THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KANGEN



Leticia menatap Ramaputra. Sosok pria cinta pertamanya, ia adalah putri yang dibesarkan oleh gelimang harta, neneknya yang memanjakan dirinya.


Gadis itu ingat. Jika ayahnya menegurnya terlalu keras, maka neneknya yang membela dirinya. Terlebih ketika ibunya keguguran saat ia berusia sepuluh tahun. Leticia diasuh penuh oleh sang nenek hingga usia lima belas tahun. Dulu ia mengira jika sang ibu dan ayah tak menyayangi dirinya, karena ketika neneknya meninggal dunia, baru lah ia diasuh oleh Ramaputra dan Amertha.


"Tuan!" sapanya.


Ada rasa sakit melanda hati kedua orang yang saling tatap. Ramaputra bisa melihat perubahan putrinya yang jauh lebih dewasa, pintar dan pandai membawa diri. Jovan pun melihat perubahan itu.


"Nona Wijaya," sahut Ramaputra.


Satu tetes bening jatuh di pipi sang gadis. Irham cukup paham apa yang dilakukan oleh Ramaputra pada putrinya. Kejadian terakhir, terlebih semua bukti yang menunjukkan kesalahan Leticia di masa lalu. Tentu membuat siapa saja terpukul.


"Dad," tegur Jovan.


"Kita ada di tempat umum, biasa saja," sahut Ramaputra tenang.


Irham menggandeng putrinya erat. Ia memberikan ketenangan pada Leticia. Gadis itu menatap ayah kandungnya. Memang di manapun ayah adalah sosok pahlawan yang akan selalu melindungi putrinya.


"I'm oke Dad," ujarnya lirih.


Acara terus berlanjut hingga makan siang. Leticia benar-benar menunjukkan performanya. Irham begitu bangga, begitu juga Ramaputra.


Sementara sosok pria menatap gadis yang tengah jadi sorotan dengan pandangan teduh. Praja melihat ajudan dari Ramaputra itu.


"Apa kamu nggak mau coba buat deketin Leticia?" tanyanya.


"Aku hanya seorang ajudan, dia CEO. Aku tidak pantas!' ujarnya lirih.


Praja mengangguk setuju. Seorang Wijaya tentu akan menolak tegas Rudi jika ingin mempersunting putrinya.


"Mungkin dia bukan jodoh kamu," ujar Praja.


Rudi menunduk, lalu mengangguk setuju perkataan rekan seprofesinya itu. Sementara Jovan sibuk mengirim pesan pada istrinya. Manya sukses dengan operasi pengangkatan jaringan sel tumor yang ada di perut pasien.


Pria itu tersenyum bahagia dan ia sudah merindukan istrinya. Ramaputra menatap menantunya yang tengah senyum-senyum sendiri.


"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" tanyanya penuh selidik..


"Ini, Manya berhasil melakukan operasi pengangkatan tumor di perut salah satu pasien," jawab Jovan bangga.


"Benarkah? Jadi istrimu sudah berhasil melakukan operasi pengangkatan tumor dua kali dan semuanya bersih?" Jovan mengangguk.


"Ah ... putriku!" Ramaputra sangat bangga.


Acara gala lunch selesai. Semua bersalaman, Jovan mendapat banyak kerjasama dan perusahaan besar menanam saham di perusahaan miliknya. Tiga perusahaan menjadi trending di gala lunch kali ini.


"Penghargaan kepada Tuan Dinata, Tuan Artha dan Nona Wijaya!" ujar pemilik acara memberikan satu cenderamata pada ketiganya.


Akhirnya gedung mewah itu mulai ditinggalkan oleh para pengusaha yang tadi berkumpul. Artha kini menatap Leticia, gadis itu menghapus kasar air matanya. Ia benar-benar merindukan ayahnya. Akhirnya, pria itu memeluk Leticia. Gadis itu langsung menangis tersedu di dada bidang ayahnya.


"Maafkan aku Daddy ... huuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"


"Maafkan Daddy juga, Nak ... maaf tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk kamu," ujarnya lirih.


Irham menatap dua orang itu dengan perasaan campur aduk. Ia bahagia akhirnya Ramaputra memaafkan putrinya, namun ia juga takut sang putri akan memilih pria yang telah merawatnya hampir tiga puluh tahun itu.


"Sayang, kau punya adik," ujar Ramaputra memberitahu.


"Mommy hamil lagi dan sudah lahir?" Ramaputra mengangguk.


Pria itu memperlihatkan foto putranya. Leticia begitu antusias.


"Daddy telepon adik sama Mommy!" rengeknya.


Ramaputra melakukan video call. Amertha ada di rumah putrinya, keduanya langsung bertangisan..


"Mommy kangen!" tangis Leticia.


