harus ke sekolah?" tanya Manya.


"Tidak Dok. Anak-anak jahil itu yang minta maaf karena memang duluan jahil sama seven A," jawab Saskia.


Manya mengangguk. Ia memang sangat tau jika anak-anaknya tidak akan berulah jika tak didahului.


"Habis makan bobo ya," titahnya yang langsung disahuti oleh anak-anak.


"Oke Mama!"


Sore menjelang. Jovan pulang bersama Praja. Akhirnya proyek pembangunan pabrik baja yang telah disepakati oleh Black Pristers Steel Company yang kini dikelola Oleh salah satu putra dari mendiang Black Dougher Young itu.


"Tuan, aku minta cuti!" pinta Praja langsung.


Saskia sudah merona pipinya. Ingin sekali Jovan mengerjai keduanya. Tetapi urung melihat tatapan horor dirinya. Gara-gara Jovan, Praja selalu memundurkan pernikahannya.


'Iya aku kasih cuti," ujarnya dengan cemberut.


"Tuan, jangan seperti ini!" keluh pria bawahannya itu.


"Sayang!" tegur Manya.


"Iya-iya, kau boleh cuti tapi nggak lama,"


"Aku mau cuti setahun!' pungkas Praja mulai kesal dengan keponakan angkatnya itu.


"Kau mau kupecat?!" teriak Jovan.


"Aku tinggal minta kerjaan sama Tuan Artha," sahut Praja santai.


"Pengkhianat!"


"Sudah Kak ... pindah aja ke perusahaan Daddy, di sana kau pasti bisa membantu Rudi dan biar pria itu juga menikah!" sahut Manya kesal.


"Sayang ... terus aku gimana?!" rengek Jovan.


"Ih ... orang kamu sendiri kan yang nyusahin orang mau ibadah!" sahut Manya sebal.


"Iya-iya ... Praja boleh cuti selama dia mengurus pernikahan hingga bulan madu!' ujar Jovan pada akhirnya.


Jovan berdecak, tetapi melihat wajah suster yang merawat anak-anaknya, membuat ia akhirnya mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih Tuan!" sahut sepasang kekasih itu senang.


"Nyonya, saya mau bawa Saskia untuk pergi membeli barang-barang kebutuhannya," ujar Praja meminta ijin.


"Baiklah, ingat pulang jangan terlalu malam!" sahut Manya.


Lagi-lagi kedua orang yang tengah dilanda cinta itu senang bukan main. Jovan akhirnya memaklumi. Semua sahabatnya telah menikah dengan para suster yang merawat anak-anaknya. Kini lima pria itu jarang ke rumahnya jika bukan ada acara besar.


Praja membawa Saskia pergi ke mall. Mereka berjalan bergandengan tangan. Jovan menelepon ayahnya jika Praja akan menikahi Saskia dalam waktu dekat.


"Ya ... sudah seharusnya dia menikah," ujar Abraham.


Akhirnya pernikahan Praja benar-benar terlaksana. Pria itu begitu tampan dengan balutan formal warna putih.


Janji suci telah ia ikrarkan satu jam lalu. Abraham dan Maira duduk mendampingi sepasang pengantin baru bersama, Saskia tak memiliki orang tua lagi, ia hanya memiliki seorang bibi yang sudah renta dan kini duduk di sebelah kursi pelaminan.


"Nek, makan dulu ya," ajak perawat nenek.


"Iya, Nek ... makan dulu," ujar Saskia.


"Sama kamu, cu," ujar nenek Nira.


"Ayo, kita makan," sahut Praja.


Pria itu tau betapa berartinya perempuan tua yang kini digandeng oleh wanita yang menjadi istrinya.


Saskia telah menceritakan semuanya. Ketika kedua orang tuanya berpisah, baik ayah maupun ibunya menolak membawa Saskia. Sang nenek yang langsung mengambil alih gadis kecil berusia delapan tahun itu.


"Sebenarnya, Nenek juga bukan nenek kandungku. Nenek adalah tetangga dekat rumah, yang selalu melihatku di luar pintu jika ayah dan ibuku ribut," ujar Saskia suatu hari.


"Jadi, secara tidak langsung, kedua orang tuaku telah membuangku," lanjutnya.


"Apa tidak masalah, kita menikah tanpa restu ayahmu?" tanya Praja.


"Jika ragu, maka batalkan saja!' sahut Saskia langsung.


Praja akhirnya menikahi gadis itu. Ia tak peduli jika nanti akan ada orang tua yang menuntut mereka. Ia telah mengumpulkan bukti tentang penelantaran anak yang dilakukan oleh kedua orang tua wanita yang telah menjadi istrinya itu.


"Halo ... selamat siang semuana!" seru Abraham di atas panggung.


Semua langsung menuju bawah panggung dan bertepuk tangan. Banyak kolega datang menghadiri pernikahan itu. Aldebaran juga ada di pelaminan dan membantu nenek yang merawat menantunya.


"Musik!"


"Halo ... halo ... halo ... yang ... yang ... ya g digoyang-goyang yang ... dut ... dut ... dut ... yok kita beldangdut ... yang digoyang digoyang yang ... dangdut ... dangdut ... dangdut ... sel hoba!?" Abraham menyanyikan lagu dangdut.


"Hoba!' seru semua tamu yang mendadak jadi penonton.


Semua bergoyang heboh di sana. Tak ada rasa malu, mereka bergoyang sesuai musik.


Bernhard telah memiliki seorang bayi laki-laki, kini baru berusia delapan bulan. Sedang Hasan, Bima dan Lektor, istri-istri mereka juga tengah mengandung.


"Aku sudah dua!" ledek Gerard sambil mengusap perut istrinya yang membuncit.


"Aku sudah sepuluh!" balas Jovan pedas.


"Sialan kau!' umpat Gerard kesal.


Semua terkekeh mendengar dua bersaudara itu jika berdebat, dan Gerard pasti kalah dengan Jovan.


"Akhirnya, kegilaan kita sudah berlalu, anakmu telah bertambah menjadi sepuluh, kau dua kami baru akan satu, Praja akan mengadonnya nanti malam," ujar Bima panjang lebar.


"Tinggal Rudi nih," lanjutnya lalu menatap sosok pria yang baru disebut namanya itu.


"Kapan kau berani mendatangi wanita yang kau cintai?" tanya Hasan.


"Sudah lah, dia sudah memiliki kekasih seorang CEO di kota sana," jawab Rudi lemah.


"Ah ... cemen kau!" ledek Lektor.


"Apa kau incar saja salah satu suster itu. Mereka cantik-cantik," usul Leni istri dari Bima.


"Istriku benar, kenapa kau tidak mendekati salah satu dari mereka jika cintamu tidak mungkin dengan Leticia?" sahut Bima.


"Ah ... sudah lah ... kita nikmati pesta ini. Jangan omongin statusku yang masih jomblo ini!" tukas Rudi.


Mereka menikmati pesta yang kini makin marak. Liam, putra dari Gerard kini bergoyang dan bernyanyi.


"Tatu ... tatu atu payan mommy ... pua ... pua ... judha yayan Daddy ... tida-tida ... sayan Popa Moma ... patu, bua, pida ... sayan beumuana!"


Tamat.


hai readers ... ini adalah episode terakhir The Presiden's Seven Twins.


Akan ada sesson dua nya dengan judul PEWARIS KEMBAR SANG PRESIDEN DIREKTUR. ditunggu ya ... ba bowu semua.