THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PUTRIKU!



Irham benar-benar ingin menjemput putri kandungnya. Ia sudah tau di mana keluarga Artha berada. Hanya beda kota dan butuh waktu lima jam perjalanan. Untuk mempersingkat waktu. Irham dan istrinya memakai jet pribadi langsung ke bandara milik Artha. Keduanya belum mengetahui keadaan anak gadis yang mereka jemput tengah berbaring lemah dan dalam keadaan koma.


"Tuan, kita akan langsung ke perusahaan milik Tuan Artha, beliau sudah ada di sana," ujar pengacara pria itu.


Irham Wijaya mengangguk. Sedang sang istri menggenggam erat tangan suaminya. Jantungnya berdegup kencang, ia tidak sabaran untuk bertemu putrinya.


Sedang Ramaputra sudah mengetahui kedatangan orang tua dari putrinya. Namun, pria itu belum memberi tahu keadaan Leticia pada pasangan suami-istri itu.


"Sayang," Amertha datang dengan dress terbaiknya.


Wanita itu sudah menangis dari tadi, mengetahui jika sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang tua asli putrinya.


"Sayang, putri kita di mana kalau begitu?" tanyanya terisak.


"Sabarlah sayang," ujar Ramaputra menenangkan sang istri.


Mereka menunggu selama dua jam. Karena memang perjalanan dari bandara pribadi miliknya cukup jauh.


Tak lama tiga orang datang. Mereka diantar oleh Rudi. Pria itu belum tau siapa mereka, karena Ramaputra belum memberitahunya.


"Selamat siang Tuan Wijaya, saya Ramaputra Artha!' ujar Rama memperkenalkan diri, "dan ini istri saya. Amertha Franklin!"


Irham dan Renita menjabat tangan dua manusia yang sangat berpengaruh dalam bisnis itu. Renita tak mau memandang Amertha karena hari ini ia kalah set jauh. Wanita itu mengenakan dress dari sutra terbaik dengan dijahit tangan oleh designernya sendiri. Ia juga memakai perhiasan berlian kumplit di tubuhnya.


Sedangkan Amertha hanya memakai dress warna hitam dengan motif bunga-bunga putih berukuran kecil. Hanya ada dua perhiasan yang dikenakan oleh Amertha yakni kalung dengan Balck diamond yang langka dan cincin kawin. Yang paling menonjol adalah keanggunan Amertha dalam duduk dan diam di sisi suaminya.


"Ck ... sial! Dia sangat cantik sekali!" puji Renita dalam hati.


Sedang Irham juga kalah set dari Ramaputra. Walau mereka memakai setelan formal yang dijahit tangan oleh para designer. Tapi, pembawaan Ramaputra yang sangat tenang dan begitu kuat. Membuat Irham harus menenangkan detak jantungnya.


"Maaf, saya bukan orang yang suka basa-basi!" ujar Irham memecah keheningan.


"Baiklah, silahkan anda bicara!" sahut Ramaputra.


"Saya dan istri akan mengambil putri kami!"


Amertha meremas tangan suaminya erat. Tampak dirinya tak terima begitu saja, putri yang selama ini ia asuh dan besarkan akan diambil oleh orang lain.


"Ini semua surat dan dokumen dari rumah sakit. Begitu juga rekap perkara dari kepolisian jika putri yang bersama dengan anda adalah putri kami!" ujar Irham lalu mengkodekan pengacaranya menyerahkan semua bukti.


Ramaputra menerima semuanya. Ia menenangkan istrinya. Jika memang putri yang selama ini mereka sayangi bukan milik mereka.


"Baik, tapi sebelumnya saya akan beritahu nama putri kami maksud saya putri anda adalah Leticia Renina Artha," ujar Rama dengan suara tercekat. Pria itu belum mampu mengatakan jika Leticia bukan putrinya.


"Nama yang indah, kami tak keberatan," ujar Irham dan disertai anggukan istrinya.


"Putri anda kini berada di rumah sakit ...,"


"Apa, bagaimana bisa putriku ada di rumah sakit, apa anda tak bisa merawatnya dengan baik!" potong Renita marah.


Ramaputra menatap tajam wanita yang berteriak padanya. Hal itu membuat Renita langsung terdiam.


"Tenangkan dirimu sayang," pinta Irham pada istrinya.


"Putri anda melanggar lampu lalulintas dan ditabrak oleh truk hingga mobil yang ia kendarai terguling," lanjut Ramaputra.


Irham dan Renita langsung shock. Sedang Amertha menangis tersedu.


"Lalu, sekarang bagaimana kondisi putri kami?" tanya Irham lemah.


