THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERGI SEKOLAH



Pagi menjelang, anak-anak sudah memakai seragam mereka. Masih terjadi keributan setiap pergi ke sekolah. Memakai seragam putih merah, seven A begitu menggemaskan mengenakan seragam lengkap dasi dan topi.


"Mama ... kita nggak usah bawa bekal nasi. Bawa nugget Ama sosis aja," pinta Laina.


"Oke sayang," sahut Manya.


Bekal yang diminta oleh seven A telah siap. Air minum juga sudah penuh. Mereka siap ke sekolah. Sidik telah bersiap di luar.


"Loh Anton nggak ikut?" tanya Abraham.


"Tidak Tuan muda. Kan sekolahnya dekat jadi tinggal jalan kaki saja," jawab Sidik dengan senyum mengembang.


Seven A dan empat suster naik ke mobil. Jovan menyuruh Sidik untuk tetap menunggu anak-anak hingga pulang sekolah.


"Lalu Tuan pakai apa?" tanya Sidik.


"Saya naik mobil sendiri bersama Praja nanti Pak!" jawab Jovan.


Sidik mengangguk tanda mengerti. Ia kini menjadi supir antar jemput tujuh majikan mudanya. butuh waktu lima belas menit untuk sampai gerbang sekolah. Seven A turun bersama empat suster mereka.


Seven A masuk, di sana sudah ada Anton dan Denta yang tengah berbincang seru. Syah duduk di sebelah Anton, Abraham duduk di belakang sahabatnya.


"Kita belajar bahasa Indonesia hari ini,"


Lika yang duduk bersama Laina sedang Abi duduk bersama Bhizar. Agil duduk dengan salah satu teman perempuannya. Ibu guru datang dengan membawa buku. Denta sebagai ketua kelas langsung berteriak.


"Beri salam!"


"Selamat pagi Bu guru!" seru semua anak.


"Selamat pagi anak-anak. Keluarkan buku kalian!" suruh Bu guru.


Anak-anak mengeluarkan bukunya dari tas. Semua tentu sudah memiliki buku kecuali teman sebangku Agil. Bocah perempuan itu hanya mengeluarkan buku tulisnya saja. Baju seragamnya juga bukan baju yang baru.


"Nita, ini bukumu. Kau bisa pinjam di perpustakaan. Nanti jam istirahat kamu ambil buku lain ya," ujar Bu guru.


"Iya Bu," sahut Nita.


Gadis itu menyalin semua tulisan yang ada di buku ke buku tulisnya. Bocah itu juga tak memiliki Lembar Kerja Siswa, jadi ia menulis soal yang dikerjakan dan jawabannya.


"Tulisannya bagus amat!" puji Agil.


Nita hanya tersenyum, ia adalah anak kurang mampu, sebisa mungkin ia tak merepotkan orang tua di panti, jadi ia harus belajar giat agar bisa dapat beasiswa.


"Nita Arifin?" panggil guru yang masuk ke dalam kelas.


Guru itu memberi beberapa buku LKS pada Nita. Bocah perempuan itu tersenyum lebar. Ia tak lagi repot dan lelah menulis soal yang bisa sampai puluhan soal itu.


"Terima kasih Pak!" sahutnya.


Guru itu mengelus kepala anak perempuan itu. Nita bernasib sama dengan Anton. Tak memiliki ayah dan ibu.


Jam istirahat pun tiba. Semua anak wajib meninggalkan kelas. Nita duduk sendiri di taman sambil melihat semua temannya bermain. Ia sengaja duduk karena untuk bermain ia tak kuat. Tadi ia tak sempat sarapan, panti tempatnya tinggal harus digusur, hingga lima belas anak yatim terancam terlantar. Diduga pihak pemilik tanah mengklaim tanah panti adalah tanah mereka.


"Nita!" panggil Anton.


Anak perempuan itu menoleh. Anton memberikan kotak bekalnya. Ada dua potong roti isi telur, Nita menatap Anton.


"Ambil saja," ujar bocah laki-laki itu.


"Makasih ya!" Nita mengambilnya dan langsung memakannya.


"Ibu dan ayah kamu di mana?" tanya Anton.


"Ada di surga," jawab Nita.


Ia mengusap perutnya yang sudah terisi sepotong roti. Anak perempuan itu bersyukur, ia bisa menahan lapar hingga besok pagi.


"Kok sama. Ayah dan ibuku juga sudah ada di surga. Tapi Allah menggantikan ayah dan ibuku lagi," ujar Anton.