"Mommy juga sayang. Lain waktu mommy, Daddy dan adik akan ke sana ya!" ujar Amertha.


Lalu muncullah wajah Reece. Ia mengernyit pada Leticia. Ia menoleh pada ibunya.


"Moma, ipu spasa?"


"Itu Kakak Leticia, Baby," jawab Amertha.


"Hai Baby!" panggil Leticia.


"Oh Ata' Pestisida?"


Leticia cemberut, namanya yang cantik jadi berubah di mulut bayi itu. Amertha menunggui cucu-cucunya karena sang ibu tengah melakukan operasi di rumah sakit.


"Hai Baby, kamu sudah besar ya?' sapa Leticia.


"Ipu spasa?" teriak Aidan.


Wajah-wajah bayi berebutan muncul di layar. Leticia tertawa melihat keributan di sana. Ramaputra melihat tawa lepas dari gadis itu. Ia mengelus rambutnya penuh kasih sayang. Akhirnya sambungan telepon terputus. Amertha memutuskan karena semua bayi ingin muncul di layar ponsel dan membuat kegaduhan di sana.


"Daddy, kita mampir beliin adik-adik oleh-oleh ya," pintanya.


Ramaputra menatap menantunya. Jovan yang ditatap kaget, lalu mengangguk walau sedikit berat hati.


Leticia sungguh takut pada pria bermata hazel itu. Ia sangat malu dan tak mau cari perkara. Lalu netranya menatap sosok tampan yang berdiri jauh sedikit di belakang.


Deg! Deg! Deg! Rona merah menjalar di pipi gadis itu. Jovan bisa melihat itu.


"Ayo kita pulang!" ajak Irham.


"Daddy, aku mau beli mainan buat Babies," ujarnya merajuk.


Leticia begitu manja pada ayah kandungnya itu. Ramaputra senang karena Irham memanjakan gadis itu sesuai dengan porsinya.


Akhirnya mereka pun pergi ke sebuah mall besar. Leticia antusias ke butik baju-baju bayi. Ia membeli satu set baju formal untuk semua bayi laki-laki.


"Keponakanmu ada sepuluh Nak!" sahut Ramaputra.


"Hah ... sepuluh?!" Ramaputra mengangguk.


"Jadi sebelas sama Reece?" Ramaputra mengangguk lagi.


"Tambah lagi biar jadi kesebelasan!" selorohnya.


Semua terkekeh mendengarnya kecuali Jovan. Pria itu benar-benar membatasi dirinya dan Leticia. Pria itu tak menganggap sama sekali gadis yang pernah mengisi hatinya itu.


Setelah membeli baju bayi. Baru lah mereka keluar dari butik, Ramaputra pamit, Jovan mengangguk pada dua orang itu.


Leticia menatap punggung ayahnya. Rindunya terobati sudah, maafpun sudah didapatkan. Ia juga sadar, tidak akan kembali masuk menjadi bagian keluarga dari pria yang telah membesarkannya itu.


"Daddy ... makasih ya," gumamnya lirih.


Sementara itu Rudi diminta untuk tetap di kota itu. Ramaputra menugaskan pria itu untuk mendatangi sebuah perusahaan yang tadi meminta mereka untuk memeriksa beberapa dokumen kerjasama.


Irham pulang sendirian, Leticia mengaku ingin menonton film di bioskop.


"Jangan pulang terlalu lama!" peringat sang ayah.


"Iya Daddy,"


Gadis itu akhirnya berjalan menuju bioskop. Rudi yang memang tak memiliki kegiatan lain juga memilih hal sama. Keduanya kini bertemu di tempat yang sama.


"Nona!" panggilnya.


"Eh ... kok kamu nggak pulang?" tanya Leticia bingung.


"Saya mesti ke perusahaan X besok Nona," jawab pria itu.


"Terus kamu ngapain di sini?" tanya gadis itu.


"Mau meluk nona," jawab Rudi dalam hati.


"Mau nonton," jawab Rudi bertentangan dengan hatinya.


"Oh ... mau bareng nonton?" ajak gadis itu.


"Mau!" angguk Rudi antusias.


Leticia mengigit bibir bawahnya. Ia meruntuki dirinya. Hatinya berdetak kencang. Terlebih mereka kini duduk di pojok seperti sepasang kekasih yang hendak bercumbu.


Lampu mulai dimatikan. Hanya layar lebar sebagai cahaya. Adegan film diputar. Gadis itu tadi hanya asal memilih film. Ia tak menyangka jika adegan awal sangat panas dan membuat semua penonton larut dalam adegan.


Rudi menggenggam tanga gadis itu. Dalam gelap ia meraba bibir Leticia.


"Nona, maafkan aku!" ujarnya lalu membenamkan bibirnya di atas bibir Leticia.


bersambung.


Weh ... Rudi kesempatan dalam kesempitan.


next?