
Guru ada rapat selama satu jam. Anak-anak tidak boleh ada yang keluar sebelum bel istirahat berbunyi.
Seven A tengah mengobrol dengan Anton. Kedelapan balita itu seperti berdiskusi.
"Anton, selama kamu jadi nanat Pat Sidit. Tamu eh Kamu ngapain aja?" tanya Abi penasaran.
"Ya biasa aja, sepelti kalian," jawab Anton.
"Disayang, dimanja, diajalin, bahkan dikasih uang jajan nih,' ujarnya lalu menunjukkan uangnya.
"Telus kamu jajanin?" tanya Lika.
"Enggak, aku tabung buat beli sepatu," jawab Anton.
"Kita enggak pelnah ditasih eh dikasih uang jajan, soalnya bawa bekel," sahut Laina.
"Iya, kata Mama kalo jajan kan kita enggak tau belsih nggaknya makanan," sahut Abi.
"Iya, makanya aku nggak jajanin," jawab Anton.
"Emang sepatu kamu kenapa?" tanya Abi.
"Kekecilan, ini kakinya ngelipet ujungnya. Sakit!" jawab Anton sambil meringis.
Balita itu melepas sepatunya. Terlihat jika ujung jari kakinya memerah.
"Kenapa kamu nggak minta aja beliin sepatu sama Papa balu kamu?" tanya Syah.
"Aku nggak tega," jawab Anton.
"Bapak udah ambil aku jadi anak, nggak mau nyusahin lagi," lanjutnya.
"Eman eh emangnya ukulan sepatumu belapa?" tanya Abraham.
"Enggak tau dua puluh mungkin," jawab Anton.
"Coba pake sepatuku ini, pisa eh bisa jadi muat!" sahut Abraham.
"Jangan nanti dimarahin sama Mama kamu loh!" larang Anton.
"Nggak lah, Mama aku baik kok!" ujar Abraham.
"Jangan, kalau mau kasih apa-apa itu bilang sama Mama dulu!" tolak Anton lagi.
"Loh kenapa, kan aku mau belbuat baik. Mama pasti nggak bakal malah!" ujar Abraham.
"Memang, tapi ini kan yang beliin olang tua, halus ijin dulu. Lagian kalo kamu kasih aku kamu pake apa?" ujar Anton panjang lebar.
"Aku banyak sepatu di lumah!" sahut Abraham.
"Iya mesti bilang dulu!" sahut Anton bersikeras.
"Ya udah, nanti aku tanya Mama deh," ujar Abraham mengalah.
Bel istirahat berbunyi. Semua berhamburan keluar termasuk Seven A dan juga Anton. Anton keluar dengan telanjang kaki, ia merasa sakit jika memakai sepatunya.
"Loh, sepatu kamu mana?" tanya Saskia.
"Ada di kelas," jawab Anton.
Hari ini sang ibu tak mengantarnya. Tinah tengah membantu tetangganya memasak untuk hajatan. Sebagai tetangga Tinah membantu memasak yang digelar di lapangan bersama para ibu-ibu sekitar rumah.
Mereka memakan bekal siang mereka. Setelah makan kedelapan anak yang namanya berawalan huruf A itu hendak masuk ke kelas.
"Weh ... kita main bola yuk!" teriak salah satu murid kelas.
Sepasang sepatu menjadi bulan-bulanan tendangan anak-anak. Seven A dan Anton bingung, sepatu siapa yang ditendang oleh kawan-kawannya.
Anton melebarkan matanya ketika sadar itu adalah sepatunya. Balita itu pun berteriak-teriak.
"Itu sepatu saya, hentikan!"
Namun tak ada satu pun menggubris. Semua anak tertawa menendang sepatu lusuh itu.
"Itu sepatu saya!" teriaknya lagi.
"Eh ... lempar sini ... lempar sini!" teriak salah satu murid sambil tertawa.
Sepatu ditendang jauh hingga masuk parit. Semua berteriak.
"Gool!"
"Sepatuku!" teriak Anton.
Balita itu berlari dan melihat sepatunya yang ada di dalam parit. Parit cukup dalam hingga tak mungkin untuk ia masuk mengambilnya, ia pun menangis. Semua anak terdiam mendengar tangisan Anton.
"Itu sepatuku ... hiks ... sepatu pembelian terakhir ibu ... huuu ... uuu ...!"
"Udah sih Nton. Kamu itu udah buat kita senang. Jadi kamu dapat pahala!' sahut Denta yang memang tidak menyukai Anton.
"Pahala apanya!' teriak Abraham.
"Kamu itu sudah mensolimi anak yatim!" lanjutnya berang.
Guru-guru keluar dari dalam ruang rapat. Kaget melihat anak-anak sudah berada jauh di luar sekolah, bahkan Anton ada di pinggir jalan menangis.
