THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
BERMAIN DI RUMAH



akhirnya hari libur datang. Anak-anak memilih bermain di teras belakang rumah mereka. Manya mengadakan piknik di sana.


"Halo ... mulit-mulit setalian pudah siyap belajan?" tanya Syah yang berlaga menjadi guru.


"Pudah!" teriak para bayi dan kakak-kakaknya.


Seven A masih terkontaminasi oleh bahasa bayi jika sudah berkumpul dengan adik-adiknya.


"Oteh ... sekalang kita akan belajan benulis ya!" ujar Syah lagi.


"Mawu bulis pinama Pat dulu?" tanya Adelard bingung.


"Oh ... lupa ... pita eh kita akan belajan beulnyanyi aja!"


"Holeee!" pekik Aqila sambil bertepuk tangan.


Amertha dan putranya datang bersama sang suami. Maira, Abraham dan Aldebaran sedang pergi ke Amerika. Mereka mengurus jual beli properti yang mereka miliki di sana.


"Halo!" sapa Ramaputra dengan senyum lebar.


Reece langsung duduk bersama keponakan kecilnya. Amertha membawa kue dan salah satu maid langsung menyiapkan di piring.


"Moma pawa tue?" tanya Aidan dengan mata bulat.


"Bawa Baby," jawab wanita itu.


Amertha jadi gemas sendiri mengurus bayi. Di mansion Reece menjadi obat sepi Amertha dan Ramaputra.


Anak-anak tak jadi bermain guru dan murid. Mereka memilih makan yang dibawa oleh nenek mereka tadi..


"Popa ini enak woh!" ujar Abraham.


"Kalian belum bilang makasih loh?!" peringat Manya.


"Makasih Moma, Popa!" sahut semuanya termasuk Reece.


"Sama-sama Babies," sahut sepasang suami-istri yang sudah tidak muda lagi.


"Jovan belum kembali dari luar kota, Manya?" tanya Ramaputra, sang ayah.


"Sedang dalam perjalanan, Daddy," jawab Manya.


"Semenjak berhasil membangun gedung untuk perusahaan baja milik Black Dougher Young, usaha suamimu makin pesat," ujar Ramaputra bangga.


"Aku bersyukur untuk itu, Dad," sahut Manya dengan senyum indah.


"Daddy juga sepertinya meluaskan usaha di bidang properti," lanjutnya.


"Iya, kemarin ada satu usaha properti yang menjual aset karena kekurangan biaya, jadi Daddy beli saja," jawab Ramaputra.


Makanan habis, mereka kembali bermain menjadi murid dan guru.


"Ayo setalan Yis, yan nyanyi!' tunjuk Syah.


Bayi berusia tujuh belas bulan ini maju. Ia mulai menggoyangkan tubuhnya padahal tidak ada musik sama sekali.


"Puwa pata zaya ... lidun zaya patu ... eummm ...!' Reece lupa lagunya.


Bayi tampan itu menggaruk kepalanya hingga membuat rambutnya berantakan. Manya terkekeh melihat adik bungsunya itu.


"Dua tangan saya ...," lanjutnya.


"Ah ... puwa tanan zaya yan tili dan tanan ... patu bulut zaya pidat peulbenti matan!" Reece selesai membawakan lagunya.


Semua bertepuk tangan meriah. Amertha dan Manya tersenyum lebar, sedang Ramaputra hanya menggeleng melihat tingkah putranya itu.


Tak lama Jovan datang bersama Praja, Saskia masih bekerja bersama Manya. Wanita itu juga tak memiliki kegiatan apapun di rumah. Sang suami juga mengijinkannya.


"Halo, Papa Yayah pulang!'


"Papa Yayah!" pekik semua anak termasuk Reece.


Jovan mencium semua anak-anak termasuk adik iparnya yang masih bayi itu.


"Halo Dik ... apa kau sudah merusuh hari ini?" kekehnya bertanya.


"Dia baru saja bernyanyi," sahut Manya.


Jovan mencium punggung tangan kedua mertuanya, sedang pada istrinya ia mencium kening.


Banyak hadiah dibawa oleh Praja untuk semua anak-anak. Agil mengambil mobil-mobilan. Jovan sengaja membawa lebih mobil dibandingkan boneka.


"Agil, kamu pelempuan ... masa mainna mobil syih!" tegur Abi protes.


"Nggak apa-apa Baby, kan masih banyak mobilannya," sahut Jovan.


Agil tersenyum lebar. Ia tentu diberi kebebasan memilih mainannya. Akhirnya mereka bermain bersama, Reece diajari bagaimana menjalankan mobil.


