
Tita, Maizah, Aislin dan Pram tengah bercengkrama. Keempat bayi itu begitu serius dengan bahasa mereka.
"Paypi Plam ... tamuh talo dudah dedhe, pawu sadhi pa'a?" tanya Tita.
"Bawu sadhi poss tayat Papa," jawab Pram.
"Talo tamuh?" Pram balik bertanya.
"Atuh pawu sadhi bilot!" jawab Tita yakin.
"Bilot ... puat nulis?" tanya Maiz.
"Itu melet lalat pulis Aiz," ujar Tita memberitahu.
"Bilot yan teulpan pawa bewawat!" lanjutnya.
"Oh ... tuhtila melet bensil," sahut Maiz tanpa rasa bersalah.
"Ais pawu sadhi dondel-dondel!" seru Aislin yang membuat semua saudaranya menatap dirinya.
"Teunapah?" tanyanya.
"Dondel-dondel ipu poneta yan dedhe jodhet-jodhet tan?" tanya Pram.
"Biya yan ipu!" jawab Aislin santai.
"Pasa pamu sadhi poneta syih!" sahut Tita tak percaya.
"Woh ... teunapa? Atuh pinin meunhipul lolan pial senan," sahut Aislin beralasan.
"Puat lolan senan eundat Pelu sadhi dondel-dondel Paypi," sahut Tita.
"Sadhi pa'a don?" tanya Aislin ingin tau.
"Sadhi beupanyi pisa, belawat pisa," jawab Tita lagi.
Pram, Maiz mengangguk membenarkan. Aislin pun ikut mengangguk.
"Atuh peulum peulnah banyi," ujar Aislin.
"Pita patihan yut!' ajak Pram.
"Pate talotean!" seru Maiz sambil tepuk tangan.
"Pom beunawal!' panggil Tita.
"Siap Nona!" sahut salah satu pengawal.
"Pita bawu palotean don," pinta bayi cantik itu.
Memang di rumah Manya, Maira dan Amertha sedang sibuk memasak. Triple A tengah bercengkrama dengan Liam dan Reece. Sedang yang lain belum pulang sekolah. Manya sedang beristirahat.
"Mari Nona," sahut pengawal.
Terbiasa dengan banyak bayi di perusahaan, membuat pemuda itu mengerti bahasa bayi. Setelah memasang alat karaoke Tita sudah mengambil miknya begitu juga Aislin. Triple A, Liam dan Reece jadi ikut masuk.
"Pemamat sian pemuana!" sambut Tita jadi pembawa acara.
"Pita pampil tan, Paypi Ais!"
"Ladhu pa'a Ata'?" tanya bayi cantik itu panik.
"Bisa lagu pelangi?" tanya Rendra.
"Lajalin Pom," pinta Tita.
Rendra mengajari lagu pelangi-pelangi. Para bayi mengikutinya begitu juga kakak-kakak mereka.
"Nah apa sudah bisa?"
"Soba pulu ya Pom," ujar Aislin.
"Penali, penali ...."
"Pelani Paypi butan penali!" ralat Pram.
"Pelani-pelani ... lalantah dindahmu ... belah, sunin, lijo. Pi lanit yan pilu. Peulusitmu dadun spasa pelanan pelani-pelani siptaan Tuhan,"
Aislin menggoyang tubuhnya ke kiri dan ke kanan sesuai musik yang mengalun. Rendra sudah melebarkan senyumnya. Pemuda itu jadi ingat semua tuan dan nona mudanya di keluarga sana. Walau ia belum merasakan kehangatan yang sama di keluarga ini. Tapi profesionalisme harus ditunjukkan pada keluarga baru yang merekrutnya.
"Pelani-pelani, salantah pindahmu. Peulah, sunin, lijo ... silamit pan lipu. Selupismu dandun ... spasa peulenan ... pelani-pelani ... siptaan Tuhan!"
Lirik lagu diubah dengan sempurna oleh Aislin. Gadis itu senang karena mendapat tepuk tangan meriah dari semuanya. Tak lama rumah Maira penuh dengan anak-anak. Kali ini Pram bernyanyi.
"Toton pepet sansa ... sansa tisuali ... bona benta sansa ... sansa sempat tali ... solon silili ... solon ... nanana ... lalalalalalalala!"
Rendra sudah kram pipinya karena terlalu banyak tersenyum. Pemuda itu mengajari semua lagu anak-anak yang ada. Semua bertepuk tangan meriah.
Akhirnya waktu makan siang tiba. Mereka makan bersama. Usai makan, semua harus tidur siang. Manya tak mau kompromi jika soal istirahat.
