
Pagi hari mereka semua sudah rapi. Kali ini Jovan mengajak semua putra dan adik ipar serta adik bungsunya jalan-jalan. Lektor, Bima, Hasan dan Bernhard sudah menunggu di sebuah restauran bersama anak istrinya. Jika sahabat pria itu membawa satu anak. Sedang Jovan membawa lebih dari satu pleton anak bayi. Bahkan Tita juga kini dalam gendongan kakak iparnya. Sedang Maizah ada di gendongan Manya.
Ten A, Reece dan Liam digandeng Gerard dan Denna. Putrinya Aislin ada digendongan kanguru Gerard, bayi bermata biru itu sudah bergerak dan berteriak.
"Wah ... kau banyak sekali membawa pasukan!" sindir Bernhard iri.
"Ili? Pilan poss!" celetuk Reece menyindir.
"Astaga, apa ini adik iparmu yang super itu?" tanya Bernhard ketika melihat Reece yang sudah duduk dengan santai di kursi khususnya.
"Ya, dialah Bara Reece Artha!" sengit Jovan yang gemas sendiri melihat adik iparnya itu.
"Halo bayi ... kamu masih pakai popok tidak?" tanya Bernhard meledek Reece.
"Janan peledet nanat teusil Pom ... banti talo pom puwa, dantian Pom yan pate popot!' sumpah Reece balas meledek Bernhard.
Ledekan Reece tentu membuat semua tertawa kecuali Bernhard yang sebal dengan ledakan adik dari istri sahabatnya itu.
"Adikmu Manya, boleh aku karungin nggak?!" sungut Bima kesal.
"Mama, spasa sih meuleta?" tanya Aqila sambil menunjuk semua pria.
Para istri sahabat Jovan itu tentu mengenal Manya karena sebagian adalah mantan perawat yang mengurusi Seven A, kecuali istri Bernhard.
Mereka pun berkenalan, triple A tentu memiliki sebutan nama sendiri pada empat sahabat ayahnya itu. Hanya saja Bima yang tak pernah berganti Pom Pimpa. Pria itu sangat gemas hingga menggelitik tiga bayi kembar identik itu.
"Kau sepertinya hanya menyediakan rahimmu, tak ada satu anak yang mirip denganmu Manya!" ledek istri Bernhard, Lana Brooks.
Manya tersenyum kecut, ia mengangguk membenarkan hal itu. Semua anak tak ada satupun yang mirip dirinya. Dari mata hingga senyum semua bayi mirip dengan sang ayah biologisnya.
"Ayo makan! Jangan kebanyakan bicara!' ujar Hasan.
Semua makan, anak-anak tampak bercengkrama. Tentu bahasa planet anak memenuhi ruangan dibanding bahasa orang dewasa.
Putri Lektor baru berusia tiga belas bulan, Putra Bima berusia sebelas bulan. Putra Hasan delapan belas bulan, sedang putra Bernhard dua puluh bulan. Praja tak ikut serta pria itu sibuk mengurus pekerjaan yang menumpuk, Jovan menyerahkan semua pada pria itu.
"Kau jahat sekali memberi tumpukan berkas pada Praja Jovan!" ujar Hasan pada sahabatnya yang nyengir tanpa rasa bersalah.
Sedang para bayi tampak menanyai kakak-kakaknya. Reece paling dominan menjawab bahkan seven A kalah dengan batita itu.
"Ata' ... dah olah?" tanya putra dari Bernhard.
"Janan pandhil Atuh Ata' pati Pom!" ralat Reece.
"Bom?" tanya semua bayi sampai miring kepalanya.
"Piya, atuh peubih puwa dali talian!" jawabnya sok tua.
"Pom dah olah?" tanya ulang Billy, putra Bernhard.
"Pom beulum setolah, tata Mama pasih duwa pahun ladhi!' jawab Reece.
"Satu tahun setengah lagi, Om!" ralat Abraham.
"Atuh peulum bempat pahun Plaham!" sahut Reece mengingatkan keponakannya.
"Tan setolah peusti pima pahun!" lanjutnya sok yakin.
Semua bayi mengangguk tanda mengerti. Akhirnya mereka pulang dan berpisah. Entah kapan mereka berkumpul lagi seperti ini.
"Jangan khawatir. Aku tengah memindahkan semua usahaku di sini!" ujar Lektor.
"Aku ingin putriku tumbuh seperti ibunya, yang santun pada orang tua," lanjutnya.
Jovan memeluk Lektor. Dari semua sahabat yang dekat, Lektor yang paling dekat. Karena hanya pria itu yang tak pernah mengajak Jovan untuk minum minuman beralkohol.
