THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
BERCENGKRAMA



"Mama ... Iam ee' Ma!' adu Reece.


"Huwwaaa!" Liam menangis karena pup di celana.


"Mama ... Pom Lees judha polpol pi tasyul!" adu Aidan.


"Eundat ... ipu butan pipis!" bantah Reece.


"Ipu ain yan teuluan!" lanjutnya pelan lalu menutup mulutnya karena menahan tawa.


"Mama ... Abi rusakin kunciran Lika!"


"Rambut Mie!" ledek Abi.


"Abi!" peringat Jovan.


"Syah mana penghapusku!?" teriak Bhizar.


"Nih ... pelit!" Syah melempar penghapus milik saudaranya itu.


Bhizar nyaris memukul saudaranya jika saja tak dihentikan oleh Ramaputra.


"Eh ... kok mau berkelahi?" tegurnya.


"Dia main lempar Popa. Padahal Bhizar ngasihnya juga baik-baik!" seru Bhizar kesal.


"Baby Syah, kamu kan juga ada penghapus? Kenapa malah minjam?" tanya pria itu.


"Dia kasih penghapus ke cewe Popa!" adu Agil.


"Nggak!" teriak Syah membantah.


"Aku nggak ngasih, dia ngaku itu penghapus milik dia, padahal ada namaku di sana!" lanjutnya menjelaskan. "Tapi dia nangis dan ngaku itu punya dia. Ya, aku kasih aja dari pada berisik!"


Ramaputra menghela napas panjang, pria itu memberi nasihat pada dua cucunya itu.


"Babies ... dengarkan Popa ya. sesama saudara, kalian tak boleh saling musuhan, nggak boleh bertengkar hanya masalah sepele,"


"Kan kamu bisa bilang ke Mama minta beliin penghapus baru," lanjutnya.


"Kan Syah udah dibeliin Popa, Syah nggak mau minta lagi. Maksudnya minjem sama saudara kan biar nggak minta lagi sama Mama," sahut Syah.


"Nggak nyangka saudaranya pelit, nggak bisa pinjem lamaan dikit," dumalnya.


"Minjem itu ya harus dikembalikan segera sayang," kekeh Ramaputra.


"Minta maaf, tadi Baby lempar loh penghapusnya," suruh pria itu.


Akhirnya Syah minta maaf pada Bhizar. Bhizar pun juga minta maaf karena berlaku kasar pada saudaranya.


Semua anak sudah bersih dan rapi. Mai dan Tita juga sudah cantik di tempat duduk khusus mereka. Aqila tampak mengajari dua tantenya itu bernyanyi. Abraham datang bersama Maira. Mereka mencium semua cucu dan juga tujuh bayi beda usia itu.


"Pepet-pepet tuh ... mali temali ... iputlah atuh petepun pipi ... bi sama panat ... teusyutaanmu ... sasin yan demut oiy ... payo piselpu! Wet, wet, wet ... wet, wet, wet sunduh lamaina ... Wet, wet, wet ... wet, wet, wet peulsuta lia!"


"Bayo iputin pemuana ...."


"Wet ... wet ... wet ...!" seru Mai dan Tita senang.


"Uuuh ... bintel mamet syih ... nanat spasa ya?" Aqila gemas pada dua Tante kecilnya itu.


"Kamu yang pintar baby," puji Amertha mencium gemas pada Aqila.


"Pa, itu ada paket. Papa beli mobil listrik buat siapa?" tanya Jovan.


"Bomil pistlit pudah tatan?" tanya Aidan dengan mata bulat.


"Pom Lees!" pekiknya.


"Iam bawu pihat!" teriak Liam.


Triple A, Reece dan Liam bersemangat ketika melihat sebuah mobil golf ukuran besar ada di halaman rumah. Mereka berlima langsung naik ke atasnya. Seven A juga ikut naik.


"Popa ajalin Lees puat pusilin bomil imi!" titah Reece bossy.


Ramaputra berdecak gemas pada batita tampan itu. Ramaputra memangku Reece dan membiarkan tangan bayi itu di kemudi. Ia menginjak pedal dan kendaraan itu pun bergerak. Semua anak bersorak riang. Beberapa pengawal tampak menjaga di sekeliling mobil itu takut anak-anak terjatuh.


"Nah sudah ya ... ayo masuk lagi, sarapannya udah siap!" teriak Manya.


Seven A turun diikuti oleh triple A, Reece dan Liam. Mereka senang bukan main dengan mobil yang dibelikan oleh salah satu kakeknya itu.


"Matasih Popa!' seru lima bayi senang.


"Sama-sama sayang," sahut pria itu.


"Ma ... tahun baruan nanti liburan ke Bali sih ... pengen tau kek temen-temen," ujar Bhizar.


"Iya sayang," sahut Jovan.


Manya hanya mengikuti apa kata suaminya. Kini mereka sarapan bersama. Usai sarapan, mereka bermain bersama.


"Mama ... pita bawu setolah don!" pinta triple A tiba-tiba.


"Nunggu satu tahun lagi sayang, baru bisa," sahut Manya.


"Pemanan eundat pisa setalan Ma?"


"Nggak sayang, belum cukup umur,"


"Au olah!' pekik Tita.


Bayi delapan bulan itu memaksa untuk bicara. Walau terkadang tak ada yang mengerti apa bahasanya.


"Mawu setolah pa'a baby?" tanya Reece.