Di kamar para bayi, baik Tita, Aislin, Maiz dan Pram tak bisa tidur. Mereka bersenandung lagu-lagu yang baru mereka nyanyikan tadi.
"Toton pepet sasa," jawab Aislin.
"Seupelumna ladhu pa'a?"
"Ladhu punyi bujan," jawab Pram.
"Atuh suta ladhu ipu. Pama ya tlin lada pesda," lanjutnya.
"Tlin, tlin, tlin lada pesda. Pesda tuh loda pida ... tuh papat dali Yayah ... talna lajin beuteulja," Pram menyanyikan lagu itu.
Tita, Ais dan Maiz ikut menyanyikannya hingga perlahan mereka pun terlelap. Maira membuka pintu dan melihat empat bayi di dalam boksnya masing-masing. Ia mencium gemas mereka.
"Kalian pintar semua," pujinya.
Sore menjelang, anak-anak sudah rapi, mereka kembali riuh dan bertukar cerita.
"Tadi di sekolah ada murid baru loh," ujar Wiwid memberitahu.
"Iya, dia pindah ikut dengan bibinya. Ayah ibunya telah bercerai dan tidak mau ada yang merawatnya. Jadi sekarang bersama bibinya yang juga seorang ibu tunggal," lanjutnya.
"Pibu tundhal ipu pa'a Ata'?" tanya Tita.
"Ibu yang hanya sendirian tanpa suami Baby," jawab Wiwid.
"Oh ... beudithu," angguk Tita sok tau.
Percakapan berakhir karena semua anak diajak pulang oleh orang tua mereka. Ten A menolak pulang. Beruntung Manya sudah menyiapkan semua bukunya.
"Babies ... ada PeeR nggak?" tanya wanita itu.
"Ada Mama, pelajaran Matematika" jawab Abraham.
"Ayo kerjakan," perintah Manya.
mereka semua berkumpul mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Soal pelajaran, memang para orang tua tak perlu susah-susah mengajari mereka.
"Delapan dikurangi tiga sama dengan lima," ujar Agil menulis jawabannya.
"Pundu pulu, ditulanin ipu tayat dhimana?" tanya Pram.
"Ini sayang. Kamu punya permen delapan. Lalu kamu makan tiga sisanya jadi lima," jawab Agil menjelaskan.
"Pati Atuh eundat matan peulmen!" sahut Tita bingung.
"Ini hanya perumpamaan aunty, jadi kalo dikurangi itu artinya diambil atau dihilangkan," jelas Agil lagi.
"Bunya Ata' Nani tot antana banat?" tanya Maiz yang melihat PeeR Nani, kakak angkatnya.
"Iya Baby," Nani sudah kelas empat SD.
"Ini namanya perkalian puluhan," jawab gadis kecil itu.
"Tali yan lada ainna?" tanya Maiz menyamakan dengan kali Ciliwung.
"Bukan Baby. Kali di sini yang artinya dikali lipat dengan angka penjumlahnya. Jadi misalnya. Lima kali lima, jadi limanya itu ada lima kali," jelas Nani.
"Banat mamat ... ipu sumlahna beulapa Ata'?" tanya Maiz lagi.
"Jumlahnya adalah dua puluh lima," jawab Nani.
"Puwa buluh lima?" tanya Pram terkejut dengan mata bulat.
"Sali tanan Plam aja suma ladha puwa puluh ...," ujarnya.
"Pima na ladhi bunya spasa?" lanjutnya bingung.
Pram tersenyum lebar, begitu juga yang lainnya. Akhirnya semua tidur setelah makan malam. Manya menatap semua anak-anak dengan bangga.
"Mereka semua pintar-pintar!" pujinya.
Jovan masuk, ia juga mencium semua anak tanpa kecuali. Pria itu bahagia sekali, ia tak perlu pusing membagi semua perusahaan yang kini sudah banyak berkembang.
"Mereka luar biasa ya sayang," Manya mengangguk setuju.
Jovan mengamit tangan istrinya. Ia membawa masuk ke kamar. Keduanya saling memadu kasih. Perlahan ruangan itu jadi panas dengan tindakan mereka yang saling memberi kenikmatan. Manya memang sedang ingin kandungannya juga sudah memasuki fase aman untuk bercinta.
"Sayang ... ba bowu!" pekik Jovan tertahan ketika melepas semua bibitnya.
Manya menerima semua cairan itu, ia juga mendapat pelepasannya yang kesekian. Sang suami ambruk di sisinya dengan napas menderu.
Keduanya berciuman lalu kembali melakukan percintaan yang kesekian kalinya, hingga Jovan dan Manya kelelahan dan ambruk berdua setelah mendapat pelepasan mereka.
Bersambung.
Ah ... othor masih polos 🤪
next?