
Satu minggu berlalu, Dwi, Dina, Angga, Anton dan lainnya bingung ketika Denta kembali memberi mereka uang hasil penjualan dan bonus dari salah satu aplikasi online.
"Uangnya banyak amat?" ujar Angga kaget.
"Iya, Mama bilang produk kita laris manis, makanya ini hasilnya," ujar Denta.
"Alhamdulillah ya Allah ... bisa bayar kontrakan!" seru Dina menangis haru.
"Satu juta ini awal. Jika terus berkembang maka satu juta bisa satu hari pemasukan kita!" ujar Denta dengan wajah bahagia.
Seven A bingung dengan uang yang begitu banyak. Mereka saling pandang dengan amplop berisi uang di tangan mereka.
"Kita kasih Mama lagi deh," ujar Bhizar.
Semua saudaranya mengangguk setuju. Bel istirahat berakhir, mereka kembali bubar. Tak ada yang tau jika ke lima belas anak itu sudah memiliki usaha. Dania telah menyusun organigram perusahaan, dan yang menjadi direktur utama adalah seven A karena modal dan ide awal dari tujuh anak kembar itu.
Jovan melihat berkas yang diberikan istrinya. Pria itu kagum dengan apa yang tertera di sana. Begitu terstruktur dan sangat rapi.
"Ini bagus sekali. Anak-anakku jadi kaya raya semenjak kecil," ujarnya dengan senyum lebar.
Praja mengangguk setuju. Jual beli online memang tengah merambak di antero jagat raya. Bahkan semua anak-anak yang terlibat menjadi model walau peran utamanya adalah orang dewasa.
Ketika pulang, Seven A memberikan uang hasil kerjanya selama satu minggu. Manya tertegun, wanita itu malu dengan ibu dari sahabat tujuh anak kembarnya itu.
"Kalian boleh memberikan uang ini pada yang tidak mampu sayang," ujar Manya.
"Mama saja," ujar Abi.
Manya mencium tujuh anaknya. Triple A sedang bermain dengan om dan sepupu mereka. Manya memiliki ide untuk membeli sebuah wadah kreasi anak. Ia akan mensupport anak-anak yang suka dengan kreasi dan memiliki bakat seni.
"Mama bisa buat perusahaan sama seperti kalian, tapi nanti Mama akan mengumpulkan anak-anak yang suka dengan seni dan melelang hasil karya mereka di internet!" ujar Manya akhirnya tercerahkan.
"Wah ... boleh tuh Ma. Kebetulan Laina juga suka melukis!"
"Lika suka design interior!" gadis kecil itu mengacungkan jari.
Manya akhirnya bisa merealisasikan impiannya menolong sesama. Terlebih, ia sering mendengar jika teman-teman tujuh anak kembarnya itu masih bekerja walau sudah menghasilkan uang.
Pagi menjelang, Manya memilih mengantarkan semua anaknya ke sekolah bersama triple A. Liam dan Reece diangkut oleh orang tuanya ketika keduanya sedang tidur. Jovan ikut bersama mereka.
Semua masuk ke kelas ketika sudah sampai ke sekolah. Dania kembali mengantar putranya. Wanita itu bersama sang suami.
"Ah Tuan Dinata!" ujar Dazlan menjabat tangan pria bermata hazel itu.
"Tuan Dazlan Arifin!" sahut Jovan.
Tentu mereka saling kenal, keduanya pebisnis. Walau Azlan tak sehebat Jovan, tetapi sesama pebisnis mereka saling kenal satu dan lainnya.
"Jadi Nyonya ingin membeli sebuah gedung untuk memberi ruang seni bagi anak-anak yang ingin berkreasi?" Manya mengangguk.
"Saya terinspirasi dari anda Nyonya Dazlan," sahut Manya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, saya senang jika memang demikian Nyonya," sahut Dania juga tersenyum.
"Saya merasa ikut terpanggil untuk membantu sesama, Seven A mengajari saya untuk berbagi," sahut Manya lagi.
Jovan mengangguk setuju, pria itu juga ikut sang istri karena tujuh anak kembarnya yang begitu peduli dengan teman-teman yang membutuhkan pertolongan.
