THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERKENALAN BAYI



Triple dijejerkan dalam boks mereka bersama saudaranya yang lain. Kali ini semua melihat jika wajah ibu yang melahirkan tiga bayi menggemaskan itu tercetak jelas pada mereka.


"Sepertinya bayi ini adalah yang terakhir, karena wajah ibu mereka yang diambil!" kekeh salah satu kolega.


Manya tersenyum, wanita itu memang sangat bahagia akhirnya tiga bayi terakhir mirip dengannya begitu juga matanya.


"Mereka cantik-cantik dan tampan," puji salah satu kolega hendak menjawil pipi merah sang bayi.


"Janan pipedan!" larang Tita galak.


"Ais ... galak sekali!" keluh kolega itu gemas.


Semua tertawa lirih. tujuh bayi memang diletakan bersama di sana. Anak dari Jovan, Gerard dan Praja.


"Aku baru kali ini berhadapan bayi kembar yang lahir dari tiga keturunan berbeda!" ujar salah satu kolega wanita takjub.


"Nyonya Manya yang paling banyak dan sering melahirkan bayi kembar. Sepertinya rahimnya sangat subur sampai bisa tiga kali melahirkan kembar!" lanjutnya takjub.


"Iya benar, biasanya jika lahir kembar itu hanya satu kali saja. Tapi Nyonya Dinata bisa melahirkan kembar lagi!" seru lainnya.


"Apa kalian tidak ingat keturunan Dougher Young, Pratama dan Dinata?" ujar salah satu mengingat.


"Ah ... mereka juga melahirkan lebih dari satu kali kembar!" sahut lainnya lagi berdecak antara kagum dan takjub.


"Baiklah, sekarang kita lanjutkan dengan pengumuman nama-nama bayi!' seru Gerard yang kini menjadi pembicara Kekuarga.


Di tempat lain Irham juga sedang melakukan acara pengenalan keturunannya. Nama-nama diperkenalkan.


"Abila Jovinta Dinata, Adzkiya Mavinta Dinata dan Abian Majhova Dinata!" ujar Gerard menunjuk tiga bayi yang kini menggeliat.


"Nama yang indah!" seru para kolega.


"Assalamualaikum!" salam salah seorang masuk.


Semua terdiam melihat kedatangan pria yang sangat terkenal di dunia bisnis. Pria yang disebut raja bayi oleh keluarganya.


"Wa'alaikumusalam Tuan Rion, Nyonya Azizah!" seru para kolega.


Sepasang wanita ini mengunjungi acara pengenalan bayi atas undangan Aldebaran.


"Terima kasih atas kedatangannya Tuan," ujar pria gaek itu.


"Sama-sama, oh ya saya dan keluarga mengucap selamat atas pernikahan Tuan Dinata dan Nyonya Demira!' ujar Rion menyalami Aldebaran sedang untuk Demira Rion mengatup dua tangannya di dada.


"Papa Baby!" pekik ten A riang.


Tita, Maiz dan Pram yang baru bertemu menatap Rion dengan takjub. Semua kini tau bagaimana pria yang tampan dan sangat mempesona itu menjadi magnet para bayi. Hanya butuh sebentar saja Rion sudah bergabung dengan semua anak-anak, sedang Azizah menggendong satu persatu bayi dan menciuminya gemas.


"Uh ... kalian cakap sekali sih!" pujinya.


"Boleh ulang siapa nama-nama mereka Tuan?" pinta Azizah.


"Baik Nyonya!" sahut Gerard tersenyum.


"Abila Jovinta Dinata, Adzkiya Mavinta Dinata dan Abian Majhova Dinata," ujarnya.


"Lalu Derra Cladiesa Downson dan Isaac Dennard Downson, kemudian Prakasa Dwi Dinata Hendrawan dan Prajna Dinata Hendrawan!'


Azizah sangat senang dengan nama-nama bayi-bayi itu.


"Namanya indah-indah!" pujinya.


"Terima kasih Nyonya," sahut Manya senang.


"Jadi yang tiga terakhir ini yang mirip dengan wajah ibunya toh?" semua mengangguk membenarkan ketika bayi Dinata difoto oleh wartawan.


Tita sudah mengobrol dengan Rion ala bahasa dia. Pria itu sangat antusias menyahuti perkataan bayi cantik itu.


"Zadhi Papa Paypi ... Ita ipu tan eundat matal ya ... pati Mama tuh zelalu malah-malah pama Ita!" adunya.


'Masa sih?' tanya Rion gemas.