"Telus lepas!"


Bukan dilepas Reece malah melempar mobil itu. Bhizar langsung memarahinya.


"Eundat dithu!" pekiknya tak sabaran.


"Baby ... Om kecilnya kan nggak ngerti. Yang sabar dong jelasinnya!" peringat Manya.


"Oh ... maaf Mama," ujar Bhizar menyesal.


"Bukan sama Mama tapi sama Om!"


"Maaf ya Om," ujar Bhizar pada Reece.


"Tat pasalah ... tat pasalah!" sahut Reece santai.


Abi mengambil mobilan yang dilempar oleh om nya tadi. Mereka kembali bermain. Reece bisa menjalankan mainannya setelah diajari sepuluh kali oleh Bhizar.


Akhirnya makan siang tiba. Mereka pun sudah berada di meja makan. Semua menyantap makanan dengan tenang. Usai makan mereka pun tidur siang bersama. Amertha dan Ramaputra tidur siang bersama cucu-cucunya.


Ketika sore menjelang. Mereka sudah bersih dan segar. Manya bertanya keberadaan Rudi.


"Rudi mana Dad?"


"Anak itu sedang pergi mengunjungi makam kedua orang tuanya di kota B," jawab sang ayah.


"Lalu, bagaimana dengan usahanya mencari istri. Apa Daddy tak membantu untuk mendekatkan Rudi dengan Leticia?" tanya Jovan kini.


"Daddy menyerahkan semua urusan jodoh pada anak itu. Lagi pula, Leticia sudah memiliki kekasih seorang CEO di kotanya," ujar Ramaputra.


"Kasihan Rudi. Dia belum bisa move on dari Leticia. Pria itu sepertinya sangat mencintai adikku itu," sahut Manya.


Ramaputra tak menanggapi perkataan putrinya. Kesalahan terakhir Leticia sudah membuatnya kecewa berat. Terlebih anak yang pernah ia asuh itu terlibat dengan perencanaan pembunuhan.


"Daddy belum bisa maafin Leti?" tanya Manya hati-hati.


"Manya ... Daddy mohon," pinta pria itu.


Manya akhirnya diam. Ia sebenarnya sedih melihat ekspresi rindu yang diperlihatkan ibunya ketika menyebut nama Leticia.


Malam berlalu. Ramaputra menggendong putranya. Mereka pulang ke mansion, Amertha berjanji akan datang besok setelah anak-anak pulang sekolah.


"Nggak nginep aja Mom?" tawar Manya.


"Nggak sayang. Besok pagi Daddymu akan pergi ke luar kota lagi bersama Rudi," jawab sang ibu.


Amertha pun masuk mobil setelah mencium lagi kening putrinya. Kendaraan roda empat itu bergerak perlahan keluar dari halaman rumah. Jovan merangkul bahu istrinya, semua anak telah tidur di kamar mereka.


"Ayo masuk sayang," ajak pria itu.


Mereka masuk dan kini sudah berbaring di ranjang mereka. Manya masih melamun, ia kepikiran dengan ekspresi ibunya tadi.


"Apa yang kau lamunkan sayang?" tanya Jovan.


Pria itu merebahkan diri dan memeluk sang istri. Manya tenggelam dalam pelukan suaminya.


"Aku kepikiran Mommy, sepertinya dia rindu sekali dengan Leticia," jawab Manya.


"Sayang ... Leticia itu tak bisa dikasih hati ... kau tau usaha terakhirnya kan?"


Manya mendongak, ia menatap wajah suaminya, kelopak mata pria itu sudah memejam. Sungguh perjalanan hari ini sangat melelahkan.


"Apa Mas juga belum bisa memaafkan Leticia?"


Netra hazel itu membuka. Jovan menatap netra coklat terang milik istrinya. Pria itu mengecup bibir sang istri.


"Aku sudah memaafkannya. Tapi untuk ia kembali bergabung menjadi keluarga?" pria itu menggeleng.


"Aku menolak!" lanjutnya.


"Ah ... sudah lah sayang. Kita sudah bahagia sekarang. Aku tak mau menambah masalah dengan hadirnya Leticia lagi di hidup kita," pinta pria itu dengan suara beratnya.


"Ayo tidur ... bukankah besok kau ada jadwal operasi?" Manya mengangguk.


Keduanya pun terlelap. Sedang di tempat lain. Leticia pulang ke mansion orang tuanya dengan air mata berderai.


"Mama ... Dave selingkuh ... hiks!"


bersambung.


lah ...


next?