
Hari ini Seven A di ajak bermain di sebuah wahana khusus ketangkasan anak-anak seusia mereka. Jovan dan Praja juga Gerard ikut bersama menjaga bayi-bayi itu. Jovan hanya ingin melihat kecerdasan seluruh anak kembarnya. Gerard siap merekam para bayi lucu itu.
Syah mengomando seluruh saudaranya. Wahana itu langsung disewa oleh Jovan hanya untuk kenyamanan seven A.
"Bita banjat talina!" seru Syah.
Mereka semua berlari memanjat tali yang tingginya hanya satu meter setengah saja. Praja dan Jovan mengawasi mereka.
"Atuh eundat pisa!" teriak Laina kesal.
"Angkat kakinya di tali lebih tinggi baby!" suruh Gerard.
"Nyanyut!" teriak Laina.
"Dikeluarin dulu kakinya dari tali, terus naik ke atasnya!' ajar Gerard lagi.
Laina akhirnya bisa menaiki tali dan menyusul saudaranya yang lain. Suara teriakan dan tawa terdengar dari mulut ketujuh kembar identik itu. Abi lebih dulu sampai akhir permainan lalu disusul Syah, Bhizar, Lika, Agil, Abraham baru terakhir Laina. Jovan dan Praja tepuk tangan dengan keberhasilan mereka. Semua senang dengan melompat-lompat.
"Main lagi?"
"Eundat ah ... posen!" sahut Laina dengan napas terengah-engah.
"Sape papa yayah!" keluh Agil lalu duduk dan berbaring di matras.
"Papal papa yayah!" sahut Abi dan Abraham.
"Ayo kita makan!" ajak Jovan.
Manya dan lainnya dilarang ikut. Tadinya Manya malah melarang suaminya mengajak keluar semua anaknya.
"Kau mau buat anak-anakku kurang pengetahuan!" protes Jovan pada istrinya.
Manya akhirnya diam. Ia membiarkan, sang suami membawa seven A ke sebuah wahana.
"Aku ikut!' pinta Manya.
"Tidak! Nanti kau berisik dan membuat mereka manja!" sahut Jovan melarang.
Manya cemberut, akhirnya Amertha yang menenangkan putrinya dan meminta ia memasak banyak jika semua pulang nanti.
"Kita pulang, mama banyak masak kue loh!' ajak Jovan.
"Asit pulan!" sahut semuanya senang.
Banyak wartawan mencuri gambar keturunan Dinata itu. Gerard jadi sasaran pertanyaan para pemburu berita.
"Tuan Downson, kapan Anda menikahi nona Bianca?!"
Gerard memilih menurunkan topinya. Praja pun juga tak luput dari pertanyaan sama. Kereta dorong seven A sengaja ditutup agar kilatan kamera wartawan tak mengganggu mata para bayi.
"Tuan perlihatkan semua anak-anakmu!' pinta salah satu wartawan.
Beberapa dari mereka merangsek. Para bodyguard langsung menghalangi mereka yang hendak membuka tirai penutup kereta.
Mereka bergerak maju dengan perlahan bersama dua kereta bayi. Butuh waktu lima belas menit untuk lepas dari para pemburu berita itu.
Semua masuk mobil khusus. Praja dan Gerard mengatur para bayi dan menutup tirai kaca mobil.
"Tuan!" teriak mereka.
Beberapa pengawal menjauhkan para wartawan. Mobil bergerak perlahan dan akhirnya keluar dari depan lobby mall.
Jovan mengendarai mobil sedikit cepat. Para bayi diajari bernyanyi oleh Gerard.
"Cinta ini ... kadang-kadang tak ada logika ...."
"Jangan kau ajari aneh-aneh Gerard!" peringat Jovan.
"Ayo baby nyanyikan!" titahnya tak menggubris peringatan saudara misannya itu.
Jovan berdecak kesal sedang Praja terkekeh. Sedang anak-anak mulai mengikuti cara bernyanyi pria itu.
"Pinta imi ... tadan-padan palada potita ....!"
"Logika baby!" ralat Gerard sebal.
"Bolita!" sahut semuanya kompak.
"Lo ...!" sahut Gerard meminta bayi-bayi mengikutinya.
"Plo!"
"No ... plo eh ... lo!" ulang Gerard sambil mengeluarkan lidahnya.
"Blaaa!"
Para bayi memeletkan lidah mereka hingga liurnya menetes. Gerard gemas bukan main. Ia mengajari bernyanyi lagu lain.
