
"Sayang ... jangan pernah mengatai anak-anak yang tak memiliki ibu dan ayah ya, apa lagi mereka sengaja ditelantarkan. Mereka nggak mau loh seperti itu hidupnya," terang Manya pada seluruh anaknya.
"Iya Mama ... jangan kuatil ... Lees atan eh akan belain anak-anak yang teltindas!" sahut Reece.
"Mama ... katanya Olang tua pasti sayang sama anaknya ... kok ada sih anak yang dibuang?" tanya Aqila tak habis pikir.
"Itu karena mereka memang tidak mau bertanggung jawab sayang. Mereka mendapatkan bayi itu diluar yang seharusnya," jawab Manya.
"Di lual yang sehalusnya?" Aidan dan Adelard sampai miring kepalanya.
"Iya sayang ... nanti kalau kalian besar pasti mengerti," sahut Manya lagi.
Akhirnya semua anak bermain kembali. Manya merasakan gelenyar di perutnya. Ia sesekali mengusap perut yang sudah mulai kelihatan itu.
"Sayang, apa sudah bersiap nanti weekend ke ranch milik seven A?" tanya Jovan pada istrinya.
Pria itu pulang cepat. Hari ini setelah seven A pulang dari sekolah, mereka akan pergi ke bukit milik pribadi keluarga Dinata. Abraham sudah memperbarui bangunan itu jadi banyak kamar karena memang mereka kini sudah banyak. Beberapa pengawal sudah pergi ke sana menyisir keamanan sekitar.
"Assalamualaikum ... kami pulang!" seru seven A.
"Kita makan dulu ya, kasihan jika langsung pergi," ujar Manya yang diangguki suaminya.
"Papa .. andong!" Pram mengangkat tangannya pada Jovan.
Praja sedang membantu istrinya menyiapkan semua baju-baju mereka. Usai makan siang, mereka pun berangkat. Ramaputra sudah jalan duluan bersama istri dan semua anak-anaknya begitu juga Aldebaran. Abraham dan Maira akan menyusul bersama Gerard dan Denna. Hanya butuh waktu dua puluh lima menit. Mereka sudah sampai di lokasi. Mereka semua turun dan sedikit berjalan menanjak untuk sampai di hunian besar itu.
"Wah ... indah sekali!' seru Ardan takjub.
Bocah delapan tahun itu mendekati tebing, beberapa pengawal menahan lajunya.
"Hati-hati Tuan muda!"
Aldebaran melihat hal itu. Ia akan membuat pagar tinggi agar tak ada yang sembarangan mendekati pinggir tebing.
"Ayo ... anak-anak sedikit lagi!" seru Praja pada semua anak-anak yang sepertinya sudah kelelahan.
"Papa ape!" keluh Pram yang ada digendongan Jovan.
"Siapa yang cape Baby!" gemas pria itu menciumi Pram.
"Papa sape ... teluan telinet dinin!" ujar bayi tampan itu sok tau.
"Astaga ... kau pikir aku demam Baby!"
Jovan benar-benar gemas pada putra dari pamannya itu. Pram tergelak, akhirnya semua sampai di hunian besar itu. Manya, Maira, Amertha, Denna dan Saskia sudah terengah-engah. Mereka tengah mengandung tentu naik gunung dengan jarak 2 meter cukup membuat mereka kelelahan. Anak-anak langsung naik di beberapa mainan yang ada di sana. Mereka tak ada rasa cape, ten A, Liam dan Reece tentu masih kecil dan kuat. Sedang Tita, Maizah dan Aislin ada digendongan para pengawal. Gerard tak sanggup menggendong putrinya yang gembul itu.
"Papa memah!" sindir bayi cantik itu pada ayahnya.
Jovan terbahak mendengarnya. Gerard kesal pada putrinya, ia mengangkat tinggi-tinggi, namun Maiz dan Tita menerjang pria itu.
"Papa ... janan matan Baby Ais!" pekik mereka.
"Kalian juga Papa angkat kalau gitu!"
Gerard mengangkat tiga bayi dan menggelitiknya. Tentu suara gelak tawa terdengar membuat senang semua orang yang mendengarnya.
