THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PUTRIKU 2



"Mama," panggil Leticia pada Renita.


Wanita itu mendekat perlahan. Ia mengecup kening putrinya itu hati-hati. Ingin sekali ia berteriak kencang jika dirinya adalah ibu dari gadis cantik yang berbaring lemah itu.


"Sayang, bagaimana perasaanmu?" tanyanya dengan suara tercekat.


"Sakit, ma," rengeknya manja.


Amertha menangis tertahan. Ia tak sanggup. Ingin menolak kenyataan jika wanita yang kini menciumi tangan putrinya adalah ibu dari Leticia yang sesungguhnya.


Wanita itu hendak pergi meninggalkan putri dan ibunya begitu saja.


"Mommy!" panggil Leticia panik.


Langkah Amertha berhenti.


"Mommy don't leave me ... hiks ... hiks!" pinta Leticia menangis.


Renita menarik tangan Amertha. Wanita itu harus menahan semua egonya untuk berbuat semaunya. Kondisi Leticia jauh lebih penting dari sekedar perebutan anak.


"Dia juga putrimu," ujarnya lirih.


Amertha mendekati Leticia. Gadis itu menangis ketika melihat ibunya hendak pergi meninggalkannya.


"Mommy don't leave me ... please!!'


"Tidak sayang, mommy tidak akan meninggalkan kamu lagi," ujar Amertha menenangkan putrinya.


"Promise?" Amertha mengangguk lalu menghapus jejak basah pada pipi anak gadisnya.


"Mommy, please sleep with me tonight!" pinta Leticia memohon.


Amertha mengangguk.


"With your mama, oke?" ujarnya.


Leticia mengangguk setuju setelah berpikir sekian lama. Lalu datang Irham dan Ramaputra.


Leticia menangis dan meminta maaf pada ayahnya itu.


"Dia siapa dad?"


"Ini suami dari mamamu, darahnya juga ada di dalam darahmu," jelas Ramaputra dengan bibir gemetar.


"Halo sayang, kau boleh memanggilku Papa," ujar pria itu dengan suara tercekat.


Leticia hanya mengangguk lemah. Kepalanya pusing karena menangis dan bekas operasi juga benturan itu membuatnya sakit.


"Aarrghh ... kepalaku!" rintihnya.


"Aku panggilkan Dokter!' seru Irham langsung memencet bel.


Dokter pun datang. Mereka langsung mengatakan jika kepala Leticia sakit.


Sedang di ruang praktek Manya, ia tampak duduk sendiri. Pasiennya akan ada lagi setengah jam kemudian. Sang suami tak lagi bersamanya karena harus ke luar kota.


Wanita itu ingin sekali membayangkan wajah ayah dan ibu kandungnya, namun sayang. Ia dibuang atau ditaruh begitu saja bersama data rumah sakit yang menempel padanya. Hanya nama ayah dan ibu juga rumah sakit.


"Tapi di sana ada yang menulis jika keduanya meninggal karena kecelakaan," monolognya.


Satu tetes bening jatuh dari pelupuk matanya. Ia tersenyum miris. Ia tak yakin jika kedua orang tuanya sudah tiada.


"Apa mereka tak menginginkan diriku?" tanyanya pelan sekali.


Wanita itu membuka kotak bekal di atas meja ada foto suami dan tujuh anaknya yang makin lama makin ada saja tingkahnya.


"Mama udah kangen sayang," keluhnya menatap foto anak-anaknya.


"Aku juga kangen kamu mas," monolognya lagi.


Manya memilih bekal makan siangnya. Tadi ibu mertua heboh memasak untuknya. Seperti perang dunia ke dua terjadi di dapur tadi pagi.


Maira sangat ingin membuatkan bekal makan siang, untuk suami, putra dan juga menantunya. Semua perabotan berbunyi di tangan wanita itu.


Maira juga berteriak ketika menggoreng ikan minyaknya meletup-letup memercik.


"Wanda ... Lira ... Nina. Hentikan percikan itu!"


Manya berkali-kali hendak menolong mertuanya langsung ditolak mentah-mentah.


"Kamu tinggal makan saja!" begitu perintahnya.


Manya memakan masakan mertuanya.


Masakan pertama Maira berhasil. Jovan juga tengah menikmati makanannya. Praja merebutnya. Ia juga mau mencicipi masakan ibu atau kakak angkatnya itu.


"Hei ... itu milikku!" teriak Jovan tak terima.


"Aku juga mau!" teriak Praja tak mau kalah.


Sedang di kantor Abraham pria itu tersenyum memakan masakan istrinya itu. Ia begitu menikmati ikan goreng dan juga sayur capcay udang.


