
Dua hari lagi seven A berulang tahun. Baik Maira dan Amertha sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun untuk tujuh cucu kembar mereka. Yang berulang tahun hanya mendengarkan obrolan dua nenek mereka.
"Apa kita buat di gedung saja?" tanya Maira.
"Banyak kolega sudah menikah dan memiliki anak, walau usianya sudah besar-besar," lanjutnya.
"Sepertinya bagus, tapi temanya apa?" tanya Amertha bingung.
Tujuh bayi menatap dua wanita cantik yang sudah tidak muda lagi. Mulut mereka manyun hingga menggemaskan Amertha juga Maira.
"Babies kalian ingin pesta di ulang tahun kalian?"
Ada yang mengangguk dan ada pula yang menggeleng. Jawaban tak kompak itu membuat dua wanita tadi terkekeh.
"Kita tanya ibunya saja nanti," ujar Amertha.
"Ck!" Maira berdecak.
"Kenapa?" tanya Amertha heran.
"Kalau ditanya pada menantuku itu, pasti jawabannya tidak ada pesta. Waktu satu tahun mereka dulu, Manya hanya membuat nasi kuning saja dan dibagikan pada pemulung dan juga para tukang ojek," jawab Maira malas.
"Anak tujuh, tentu dia berpikir pengeluaran dan mementingkan pendidikannya kelak," sahut Amertha mencoba mengerti keadaan putrinya.
"Tapi kan sekarang beda!" keluh Maira.
"Putri kita itu terbiasa hidup sederhana, jeng," ujar Amertha mengingatkan besannya.
Maira akhirnya sadar, Manya adalah wanita yang lahir dari orang tua kaya. Tetapi takdir merebutnya dari hidup mewah. Seorang anak perempuan yang harusnya hidup bagai putri dongeng. Manya menjalani hidupnya dengan penuh kesusahan dan penderitaan.
"Aku juga dengar jika ia mendapat beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan kedokterannya kemarin. Begitu juga bidang spesialis yang ia ambil sekarang," lanjut Amertha.
"Dia memang genius," sahut Maira bangga.
Amertha mengangguk setuju. Sedang tujuh A sudah menghilang dari pandangan nenek mereka.
"Eh ... mana bocah-bocah itu?" tanya Maira mencari keberadaan cucunya.
"Babies!"
Lalu terdengar satu perdebatan antar ketujuhnya. Empat suster hanya menjaga mereka dan membiarkan perdebatan, salah satu dari mereka merekam aksi itu dengan kamera ponsel mereka.
"Agil ... pemanan ulan pahun pa'a?" tanya Lika.
"Pidat pahu, padhi moma dua tan ladhi beulbicala pentan lulan bahun," jawab Agil.
"Biya ... padhi judha banya, bawu besta pa'a pidat," sahut Abraham.
'Besta pa'a bustel?" tanya Abi kini.
"Pesta itu seperti perayaan besar baby," jawab Retta.
"Beulayaan?"
Ketujuh bayi itu belum tau apa itu pesta maupun perayaan. Karena begitu banyaknya mereka. Manya lebih suka di rumah ketimbang membawa mereka jalan-jalan. Denna memilih memperlihatkan sebuah video pesta ulang tahun anak pada para bayi.
"Ini yang tadi dibicarkan moma sayang," jelasnya.
"Wah ... lada tuena!" pekik Syah.
"Bini pa'a bustel?" tanya Bhizar melihat hiasan dinding dan balon warna-warni.
"Ini hiasannya. Jadi kalo pesta itu harus ramai dan mengundang banyak teman," jawab Denna.
"Wah ... atuh bawu besta pulan pahun!" sorak Agil bertepuk tangan.
"Plaham judha!" sahut Abraham.
Semua anak mau dibuatkan pesta ulang tahun.
"Bemanan lulan bahun pita tapan?" tanya Laina.
Semua diam. Mereka juga tidak tahu kapan ulang tahun mereka. Lalu semua menoleh pada nenek mereka.
"Dua hari lagi kalian akan berulang tahun sayang," jawab Amertha dengan senyum lebar.
Amertha menoleh pada besannya. Maira mengendikkan bahu tanda tak tau jawabannya. Amertha akhirnya tak menjawab pertanyaan cucunya itu.
"Moma lolan peultana ipu halus bipawap!" seru Abhizar tak suka jika ada yang bertanya tak dijawab.
"Biya, janan bentan-mentan tami basih teucil tlus bipilan eundat poleh Pahu!" sahut Syah dengan melipat tangan di dada.