Tak butuh waktu lama, semua sudah ada di rumah. Liam tak mau ikut bersama ayahnya pulang.
"Baby ... Papa kangen, sama Papa ya. Senin nanti Papa anterin ke sini!" janji Gerard.
"Oteh," sahut Liam setuju pada akhirnya.
Walau diiringi ambekan Reece yang marah pada Gerard. Pria itu tetap membawa putranya pulang.
"Sudah sayang, sini sama Papa. Kan Senin Liam datang lagi," bujuk Jovan pada adik iparnya.
"Eundat selu Papa!" cebik Reece.
Manya menyuruh semuanya tidur siang. Seven A menurut apa kata ibunya padahal mereka ingin sekali melakukan sesuatu mumpung masih libur.
"Ata', pulai setolah hali pa'a?" tanya Aidan.
"Pasih eh Masih satu minggu lagi. Kenapa Dik?" ujar Abi.
"Eundat ... pemana syatu mindu Ata' eundat posen bi lumah teulus?"
"Ya bosen sih. Ata' eh Kakak mau berbuat sesuatu untuk memulai bisnis," jawab Abi lagi.
"Pemana pisnis pa'a Ata'?" tanya Aqila.
"Bisnis itu mulai usaha untuk mendapat uang," jawab Abi sekenanya.
Tentu anak seusianya belum tau apa itu bisnis. Yang ia tahu bisnis itu adalah sarana mencari uang lebih. Abi ingin sekali memegang uang, karena selama ini sang ibu dan ayahnya tak memberinya uang untuk jajan sama sekali.
"Pemana talo bunya uan pawu peli pa'a?" tanya Adelard.
"Mau ditabung untuk usaha yang lebih besar," jawab Abi.
"Oh mawu jadi poss!?" sahut Aqila dengan bola mata membesar.
"Iya ... biar jadi boss!" sahut Abi.
"Tlatil pita ya ... talo Ata' pudah sadi poss peusal!" pinta Aidan pada Kakaknya.
"Tentu Dik!' sahut Abi berjanji.
"Pom eundat bislatil?" tanya Reece menunjuk dirinya.
"Ditraktir dong!" jawab Abi sambil terkekeh.
"Pom bawu zadhi poss judha ah!" sahut Reece.
"Panti tipel e pandil Pom denan Pom Poss teusil!" sahutnya jumawa.
"Atuh judha pawu zadhi poss!" sahut Aidan. "Atuh eundat bawu zadhi pawahan!"
"Aidan ... Pom ipu butan poss seumpalanan woh. Pom atan antat talian zadhi pesetalis, benejel, pama watil dilitul!"
"Pemana spasa yan mawu peutelza pama Pom!" sengit Aidan.
"Baby ... janan lawan Pom teusil ... talian tawu tan talo peumpantah lolan puwa?!" peringat Reece sok tua.
Semua menggeleng tak tau. Reece menghela napas panjang, ternyata semua keponakannya itu lupa sama kisah Malin kundang yang melawan orang tua.
"Inat selita Malin tundan?"
Semua diam, seperti mengingat Seven A hanya membiarkan saja apa kemauan om kecil mereka.
"Ipu woh yan ditutut zadhi patu!" seru Reece yang sepertinya kesal karena keponakannya tidak mengingat kisah itu.
Manya dan lainnya gemas mendengar Reece yang tampak ingin dituruti oleh seluruh keponakannya, terlebih pada triple A. Pangkatnya sebagai adik dari ibu mereka, membuat ia mengklaim jika Reece lebih tua dari semuanya.
"Oh ... selita Palin Tundan yan dulhata pama Bibuna?" sahut Aqila teringat.
"Nah ipu!" sahut Reece kesal.
"Pati selita ipu tan puntut nanat yan peulawan Bibu yan meulahiltan. Pom tan butan Bibu pita!" sahut Aidan protes.
"Atuh panya pama talian ... Bibu lolan puwa butan?" tanya Reece.
"Lolan puwa!" jawab triple A kompak.
"Pom Lees, lolan puwa butan?" tanya Reece lagi.
Triple A saling lihat satu dan lainnya. Hal ini membuat Reece melipat tangan di dadanya. Jovan sampai gemerutuk karena gigi beradu karena gemas dengan adik iparnya itu.
"Tan mumul pita pama Pom?" sahut Aidan masih berkilah.
"Peman pumul pita pama. Pati talian peusti inat ... atuh adit dali Mama, Atuh pom talian peusti peumumulan!" sahut Reece tak mau dibantah.
Jovan tak tahan. Pria itu mengangkat adik iparnya tinggi-tinggi dan menggelitik perut gembul Reece hingga tergelak.
Bersambung.
Gayamu Reece 🤦
Next?