"Sayang, kita serahkan pada Nyonya Arifin untuk menjalankan misi kemanusiaan mu," pinta Jovan.
"Namamu sebagai istriku pasti akan membuat semua jadi sorotan. Semua orang pasti akan mencari kesalahan kita," lanjutnya.
"Baiklah, sepertinya itu ide bagus," sahut Manya setuju.
Bel istirahat berbunyi, Dania kembali memberikan kotak berisi makanan pada semua murid. Hanya seven A saja yang menolak kotak itu.
Dania tersenyum, wanita itu mengusap sayang kepala tujuh kembar identik itu. Denta banyak belajar dari seven A dan berubah sikap karena Anton.
Padahal Dania tak pernah mengajari putranya seperti itu dulu. Tapi kini, Denta berubah perangai, bahkan anak itu sangat antusias menceritakan kebaikan-kebaikan seven A dan Anton.
"Tante, kotaknya seven A boleh buat saya nggak?" pinta Dwi malu-malu.
"Oh ... tentu boleh sayang," ujar Dania lalu memberi satu kotak makanan itu.
Satu tetes bening mengalir di sudut matanya. Dania menangkap itu. Ia menyamakan tingginya dengan Dwi.
"Kenapa sayang? Kamu boleh cerita sama Tante," ujarnya mengusap jejak basah di pipi Dwi.
"Beras kemarin dijual Bapak untuk bayar hutang jadi udah nggak ada beras lagi. Uang kemarin buat bayar kontrakan yang menunggak selama dua bulan," adu Dwi.
"Memang berapa hutangmu?" tanya Abraham.
"Nggak tau, tapi kata yang punya kontrakan banyak," jawab Dwi lirih.
"Sayang, apa boleh Tante nanti ikut kamu?" pinta Dania.
Dwi mengangguk. Wanita itu pun menatap suaminya. Dazlan menepuk bahu istrinya dan mendukung wanita itu.
"Panggil pengacara kita sayang," ujarnya memberi saran.
Jovan juga mau ikut begitu juga dengan Manya. Para orang-orang kaya itu masuk ke sebuah gang yang padat penduduk. Kontrakan dengan ukuran 4x3 meter dengan bilik mandi di luar dan harus bergantian dengan penghuni lain.
"Ibu, ada tamu!" pekik Dwi lalu meminta mereka masuk.
Seven A, Denta, Anton dan Nita diminta menunggu bersama triple A. Pak Sidik bersama mereka di mobil.
"Jadi utang Bu Lela berapa?" tanya pengacara garang.
Si pemilik rumah menelan saliva kasar. Tak ada bukti jika penghuni kontrakannya memiliki hutang, wanita dengan tubuh tambun, leher, tangan dan jarinya di penuhi emas palsu.
"Anda tau jika perbuatan anda itu bisa dikenali hukuman penjara setidaknya sembilan bulan dan denda hingga ratusan juta?"
"Saya ... saya hanya ngeprank aja kok, pak. Nggak nyangka jika dianggap serius," ujar wanita itu berkilah.
"Ini harus dilaporkan!" ancam pengacara.
"Pak jangan pak!" si pemilik kontrakan memohon.
Akhirnya ada surat hitam di atas putih jika Lela tak memiliki hutang begitu juga suaminya. Dania memberikan pekerjaan di perusahaan milik Seven A.
"Bapak dan ibu bisa tinggal di dalam, sekaligus membersihkan tempat itu," ujar wanita itu.
Sepasang suami istri itu pun senang bukan main. Mereka setuju dan akan segera pindah besok. Dania akan meminta salah satu pekerjanya membantu keluarga kecil itu. Dwi memeluk Dania juga mengucap terima kasih pada wanita itu.
"Sama-sama sayang," ujar wanita itu.
Manya memeluk Dania. Ia begitu banyak belajar dengan wanita itu.
"Terima kasih, terima kasih!"
"Sama-sama juga Nyonya," sahut Dania tersenyum senang.
Akan banyak anak yang terbantu dengan program mereka nantinya.
Bersambung.
Next?