Maira dan Amertha menganga, mereka tak menyangka jika baru saja dimarahi oleh cucu mereka yang masih bayi.
"Kalian baru memarahi moma?"
Amertha tak tahan dan menciumi perut cucu-cucunya hingga bayi-bayi itu tergelak.
Tak lama Manya pulang bersama Jovan suaminya juga Praja.
"Ma, mom!" sapa keduanya.
Usai membersihkan diri. Keduanya kini bercengkrama dengan tujuh anak mereka. Amertha langsung mengatakan keinginannya.
"Pesta ulang tahun?"
"Iya sayang, sekalian mereka bertemu dengan anak-anak seusianya," ujar Amertha penuh harap jika putrinya akan menyetujui idenya.
Manya sebenarnya keberatan dengan pesta. Tetapi melihat wajah penuh harap ibunya, ia pun mengangguk setuju.
"Tapi buat pestanya nyaman untuk anak-anak ya mom?" pinta wanita itu.
"Iya sayang, waktunya juga tak lama kok, hanya dua jam saja," jelas Amertha semringah.
Maira juga senang, akhirnya ia dan besannya bisa membuat pesta untuk ulang tahun ketujuh cucu kembar mereka.
"Konsepnya princess untuk Abigail, Alaina dan Ailika dan Prince untuk Abhizar, Abimanyu, Alamsyah dan Abraham, bagiamana?" tanya Maira mengusulkan idenya.
Jovan hanya diam saja ia menyerahkan semua pada istrinya. Ia akan mendukung apapun keputusan Manya.
"Akhirnya, kita bisa buat pesta. Walau Manya ingin di rumah saja dibuatnya. Yang penting kita bisa memamerkan cucu kita yang banyak!" sahut Maira pada Amertha.
Kedua wanita langsung pergi ke jasa dekorasi ulang tahun. Karena acara mendadak, keduanya memilih dekorasi sederhana. Esok hari beberapa orang datang membawa banyak perlengkapan. Para bayi diungsikan agar tak mengganggu pekerjaan. Tema pangeran dan putri raja, menjadi hiasan seluruh ruang tamu dan ruang tengah. Kertas warna-warni dan juga balon-balon. Hanya butuh waktu tiga jam dekorasi sudah selesai dan begitu ramai dengan warna-warna pastel yang lembut.
Maira dan Amertha membeli dress kembang untuk cucu perempuan mereka. Keduanya begitu antusias untuk mendandani tiga bayi cantik yang memiliki rupa yang sama. Lalu mereka juga membeli setelan formal lengkap bahan katun untuk cucu laki-laki mereka. Maira agak sedikit kesulitan karena pilihan warna dan model untuk anak laki-laki hanya sedikit.
"Susah sekali cari yang bagus dan lucu ya?' keluhnya.
Amertha juga kecewa dengan baju-baju yang dipajang di etalase. Tak ada yang menarik minatnya sama sekali padahal ini adalah toko yang ke lima.
"Sudah, beli yang ada saja, yang penting serasi dengan princessnya," ujarnya sudah mulai lelah.
"Oke lah, " ujar Maira akhirnya memilih delapan potong pakaian formal khusus bayi laki-laki.
Mereka juga membeli sepatu bayi dan kaus kaki. Usai membeli semuanya, mereka memilih pergi ke spa untuk memanjakan tubuh mereka yang lelah seharian. Undangan sudah disebar oleh Abraham pada koleganya.
"Wah ... cucumu ada tujuh langsung?" tanya salah satu kolega takjub.
"Iya," jawabnya bangga.
Semua mengucap selamat dan berjanji akan datang bersama keturunan mereka.
Abraham akhirnya pergi ke sebuah tempat. Ia ingin membelikan hadiah untuk ke tujuh cucunya itu.
"Mereka belum tiga tahun, belum boleh dibelikan mainan keras dan besar," gumamnya.
Akhirnya, pria itu membeli empat mobil-mobilan yang mudah dimainkan oleh keempat cucu laki-lakinya, lalu membeli tiga boneka beruang coklat untuk tiga cucu perempuannya.
"Tolong dibungkus kado terpisah ya!" titahnya.
Setelah membayar, pria itu meminta hadiah dikirimkan ke alamat rumah menantunya itu.
"Semoga kalian senang Babies!" ujarnya dengan senyum bahagia.
bersambung.
wah ... udah dua tahun aja Babies.
next?