THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KEMBALI SEKOLAH



Lily kini tersenyum bahagia. Maminya mengantarnya ke sekolah, bahkan Papinya juga ikut serta. Empat hari ia dirawat di rumah sakit. Dokter menyatakan virus otak yang menyerang pusat saraf gadis kecil itu hilang.


"Nanti Nenek yang jemput pulang ya," ujar Dinda mengecup pipi putrinya.


Lily mengangguk lalu melambaikan tangan ketika mobil itu berlalu meninggalkan gerbang sekolah. Beberapa teman langsung mengerubunginya.


"Kamu udah sehat Ly?" gadis kecil itu mengangguk.


"Syukurlah!" sahut semua temannya.


Mereka pun masuk kelas masing-masing. Ibu guru bahagia melihat salah satu muridnya kembali dengan senyum yang indah.


Bel istirahat berbunyi, mereka pun keluar kelas tapi tidak seven A. Denta mengeluarkan uang hasil jualannya kemarin.


"Modal yang kamu keluarkan berapa?" tanyanya.


"Ini hitungannya," jawab Abhizar mengeluarkan kertas nota belanja.


"Wah sampai lima ratus ribu," Denta menjumlahkan semua total belanja.


"Uang yang ditangan aku ada tujuh ratus dua puluh lima ribu rupiah!" lanjutnya.


"Untungnya lumayan juga ya?" sahut Rena senang.


"Keuntungannya kita simpan saja, uang modal kita beli lagi," ujar Abraham.


"Iya setelah satu bulan baru kita total semua dan membayar kalian," sahut Abi.


Semua mengangguk setuju. Anak-anak seperti Anton, Nita, Dwi, Angga dan lainnya sangat berharap pada uang yang dikumpulkan itu. Mereka sudah memiliki rencana.


Pelajaran usai, semua pulang ke rumah, Lily dijemput dua nenek dan kakeknya. Mereka mengajak cucunya ke perusahaan untuk makan siang bersama ayah dan ibu Lily. Sedang Seven A kembali ke rumah mereka.


"Kami pulang!" seru Lika ketika masuk rumah.


"Ata'!" pekik Maizah.


Bayi delapan bulan itu merangkak menyambut keponakannya. Mai dan Tita memanggil keponakan mereka Ata' terbawa oleh triple A dan Liam. Bahkan Reece juga terkadang memanggil seven A Ata'.


"Baby, ayo jalan," Lika menatah tantenya.


Bayi itu berjalan berjinjit dengan tangan dipegang oleh Lika. Hanya sebentar saja, Tita mengajak iparnya kembali menggunakan lututnya merangkak. Dua bayi itu diangkat oleh Saskia di kursi khusus agar tak kecolongan, sedang bayinya Pram juga didudukkan di kursi khusus juga.


"Ayo ganti baju," titah Saskia.


Seven A menurut, pada suster membantu kembar tujuh mengganti pakaian mereka dan cuci tangan. Setelah itu mereka pun bermain sambil menunggu makan siang tiba.


"Mama nggak pulang Sus?" tanya Abi sambil melihat jam di dinding.


"Sepertinya tidak, sayang. Mungkin ada jadwal operasi," jawab Saskia.


Abi mengangguk tanda mengerti. Sebentar lagi mereka akan tujuh tahun. Abi ingin berulang tahun di sekolah dan berbagi bingkisan pada teman-temannya. Pasti banyak yang suka.


"Eh ... bentar lagi kita mau tujuh tahun. Mau dirayain kek gimana?" tanyanya.


"Aku mau ajak temen-temen ke wahana permainan," jawab Abraham.


"Boleh juga tuh, kek ulang tahun Om Reece kemarin," sahut Laina.


"Tapi mereka sudah pernah ke situ," sahut Agil.


"Kalau kita pesta di sekolah aja gimana?" tanya Abi.


"Kita bisa berbagi sama semua teman bahkan kakak kelas kita," lanjutnya.


"Iya, biayanya juga pasti jauh lebih murah kan?" sahut Syah setuju.


"Kita bagiin bingkisan mainan bekas kita yang masih bagus itu!' tunjuk Syah pada satu lemari penuh dengan mainan.


"Iya, ada yang masih dibungkus kado juga," sahut Abi.


"Boleh, tapi bingkisan itu kalo buat kakak kelas apa cukup. Terus kan beda-beda semua tuh!" sahut Lika memberi pendapatnya.


"Ah iya juga ya," ujar Abi bingung.


