THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
SERUNYA ANAK-ANAK



Mansion Ramaputra kini penuh anak-anak. Pria itu sampai terkaget-kaget dengan keriuhan itu. Biasa hidup sepi, berduaan dengan istrinya. Reece dan Tita hadir setelah lama mendamba anak.


"Kenapa nggak kepikiran mengambil mereka dari dulu ya?" tanya Ramaputra tak habis pikir.


"Sudah lah sayang. Aku senang dan bahagia sekarang," ujar Amertha.


"Mama ... Nino nakal!" adu Tiara.


"Nggak Mama ... Nino cuma bilang rambutnya kek mie!" sahut Nino membela diri.


Tiara memang berambut keriting seperti mie. Bocah cantik itu begitu menggemaskan dengan pipi chubby dan mata besar dan indah. Bulu mata yang lentik dan alis melengkung sempurna.


"Sayang ... jangan ganggu adiknya!" peringat Manya.


"Mama ... Ala mau lulusin lambut aja ah!" cebik bocah cantik berusia enam tahun itu.


"Janan piyuyusin! Atuh suta!" sahut Tita menggulung rambut kakaknya.


"Okeh deh ... kalo adik suka," sahut Tiara yang masih cadel bicaranya itu.


Tita menempel pada kakaknya, ia memang suka memainkan rambut Tiara. Maiz dan Pram ikut memainkan rambutnya.


"Mama ...," keluh gadis kecil itu.


"Sayang, ayo jangan ganggu kakaknya," suruh Manya.


Akhirnya Tita, Maiz dan Pram berhenti mengganggu kakak mereka. Semua kembali bermain dan bercanda. Aldebaran duduk di sisi istrinya yang mengepang rambut Tania.


"Mama ... Alisa boleh potong rambut nggak?" tanya gadis kecil bernama Alisa pada Demira.


"Kenapa dipotong sayang. Rambut kamu tebal dan indah?" tanya wanita itu.


"Bosen Ma. Mau potong kek rambut Papa," jawab Alisa santai.


"Jangan baby, please!" pinta Aldebaran.


Rambut Aliyah memang tebal dan hitam selain itu juga panjang hingga melewati bokongnya.


"Papa suka rambut kamu, atau besok kita potong sedikit saja ya?" ujarnya sedikit memohon.


Alisa mengangguk setuju. Aldebaran tersenyum, ia mencium putrinya gemas.


"Sudah main sana!" suruhnya.


Alisa main bersama semua saudaranya. Aldebaran kadang heran, kenapa dia tidak lupa nama semua anak-anak itu.


"Ah ... baru lima puluh anak. Bayangkan keluarga Dougher Young. Keturunan mereka satu negara," cicitnya bergumam.


Usai makan siang, Manya meminta semua tidur.


"Mama ...," rengek salah satu adiknya.


"Tidur Baby!' perintah wanita itu tegas.


Akhirnya semua menurut. Manya benar-benar tegas perihal tidur siang untuk anak-anak. Mereka semua masih dalam masa pertumbuhannya. Tidur siang dapat membantu anak melepas lelah setelah beraktivitas. Perlu diketahui, menurut hasil riset, anak membutuhkan istirahat 12-14 jam sehari agar kesehatannya tetap terjaga. Anak membutuhkan jam tidur di malam maupun siang hari sesuai dengan kebutuhan dan usianya.


"Kamu juga istirahat sayang. Ingat kau tengah mengandung," perintah Maira.


"Iya Mom," ujar Manya menurut.


Wanita itu masuk kamarnya. Jovan mengikuti istrinya. Praja mengajak juga sang istri agar beristirahat. Akhirnya semuanya tidur siang.


Sore menjelang, Gerard baru datang bersama istrinya. Pria itu benar-benar menjaga kandungan sang istri yang tengah mengandung bayi kembar mereka. Clara meminta pria itu menjaga penuh menantunya.


"Kenapa repot-repot sayang?" ujar Amertha ketika Gerard memberikan tiga kantung besar makanan pastel dan pangsit goreng.


Sore menjelang, semua anak-anak sudah rapi dan bersih. Mereka begitu bising dan berceloteh. Tawa dan canda bahkan teriakan akibat saling mengganggu satu dan lainnya.


"Sayang ... itu kenapa kepangan adiknya jadi kuda? Papa susah loh buatnya?" peringat Aldebaran.


"Maaf Pa," ujar Dino menunduk.


"Sayang, jangan gitu ya ... kan sakit kepala adiknya," ujar Amertha pada salah satu anaknya.


