THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
THE POWER OF SEVEN A



Tujuh bayi itu kini dalam dua kereta bayi. Gerard mendorongnya bersama dengan Jovan. Diikuti oleh Hasan, Bima, Lektor dan Bernhard juga Praja.


Para pria tampan bersama tujuh kembar identik menjadi sorotan terlebih wajah Jovan tercetak jelas pada wajah tujuh anaknya.


Mereka pergi ke salah satu mall besar milik Dinata. Salah satu inventaris Jovan. Abraham melihat satu outlet handphone. Bayi itu antusias. Keinginannya untuk membuat konten masih ia pendam.


"Papa yayah Lelat ... peuliin pira bonsel don!" pintanya dengan suara memohon.


"Mau apa kau dengan benda itu? mau menghubungi kekasihmu?" kelakar Gerard usil yang dihadiahi pukulan dari Jovan.


"Gerard!" peringatnya.


"Apa!" sahutnya dengan cengir kuda.


"Papa yayah Lelat pa'a ipu petasih?" tanya Lika ingin tau.


Jovan berdecak. Gerard menggaruk kepalanya. Ia memilih mengalihkan perhatian bayi itu dengan balon warna-warni.


"Bagaimana menurut kalian dengan pesta pernikahan yang didekorasi balon?" tanya Gerard pada Jovan.


"Kau kira Denna itu balita apa!' celetuk Hasan.


Gerard berdecak pada sahabatnya itu. Hasan lah yang jujur pada sang sahabat jika ia menyukai Denna.


'Papa yayah ... pa'a ipu betasih!' pekik Lika tak sabaran menunggu jawaban.


Ternyata bayi cantik itu masih menunggu dan mengingat soal kekasih tadi.


"Kamu masih kecil, jangan tanya hal yang menyangkut dewasa ya!" tolak pria itu.


"Hwnenhhwnshsnjwahhsnsiqbla!" Lika mengocehi pria besar itu dengan bahasanya.


Bima dan lainnya terkikik geli mendengarnya. Banyak gadis-gadis cantik menggoda para bayi.


"Halo babies ... kalian tampan sekali!"


"Tentu ayahnya kan tampan," sahut Jovan mengedipkan matanya pada para bayi.


"Papa yayah ... napa batana dedip-dedip?" tanya Abraham pada saudaranya.


"Pidat pahu, beulilipan tali?" jawab Syah.


"Butan syatinan tan?" tanya Abraham.


"Basa papa yayah teulemian?" sahut Abi.


"Papa yayah tan beulsih ... eundat buntin teulemian!" sahut Agil tak percaya.


Lektor, Hasan dan Praja terbahak mendengarnya. Sedang Jovan kesal dengan para bayi yang mengatakan ia memiliki sakit kremi.


"Baby, jika papa yayah mu keremian, dia akan menggaruk lubang anusnya!' celetuk Bima.


Pletak! Jovan menjitak sahabatnya itu. Semua terkikik geli, sedang Bima hanya meringis.


Semua kembali berjalan-jalan dan masuk ke sebuah outlet baju anak. Bima, Hasan, Lektor, Bernhard langsung memilih banyak baju untuk para bayi. Praja juga membelikan sepatu-sepatu bayi.


"Laina, Lika, Agil ... lihat ini cantik sekali kan?" ujar Bima menjejerkan tiga dress kembang yang sangat cantik.


'Janan lot teyus don!" tolak Agil langsung.


"Kalian kan cewek masa nggak mau rok?"


"Pita judha bawu selana Om Pimpa!" sahutnya.


Bima cemberut namanya berubah di mulut bayi cantik itu. Ia menggendong Agil dan langsung mencoba salah satu dress bahan katun dengan rok line A motif buah-buahan kecil tanpa lengan.


"Cantik sekali!" puji pelayan toko.


"Matasih!" sahut Agil ramah.


"Ih ... pinternya ... anaknya ya mas?"


"Iya anak saya," jawab Bima dengan senyum lebar.


"Butuh ibu buat ngasuh nggak mas ... saya mau loh!" tawar gadis itu genit.


Agil tak suka dengan gadis yang genit. Ia langsung meminta gendong Bima secara posesif.


"Tamuh janan deunit syama papa yayah atuh!" sahutnya tak suka.


Bima terkikik geli. Ia mendandani tiga bayi yang langsung ia bawa ke kasir dan baju ia bayar.


"Woi ... anak gua, lu apain!' sengit Praja.


"Ck ... gua mau bayar!"


