
Liam menangis ingin ikut lomba, kandungan ibunya sudah delapan bulan, Clara tentu melarang menantunya itu jalan jauh-jauh. Kesibukan Gerard membuat pria itu sering meninggalkan istrinya bersama sang ibu.
"Mom, kasihan Liam," ujar Denna meminta pengertian.
"Sayang. di sana kan pasti ramai," ujar Clara.
"Di rumah Dokter memang ramai Mom," sahut Denna.
"Kenapa nggak bilang kalo di rumah seven A acaranya," sahut Clara gemas pada menantunya.
Denna hanya tersenyum saja. Akhirnya mereka pun pergi ke rumah Manya pagi-pagi. Liam langsung memekik girang ketika ia akan berpergian. Eddie juga tak kalah sibuknya, pria itu akan pulang besok.
"Selamat pagi!" ujar Clara ketika masuk rumah.
"Pagi Moma Cala!" sambut seven A.
Triple A masih tidur, hari terlalu pagi untuk mereka bangun. Liam sudah duduk di kursi minta dibuatkan sarapan.
"Mama lapan!"
"Baik Boss!" sahut Manya gemas.
Satu roti selai coklat langsung tandas. Liam meminum susunya. Habis sarapan, triple A bangun sudah rapi dan wangi. Mereka pun ikut sarapan, usai sarapan mereka langsung ke taman belakang, di sana Manya sudah menyusun lomba seperti lompat kotak dan juga makan kerupuk.
"Ayo siapa yang mau ikut lomba?"
"Atuh!" teriak semua bayi melompat.
Reece datang langsung berlari ke taman belakang.
"Tundu pulu!" pekiknya.
"Reece minum susu dulu sayang!" teriak Amertha kesal.
Wanita itu berlari mengejar putra bungsunya sambil membawa botol susunya.
"Baby," peringat Manya.
"Mama ... atuh mawu itut Mama!"
"Iya, minum dulu susunya," suruh Manya.
Reece mengambil botol susu dari tangan ibunya. Dalam sekejap botol susu itu pun kosong.
"Nah, sekarang dengar ya instruksi Mama!" pekik Manya.
Jovan sedang menyeruput kopi bersama ayah dan juga mertuanya. Ramaputra duduk lemas karena belum tertidur lelap karena ulah putranya.
"Astaga Daddy kenapa?" tanya Jovan.
"Kamu habis itu sama istrimu?" seloroh Abraham.
"Kau kira bisa jika ada anak bayi di tengah-tengah?" gerutu Ramaputra kesal.
Jovan dan Abraham terkekeh dibuatnya. Tak lama Aldebaran duduk bersama cangkir kopinya. Pria itu menatap kehebohan semua cucunya.
"Benpa!" Reece datang dengan peluh membanjiri tubuhnya.
"Oh, Baby ... kamu lelah basah sekali?" ujar pria gaek itu.
"Atuh menan, tata Mama badiahna pinta pama Benpa?" ujar bayi itu menengadahkan tangannya.
Aldebaran berdecak sebal pada cucu menantunya itu. Ia belum menyiapkan apa-apa.
"Nanti ya, Baby," ujarnya.
Reece mengangguk, bayi itu kembali. Tak lama seven A juga meminta hadiah dari pria itu.
"Manya!" pekik Aldebaran kesal.
Manya hanya terkikik geli. Wanita itu memang sengaja menyuruh anak-anak meminta hadiah pada kakek dari suaminya itu.
"Salah sendiri nggak bawa oleh-oleh," dumalnya pelan.
Denna hanya menggeleng saja, sambil sesekali mengusap perutnya yang besar. Aqila mendekati wanita itu dan ikut mengelus perut buncit mantan susternya.
"Balo dedet payi, tenan-tenan pi peyut Mommy Penna ya," ujarnya lembut.
Hal itu membuat perut Denna mengencang. Wanita itu sampai meringis, Clara jadi khawatir.
"Tidak apa-apa Mom, ini biasa jika mengalami kontraksi palsu," ujar Denna menenangkan ibu mertuanya.
"Mungkin janinnya senang dielus sama kakaknya," sahut Manya.
Clara mengecup perut bundar menantunya. Sungguh Denna begitu beruntung dengan kepedulian mertuanya itu. Clara memang begitu sangat menyayanginya begitu sayang sampai ia nyaris mengurung menantunya di sangkar emas miliknya.
"Sudah tau jenis kelaminnya?" tanya Manya ingin tahu.
"Apa?" Denna hanya tersenyum hingga membuat mertuanya kesal.
"Coba, masa dia periksa sendiri ke Dokter tanpa aku!" adu wanita itu.
"Mom, waktu itu Mommy ada di Singapura. Bagaimana aku meminta mommy menemaniku?" ujar Denna mengingatkan.
