THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
CINTA BERSEMI



Clara langsung mendatangi rumah Manya. Ia ingin menemui gadis yang berhasil menaklukan putranya. Wanita itu menatap gadis berkulit sawo matang dengan rambut sebahu. Gadis itu menunduk, Denna hanya pasrah jika hubungannya tak direstui oleh kedua orang tua dari Gerard.


"Siapa namamu?"


"Denna Apriani, nyonya,"


"Ayahmu? Ibumu? Adik? Kakak?"


"Ayah dan ibu saya sudah bercerai ketika usia saya delapan tahun, memiliki adik dari ayah dan ibu saya bersama pasangannya. Saya hidup bersama dengan sepupu saya di panti asuhan," jawab gadis itu gamblang.


Seorang anak yang terbuang akibat perceraian. Clara menggeleng dengan senyum miring. Denna akan bersiap melawan siapapun yang merendahkan dirinya. Para bayi ditangani oleh tiga rekannya. Manya dan Jovan sedang bekerja di rumah hanya ada enam maid dan satu tukang kebun. Mereka mengerjakan pekerjaannya masing-masing.


"Jadi apa anak broken home?"


"Saya tidak broken home nyonya!" tekan gadis itu begitu berani.


Gadis itu menatap wanita kaya di depannya. Jika pun ia harus dipecat gara-gara ini dia siap sekali.


"Kau menentangku?!" desis Clara Sugandhi.


"Kenapa nyonya, apa saya harus tunduk di hadapan nyonya?" tanya gadis itu.


Clara sangat menyukai cara Denna menghadapinya. Tapi ia masih ingin lagi memastikan jika gadis itu benar-benar mencintai putranya.


"Kau tau kan putraku itu adalah pewaris dari PT Downson Corp.!?" tanyanya sedikit angkuh.


"Ya saya tau," jawab Denna santai.


"Kau tau jika putraku itu tampan bukan?"


"Ya saya mengakui itu!"


"Lalu kenapa kau mau diajak pacaran?" tanya Clara.


"Nyonya ... sebagai gadis normal, Tuan Gerard Downson adalah pria idaman semua wanita termasuk saya. Jika ada yang menolak, berarti dia gila!"


Jawaban yang membuat Clara nyaris tertawa. Wanita itu membenarkan perkataan Denna.


"Jadi kau mau karena dia kaya dan tampan?"


"Nyonya, apa mau dengan pria jelek dan miskin?" Denna balik bertanya.


Clara terdiam. Jawaban standar dan tak dibuat-buat. Clara kagum akan kecerdasan gadis itu.


"Jika ia dicoret dari pewaris apa kau masih mau?"


"Apa nyonya tak kehilangan akal sehat, mencoret pewaris satu-satunya?"


Lagi-lagi pertanyaan Denna membuat Clara mati kutu. Tentu saja ia tak akan mencoret nama putranya hanya gara-gara tak merestui hubungan Gerard dengan gadis pilihan hatinya.


"Aku tak segila orang tua di novel-novel picisan yang harus mengorbankan anak demi perusahaan atau jabatan," dumalnya pelan.


"Jadi apa kau mencintai putraku?" tanya Clara dengan sorot mata langsung ke manik hitam Denna.


Pipi sang gadis langsung tersipu. Wajahnya memerah hingga telinganya. Clara bisa melihat cinta itu di mata sang gadis. Ia tersenyum, lalu ia memeluk Denna dan mencium kedua pipinya.


"Nyonya ...?"


"Hei ... panggil aku mommy sekarang, kau adalah kekasih putraku, aku akan menyuruhnya segera melamarmu," ujar wanita itu.


"Mo ... mommy?" cicit Denna lirih.


Clara tersenyum. Ia mengangguk, ia meyakinkan jodoh putranya sudah bertemu.


"Hubungi ayahmu, bukankah dia yang harus menjadi walimu nanti?"


"Tapi, saya takut nyo ... eum mom," ujar Denna masih ragu.


"Takut apa?" tanya Clara.


"Jika ternyata Tuan Gerard bosan, ia akan melepaskan saya," jawab gadis itu takut.


"Jangan kau pikirkan itu. Putraku cukup setia, ia masih perjaka walau bibirnya sudah tidak ya. Tolong jangan hakimi dia, kau tau maksudku," ujar wanita itu.