"Enak ... istriku ternyata jago masak!" pujinya.


Sedang di ruang rawat. Leticia sudah terlelap. Ia telah memakan obatnya. Renita menyuapinya dengan telaten makan siang anak gadisnya untuk pertama kali.


"Sayang ... aku mamamu yang asli," bisiknya pelan sekali di telinga Leticia.


"Ma," peringat Irham.


Baik Amertha dan Ramaputra sudah pulang dan membiarkan sepasang suami istri itu bersama putrinya.


"Aku tak tahan pa," ujar wanita itu berbisik.


"Sabar sayang, ini semua demi kesembuhan Leticia," ujar pria itu menenangkan istrinya.


Sedang di kantor Rama. Pria itu menatap semua laporan tentang penukaran bayi yang dilakukan oleh oknum perawat yang tidak bertanggung jawab. Bahkan di sana ada pernyataan jika putrinya dibawa lari penculik yang menukar Leticia.


"Siapa, siapa yang berani melakukan itu padaku?!" bisiknya bertanya.


Pria itu melihat ada flashdisk terselip di sana. Ia mengambilnya dan memasang di laptop. Istrinya memilih pulang ke rumah, ia membiarkannya.


Rama memasang flashdisk dan langsung membuka berkas yang ada di sana. beberapa video dengan urutannya. Ia memutuskan untuk menyetel semuanya.


Berkali-kali terlihat jelas. Di mana Leticia diletakan di boks yang mestinya untuk putrinya. terlihat jelas ketika boks itu datang dengan nama data berbeda di tiap ranjangnya. Lalu satu suster datang dan oknum yang menukar itu pura-pura membereskan boks bayi lain. Setelah diberi tanda. Bayinya yang ada di boks milik Renita ia korek mulutnya hingga muntah. Ia pura-pura sibuk ingin membersihkan di ruang lain. Hingga tak lama oknum itu kembali membawa bayi yang terbungkus kain sama. Lalu perempuan itu pergi begitu saja.


Ramaputra berkali-kali memutar video ketika bayinya dipindahkan. Nampak jelas wajah wanita itu.


Ia merunut pada perginya sang wanita hingga ke luar ruang bayi. Wanita itu membawa bayi lain dan telah berganti baju dan masker. Rama menghentikan bagian itu. Ia memperbesar layar dan melihat secara seksama siapa wanita yang membawa bayi itu.


"Aprilia?" Ramaputra menggeleng pelan.


Ia memutar lagi video itu dan memastikan wanita itu adalah mantan selingkuhan pertamanya.


"Berengsek. Ku pastikan dirimu menderita setelah ini wanita sialan!" geramnya marah.


Sedangkan Amertha memilih kembali ke rumah sakit dan mendaftarkan diri untuk check up pada salah satu dokter yang baru ia kenal.


Wanita itu duduk menunggu antrian. Ia sebenarnya bisa mengambil nomor urut paling awal atau mendaftar sebagai pasien vvip.


"Aku ingin merasakan bagaimana mengantri itu," ujarnya lalu tersenyum.


Wanita itu setia menunggu giliran hingga namanya dipanggil untuk masuk ke ruang praktek dengan nuansa lembut itu.


"Halo selamat siang, nyonya silahkan duduk," pinta Manya mempersilahkan wanita itu duduk.


Amertha duduk dengan begitu anggunnya. Ia benar-benar memperlihatkan kelasnya. Manya menatap kecantikan yang menguar dari Amertha.


Kedua mata saling tatap dengan degup jantung yang keras dan cepat.


"Ada keluhan apa, nyonya?" tanya Manya ramah.


Beruntung ia memakai masker biru itu. Jika tidak, akan terlihat bibirnya bergetar ketika bertanya perihal kesehatan wanita di depannya.


"Akhir-akhir ini saya sering cepat lelah dan mata berkunang-kunang ...."


Amertha mengatakan keluhannya. Manya mendengar dengan baik. Bahkan wanita itu secara gamblang menceritakan kejadian yang mestinya ia tutupi.


"Ah ... maaf dok, saya malah curhat di sini," ujarnya ketika menyadari jika ia terlalu jauh berbicara.


"Tidak apa-apa nyonya, itu tandanya anda percaya dengan saya," ujar Manya tak masalah dengan curahan hati Amertha.


Setelah memeriksa dan memberi resep. Manya meminta nyonya kaya itu untuk lebih positif dalam berpikir.


"Saya berdoa agar putri anda lekas ketemu," Manya memberikan doa terbaik untuk Amertha.


"Aamiin," sahut wanita itu lalu pergi dari ruang praktek Manya.


bersambung.


itu putrimu, Amertha!


next?