Abraham dan Ramaputra tak berhenti mengulas senyum sampai pipi mereka kram.


Ketika hendak pulang Maiz menolak ikut. Ia mau bersama semua saudaranya begitu juga ten A.


"Kalian besok sekolah sayang," peringat Manya.


"Kita kan belum Mama!" sahut triple A.


"Mama ... kalo triple A nginap kami juga menginap," ujar Lika.


Akhirnya walau dengan hati berat, seven A ikut pulang bersama ayah dan ibunya. Sedang triple A menginap.


Sampai mansion, Abraham seperti orang linglung karena merasa kehilangan.


"Sayang ... anak-anak," ujarnya.


Maira menenangkan suaminya. Wanita itu juga sudah merindukan semuanya.


"Besok kita ke sana lagi sayang. Papi harus kerja keras karena adik kita banyak!" sahut Maira.


Abraham menurut. Malam telah larut, Manya mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Dua janin dipastikan bersemayam di sana. Wanita itu akhirnya melahirkan kesebelasan Dinata.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Jovan mengusap perut istrinya.


"Iya sayang. Aku baik-baik saja,"


"Aku merindukan anak-anak," ujar pria itu ketika merebahkan diri di sisi istrinya.


"Aku juga sayang," sahut Manya.


Keduanya berpelukan erat. Mereka saling pagut lalu terlelap. Paginya semua heboh.


"Mama ... Laina belum nyusun buku pelajaran!"


"Mama ... dasi Abi nggak ada!"


"Mama ... tas Abraham mana?"


"Ma ... lihat dompet Papa nggak?"


"Maa ... Syah nya nih ... masa katanya nggak mau sekolah!" adu Agil.


"Syah!" peringat Jovan.


"Papa Agil bohong!" seru Syah membela diri.


Akhirnya semua sudah selesai dan rapi. Semua makan sarapan mereka. Manya harus mandi buru-buru dan sarapan walau roti setakup. Anak-anak diantar Pak Sidik bersama para suster. Saskia juga ikut bersama Pram, mereka langsung menuju mansion Artha.


"Aku ada dua jadwal operasi. Kemungkinan pulang sedikit larut sayang," lapor Manya.


"Iya sayang, jangan lupa kau tengah mengandung!" ujar Jovan mengingatkan istrinya.


"Iya sayang," ujar wanita itu.


Sementara di hunian Aldebaran, mereka tampak berkemas-kemas. Beberapa tukang yang disewa untuk mengangkut semua benda ke hunian baru.


"Biarkan tempat tidur di sini, hanya sofa dan lemari besar-besar ini saja!' ujar wanita itu menunjuk beberapa barang.


"Hari ini kita biarkan anak menyusun kamar impian mereka ya," ujar Aldebaran.


Demira mengangguk. Wanita itu sudah tak sabar dengan ekspresi semua anak yang nanti ketika diminta untuk mendekorasi kamar mereka sendiri.


"Kita belum membelikan mereka pakaian, kemarin aku lihat Lala masih pakai seragam panti asuhannya," ujar Demira sedih.


"Baiklah, Minggu besok kita bawa mereka semua beli baju ya," sahut Aldebaran.


Demira mengangguk antusias. Ia sudah membayangkan untuk mendandani semua anak perempuan dan anak laki-laki.


Sementara di mansion Ramaputra, Amertha memesan secara online baju untuk semua anak-anak.


"Apa nggak bawa mereka ke mall sayang?" tanya Ramaputra.


"Ini hanya sementara sayang. Biar mereka ada buat ganti sehari-hari," jawab wanita itu.


Ramaputra menatap istrinya yang begitu antusias memilih beberapa baju dan disatukan. Ia sudah menulis nama-nama penerima baju-baju itu.


"Aku heran ... kenapa kau tetap mencintaiku setelah aku menyakitimu begitu dalam?" ujar pria itu.


Amertha menatap sang suami. Binaran cinta itu tak pernah pupus dari sorot matanya.


"Karena aku yakin, waktu itu kau tengah khilaf. Lagian, mana ada pria yang tak tertarik pada wanita yang selalu menggoda mereka," jawab wanita itu maklum..


Ramaputra menggeleng tak setuju perkataan istrinya.


"Mestinya tak tergoda barang murah dan menukar berlian hanya demi sebuah batu krikil, waktu itu aku buta sayang,"


"Sudah lah ... jangan mengingat masa lalu. Kini aku bahagia bersamamu, bersama semua anak-anak kita," ujar Amertha tersenyum.


Bersambung.


next?