
Esok hari. Para tukang kebun sudah datang. Semua memeriksa keamanan. Bodyguard memang selalu siap di sana. Semua diperiksa dan dijaga ketat.
Para bayi ada di kamar mereka bersama para suster. Riuh tawa mereka terdengar hingga keluar kamar. Semua tersenyum mendengar suara itu.
"Wah ... sepertinya tuan dan nyonya rumah ini memilih konsep banyak anak banyak rejeki!" seloroh salah satu tukang kebun.
"Boleh tau nggak pak, anaknya ada berapa?" tanyanya lagi.
"Ada kembar tujuh!" jawab salah satu bodyguard.
"Wah ... sebesar apa ya perut ibunya?" tanya pria tukang kebun itu lagi.
"Heh ... sudah kerja sana! Malah ngobrol nggak jelas!" sentak sang pengawal memberi perintah.
Pria itu pun membungkuk dan melanjutkan pekerjaannya. Halaman depan sudah rapi dan cantik. Beberapa orang masuk ke halaman belakang.
Salah satu maid melirik salah satu tukang kebun. Hingga beberapa kawannya menyenggol.
"Cie ... cie ... ketemu yayangnya nih?" ledek salah satu menggoda rekannya.
"Ck ... apaan sih?" sahut sang pria tersebut malu.
Sedang sang gadis menunduk dengan rona di pipinya. Mereka mulai merapikan taman belakang. Para bayi yang mendengar suara mesin pemotong rumput begitu antusias ingin melihat.
"Bustel pita bawu pihat beubental laja!" pinta Abraham memohon.
"Piya bustel ... piss!" rajuk Bhizar merayu.
"Baby kalian nggak boleh ganggu orang kerja!" ujar Denna.
"Bustel pita bewu pihat ipu suala pa'a!?" sahut Lika juga sangat penasaran.
Akhirnya para suster mengeluarkan mereka dengan bergandeng tangan.
"Ingat ... itu benda berbahaya loh! Jangan didekati!" peringat Leni kini.
"Piya bustel!" sahut ketujuhnya kompak.
"Nah, itu yang bunyi!' teriak Neni pada para bayi.
"Wah ... peulisit ya!' para bayi menutup telinganya.
"Iya ... makanya masuk yuk!" ajak Denna.
Salah satu mesin pemotong tiba-tiba mati. Semua anak tiba-tiba ikutan berhenti. Mereka begitu penasaran dengan benda itu.
"Tenapa peulhenti besinna?" tanya Abi kini penasaran.
Semua saling toleh tak mengerti bahasa yang digunakan para bayi. Semua pekerja melihat suster.
"Mereka tadi ngomong apa sus?" tanya salah satu tukang kebun.
"Oh ... mereka tanya, kenapa mesinnya berhenti," jawab Neni.
"Oh ... hehehe ... lucu ya bahasanya," sahut pria itu sambil terkekeh.
Para bayi menatap seringai pria itu. Ketujuh bayi mengerutkan keningnya. Para suster mengajak semuanya kembali ke kamar mereka.
"Bustel pelpon papa yayah don!" pinta Syah.
Laina membuka jendela besar penghubung taman dan kamar mereka. Tampak jelas di sana ada tiga orang tengah berbisik. Ketiganya menatap Laina yang berdiri di balik kaca anti peluru. Semua tak ada yang tau jika kaca itu adalah anti peluru.
Para suster tampak sibuk entah apa. Enam bayi lainnya berdiri bersisian dengan saudaranya.
Salah satu pria menunjuk mereka lalu menggerakkan jarinya ke arah leher dan menggerakkannya seperti memotong leher.
Tujuh bayi saling tatap sesama saudaranya. Lalu mereka meniru gerakan pria itu sambil menjulurkan lidah mereka.
"Sial!" gerutu pria di depan kaca.
Para suster tampak membereskan kotak mainan yang berantakan dan melihat para tukang kebun masih mengotak-atik mesin yang mati tadi. Para suster membiarkan para bayi melihat apa yang dikerjakan oleh para tukang kebun.
Tiga pria saling tatap sesama mereka. Salah satu mengeluarkan boneka dan tiba-tiba mematahkannya di depan anak-anak dengan seringai sadis. Ketujuh bayi kembar itu lagi-lagi saling tatap. Mereka mengambil boneka beruang lalu semua bayi meletakkan di atas karpet lalu menindihnya bersama.
"Baby kalian sedang apa?" tanya Denna mulai curiga.
"Bain bustel!" jawab semuanya kompak.