"Kenapa nggak pesta di rumah kita aja. Terus undang semua anak kelas satu," sebuah ide tercetus dari Bhizar.


"Boleh, boleh!" sahut Abi antusias.


Akhirnya mereka pun memutuskan di mana mereka ulang tahun. Usai makan siang mereka diminta untuk tidur.


Besok harinya, mereka pun sudah rapi dengan seragam batik. Maira begitu gemas melihat tujuh cucunya.


"Gemes amat sih!"


"Nah ayo!" ajak Jovan. "Papa antar kalian ya!"


"Oteh Papa!' sahut seven A langsung bersorak riang.


"Baby sama Mama, kita masak ya!" ajak Manya.


"Lees mawu setolah Mama," rajuk balita itu.


"Baby ... Mama nanti sama siapa, Liam dan triple A nurutnya sama Reece loh," ujar Manya membujuk adiknya yang tampan itu.


Akhirnya Reece tinggal di rumah dengan hati berat. Manya pun mengajak semua anak untuk membantunya memasak.


"Mama!" pekik Tita.


Amertha dan Maira kembali mengikuti suami mereka. Sepertinya para istri mendadak posesif pada suami mereka.


"Baby, sini!" Tita merangkak cepat disusul oleh Mai.


Dua bayi di angkat di atas meja bersama lima lainnya. Saskia juga mendudukkan bayinya di sana.


"Mama nih pa?" tunjuk Tita.


"Tepung!" jawab Manya.


"Opun!" ulang Tita.


"Beda artinya sayang," Manya mencium adiknya yang bawel itu.


Satu mangkuk tepung kini sudah penuh di badan bayi itu. Saskia terlambat menghentikannya. Tita menangis karena tubuhnya putih semua.


"Baby," keluh Manya.


"Bi, tolong lanjutin!" perintahnya.


Salah satu maid melanjutkan pekerjaan Nyonyanya. Saskia terus mengawasi anak, Tita ditangani Manya. Sebelum diganti baju, wanita itu usil memfoto bayi cantik itu.



Bayi cantik itu malah tersenyum ketika di foto. Manya gemas dengan tingkah adiknya itu. Usai membersihkan Tita. Kini giliran Saskia membersihkan Aqila yang juga penuh dengan tepung.



Di meja sana ternyata sudah terjadi kekacauan. Seluruh anak sudah putih semua karena tepung.



Reece bahkan sudah bermain dengan spatula dan centong kayu dengan mangkok tepung. Manya hanya bisa menghela napas panjang.


Kini semua sudah bersih, makanan pun sudah siap. Semua anak menunggu seven A pulang. Jovan datang bersama anak-anak. Usai makan siang mereka disuruh tidur.


Manya mencium gemas ketua perusuh pagi tadi, Tita adiknya. Jovan ikut mencium bayi usil itu.


"Kau pasti melihat salju di dapur tadi," kekeh pria itu sambil mengecup kening istrinya.


"Kau tau saja," keluh Manya.


"Tapi, kita akan merindukan moment ini ketika mereka tumbuh besar sayang," ujar Jovan.


"Masih lama, sayang," sahut Manya santai.


Malam tiba, Maira dan Amertha membawa bayi-bayi mereka, Liam pun juga diangkut oleh Gerard, bahkan Reece juga digendong oleh Ramaputra dalam keadaan tertidur.


"Daddy!" rengek Manya.


"Aku ingin dia mengacau juga di rumahku!" sahut Ramaputra.


"Mami juga mau bawa perusuh ini!" ujar Maira ketika Mai ada digendongan sang suami.


"Gerard, nanti kau diamuk oleh Liam loh!" peringat Jovan.


"Tidak masalah, akan kuatasi itu!" sahut Gerard.


Manya kesal pada semua orang yang membawa anak-anak, begitu juga Jovan.


"Biar saja. Nanti juga mereka akan kualahan sendiri menghadapi anak-anak," ujar Jovan membawa sang istri masuk ke kamarnya.


Setelah menciumi semua anak. Sepasang suami istri itu pun saling berpelukan ditutupi selimut tebal.


"Semua kelakuan mereka hari ini benar-benar membuatku bahagia sayang," ujar Manya.


"Tentu, moment itu tidak akan terulang lagi sayang," sahut Jovan.


Lalu keduanya pun terlelap dengan senyum indah. Waktu akan terus berputar mereka akan dihadapi masalah baru ketika anak-anak tumbuh besar.


bersambung.


Next?