THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
BERANGKAT LIBURAN



Aldebaran pulang ketika hari menjelang pagi. Pria tua itu tampak kelelahan, ia langsung tidur tidak menyapa cucu cantiknya.


"Paa!" panggil bayi itu lalu menangis karena Aldebaran benar-benar tak mendengar panggilan Maizah.


"Baby, biarkan Grandpa tidur ya. Grandpa cape," Maira menggendong bayinya yang menangis.


Membawanya berjalan-jalan melihat kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong. Bayi itu baru tenang setelah dialihkan perhatiannya.


"Sus, bawa Baby ke rumah Nyonya Manya ya," suruh Maira.


"Iya Nyonya,"


Maizah dibawa suster ke rumah Manya. Bayi itu akan lupa jika sudah berkumpul dengan semua saudaranya. Aldebaran bangun ketika siang menjelang. Maira membangunkan ayah mertuanya itu.


"Dad, bangun. Ayo makan dulu!"


"Hmmm ... huaaaammm!" Aldebaran menggeliat ia mengerjapkan matanya.


"Ayo Dad!" ajak Maira di depan pintu.


"Ya!" pria itu pun bangun.


Maira keluar kamar, ia mengelus dadanya. Wanita itu secara tak sengaja melihat gundukan besar yang terletak di antara ************ pria itu.


"Astaga ... besarnya sama dengan milik suamiku, padahal Daddy sudah tua!" umpatnya kesal sambil memuji.


Maira memilih menunggu mertuanya, ia akan mengajak pria tua itu ke rumah Manya. Seperti biasa mereka akan makan siang bersama.


"Bagaimana, apa nilai anak-anak bagus?" tanya Aldebaran.


"Lumayan Grandpa, mereka semua menduduki peringkat sepuluh besar," jawab Manya bangga.


"Kalian hebat!" puji Aldebaran.


"Yang hebat Denta sama Anton Uyut," sahut Abraham kecil.


"Nilai mereka berbagi hingga menempati peringkat satu dan dua, Abraham peringkat ke tiga di susul yang lainya. Juru kunci rengking ditempati Agil," lanjutnya.


"Tidak masalah. Kalian tetap hebat di mata Uyut!" tekan Aldebaran tegas dan bangga.


Mereka semua tersenyum. Usai makan seperti biasa semua disuruh tidur siang.


"Mama ... tan hali libun!" protes Aqila lalu melipat tangannya di dada.


"Bobo sayang!" perintah Manya mengecup gemas pipi putrinya yang cantik dan centil itu.


Akhirnya anak-anak menurut untuk tidur siang. Aldebaran kini duduk bersama anak dan cucunya. Manya duduk di sebelah sang suami.


"Apa kalian sudah bersiap?" tanya pria gaek itu.


"Sudah Grandpa," jawab Jovan.


"Nanti para pengawal akan membawa semua koper terlebih dahulu ke bandara pribadi milik ayahmu, kita berangkat lusa!" ujar Aldebaran.


"Cepat sekali Grandpa!" celetuk Manya.


Semua berdecak pada wanita itu, hingga Manya cemberut. Jovan menyenggol bahu istrinya.


"Maaf," cicit Manya akhirnya.


"Aku ingin menyenangkan semua cicit ku!" tekan Aldebaran.


"Iya Grandpa," sahut Manya lemah.


"Mumpung aku masih ada umur. Kau tau usia ku sudah mau sembilan puluh tahun!"


"Grandpa kau masih lama hidupnya!" sahut Manya.


"Hei ... aku tak mau hidup lama-lama!" tolak pria gaek itu.


"Daddy jangan bicara sembarangan!" larang Abraham kesal.


"Aku memang sudah tua Abraham!" sahut pria gaek itu.


"Sudah jangan bicarakan usia. Kita pasti semua bakalan mati entah siapa yang lebih dulu. Yang penting kita harus mempersiapkan masa depan anak dan cucu juga cicit kita!" tukas Ramaputra memutus perdebatan.


Tak lama beberapa pria datang. Puluhan koper dibawa ke bandara. Praja juga sudah menyerahkan kopernya, ia akan berangkat dengan sang istri dan juga putranya.


Sore menjelang, anak-anak sudah wangi dan rapi. Mereka duduk di teras belakang seperti biasanya. Reece tadi sempat melihat Manya mengambil koper dari kamar di mana semua anak-anak tidur.


"Eh ... padhi Om Lees pihat Mama pawa topel woh!"


"Butan topel Mama, pati topel pita yan dali tamal!' jawab Reece.


"Woh ... napain Mama teuluanin topel pita ...?" tanya Aqila lagi bingung.