"Ata' paja pelum poleh ... tamu ladhi mawu setolah!" dumalnya.


"Sepengehbnehdbnahwhdbnsnwhwbshsbzhhhwwwweellll!" oceh Tita tak jelas.


"Happrruwwhwwhhhhwhwhh!" Mai menyembur lidahnya menimpali saudaranya bicara.


"Havbebmshshsnshsnsauushzbsnshhan!" oceh Tita lagi.


Amertha gemas dengan bahasa planet yang diucapkan pada bayi cantik itu. Ia mencium gemas keduanya hingga protes dan menangis.


"Uluh ... sayang, sini sama Papa!" rajuk Jovan menggendong adiknya itu.


Bukannya diam, Tita malah menangis kencang, bayi itu memang manja. Melihat iparnya digendong, Mai tak mau kalah ikut menangis. Manya kini menggendong adiknya itu.


"Huh ... dasal payi! Pisana suma nayis mulu!" omel Aidan sebal.


"Pita bain yut!" ajak Liam.


"Yut!' sahut lainnya.


Seven A ikut main bersama adik-adik dan juga pamannya itu. Mereka main petak jongkok. saling mengejar, hal itu membuat Amertha dan Maira harus pergi dari sana sebelum jantung keduanya lepas karena takut para bayi yang jatuh.


Brug! Aqila jatuh. Semua orang tua terpekik kaget.


"Baby!"


"Hiks ... hiks!" Aqila langsung menangis.


"Sudah ... ayo berhenti kejar-kejarannya!' Abraham menghentikan semuanya untuk bermain.


Suster langsung mengangkat Aqila, tampak lututnya lecet dan berdarah. Menangis lah bayi cantik itu melihat lututnya yang terluka.


"Baby ... sakit sayang?" Abraham meniup luka bayi cantik itu.


Sebuah plaster gambar pisang berada di lutut Aqila, sesekali ia terisak. Rupanya lututnya sakit dan memar.


"Oh ... sayang ... ini sakit banget," ujar Manya mencium lutut putrinya.


"Eundat pa'a-pa'a Mama ... hiks ... pudah pidat syatit ladhi ... hiks," sahut Aqila.


"Jagoannya Papa memang the best!' puji Jovan.


"Papa Yayah, Atila ipu beulempuan. Pasa jadoan syih!" sahut Liam protes.


Clara dan Gerard belum menjemput bayi itu. Bahkan Liam tak bertanya kenapa ayah dan ibunya tak menjemput. Ia sudah merasa jika dirinya adalah anak dari Jovan dan Manya.


"Kan, Baby Aqila nggak nangis lagi. Jadi dia jagoan juga," sahut Jovan.


"Pidat pisa Papa Yayah!" tolak Reece.


"Beulempuan ipu halus na sadhi bilinces!" lanjutnya.


"Eh ... ada loh jagoan wanita!' sahut Abraham.


"Pemanan ... hiks! Ada Popa?" tanya Aqila masih terisak.


Manya mencium lagi lutut putrinya itu.


"Ada, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, RA Kartini dan banyak lagi jagoan wanita!" jawab Abraham.


"Itu pahlawan perempuan Popa!" sahut Agil.


"Pahlawan kan juga jagoan sayang," sahut Abraham lagi.


Semua mengangguk tanda mengerti. Kini mereka memakan kudapan pangsit rebus yang telah dibuat oleh Manya.


"Mama talo pasat-pasat pita bawu itutan ya!" pinta Aqila sudah tak sedih lagi.


"Iya sayang," sahut Manya.


Malam pun datang, akhirnya Gerard datang menjemput putranya, Liam sudah tidur. Pria itu yang sudah rindu tak peduli Manya yang marah.


"Nanti dia ngamuk loh!' peringat Manya.


"Aku kangen sama dia si perusuh ini!' gemas Gerard. "Biar dia marah-marah, aku malah suka!"


Gerard menggendong putranya. Manya sedih dan sedikit berdebat dengan sepupu suaminya itu.


"Besok saja sih!"


"Nggak!"


"Mas Jovan!" rengek Manya.


"Buat lagi sana!' sahut Gerard lalu masuk mobil setelah meletakkan putranya di kursi khusus.


Mobil itu pun bergerak. Maira dan Amertha juga membawa anak mereka ketika telah tidur. Bahkan Reece diangkut oleh Ramaputra padahal Manya sudah pasang aksi ngambek.


"Papa juga mau dia marah-marah sama Papa sayang," ujar pria itu malah menciumi Reece sampai batita itu merengek.


"Pokoknya Manya nggak tanggung jawab kalau dia sampai ngamuk!" ancam Manya.


"Nggak masalah, Papa tau trik dia nggak marah kok," kekeh pria itu.


Akhirnya semua bayi diangkut oleh orang tuanya. Manya mencium kembali lutut Aqila yang diplester. Jovan ikut merasa sakit melihat kini lutut itu kemerahan.


"Pasti sakit sekali," ujar pria itu.


"Iya, untung ada pereda rasa nyeri. Jadi dia nggak rewel malam ini," sahut Manya.


"Bobo yuk sayang. Hari ini benar-benar kita happy, karena anak-anak semua tumbuh sehat dan cerdas,"


Jovan merengkuh bahu istrinya, satu ciuman ia daratkan di kening perempuan kuat itu.


"I love you," ujarnya.


"I love you too," balas Manya.


bersambung.


I love you readers ❤️❤️


next?