THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
CINTA UNTUK RUDI



Pagi menjelang anak-anak sudah rapi dengan seragamnya. Maira datang bersama suaminya. Sepasang suami istri itu begitu gemas dengan semua cucunya.


"Kenapa kalian cepat besar sih!" dumal Maira gemas.


"Moma, masa kita disuluh kecil telus sih!" protes Laina.


"Moma, pita eundat bawu teusil pelus ... pita bawu dedhe judha pial setolah pial pinten," sahut Aidan menyela.


Abraham berdecak gemas. Ia akan membawa tiga cucunya plus adik iparnya yang juga masih bayi itu ke kantornya.


Ramaputra datang bersama sang istrinya dan putranya. Reece sangat tampan dengan dandanan baju formal.


"Uh ... adikku tampan sekali!" puji Manya.


"Biya don Mama ... atuh tan aditna Mama," sahut Reece begitu percaya diri.


"Ck ... kamu tampan karena anak Popa baby!" sahut Ramaputra kesal.


"Woh ... pemana Ata' Banya putan nanat Popa?" tanya Reece.


Manya langsung terkikik geli mendengar perkataan adik bungsunya itu.


"Kita bawa semua anakmu sayang!" ujar Abraham.


Manya mengangguk, hari ini ia ada dua jadwal operasi. Kemungkinan malam hari baru pulang. Wanita itu pun mengangguk.


Lalu semua berangkat ke tempat masing-masing. Jovan menyuruh Pak Sidik menunggui anak-anak yang sekolah.


Sampai di sekolah semua anak sudah berbaris rapi dan masuk ke kelas masing-masing. Anton memakai sepatu baru yang kemarin diberi oleh Denta.


"Wah sepatu balu nih?" ujar Agil tersenyum.


"Iya, alhamdulilah," sahut Anton juga tersenyum.


Bu guru masuk, semua anak memberi salam


'"Selamat pagi Bu guru!"


"Selamat pagi murid-murid!" sahut Bu guru.


"Sekarang kita mengenal warna ya sekaligus membaca!" lanjutnya.


"Iya Bu guru!" pekik semua anak.


Semua mengikuti guru mereka. Hingga bel berbunyi tanda istirahat. Semua berhamburan keluar. Seven A dan Anton mendatangi suster. Sidik juga di sana, pria itu menyerahkan kotak bekal putranya.


"Anton bawa bekal apa?" tanya Abi.


"Nasi goleng," jawab Anton membuka bekalnya.


"Wah kita sama, nasi goreng," ujar Abi.


Semua anak duduk, seven A memakan sendiri bekalnya, begitu juga Anton. Denta datang, ia juga membawa bekal dan makan bersama.


"Sepatunya pas?" tanya Denta dengan senyum melihat sepatu pemberiannya dipakai.


"Iya pas!" jawab Anton.


"Habis makan main yuk!" ajak Denta.


""Main yang kayak kemalin?" tanya Lika.


"Iya!" jawab Denta.


"Ayo, spasa takut!" sahut Abraham.


Usai makan, mereka pun kembali bermain. Anton tetap menjadi tim bersama seven A. Sedang Denta bersama teman-temannya.


Riuh suara anak-anak menjadi perhatian guru-guru. Seven A benar-benar memperlihatkan ketangguhannya, permainan langsung di bawah kendali mereka.


Denta dan kawan-kawan kalah telak. Hingga membuat balita bongsor itu harus menyerah kalah.


"Aku kalah!" ujarnya ngos-ngosan.


Guru melihat sebuah peluang untuk membuat pertandingan dari permainan jaman dulu itu.


"Sepertinya seru jika dibuat perlombaan,' gumam Bu guru.


Bel masuk berbunyi, anak-anak sudah bermandi peluh dan napas yang tersengal. Baju mereka kotor karena terjatuh dan bergulingan di tanah.


"Astaga Nak, kalian kotor sekali!" seru Bu guru lalu mengusap semua baju murid-muridnya.


Mereka masuk kelas dengan belajar tangga nada. Tentu saja ada yang bisa seusai not ada yang tidak. Seven A termasuk yang bisa seusai not. Tak lama pelajaran selesai, mereka semua berhamburan keluar. Pak Sidik membersihkan baju kotor semua tuan dan nona mudanya. Setelah itu mereka pun pulang.


Begitu sampai rumah, Maira dan semuanya juga sudah sampai.


"Ya ampun cucu-cucu Moma!" serunya takjub.


"Kalian habis apa?" tanya Amertha.


"Habis main doblat sodol Moma!" jawab Lika dengan senyum lebar.


"Gobak sodor, Nyonya," ralat Saskia.