"Halo-halo Bandung ibukota pariangan ... sudah lama Beta tidak berjumpa dengan kau ... sekarang telah menjadi lautan api ... mari bung rebut kembali!"
Jovan terbahak mendengar lagu itu. Pria itu tak menyangka jika Gerard hapal salah satu lagu nasional Indonesia.
"Balo-palo pandun pibutota ...." semua berhenti bernyanyi karena lupa.
"Pariangan!"
"Balianan!"
"Sudah lah bro ... diam lah kau membuatku tak fokus!" pinta Jovan.
Ia sudah kram perutnya karena lagu bagus jadi berubah liriknya di mulut para bayi. Mobil pun sampai, semua turun dan tak lama para pengawal sudah sampai terlebih dahulu dan menutup para paparazi mengambil gambar.
"Mama kita pulang!' seru Jovan.
Manya langsung menghampiri anak-anaknya. Semua bercerita bagaimana mereka menyelesaikan tantangan dengan cepat. Manya begitu bangga mendengarnya.
"Ya sudah, ayo bersih-bersih dulu," ujar Manya.
Para suster menggiring kereta bayi ke kamar mereka. Tak lama semuanya keluar dengan berjalan berjinjit.
"Mama, imi Lita tot lasana peudal?" keluh Lika menunjuk pangkal pahanya.
"Kalian tadi pemanasan dulu tidak sebelum main?"
Ada yang mengangguk ada juga yang menggeleng. Jovan dan Gerard sudah memberikan pemanasan pada semua anak-anak. Memang mereka bergerak sesuka mereka.
"Berarti tadi Lika pemanasannya tidak benar," jelas Manya.
"Pemes mama," keluhnya.
Manya malah merasa bersalah, ia memang tak pernah mengajak anak-anak berolah raga. Kesibukannya menjadi dokter membuat waktunya banyak di rumah sakit bersama pasien.
"Kalo begitu setiap hari kita olah raga yuk!" ajaknya.
"Ayut!" pekik semuanya girang.
Manya akan belajar bagaimana senam bayi dua tahun, banyak videonya di yutub.
Sementara itu di sebuah perusahaan, tampak seorang pria melempar beberapa berkas. Tadinya perusahaan dirinya mampu bertengger di tangga bisnis dan perputaran saham nomor lima di Asia. Kini hanya kemunculan tujuh bayi kembar milik Dinata. Membuat perusahaan yang tadinya hanya bisa berada di bawah posisinya, kini malah naik tiga tingkat.
"Berengsek!" makinya kasar.
"Apa saja kerja kalian. Kenapa perusahaan kita jatuh hanya kehadiran tujuh bayi?!" teriaknya lagi.
"Tuan, keturunan masih menjadi pondasi kuat bagi sebuah perusahaan, karena kepemimpinan mereka akan langgeng. Terlebih perusahaan Dinata memang sudah besar dari awal dan sedikit turun akibat kasus pembunuhan berencana pada ahli warisnya!' lapor pria itu sambil menunduk.
"Berengsek!" maki Boss besar itu.
"Jadi apa aku harus membuat hamil perempuan agar ada keturunan begitu?"
"Bukan begitu Tuan, pewaris itu harus dari pernikahan resmi jadi semua mengakui ahli waris itu," jawab ajudan pria itu masih menunduk.
Pria dengan postur tubuh besar membuang semua benda di meja. Pria itu adalah seorang player, sebuah pernikahan adalah momok paling menakutkan. Beberapa wanita sudah ia nikmati tubuhnya atas dasar napsu sama napsu.
"Kalau begitu carikan aku istri yang bisa kuatur!" titahnya dengan kilatan mata sadis.
"Dan buat tujuh anak itu redam selamanya!' lanjutnya dengan seringai sadis..
Tiga orang pria membungkuk hormat. Pria itu menatap potret empat pemuda dengan seragam toga di sebuah universitas ternama di negeri Paman Sam.
"Abraham ... aku membencimu karena merebut Maira dariku!" ucapnya penuh dendam.
"Saatnya, aku akan membuatmu jatuh sejauh-jauhnya. Lalu Maira akan jadi milikku selamanya!" lanjutnya lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hachu!" Abraham bersin.
"Apa anda sakit tuan?" tanya Rudi yang ada di sisinya.
"Tidak, tapi mungkin ada debu yang membuat hidungku gatal," jawab Abraham lalu menggosok hidungnya.
bersambung.
next?