"Iya Papa Paypi ... pasa peulnah Mama pilan eundat mawu sium Ita talo matal!' lanjutnya mengadu.


"Aish ... dia bohong Tuan!' desis Amertha membela diri.


"Janan tan Ita Papa ... Aiz judha selin pipalahin Mami woh!' adu Maiz sambil melirik ibunya.


"Matanya pita bawu dilulus pama Mama Panya aza!' sahut Aislin.


"Plam judha setalan sutana tindhal pama Mama Panya," sahut Pram.


"Lees judha eh juga dulu seling sama Mama, Papa Baby. Tapi semenjak banyak sodala Lees tinggal ama Moma," sahut Reece.


Rion mengangguk dengan senyum lebar perkenalan anak-anak Dinata, Downson dan Praja telah dilakukan.


Semua menikmati hidangan. Para anak-anak sudah berkumpul kali ini Tita, Maizah, Pram dan Aislin didaulat untuk bernyanyi.


"Spasa yang mau nyanyi duluan?" tanya Abraham kecil.


"Ita!" tunjuk Tita begitu berani.


Bayi itu sudah menggoyang pinggulnya. Ia bernyanyi lagu anak-anak yang kemarin diajarkan oleh salah satu pengawal.


"Pihat tebuntuh bemuh denan puna ... lada yan sutih ... dan lada yan peulah ... pepiap lali ... tulilam pemua ... bawal lelati ... pemuana pindah!"


Semua tersenyum lebar mereka ikut bernyanyi begitu juga Rion. Sesekali pria itu mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya. Azizah menenangkan sang suami.


"Baba, Papa, Mommy, Bommy, Mama, Daddy sudah tenang di sana sayang," ujarnya lembut menenangkan suaminya.


"Iya sayang, aku hanya mengingat masa kecilku yang selalu mengganggu Baba," jawab Rion lirih.


"Kita juga mengganggu semuanya ketika aku hamil sayang," sahut Azizah tersenyum kala mengingat masa kehamilannya dulu.


Usai makan Rion dan istrinya pamit pulang. Persiapan pernikahan adik mereka sebentar lagi dilakukan. Salah satu putri kembar dari Frans Dougher Young,.


Anak-anak sedih sambil melambaikan tangan. Jovan menatap semua anak laki-lakinya.


"Kalian harus bekerja di SavedLived agar mendapat salah satu putri dari Dougher Young!" tekad pria itu.


"Aku juga ingin putraku mendapatkan salah satu Pratama!" tekad Gerard.


"Aku juga mau Pram mendapatkan salah satu keturunan baik itu Dougher Young, Pratama, Triatmodjo, Starlight, Sanz, Dewangga atau yang lainnya!" ujar Praja.


"Apa harus seperti itu sayang?" tanya Amertha kurang suka dengan ide menantunya.


"Mama lihat sendiri jika keluarga itu menikahkan dengan orang-orang dekat mereka. Kita harus mendapat salah satu keturunan mereka," jawab Jovan.


"Sudah biarkan saja begitu Sayang. Kita juga tau bagaimana bagusnya perusahaan SavedLived membimbing semua karyawannya!" ujar Ramaputra.


Malam tiba, kini semua sudah terlelap. Manya baru saja menyusui tiga bayinya yang sepertinya sangat rakus.


"Mereka montok sekali sayang," puji Jovan gemas.


Manya hanya mengangguk, ia begitu bahagia. Semua putra dan putrinya tumbuh dengan sehat dan pintar.


Manya meletakan beberapa kantung susu dalam storagenya. Setelah itu, ia pun menuju kamar dan menutup pintu penghubung.


"Istirahat lah sayang," ajak Jovan sambil menepuk sisinya.


Manya pun merebahkan dirinya. Jovan langsung merengkuh istrinya dan mengecup wanita itu penuh kasih sayang.


"Aku mencintaimu sayang," ujarnya.


"Kau tak bosan mengatakan itu?" tanya Manya pada sang suami.


"Tidak ... aku tidak pernah bosan!" jawab Jovan tegas.


"Aku bisa mati jika kehilangan dirimu sayang," ungkapnya jujur.


"Jangan begitu sayang!" peringat Manya.


"Sungguh sayang, aku tak bisa hidup tanpamu," Jovan begitu jujur.


Manya memeluk suaminya, ia memang sangat bahagia karena mendapatkan pria yang begitu setia dan sangat mencintainya.


TAMAT


Ah ... akhirnya semua sudah selesai. Kita sudahi saja ya kisah dari seven A ini akan berlanjut di kisah yang lain.


Makasih semuanya!