"Oh ... permainan apa itu?" tanya Maira lagi.


Mereka sudah masuk dan langsung ke kamar. Amertha meminta semua anak-anak mandi agar tak gatal habis bermain kotor.


"Permainan ketangkasan, Nyonya. Ada penjaga dan ada tim penghancurnya," jawab Saskia lagi.


"Duh, ada yang lecet nggak?" tanya Amertha melihat tangan dan kaki cucu-cucunya yang seperti terbeset.


"Namanya juga main ketangkasan, luka adalah hal biasa," sahut Abraham.


"Tapi kan sakit," sahut Amertha.


"Sudah nggak apa-apa, yang penting mereka bisa bermain dengan hati yang senang," sahut Ramaputra.


Usai makan siang, mereka pun disuruh untuk tidur siang. Ramaputra dan Abraham sudah kembali ke perusahaan mereka masing-masing.


Rudi masih berusaha bagaimana ia mencari jalan agar cintanya direstui. Ramaputra memberi akses bahkan ia telah menelepon Irham.


"Aku hanya bilang, jika Rudi adalah pria yang baik. Dia mencintai putri kita dengan tulus," ujarnya memberi saran.


"Kita mesti tau trek rekor putri kita," lanjutnya.


"Aku bukan menentang, aku yakin selain Rudi. Masih ada pria yang lebih baik yang mencintai putriku!" sahut Irham bersikeras.


"Kau buta Irham dan kau sangat egois!" sahut Ramaputra kesal.


Irham tak peduli. Ia sangat yakin jika banyak pria di luar sana yang mencintai putrinya dengan tulus.


"Aku yakin Rudi hanya ingin kekayaan putriku saja. Ia cuma jongos Ramaputra!" gerutunya kesal.


"Tuan, ini adalah profil Tuan Rudi Hardiansyah!" ujar pria lalu memberi map warna coklat.


Mata meremehkan Irham sangat jelas terlihat, sebelum ia membuka map dan membaca isinya. Begitu ia lihat dan baca, matanya melebar mulutnya menganga.


"Jangan berikan berita bohong!" teriaknya pada pria itu.


"Itu yang saya dapat Tuan. Tuan Rudi Hardiansyah adalah pebisnis nomor dua setelah Tuan Ramaputra Artha. Walau dia sebagai bayang-bayang Artha Corp. Tuan Rudi memiliki kekayaan yang nyaris sama dengan Tuannya!" jawab pria yang membawa data tentang Rudi tadi.


"Dia pasti korupsi!" tuduh Irham tak berperasaan.


"Sayangnya tidak Tuan. Jika dihitung dengan bonus dan reward yang beliau dapatkan selama dua puluh tahun mengabdi, itu memang jumlah yang pas, terlebih dia menginvestasikan emas sebagai tabungan kekayaannya," jelas pria itu panjang lebar.


"Jujur Tuan harta anda jauh di bawah harta Tuan Rudi," lanjutnya.


"Berengsek! Keluar kau!" usir Irham.


Pria itu masih tak percaya dengan kekayaan Rudi. Bagaimana Artha mempercayai nyaris seluruh pekerjaan pada pria bawahannya itu.


"Sial!" umpatnya kesal.


Sementara di tempat lain. Keadaan Leticia sudah membaik, gadis itu tengah memimpin rapat divisi di anak perusahaan milik ayahnya.


Usai rapat, Leticia memilih pergi dari perusahaan dan makan di sebuah kafe di depan perusahaannya.


"Nona," gadis itu menoleh.


Rudi duduk di hadapan sang gadis. Sungguh Leti begitu takut dengan keberadaan Rudi bersamanya.


"Kenapa kau ke sini?" tanyanya gusar.


Netra gadis itu memperhatikan sekeliling, walau ia memilih tempat vip tetapi, ia yakin anak buah ayahnya berpencar dan mengamati.


"Karena aku merindukanmu,"


Jawaban Rudi membuat Leticia menitikkan air matanya. Ia benar-benar khawatir.


"Rud ... aku mohon, jangan begini. Aku tak mau kau terluka!"


Rudi menggenggam tangan sang pujaan. Netranya menenangkan gadisnya, lalu ia mengusap jejak basah dengan jemarinya.


"Aku mencintaimu, percayalah. Aku akan terus berjuang mendapatkanmu!" janjinya.


"Aku percaya dan aku akan menunggumu," sahut Leticia.


Rudi mengecup bibir yang sudah menjadi candunya. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Leticia.


Gadis itu menatap punggung sang pria. Ia mengelus jantungnya yang dari tadi berdetak hebat.


"Aku akan menunggumu sayang, aku mencintaimu!"


bersambung.


Semangat Rudi!


next?