"Alhamdulillah, jika begitu," ujar Nita tersenyum lebar.


Bel masuk kelas berbunyi. Mereka kembali belajar, Nita membuka LKS pelajaran yang berbeda. Agil membagi buku paket bersama teman sebangkunya itu. Tak lama jam belajar pun usai.


"Selamat siang Bu guru!" seru semua anak ketika pulang sekolah.


"Selamat siang anak-anak!" sahut Bu guru.


"Bareng aja yuk Nton!" ajak Abraham.


"Tapi ...."


"Ayo Ibu," ajak Laina pada ibu dari Anton.


Akhirnya. mereka pun naik mobil. Nita berjalan kaki. Panti tempat tinggalnya berada tak jauh dari jalan raya. Di sana sudah banyak orang. Gadis kecil itu berlari menuju bangunan itu. Sidik sedikit gelisah, pria itu menekan pedal gasnya. Istri dan putranya turun.


"Bu ... maaf ya kalau Bapak cepat-cepat!" ujar Anton.


Minah hanya mengangguk. Mobil itu melesat cepat ke hunian tuannya. Pria itu lalu minta ijin untuk melakukan keperluan.


"Apa boleh saya ijin dulu Tuan?" ujarnya.


"Ada apa Pak? Kok sepertinya penting?" tanya Jovan yang kebetulan pulang.


"Iya Tuan," ujar Sidik cemas.


"Aku ikut kau Sidik!" ujar Aldebaran.


"Tuan?"


"Ayo!" ajak pria gaek itu.


"Pakai mobil Pak!" teriak Jovan.


"Iya Tuan," sahut pria itu.


Sidik akhirnya bersama Aldebaran ke panti. Di sana sekitar belasan anak yatim piatu menangis menjerit ketakutan. Beberapa orang bertubuh besar nampak membuang semua perabotan keluar dari bangunan sederhana itu. Ada beberapa pria berpakaian petugas. Aldebaran yakin jika yang ada di sana adalah oknum. Pria itu menelepon polisi sesungguhnya untuk datang ke tempat itu.


"Ada apa ini?!" teriak pria itu ketika sampai di tempat.


Mereka semua menoleh. Pria tua dengan iris hazel, tampang bule. Mereka saling pandang satu dengan lainnya. Beberapa pria menelan saliva kasar.


"Siapa kamu!" teriak pria besar menantang Aldebaran.


Tak butuh waktu lama ada polisi berdatangan. Beberapa oknum langsung ditangkap. Ternyata, mereka orang dibayar oleh pria yang mengaku pemilik tanah panti.


Semua preman yang melempar barang-barang ditangkap dan langsung masuk bui.


"Apa ibu tak memiliki surat-surat?" tanya Aldebaran.


"Hanya girik Tuan," jawab wanita itu.


"Kalau begitu kita ganti menjadi SHM!' ajak Aldebaran.


Semua anak akhirnya diurus oleh para ibu panti. Ketua yayasan ikut bersama Aldebaran dan juga Sidik ke pertanahan negara. Mengganti surat girik ke sertifikat hak milik. Wanita itu berterima kasih pada Aldebaran.


Mereka pun kembali ke panti. Sidik ingin mengangkat Nita sebagai anak asuhnya. Ia tadi sudah menelepon istrinya. Minah tentu bahagia, ia mendapat seorang putri lagi.


"Kau memang baik Sidik!" puji Aldebaran.


"Tuan yang baik," sahut pria itu.


Sidik mengantar tuannya ke rumah cucu menantu Aldebaran. Lalu ia pun pulang menggunakan motor dan menjemput Nita dari panti. Sampai rumah Minah memeluk anak perempuannya dengan tangis haru.


"Ibu ... Nita punya ibu ... hiks ... hiks!"


"Sayang ... putriku!" Minah menciumi putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Dik!" panggil Anton.


"Nita juga punya Abang!" sahut gadis kecil itu dengan linangan air mata.


Mereka berpelukan dengan tangis haru. Malam ini Nita memiliki kamar sendiri. Sang ibu telah menyiapkan kamar untuknya di sebelah kamar orang tua angkatnya itu. Sedang Anton ada di kamar paling depan dekat ruang tamu.


"Alhamdulillah Ya Allah ... kau beri nikmat dengan semua limpahan kasih sayang-Mu!" ujar Nita dengan senyum menghias di pipi.


bersambung.


Alhamdulillah.... Makasih Pak Sidik Grandpa Aldebaran.


Next?