THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
SEBUAH KISAH



Lana berdiri di depan kaca tebal perusahaannya. Gadis itu tengah mengamati hiruk pikuk jalan raya yang ada di bawah sana. Satu titik bening jatuh dari sudut matanya.


"Kenapa aku begitu bodoh dulu!' sesalnya.


Pamannya tadi telah mengatakan jika dirinya diterima oleh Bernhard dan akan mengajaknya berkencan.


Lana baru berusia dua puluh empat tahun. Ia berkecimpung di dunia bisnis ketika berusia dua puluh satu tahun. Bergaul dengan para sosialita membuatnya terseret ke pergaulan bebas. Tadinya ia biasa saja, tetapi makin lama ia sadar jika itu adalah kesalahan terbesar.


"Bodoh kau Lana!" sindirnya pada diri sendiri.


"Nona, pekerjaan anda sudah selesai," ujar sang sekretaris.


"Mia ... apa kau masih perawan?" tanyanya langsung.


Mia terdiam. Wanita itu mengerutkan keningnya. Jaman sudah begitu maju, apa masih penting keperawanan itu?


"Jujur saya sudah tidak perawan sejak kelas dua SMA, Nona," jawabnya lirih.


"Apa kau merasa bersalah sekarang?"


Lana menatap sekretarisnya lekat. Gadis itu memandang lurus manik coklat tua di depannya.


"Jujur tidak, Nona," jawab wanita itu begitu gamblang.


"Wah ... kenapa begitu?" tanya Lana.


"Nona, semua pria ingin wanita baik-baik padahal dia bejat. Lalu kenapa kita harus jadi baik jika bersuami bejat? Toh nanti akan lari dalam pelukan pelakor juga," sahut Mia begitu santai.


"Pelakor?"


"Iya, ingin wanita baik jadi istri. Tapi suatu saat ia terjerat pelakor, ibarat kata pria tak pernah akan jadi manusia baik-baik, walau tak semuanya begitu sih," sahut Mia lagi.


"Lalu apa kau sudah menikah?" tanya Lana.


Mia adalah sekretaris barunya. Sekretaris sebelumnya sudah resign karena menikah.


"Saya pernah menikah dan bercerai satu tahun kemudian," jawab Mia.


"Maaf terlalu banyak bertanya, kau cerai karena?"


"Pelakor yang ngaku di perawani mantan suami saya hingga hamil tiga bulan!' jawab Mia.


"Mengaku jika pelakor itu wanita baik-baik," Mia berdecih menjelaskan perjalanan pernikahannya.


"Tapi kok mau berzina, apa bedanya dia dengan saya dulu?" lanjutnya.


"Ah ... sudah lah, maaf jika aku mengungkit masa lalumu Mia!" ujar Lana mengelus bahu sekretarisnya.


Lana langsung mendatangi restauran di mana Bernhard mengajaknya bertemu. Gadis itu masih berpakaian kantoran, rambutnya acak-acakan, ia belum sempat ke salon.


"Atas nama Tuan Bernhard Collins!" ujar gadis itu pada resepsionis.


Salah satu waiters membawanya ke sebuah meja biasa, bahkan ruangannya bukan VVIP. Lana tersenyum kecut, ia duduk menunggu pria yang berjanji padanya. Waktu masih tersisa sepuluh menit dari yang dijanjikan.


Lana memesan makanan, ia cukup lapar. Hingga selesai makan, Bernhard belum juga datang.


"Tinggal tiga menit lagi," ujarnya bergumam ketika melihat jam tangan mewahnya.


Pria itu datang satu menit waktu yang dijanjikan berakhir. Lana berdiri, Bernhard langsung duduk dan mengabaikan uluran tangan gadis itu. Lana akhirnya menurunkan tangannya dan ikut duduk.


"Aku langsung saja," ujar pria tampan di depannya.


"Jujur aku sedang menyukai seorang gadis!" lanjutnya.


Nyes! Hati Lana begitu sakit mendengarnya. Ia hanya menatap kosong pria di hadapannya. Gadis itu tak mendengar apa perkataan Bernhard.


"Apa kau mengerti?" tanya pria itu gusar.


"Tidak Tuan, aku tidak mengerti!" jawab Lana tersadar dari lamunannya.


"Ck ... kau pasti sering membaca novel-novel picisan tentang perjodohan bisnis kan? Kau ingin keuntungan dengan menikah denganku, sedang aku menikah hanya agar menyenangkan ibuku dan tak mengganggu gadis yang aku cintai!" jelas Bernhard itu lagi.