"Masih koma," jawab Ramaputra.


"Pa ... kita ambil putri kita pa ... kita bawa dia ke rumah sakit terbaik di dunia!" rengek Renita dengan menekan kalimat rumah sakit terbaik di dunia.


"Antarkan kami ke sana!" ujar Irham.


"Sebelum anda ke sana, saya juga ingin memberitahu satu hal!" tekan Ramaputra lagi.


Sepasang suami istri itu diam dan menunggu. Rama mengambil berkas dalam amplop coklat. Irham tak sabar dan langsung membuka amplop itu. Renita terkejut sampai menutup mulutnya.


"Kami akan menerima apapun dia, Leticia adalah putri kami," ujar Irham bijak.


"Ck ... sayang, tingkah saja anggun tapi tak bisa mendidik putriku dengan baik, sampai putri kami masuk dalam pergaulan bebas!' sindir Renita pada Amertha.


"Saya sudah melakukan yang terbaik untuk putri saya nyonya!" tekan Amertha tak terima.


"Sebelumnya Leticia adalah gadis yang manis dan sangat baik, walau ia manja. Tapi, semenjak ia berpacaran, Leticia berubah menjadi liar dan tak terkendali, bahkan nyaris jadi tersangka pembunuhan!" terang Amertha.


"Itu salahmu sebagai ibu. Kenapa kau biarkan putriku berpacaran! Andai dia tak ditukar, di tanganku Leticia pasti jauh lebih baik!" sentak Renita juga tak terima.


"Sudah cukup!' bentak Rama hingga dua wanita itu terdiam.


"Tidak ada yang tau nasib Leticia jika tak ditukar, apa dia lebih baik atau lebih buruk. Karena memang sayangnya, kami lah yang merawat dan mendidik putri anda!"


"Begitu dong ... ngaku kalau salah itu," sindir Renita sinis.


"Sudah ... sudah, saya ingin bertemu dengan putri saya sekarang!" putus Irham.


Pria itu juga tak mau menyalahkan didikan Ramaputra, dirinya juga tak yakin,.arus pergaulan bebas jaman sekarang makin gila. Bahkan beberapa anak koleganya ada yang terjerat narkoba, padahal ayah ibu mereka seolah yang alim.


Mereka langsung ke rumah sakit besar dengan fasilitas terlengkap dan terbaik. Irham sangat puas jika putrinya dirawat di sini. Artinya Ramaputra menjalankan tugasnya sebagai ayah yang kaya raya.


"Ini kamarnya," ujar Ramaputra lalu membuka pintu.


Di sana ada dua dokter tengah menangani gadis malang itu. Rama masuk dan bertanya perihal putrinya.


"Mommy!"


Semua terkejut bahkan juga para dokter. Perawat membawa keluar empat orang yang tadi masuk.


"Tolong keluar dulu ya," pintanya. "Agar pemeriksaan sempurna,"


Semua menurut. Hanya lima menit saja, mereka kembali masuk.


"Mommy!" rengek Leticia, "Sakit,"


Renita dan Amertha maju bersamaan. Amertha meminta waktu pada Renita agar membiarkannya terlebih dulu maju. Renita mengerti, ia tak mau terjadi sesuatu pada putrinya jika langsung mengetahui sebenarnya.


"Sayang, mommy di sini," ujar Amertha.


"Mommy ... I'm sorry," ujar gadis itu ketika menatap ibunya.


Amertha menangis lalu memberi kecupan pada putrinya. Sementara Ramaputra dan Irham tengah mendengarkan perkataan dokter tentang Leticia.


"Sangat menakjubkan, Nona Leticia lepas dari koma dan kritis secara bersamaan, terus beri dukungan padanya. Jangan ingatkan lagi tentang hal yang menyakitkan, agar ia tak terpuruk dan jatuh lagi," terang dokter panjang lebar.


"Baik dok, kami akan melakukan yang terbaik untuk putri kami," ujar Ramaputra.


Amertha menatap Renita yang diam dengan air mata berlinang. Ia merentangkan tangannya meminta wanita itu mendekat.


"Sayang, perkenalkan ini Mama barumu, Mama Renita," ujar Amertha memperkenalkan Renita.


"Mama baruku?" Amertha berusaha mati-matian untuk tidak menangis.


"Iya sayang, beliau jadi mamamu karena darahnya sekarang ada di tubuhmu," bohong Amertha.


"Makasih ... tan ...."


"Panggil Mama sayang," pinta Amertha membuang jauh-jauh keegoisannya.


"Mama," panggil Leticia membuat Renita dan Amertha menangis.


bersambung.


ah ... gimana putrinya Amertha dan Ramaputra?


next?