"Holee atuh menan!" pekik Abraham dan Syah.
Perhatikan teralihkan pada keduanya. lomba pun selesai. Semua jadi juara satu dan ingin mendapat hadiah. Mereka langsung menagih pada buyut mereka.
"Puyut ... hadiahnya mana?" tanya Bhizar menengadahkan tangan pada Aldebaran.
Pria itu berdecak kesal pada cucu menantunya yang hanya tersenyum geli. Jovan pura-pura tak tau begitu juga dengan Ramaputra dan Abraham.
"Kalian bertiga memang sialan!" omelnya berdesis.
"Jangan begitu Dad," sahut Ramaputra terkikik geli.
Maira dan Amertha menggeleng melihat kelakuan tiga pria dewasa itu. Akhirnya, Aldebaran mengajak semua ke mall. Liam yang jarang pergi keluar rumah langsung memekik girang.
"Holee peldhi ladhi!"
Semua menaiki mobil masing-masing yang disupiri oleh suami mereka. Aldebaran ikut dengan Ramaputra karena ia hanya bertiga dengan istri dan putranya. Abraham bersama istrinya membawa Clara, Denna juga Liam. ikut dengan ayah dan ibu mereka
Sampai di mall, semua turun. Para bayi memakai kereta dorong mereka. empat kereta dorong langsung berada di area bermain anak-anak. Liam begitu antusias, bayi itu ingin naik kereta mini diikuti yang lainnya.
"Bait teleta papi ... tututututut ... spasa hendat tulut ... pedandun, lupabaya. Polehlah bait puma pemuma ... bayo tawantu pepat bait ... teletatu tat peulbenti mama!"
Liam bernyanyi lagu naik kereta api. Tentu saja liriknya berubah di mulut bayi belum dua tahun itu. Semua pengunjung yang datang tersenyum lebar mendengar lagu itu.
Kereta pun berhenti setelah dua putaran. Semua turun dan bermain di arena lainnya. Ada yang naik mobil-mobilan, pesawat-pesawatan dan ikut ambil boneka capit.
"Ayo waktunya makan siang!" ajak Aldebaran ke sebuah restauran.
"Selamat siang. Selamat datang di restauran kami," sambut pelayan ramah.
"Saya minta ruang vvip!" ujar Aldebaran.
"Mari ikut kami Tuan," ajak pelayan itu.
Mereka pun masuk di sebuah ruangan yang sangat luas dengan dua meja makan. Manya meminta kursi khusus untuk para bayi. Dua belas kursi khusus datang, para bayi diletakkan di sana. Mereka dipesankan steak dan kentang goreng. Manya memotong-motong daging jadi kecil-kecil agar muat di mulut para bayi. Semuanya makan dengan tenang walau terkadang diinterupsi oleh dua belas bayi itu.
"Mama ... dadinna telas!" ujar Aqila.
Manya harus mengunyah daging hingga lembut barulah bayi cantik itu bisa memakannya.
"Mama binum!" pekik Liam.
Denna mengambil gelas dan menuangkan air dalam bibir putranya itu, lalu dia bayi lainnya juga mau minum di gelas yang sama.
Akhirnya mereka selesai makan. Aldebaran membawa mereka ke toko mainan. Semua bayi diminta untuk memilih mainan mereka.
"Puyut, namanya hadiah ya nggak boleh kelihatan," ujar Syah.
"Sudah tidak apa-apa sekarang hadiahnya apa yang kalian inginkan," ujar Aldebaran.
Akhirnya para bayi bergerak. Mereka mengambil mainan robot dan mobil. Hanya Liam yang tak mengambil apapun dari sana.
"Baby kenapa nggak ambil mainan yang kau inginkan?" tanya Aldebaran.
Bayi itu masih terus mencari apa yang ia inginkan. Lalu langkahnya terhenti di sebuah mainan tank dan juga prajurit. Ia menatap ibunya.
"Baby mau itu?" tanya Aldebaran.
Liam mengangguk kuat. Satu tank dibungkus, bayi tampan itu langsung tersenyum cerah. Sedang Abraham menatap satu robot bagus ia ingin menukarnya.
"Uyut boleh tukal nggak?"
"Boleh Baby," jawab Aldebaran.
Satu robot yang bisa jadi mobil. Bayi minta dibungkus dengan kertas kado. Aldebaran heran begitu juga uang lainnya.
"Baby kok dibungkus?"
"Nggak apa-apa," sahut balita tampan itu.
Ia sudah merencanakan untuk siapa kado itu. Mereka pun pulang ke rumah setelah selesai membayar semua mainan.
bersambung
pasti buat Anton kan Baby Abraham, kadonya? 😍
next?