"Jadi maksud Tuan?"


"Kita bertunangan langsung dan menikah dua bulan mendatang!" sahut Bernhard.


"Menikah tanpa cinta?"


"Oh, ayo lah ... kau hanya ingin pernikahan bisnis kan?"


Lana menautkan jemarinya kuat-kuat gadis itu merasa begitu sakit. Pria di depannya tak berbasa-basi dengannya, ia mengungkap semua rencananya.


"Tidak," jawab Lana pelan.


"Sepertinya pertemuan kita harus berakhir sekarang, Tuan Collins!" sahut Lana tegas.


"Perusahaan saya baik-baik saja tanpa menikah dengan anda!' lanjutnya.


Lana berdiri dan pergi meninggalkan Bernhard yang mematung. Ia akan berhenti meminta pamannya mencarikan jodoh untuknya.


"Aku yakin aku pasti bisa!' ujarnya memotivasi diri.


Lana berjalan tegak, tak ada yang tau apa yang gadis itu rasakan. Hatinya hancur, ia merasa dirinya tak pantas untuk dicintai, karena sudah dicap kotor oleh semua orang.


Bernhard yang diam mematung tak acuh dengan apa yang dikatakan gadis tadi. Ia pun pergi meninggalkan restauran itu.


Lana berada di perusahaannya. Gadis itu kembali ke sana dan memilih tidur di ruangan khususnya.


"Wanita kotor tak berhak mendapat cinta suci dari siapapun!' ujarnya lalu membaringkan dirinya.


Matanya basah, penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi apa penghakiman semua orang akan terus menghantui seumur hidupnya?


"Kenapa aku tidak dilahirkan sebagai laki-laki, biar aku bisa berengsek dan semua orang tutup mata menilai karena uang yang kumiliki?" tanyanya.


Joe mendapat kabar dari keponakannya agar tidak lagi mencarikan jodoh untuknya. Pria itu meneleponnya.


"Halo Lana?!"


".....!"


"Apa kau sudah jadian dengan Bernhard?"


"......!"


"Apa? Tapi ibunya ...."


"Sudahlah Paman, terima kasih. Aku tak butuh siapa-siapa lagi. Maaf telah merepotkanmu," ujar Lana menutup sambungan ponselnya.


Joe Brooks menatap layar yang telah menghitam. Ia yakin terjadi sesuatu di restauran. Pria itu hanya menghela napas panjang, ia akan membimbing keponakannya itu dalam berbisnis sesuai permintaan mendiang adik sepupunya.


Bernhard mendatangi klub langganannya. Hasan, Lektor dan Bima juga ada di sana.


"Bagaimana kencanmu, tumben kau tak mengajak gadis itu ke ranjang?" tanya Lektor heran.


Keempatnya menenggak wishky. Rasa terbakar mulai menyerang tubuh mereka.


"Dia pergi dan menolak semua rencanaku," jawab Bernhard tenang.


"Apa ... kau baru saja ditolak seorang gadis?" tanya Bima tak percaya.


"Ck ... dia bukan gadis lagi!' sahut Bernhard menenggak kembali minumannya.


"Memangnya kau masih bujangan?" sindir Lektor sinis.


"Oh ... ayolah, apa kalian tidak ingin memiliki istri seperti Denna?" tanya Bernhard juga sinis.


"Mestinya kita tak di sini jika mau perempuan baik-baik!" sahut Lektor terkekeh.


"Kenapa sih kita tak bisa sedikit lurus seperti Gerard?" tanya Bima mulai mabuk.


"Ah ... mungkin anunya tak bisa berdiri jika melihat wanita-wanita seksi itu," tunjuk Hasan pada para wanita yang menjajakan diri mereka.


"Halo Tuan, apa mau kutemani?" tawar salah satu primadona di tempat itu.


Bernhard menyambar bibir perempuan itu, keduanya saling pagut dan nyaris bercinta di sana.


"Tuan ... ayo kita ke kamar," ajak perempuan itu dengan suara seksi.


Bima menarik sahabatnya keluar dari tempat itu. Lektor dan Hasan juga sudah keluar dari tadi.


"Hei ... kenapa kau bawa aku keluar!" pekik Bernhard ingin masuk ke dalam lagi.


"Jangan gila dan merusak masa depanmu, kau tak tau dia bawa penyakit apa!" sahut Bima.


Keempat pria itu masuk mobil. Di antara semua hanya Hasan yang sangat toleran dengan alkohol, walau berapa pun ia minum, pria itu tak akan mabuk.


bersambung.


no coment ...


next?