"Eundat pahu!" jawab Reece mengendikkan bahunya.


"Mama ... tata Om teusil padhi Mama teluani topel dali tamal pita, pemana bawu matain?" tanya bayi cantik itu. "Mama eundat peuleunsana bawu usil pita tan?"


"Astaga ... ya tidak sayang. Siapa yang mau mengusil eh mengusir kalian?" tanya wanita itu terkejut sampai cadel.


"Eundat ada syih. Pati talo pihat baid bonton pistelon, Atila pihat lolan peuldi pawa topel talna pisusil!" jawab bayi cantik itu panjang lebar.


Manya gemas dengan pikiran bayinya. Ia menciumi sang putri. Tidak mungkin ia tega berprilaku seperti orang di sinetron seperti kata putrinya itu.


"Mama cinta banget sama kalian, nggak mungkin Mama melakukan hal hajat pada kalian," gumamnya pelan.


Anak-anak kembali bermain. Makan malam tiba mereka makan bersama Praja, istri dan anaknya menginap sampai keberangkatan mereka ke Bali.


"Uyut, apa kita jadi liburannya?" tanya Abraham kecil berbisik.


"Menurutmu bagaimana?" goda Aldebaran bertanya.


Abraham menunduk, ia menatap semua saudara kembarnya. Di antara semua, memang Abraham menjadi juru bicara bagi semua saudaranya. Bocah itu memang paling vokal semenjak usia bayi.


"Abe sih nggak masalah kalau tidak jadi. Mama juga pastinya lega jika tidak pergi," jawab Abraham lemah.


Aldebaran terharu, ia begitu bahagia dengan sikap salah satu cicitnya itu. Ia memeluk Abraham dan mengusap punggung kecilnya.


"Sayang ... kita jadi liburan kok," bisiknya.


Abraham mengurai pelukannya. Ia menatap uyutnya dengan seksama.


"Beneran kita jadi liburan?" tanyanya tak percaya.


"Bener sayang," jawab Aldebaran dengan senyum indah.


"Horeee! Kita jadi liburan guys!" pekik bocah itu kegirangan.


Semua berjingkrak diikuti oleh Reece dan triple A. Liam dan adiknya akan menyusul lusa langsung ke bandara begitu juga Clara dan Eddie.


Hari yang ditunggu tiba. Hari masih terlalu pagi bagi anak-anak untuk bangun. Tapi mereka harus berangkat ke bandara. Beruntung koper sudah dikirim ke bagasi pesawat.


Mereka akan naik tiga pesawat jet pribadi. Eddie dan lainnya sudah di sana. Semua bayi dalam stroller mereka. Bahkan seven A juga masih ngantuk. Eddie menggunakan pesawat jetnya sendiri. Abraham duluan bersama Aldebaran, Maira Reece dan Maizah juga dua suster.


"Ayo kami duluan ya!" ujar Jovan pamit pada keluarga Downson.


"Aku titip dua suster padamu!"


"Iya, kita akan bertemu di bandara ya! Tunggu kami!" sahut Eddie.


Jovan mengajak istri dan sepuluh anak kembarnya. Sepuluh menit setelah landas, Eddie dan seluruh keluarganya juga dua suster naik pesawat dan terbang ke Bali.


Hanya butuh satu jam setengah mereka sampai. Semua menunggu di lobby bandara khusus jet.


"Apa Irham Wijaya dan lainnya sudah datang?" tanya Eddie.


"Kami di sini bro!" sahut Irham.


"Mama lapan!'' pekik Aidan.


"Kita sarapan dulu!" ajak Aldebaran.


Mereka mendatangi restoran terdekat, semua sarapan dengan tenang. Usai sarapan mereka pun naik travel khusus, satu bus disewa Aldebaran untuk mengantar mereka ke vila yang baru saja ia beli. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di villa indah itu.


Amertha sangat senang, Renita juga langsung melihat pantai yang jaraknya hanya sekitar sepuluh meter dari villa mereka.


"Ayo susun semua koper. Di sini tidak ada maid yang membantu!" teriak Aldebaran.


Para wanita pun akhirnya membenahi semua pakaian dalam lemari. Tak lama para bodyguard datang dan mulai menjaga para anak-anak yang sudah ribut ingin melihat laut.


"Kau bahagia sayang?" tanya Jovan memeluk istrinya.


Manya mengangguk dan menyandarkan dirinya pada dada bidang sang suami, melihat semua anak yang tertawa bahagia. Padahal mereka masih jet leg. Tapi tak ada gurat lelah setelah melihat laut yang begitu indah ini.


Bersambung.


Next?