Denna mengangguk. Gerard adalah pria tampan dan mapan, pasti banyak gadis yang berebut perhatiannya.


Jika memang pernikahan itu terjadi dan Gerard menjadi miliknya, maka sebisa mungkin ia bertahan hingga tangannya tak mampu lagi menggenggam.


Denna lagi-lagi bersemu. Gadis itu memang terbiasa dengan bahasan vulgar seperti itu. Ia juga mempelajarinya. Sebagai perawat tentu bukan hal yang tabu masalah bercinta.


"Tetaplah jadi diri sendiri sayang dan jual mahal, jangan percaya pada semua rayuan putraku, ingat apa yang kau jaga harus kau beri ketika malam pertama," ujar Clara memberi ultimatum.


Denna mengangguk, walau ia ragu bisa mempersembahkan perawan. Bagaimana jika ia tak punya selaput dara? Gadis itu kembali bimbang dan hal itu membuat Clara bingung.


"Kenapa?" tanya perempuan itu.


"Nyonya bagaimana jika saya tak memiliki selaput dara?"


Clara mengerutkan keningnya. Lalu Denna menjelaskan apa itu selaput dara yang diklaim akan berdarah jika melakukan hubungan intim dengan lawan jenis.


"Jadi maksudnya, tak selamanya perawan itu ditandai dengan keluarnya darah?" tanya Clara bingung.


"Iya nyonya, saya takut jika tak bisa memberikan darah yang seperti awam orang tau," jelasnya lagi.


"Tapi kau belum melakukannya bukan?" tanya Clara gusar.


"Ya belum lah!' sahut gadis itu ikut gusar.


"Ya sudah tidak apa-apa, lagi pula putraku juga tak mempermasalahkan itu!" sahut Clara ikut gusar.


Lalu keduanya diam, saling pandang dan akhirnya tertawa.


"Sudah, jangan pusingkan itu," ujar Clara.


Denna tersenyum. Clara pulang dengan hati lapang. Wanita itu sangat beruntung dengan gadis pilihan putranya. Selain cerdas, Denna juga sangat berani.


"Bustel pemanan bawu menitah denan Papa yayah Lelat?" tanya Lika tiba-tiba.


Denna mengangkat bayi cantik itu lalu menciumnya.


"Minta doanya ya baby," ujar gadis itu.


"Blo!" pekik Lika tiba-tiba ingin turun dari gendongan Denna.


Gadis itu menurunkan bayi itu. Lika langsung berlari ke arah saudara-saudaranya.


"Pa'a Lita?" sahut semua kompak.


"Yut pita dowain Bustel Penna bial meunitah syama Papa yayah Lelat," ajak Lika.


"Bustel bawu nitah syama Papa yayah Lelat?" tanya Laina tak percaya.


"Mudah-mudahan baby, minta doanya ya," jawab gadis itu.


"Eundat poleh!" teriak Agil lalu mencebikkan bibirnya.


"Loh kenapa baby?" tanya Denna bingung.


"Papa yayah Lelat buma puat atuh ... hiks ... hiks ... Bustel pahat!" Agil menangis.


Denna terkikik geli sedang yang lainnya hanya tersenyum dan menggeleng.


"Baby, kan ada Om Hasan, Om Bima, Om Lektor dan Om Bernhard," sahut Leni.


Agil berhenti menangis, ia memikirkan empat pria tampan lainnya. Akhirnya ia menghapus air matanya.


"Baitlah ... Papa yayah Lelat poleh puat Bustel Penna," ujarnya mengalah.


Denna tertawa mendengarnya Gadis itu mengucap terima kasih dan mencium bayi cantik itu. Semua sudah ia rekam dan mengirimnya pada Gerard.


(Aku punya saingan loh!) tulis gadis itu ketika mengirimkan video.


Rupanya Gerard lama melihat video hingga satu tulisan membuat Denna tersenyum dengan rona merah di pipinya.


(Kita akan buat banyak yang seperti seven A ya sayang,) Ketik Gerard.


Denna memilih tak menjawab perkataan pria itu ia mengantongi benda pipihnya dan kembali pada aktifitasnya. Gerard pun juga kembali pada pekerjaannya yang menumpuk. Membangun perusahaan baru ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan.


bersambung.


ah ... akhirnya ada cinta


next?