"Itu Bu, Denta sama temen-temennya mensolimi Anton!" adu Bhizar marah.
"Mensolimi?' guru mengernyit, beberapa saat barulah ia mengerti maksud perkataan Abhizar.
"Denta apa benar begitu?" tanya guru dengan lembut.
"Nggak Bu, kita hanya main-main. Ada sepatu ya kita bikin bola!" sahut Denta tak mau disalahkan.
"Tapi itukan sepatu Nak. Bukan bola," sahut gurunya sambil menghela napas.
Salah satu tukang kebun sekolah masuk ke parit dan mengambil sepatu Anton. Sepatu itu tentu sudah basah dan bau.
"Buang aja sih, udah bau dan kotor!" teriak Denta benar-benar tak suka.
"Denta!" peringat guru.
"Sebagai hukuman. Kamu bersihkan sepatu Anton!" titah guru tegas.
Denta menundukkan kepalanya. Pengasuh yang menunggu anak majikannya sedikit keberatan.
"Ya sudah, kalau begitu Mba aja yang bersihin sepatu Anton!" sahut ibu guru.
Pengasuh itu diam. Tentu ia tak mau membersihkan sepatu kotor dan bau itu. Denta dan teman-teman diberi sikat dan sabun, guru mengawasi muridnya yang nakal ini.
'Ibu yakin, kalian akan jadi orang-orang hebat dan saling mengasihi satu dan lainnya!' gumamnya bangga.
Sepatu sudah dibersihkan, lalu dijemur di atas pagar tanaman. Cuaca cukup terik, hingga membuat sepatu itu pasti cepat kering.
"Sekarang minta maaf sama Anton!" pinta Bu guru lembut.
Denta sedikit gengsi, tapi ibu guru baik itu terus membujuk balita bongsor itu. Akhirnya Denta meminta maaf.
"Maaf ya," cicitnya malu.
"Iyah ... hiks ... hiks!" sahut Anton.
"Udah jangan sedih sayang. Kan sepatunya udah kembali," ujar Bu guru lalu mengusap air mata Anton.
"Ayo masuk kelas!" ajaknya.
Denta masuk kelasnya sendiri bersama beberapa temannya. Anton sudah tak sedih lagi, sepatunya sudah kembali.
"Nah, sekarang kita mengenal warna ya!" ujar Bu guru di depan kelas.
"Iya Bu gulu!" pekik semua anak kompak.
Tak terasa waktu pulang tiba. Sepatu Anton sudah kering. Ia pun memakainya, walau ada ringisan menahan sakit. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Seperti biasa, Sidik mengantar anak majikan dan juga pengasuhnya, lalu membawa anak angkatnya pulang. Tinah sudah menanti putranya dengan masakan enak.
Di rumah Manya, seven A langsung bercerita tentang kejadian di sekolah pada neneknya yang memang menunggu bersama tiga cucu dan satu putranya.
"Kasihan sekali Anton. Jadi sepatunya dibuat main bola sama temen kamu yang nakal itu?" tanya Amertha.
"Iya Moma, kasihan. Anton nangis tadi. Katanya itu pembelian telakhil dali almalhumah ibunya," jawab Bhizar sendu.
"Oh ya Moma. Apa boleh Ablaham kasih salah satu sepatu Blaham?" tanya Abraham.
"Loh untuk apa?" tanya Amertha.
"Buat dikasih sama Anton. Besar kakinya tadi sepeltinya muat sama kakinya Anton!" jawab Abraham semangat.
"Tentu, tapi bilang Mama kamu dulu ya," jawab Amertha.
"Anton tadi juga suluhna begitu!" sahut Laina.
Amertha tersenyum mendengar perkataan cucu perempuannya itu. Ia sangat suka dengan perlakuan Anton.
"Moma ... tatanya eh katanya Moma Maila datan hali ini ya?" tanya Syah mengalihkan pembicaraan.
"Iya baby. Moma kamu akan datang bawa banyak oleh-oleh,"
"Holeeee!" seru semua anak bertepuk tangan.
Mereka makan siang bersama lalu semua tidur siang. Sore menjelang, mereka sudah rapi dan wangi.
Maira datang membawa banyak oleh-oleh untuk cucu-cucu juga Reece. Bayi itu marah-marah karena tak menemukan hadiah untuknya.
"Bana ladiah puat Lees!"
Maira gemas bukan main, ia menciumi adik dari menantunya itu hingga protes.
"Moma, paju eh baju ini boleh buat Anton nggak?" tanya Bhizar mengingat temannya.
Maira menatap cucunya. Ia sudah tau kejadian di sekolah tadi, besannya yang menceritakan kisahnya.
"Tentu Baby!"
bersambung.
Biasakan anak untuk berbuat baik dengan temannya. Good heart Seven A.
next?