Denna lalu mengendikkan bahu. Selama seven A ada dalam pandangan mereka, para suster tak pernah khawatir. Terutama mereka sudah mengunci pintu sesuai perintah Jovan ketika tadi Syah meminta menelepon ayahnya.
Ketiga pria yang membenahi mesin pemotong rumput sangat kesal karena semua aksi mereka dibalas oleh para bayi.
Salah satu di antara mereka maju ke depan kaca, pura-pura melihat rumput yang tebal di sana. Denna yang melihat salah satu petukang mendekat, ikut duduk bersama para bayi. Petukang tadi hanya membersihkan pinggiran rumput tanpa melakukan apa-apa.
Tak lama mandor datang menegur mereka yang terlalu lama bekerja. Tiga orang menyatakan mesin rumput rusak.
"Pake gunting rumput lah!" sahutnya marah. "Kok kalian bodoh sih!"
Ketiga tukang itu akhirnya menggunakan gunting rumput. Pekerjaan jadi sedikit molor dan harus di lanjutkan esok hari.
Bhizar menatap salah satu pria menjatuhkan sesuatu ke rumput. Bayi tampan itu sampai menempelkan wajahnya ke kaca.
"Baby kenapa?"
"Atuh beulihat besyuatu yan beuldelat bi bumput!" jawab Bhizar.
Para petukang sudah pergi. Denna merasakan sesuatu memang ada yang salah. Tetapi ia masih belum tau apa itu. Ia takut berprasangka buruk saja.
Manya dan Jovan pulang. Mereka bercengkrama dengan para bayi. Denna yang gelisah tertangkap oleh Jovan.
"Kamu kenapa?" tanya pria itu.
Denna hanya menatap taman belakang yang sudah tertutup pintu kaca dan lampu taman dinyalakan.
"Entahlah tuan, saya merasa bahaya mengincar para babies," jawabnya.
Manya langsung berdiri, ia mendekati Denna, insting gadis itu memang sangat tajam dan selalu tepat.
"Denna apa kau yakin?" tanyanya khawatir dan cemas.
"Bhizar melihat seseorang petukang menjatuhkan sesuatu yang bergerak dokter," jawab Denna langsung.
"Baby apa itu benar?' tanya Manya pada salah satu bayinya itu.
"Biya Mama ... taya puenda beuldelat ...," jawab Bhizar.
"Sayang?' Manya begitu khawatir.
Jovan akhirnya membawa semua anak, istri dan susternya pergi menuju mansion ayah Jovan.
"Loh ... ada apa kenapa kalian ke sini?' tanya Abraham bingung.
Hari sudah menjelang malam hari para bayi sudah tidur dalam kereta dorongnya.
"Kami belum bisa bilang sebelum ketemu, Pi ... aku titip anak-anak dan susternya ya," pinta Jovan dengan nada yang membuat Abraham sedikit takut.
"Ada apa ini? Maira bangun ketika anak-anak sudah diletakkan di dalam boks mereka.
"Nggak ada apa-apa mi, di rumah kan lagi bersih-bersih, jadi nitip anak-anak dulu," jawab Jovan menenangkan ibunya.
"Pi?" tanya Maira pada suaminya.
"Sudah ... kamu jangan khawatir ya, tenang aja," jawab Abraham lembut.
Jovan meninggalkan istrinya. Manya sedih bukan main, ia merasa bahaya juga mengincar suaminya.
"Jangan khawatir sayang, para pengawal sedang mencari benda apa yang jatuh itu," ujar Jovan menenangkan istrinya.
Tiba-tiba ponsel pria itu berdering, salah satu pengawal meneleponnya.
"......!"
"Ya, apa yang kamu ketahui?" tanya Jovan serius.
Suasana tegang dirasakan Abraham, Maira dan Manya. Ketiganya berpelukan saling menenangkan.
"Apa kau yakin?" tanya Jovan mendengar jawaban sang bodyguard.
"Benar tuan, saya bisa melihatnya secara jelas di rekaman cctv!" ujar pria itu di seberang telepon.
"Baiklah ... sisir semua tempat cari sampai ketemu!" titah pria itu.
"Baik tuan!" sahut sang pengawal di seberang telepon.
Jovan menutup ponselnya. Sebelum bukti ketemu, ia belum bisa mengambil tindakan apa-apa.
"Siapa pun kalian, tak akan kuberi ampun jika berurusan dengan keluargaku terutama anak-anak ku!" tekan pria itu dengan kilatan mata sadis.
bersambung
duh ... apaan tuh yang dijatuhin?!'
next?