THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PULANG



Anak-anak kembali bermain di pasir putih. Kulit mereka yang putih kini kemerahan akibat terbakar matahari. Terlebih mereka lebih sering bermain di bibir pantai, maka dengan cepat membakar kulit mereka.


"Babies ... ayo masuk ... matahari sudah terik!" teriak Renita.


"Sebentar lagi Moma!" teriak Bhizar.


"Babies!" peringat Renita lagi.


Akhirnya semua anak menurut, mereka kembali ke vila. Triple A, Reece dan Liam juga dibawa masuk oleh para pengawal.


Mereka sudah tiga hari di sana. Mereka akan pulang esok pagi, karena pekerjaan semuanya sudah menumpuk. Manya sudah berkali-kali di telepon pihak rumah sakit menanyakan kapan kembali membuka jadwal operasi.


"Ayo mandi, besok kita pulang ke rumah!'


"Yaaah!" pekik kecewa terlontar dari mulut seven A.


"Sebentar lagi kalian masuk loh. Jadi sudah waktunya bersiap mencari ilmu!" tekan Manya.


"Mama eundat asit!" Manya mendapat protes dari Aqila.


"Baby, kan Mama juga kerja. Kasihan semua pasien Mama," ujar Manya memberi pengertian.


"Oteh Mama," sahut seven A menurut.


Semua anak membersihkan diri. Mereka masih bermain di ruang tengah villa sambil makan gorengan yang dibuat oleh Leticia.


"Wah ... dolenana hapis?" Aqila mencari makanan di atas piring yang kosong.


"Mama dolenan pasih ada eundat?" tanyanya.


"Apa kurang Baby?" tanya Leticia.


"Tulan Mama Pestisida," jawab Reece.


"Panggil Leti Baby," sahut Leticia sedikit kesal dengan panggilan itu.


"Mama ... tami pasih teusil ... jadi eundat pisa pilan Leti!' sahut Liam.


"Itu bisa!' sahut Leticia gemas.


"Oh ... pitu pidat senaja!" sahut Liam santai.


Leti gemas, ia mengangkat batita gembul itu dan menggelitiknya, Liam tentu tergelak, maka semua batita ingin digelitiki, Leticia tak keberatan sama sekali.


"Imi dolenan namana pa'a Mama?" tanya Aidan.


Gorengan kembali penuh di piring. Leticia membuat bakwan yang ia lihat di Chanel yutub. Wanita itu pun segera mengaplikasikan makanan itu dan sudah dimakan oleh semua orang.


"Ini enak Mama!" puji Bhizar sambil mengunyah gorengan.


"Itu namanya bakwan sayang," jawab Leticia senang.


Ramaputra bahagia melihat putrinya berubah total setelah menikah, begitu juga Amertha.


"Pi, aku sudah mengurus tiket pulang besok," ujar Jovan.


"Jam berapa kita take of?" tanya Abraham.


"Jam sepuluh pagi," jawab Jovan.


"Baiklah, kita harus berbenah dari sekarang. Minta semua pengawal membawa koper kita sebagian terutama oleh-oleh!" suruh Abraham lagi.


Jovan melaksanakan apa yang disuruh oleh ayahnya. Beberapa koper yang sudah di packing dan oleh-oleh dibawa oleh masing-masing pengawal.


"Baby tatah!" pekik Abraham menuntun Tita melangkah. Bayi mau tujuh bulan itu sudah kuat menjejak lantai.


"Jangan lama-lama tatahnya Baby!' peringat Manya.


Abraham meletakan kembali tantenya di lantai. Bayi cantik itu langsung marah pada keponakannya.


"Aaahhh! Beuehndnnahsvdvsvbebcevevsbevsvvsbejka!"


"Mama ... Abe dimarahi!" kikik Abraham.


Tita memukuli keponakannya dan hendak mengigit jari Abraham. Karena bocah itu lari, menangislah Tita karena kesal. Manya terkekeh melihat adiknya itu.


"Sini Baby," Manya menggendong dan menenangkan Tita.


Hanya butuh waktu tak sampai lima menit, Tita sudah terlelap di gendongan kakaknya. Maizah juga sudah terlelap digendongan kakeknya.


Malam datang, semua tengah menikmati bintang di malam terakhir mereka di Bali. Deru ombak terdengar menghempas karang. Lampu mercusuar tampak bersinar kelap-kelip jauh di sana.


"Ah ... malam ini jadi sangat romantis," ujar Irham.


"Lalu kau mau buat anak lagi?" tanya Aldebaran.


"Grandpa!" keluh Manya.


"Biya ... teunapa eundat ada yan pitinin pita nanat?" tanya Aidan bingung.