Manya, Denna dan Saskia merebahkan diri mereka di ranjang. Tiga wanita hamil itu sedikit naik perutnya ketika mendaki tadi. Maira dan Amertha juga Demira mengurusi mereka. Clara dan Eddie sedang di luar kota.
"Mama ... Mama ... Ais bawu pitinin adel-adel don!' pinta bayi cantik itu menaiki ranjang ibunya.
Denna hendak bangkit, tapi Maira langsung menahannya. Wanita itu menggendong cucunya yang gembul itu.
"Moma yang buatin ya. Biar Mama istirahat," ujar wanita itu.
"Astaga anak ini ... benar-benar menguras tenaga," keluhnya lalu mencium pipi bulat Aislin.
"Mama buat apa?" tanya Dina.
Dina anak angkat dari Ramaputra. Gadis kecil berusia delapan tahun itu ingin membantu.
"Biar Mama saja sayang," ujar Amertha mengecup pipi tirus Dina.
"Dina mau bantu ... boleh?" cicit gadis kecil itu penuh harap.
Amertha akhirnya mengangguk. Dina senang bukan main, gadis itu selalu bertanya apa saja yang dibutuhkan oleh ibu angkatnya itu.
"Ada lagi yang bisa dibantu Mama?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Maira.
Dina menggeleng kuat dengan senyum bahagia.
"Dina cuma bahagia. Mimpi Dina membantu Mama terwujud," cicit gadis kecil itu.
Dina berperawakan kurus seperti empat puluh lima saudaranya. Mereka hidup di panti ketika berusia sangat belia, yakni dua tahun bahkan Dery sedari usia lima bulan. Mereka rata-rata anak-anak yang ayah dan ibunya korban kecelakaan atau sengaja ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Seperti Dina yang ditinggalkan di mall oleh seorang wanita yang disangka ibunya ketika diusia dua tahun. Bayi cantik itu seperti kebingungan mencari ibunya.
"Mama ... jangan buang Dina lagi ya ... Dina akan bantu Mama, biar Mama nggak kerepotan mengurus Dina. Dina janji Ma," ujarnya lirih dengan air mata yang mengalir.
Amertha memeluk putrinya itu. Ia akan mengutuk keras para ibu yang sengaja membuang anak-anak mereka dengan berbagai alasan. Maira ikut sedih mendengar perkataan gadis kecil itu.
"Sayang, dengar Mama nak. Mama tidak akan membiarkanmu sakit lagi ... Mama akan menjagamu sekuat Mama!" janji Amertha.
"Makasih Ma ...," cicit Dina lagi.
Amertha menciumi putrinya itu. Kini ia tau bagaimana rasanya ketika Manya putrinya berjuang sendirian, menahan segala kesakitan hingga ia jadi dokter membuktikan pada semua orang jika dirinya berhasil walau tanpa ibu dan ayah.
"Sayang ... sayang ...," Amertha memeluk erat anak gadisnya.
"Besan ... kau bisa membunuhnya jika memeluknya terlalu erat," peringat Maira.
"Maaf ... maaf sayang," Dina sampai terbatuk karena menghirup udara banyak.
"Nggak apa-apa Ma, asal dipelukan Mama ... Dina mati juga nggak masalah. Dina bahagia banget!" Dina memeluk dan mencium Amertha.
"Mama juga minta cium dong!" pinta Maira.
Dina pun mencium perempuan itu. Maira begitu gemas hingga menggoyang tubuh Dina ke kiri dan ke kanan.
"Ingat ya ... kami semua sayang sama kamu dan seluruh saudara-saudara mu!' tekan wanita itu.
Dina mengangguk dengan mata berbinar. Kini ia yakin sudah punya ibu yang menyayanginya. Bukan hanya satu tapi banyak.
"Sudah, main sana!" suruh Amertha.
Dina pun pergi ke saudara-saudaranya. Gadis itu bermain dan tertawa bersama para ayah. Demira memeluk besan dari menantunya.
"Kamu hebat sayang, Mommy bangga sama kamu," pujinya.
"Maira nggak Mom?" cebik Maira iri.
Demira terkekeh, ia juga memeluk menantunya. Dua wanita diberi kecupan olehnya. Ia begitu bahagia mendapatkan banyak keluarga setelah kemandulan membuat ia ditinggal orang-orang yang dicintainya.
bersambung.
Akan ada pelangi setelah badai ...
Next?