Praja membuka baju-baju di tubuh tiga bayi cantik itu. Ketiganya hanya pasrah dan diam saja. Selama empeng di mulut mereka, ketujuh bayi itu akan diam.


"Nih bawa ke kasir!" Praja menyerahkan tiga dress ke Bima yang kesal.


"Kan lucu kali!' sengitnya.


"Kamu aja sana di scaning barcode nya. Paling nggak ada harga!" ketus Praja.


Sedang para bayi tampan dibelikan banyak baju kaos dan jeans. Lika, Laina dan Agil juga dapat baju senada dengan saudaranya yang laki-laki.


Usai membeli baju dan sepatu anak. Mereka bergerak ke apartemen Jovan. Pria itu ingin menjual penthouse miliknya dan membawa beberapa barang yang ada di sana.


"Selamat datang tuan!" sapa para petugas bangunan mewah itu.


Jovan dan lainnya tak peduli. Mereka bergerak sambil mendorong kereta bayi ke unit paling atas.


"Papa yayah ... imi beumpat spasa?" tanya Syah sambil mengedarkan pandangannya.


"Papa tutu!" teriak Abraham.


Praja menyodorkan botol susu. Para bayi tak mau minum di gelas khusus, mereka masih ingin di botol karena pucuk dot mirip pucuk dada ibu mereka.


"Engkel Lalja ... Api palpal!" Abi ingin makan karena lapar.


Kini Lektor yang bergerak. Ia mengambil tas yang ada di bawa stroller bayi dan membukanya di sana ada tujuh mangkuk khusus. Pria itu menghangatkan tujuh mangkuk di microwave.


Para pria memilih menyuapi anak-anak. Lalu menurunkan mereka ke lantai agar bergerak kemanapun.


Abi yang selalu tertarik dengan kertas menarik sembarangan beberapa berkas yang tak terpakai. Jovan hanya mengawasi saja. Sedang Praja membersihkan bekas makanan para bayi.


"Papa yayah bawu bulben!" pinta Abi.


"Bulben?"


"Ipu yan puat solet-zolet!" sahut Abi.


Jovan memberikan satu pena dari lacinya. Para bayi tampak berkumpul di atas karpet di ruang tengah. Lektor menegakkan satu meja kecil untuk memudahkan mereka.


"Kertasnya taruh di sini baby," ujarnya meletakkan kertas-kertas itu.


"Sudah biarkan mereka, semua tenang jika berkumpul seperti itu," ujar Jovan.


Lektor kini duduk bersama lima sahabatnya. Manya ada di rumah sakit. Hari ini memang Jovan tak bersamanya, pria itu tengah membangun usaha sama seperti milik PT Tridhoyo SavedAcounting.


Para pria dewasa tengah berdiskusi tentang usaha sedang para bayi tengah memecahkan rumusan kata yang ada di kertas.


"Imi basti tata yan teulpusun!" ujar Lika melihat deretan huruf abjad yang tak beraturan.


"Seupeltina bedhitu!" sahut Bhizar menimpali.


"Oh ... atuh syoba yah!' ujar Agil.


Bayi cantik itu memegang pulpen dan mulai mencoret garis lurus hingga membentuk kalimat. Agil menggaruk kepalanya hingga rambut ikalnya berantakan.


"Imi sunduh pulit days!" ujarnya.


"Syoba pihat!' pinta Syah.


"Bana bulben padhi!' Agil memberi pulpennya.


Wajah bayi itu sudah penuh coretan pulpen. Syah juga menarik garis lurus ke arah beberapa huruf dan melanjutkan kalimat yang ditemukan oleh saudara kembarnya tadi.


"Imi dalis teusyini syoba!" sahut Lika ketika melihat beberapa huruf.


Syah menarik lagi garis lurus vertikal. Abraham juga meminta Syah menoreh garis miring di tiga huruf lalu lurus ke kanan empat huruf dan miring lima huruf kemudian ke kanan tujuh huruf lalu semua huruf berakhir.


Memang ketujuh itu belum bisa membaca, tetapi mengenal huruf dan angka.


"Wah ... pita beuldambal bewasat ya!" sahut Laina bertepuk tangan.


"Papa yayah ... pihat ... pita beulasil bitin sepawat!" pekiknya girang.


Praja menoleh arah bayi yang menunjukkan kertas dengan huruf-huruf berantakan. Pria itu langsung terpekik kaget.


"Jovan Seven A mampu memecahkan sandi milik Tuan Lavinsky Roun!"


"Hah ... apa?"


bersambung..


eh ... seven A kenapa?


next?