"Talian pasa pidat pahu!' sahut Reece.


"Pidat pahu!" sahut triple A yang memang tidak tahu.


"Tan bisyimi eundat ada poven!' ujar Reece.


"Poven?" tanya triple A.


"Pasat nanat pitu pate poven tipel e!" jawab Reece sok tau.


Semua melipat bibirnya. Sedangkan seven A juga tidak tahu hanya manggut-manggut, pikiran mereka tentang buat anak, masih sama dengan pikiran Reece.


"Mungkin juga di sini Mama sama Papa malas beli telur dan menteganya," celetuk Lika.


"Ah ... piya beunel, halus ada telun ya," sahut Aidan mengangguk.


"Tundu peubental!" sahut Liam dengan kerut di keningnya.


"Pemanan pita ipu peulpuat dali telun pama telidu?" tanyanya.


Ten A dan Reece mengangguk. Liam tambah mengerutkan keningnya. Sedangkan para orang tua menyembunyikan wajah mereka dengan bahu terguncang karena menahan tawa.


"Talo pita peulpuat dali telidu pama telun, pita syudah dimatan Mama pama Papa dali dulu don!" sahut Liam mencerahkan semua anak.


"Oh ... iya juga ya? Pastinya kita udah busuk dan basi. Nggak mungkin bisa besar begini!' sahut Abi.


Semua anak menatap orang tua. Aldebaran sebagai pelaku utama melarikan diri sambil terbahak. Irham pun sama. Akhirnya, Ten A, Liam dan Reece menuntut jawaban dari Manya, ibu mereka.


"Nanti kalau kalian sudah besar ... baru Mama kasih tau ya," janji wanita itu.


"Pemana pita peulum peusal Mama?" tanya Aqila.


"Belum Baby, kalau sudah sebesar Om Praja baru kalian tau, oteh?"


"Oteh!"


Akhirnya semua anak pun tidur. Aldebaran habis dimarahi menantunya. Pria itu hanya mencebik kesal.


"Aku tak menyangka jika ucapanku langsung ditanggapi oleh bayi cantik itu!" tukasnya membela diri.


"Makanya kalau bicara itu disaring dulu!" sungut Maira kesal.


Sedang di kamar anak-anak, Manya menatap Ten A, Reece dan Liam yang terlelap. Ia mengecup semua anak satu persatu.


"Kalian tambah lama tambah pinter ya. Mama bahkan sampai kehabisan kata-kata jika berhadapan dengan kalian," pujinya sekaligus mengeluh.


"Terlebih kamu Reece. Kamu memang luar biasa!" Manya mencubit pelan pipi gembul adiknya yang memang kepintarannya di luar ekspektasi itu.


Di kamar, Ramaputra memeluk istrinya, Tita baru saja selesai disusui. Bayi cantik itu sedikit berulah karena mencoba berjalan.


"Sayang ... kenapa Reece jadi sangat menggemaskan seperti itu?" keluh pria itu. "Aku sampai kehabisan akal untuk menjawab semua pertanyaannya."


"Kau tau sayang, dia mirip dengan kakeknya," jawab Amertha mengingat sosok mertuanya.


Tuan Artha, memang terkenal kegeniusannya. Pria itu mampu membangun bisnisnya dari nol lalu berkembang hingga menjadi perusahaan raksasa.


"Aku bersyukur, Tuhan masih m mempercayai kita dengan dua anak," ujar Ramaputra.


"Iya sayang, Artha tidak akan habis. aku harap putra kita sehat terus ya, dan kita tetap hidup sampai keduanya menikah," harap Amertha.


"Aamiin!" sahut Ramaputra.


Ramaputra mengeratkan pelukannya. Malam dingin dilewati dengan pelukan hangat pasangan suami istri. Pagi menjelang, semua sibuk Manya memilih membeli sarapan via online. Beberapa menu terhidang. Mereka akan berangkat dari villa jam delapan pagi.


"Ayo sarapan dulu!"


Semua pun duduk dan memakan sarapannya. Aldebaran sudah menelepon penunggu villa jika mereka akan pulang sebentar lagi.


Akhirnya semua kini naik bus travel untuk mengantar mereka ke bandara. Dengan menaiki pesawat jet pribadi masing-masing. Hanya butuh satu jam setengah pesawat mendarat di bandara milik Abraham. Pesawat Irham tentu mendarat di bandara lain dekat kota tempat tinggalnya.


"Ah ... rumahku istanaku!" teriak Manya ketika sudah tiba di rumahnya sendiri.


Bersambung.


Walau rumah gubuk tetap lebih enak tinggal di rumah sendiri.


Next?